Laporan Kebencanaan Geologi 27 Februari 2018 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:

Hari ini, Selasa 27 Februari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih - kelabu dengan ketinggian 50-300 m di atas puncak. Satu kali letusan dengan tinggi kolom abu 700 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat, baratdaya, dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada 26 Februari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 1 kali Gempa Guguran
  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 8 kali Gempa Low-frequency
  • 6 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 6 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih tipis-kelabu teramati setinggi 50-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke Timur dan Baratlaut. Rekaman seismograf tanggal 26 Februari 2018 tercatat:

  • 11 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 6 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

Tanggal 27 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 8 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. 
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Februari 2018 pukul 12:00 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 11:49 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Timur.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Abu letusan teramati berwarna putih dan kelabu tebal dengan ketinggian 400-800 m di atas puncak condong ke timur - tenggara. Melalui seismograf tanggal 26 Februari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-18 mm (dominan 4 mm).


Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 07:54 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah selatan.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Abu letusan teramati berwarna putih dan kelabu sedang dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak condong ke barat-selatan. Melalui seismograf tanggal 26 Februari 2018 tercatat:

  • 139 kali Gempa Letusan
  • 130 kali Gempa Hembusan
  • 37 kali Gempa Tremor Harmonik
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali Gempa Low Frekuensi

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya tertutup kabut, sehingga pengamatan ke arah puncak gunung tidak dapat dilakukan dengan baik. Melalui rekaman seismograf pada 26 Februari 2018 tercatat:

  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Gempa Low Frekuensi
  • 1 kali Gempa Fase Banyak
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA: Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gempa Bumi
Gempa bumi di Pegunungan Bintang Papua
Informasi Gempa bumi:Gempabumi utama terjadi pada tanggal 26 Februari 2018 dengan mag 7,6 SR  jam 00:44:46 dengan episenter gempa di 6.09 LS - 142.72 BT kedalaman 96 km.Gempabumi ini diikuti beberapa gempabumi susulan:

  • Mag 5.9 SR  puku 01:11:51 WIB, 5.25LS-141.46BT  kedalaman 59 km  
  • Mag 5.3SR pukul 01:47:22 WIB, 5.61 LS - 142.79 BT kedalaman 183 km ,  
  • Mag 5.4SR pukul 04:11:40 WIB, 5.83 LS - 142.41 BT kedalaman 10 km.

Dampak Gempa bumi:Gempabumi ini dirasakan sebesar IV-V MMI di Kabupaten Tanah Merah, Wamena, dan Merauke. Serta dirasakan di Jayapura sebesar II-III MMI.Kerusakan dilaporkan di Distrik Waropko, Kabupaten Boven Digoel, berupa jalan terbelah panjang. Selain itu gempa bumi ini memicu gerakan tanah dan jalan rusak di wilayah Papua Nugini.
Penyebab Gempa Bumi:Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas sesar aktif yang berarah barat-timur
Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD. 
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.


Gempa bumi di TimurLaut Buru, Maluku

Informasi Gempabumi:Gempa Bumi terjadi pada hari Minggu, tanggal 26 Februari 2018, pukul 20:34:54 WIB dengan magnitudo 6,0 Skala Richter (SR). Lokasi pusat gempa bumi berada pada koordinat 2,62°LS dan 126,73°BT berjarak  79 km timur laut Buru - Maluku,  Pulau Buru, pada kedalaman 10 km. 
Penyebab Gempa Bumi:Diperkirakan akibat aktivitas sesar mendatar berarah barat – timur  yang membentang di selatan Pulau Seram hingga Pulau Buru. Sesar mendatar ini terbentuk akibat aktivitas tumbukan antara lempeng Australia, mikrokontinen dan busur kepulauan (island arc) di daerah Maluku. 
Dampak Gempabumi:Belum ada laporan adanya kerusakan bangunan ataupun korban jiwa. Namun gempa bumi ini menimbulkan kepanikan pada warga.Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  2. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018.
  3. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  4. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih - kelabu dengan ketinggian 50-300 m di atas puncak. Satu kali letusan dengan tinggi kolom abu 700 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat, baratdaya, dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada 26 Februari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 1 kali Gempa Guguran
  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 8 kali Gempa Low-frequency
  • 6 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 6 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, erupsi terakhir terjadi pada 24 Januari 2018 dengan ketinggian abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas didominasi hembusan asap kawah dengan ketinggian 50-500. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih tipis-kelabu teramati setinggi 50-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke Timur dan Baratlaut. Rekaman seismograf tanggal 26 Februari 2018 tercatat:

  • 11 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 6 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

Tanggal 27 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 8 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Abu letusan teramati berwarna putih dan kelabu tebal dengan ketinggian 400-800 m di atas puncak condong ke timur - tenggara. Melalui seismograf tanggal 26 Februari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-18 mm (dominan 4 mm).

Malam hari terdengar bunyi gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Abu letusan teramati berwarna putih dan kelabu sedang dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak condong ke barat-selatan. Melalui seismograf tanggal 26 Februari 2018 tercatat:

  • 139 kali Gempa Letusan
  • 130 kali Gempa Hembusan
  • 37 kali Gempa Tremor Harmonik
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali Gempa Low Frekuensi

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya tertutup kabut, sehingga pengamatan ke arah puncak gunung tidak dapat dilakukan dengan baik. Melalui rekaman seismograf pada 26 Februari 2018 tercatat:

  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Gempa Low Frekuensi
  • 1 kali Gempa Fase Banyak
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara
  • Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll


VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.
  2. G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Februari 2018 pukul 12:00 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 11:49 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Timur.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 07:54 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah selatan.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.