Laporan Kebencanaan Geologi 12 Februari 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

 

I. SUMMARY:

Hari ini, Senin 12 Februari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
 

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi tertutup kabut sehingga asap dari kawah tidak dapat diamati. Teramati 3 kali letusan dengan ketinggian 1000-1500 m di atas puncak dan 10 kali guguran lava dengan jarak luncur 500 m mengarah ke timur dan tenggara. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan.

Melalui rekaman seismograf pada 11 Februari 2018 tercatat :

  • 3 kali Gempa Letusan
  • 10 kali Gempa Guguran
  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 9 kali Gempa Low-Frequency
  • 1 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi :

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA : 

 VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Februari 2018 pukul 22:33 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 22:17 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3960 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Selatan.

G. Agung (Bali):

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih setinggi 100 m di atas puncak. Angin mengarah ke Timur.

Rekaman seismograf tanggal 11 Februari 2018 tercatat :

  • 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 6 kali Gempa Hembusan

Tanggal 12 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat :

  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 2 kali Gempa Hembusan

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 11 Februari 2018 pukul 07:39 WITA, terkait penurunan aktivitas vulkanik dan hembusan asap putih sekitar 100 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timurlaut.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tertutup kabut.  Asap kawah tidak teramati karena tertutup kabut.

Melalui seismograf tanggal 11 Februari 2018 tercatat :

  • Gempa Letusan 5 kali
  • Gempa Vulkanik Dalam 2 kali
  • Gempa Tektonik Jauh Terasa 1 kali (MMI II)
  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-10 mm (dominan 2 mm).

Tidak terdengar bunyi gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.

Rekomendasi: 

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA: 

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 9 Februari 2018 pukul 08:04 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1329 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah Tenggara.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati karena tertutup kabut. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah Timur dan Barat. Pada 11 Februari 2018 rekorder seismograf mengalami gangguan (carrier off).  

Rekomendasi : 

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA : 

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian maksimum 5-100 meter di atas puncak, condong ke arah Timur.

Melalui rekaman seismograf pada 11 Februari 2018 tercatat :

  • 36 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi :

Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.

VONA : 

Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari 2018 yang dibandingkan bulan  Februari 2018, relatif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wiilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan tanah terakhir terjadi : 

  1. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur 
  2. Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.
  3. Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara
  4. Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan
  5. Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.
  6. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Penyebab :

Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air dan tanah pelapukan yang mudah tererosi, kurang berfungsinya drainase/saluran air menyebabkan air melimpas pada tebing di dekat pemukiman dan jalur jalan, serta di picu oleh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah

Dampak  :

Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan  jalan  dan satu rumah rusak, 37 keluarga terancam, saluran irigasi rusak di Kabupaten Jember (Provinsi Jawa Timur); akses jalan tertutup sementara dan satu mobil rusak berat di Kabupaten Mamuju (Provinsi Sulawesi Barat); akses jalan tertutup sementara di Kabupaten Minahasa Selatan (Provinsi Sulawesi Utara),di Kabupaten Pinrang (Provinsi Sulawesi Selatan) dan di Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa Barat); satu warga tewas di Kabupaten Gowa (Provinsi Sulawesi Selatan)

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui http://vsi.esdm.go.id/index.php/gerakan-tanah/peringatan-dini-gerakan-tanah


3. Gempa Bumi

Laporan Tim Tanggap Darurat Gempa bumi Pidie, PVMBG-BG

  • Melapor, koordinasi dan diskusi ttg kejadian gempa Pidie tgl 8-2-2018 dgn Kepala BPBD Kab. Pidie (Bpk Apriadi) di rumah pribadi beliau (karena hari Minggu).
  • Melakukan perjalanan dari Kota Sigli menuju Kec Geumpang, Tangse dan Mane.
  • Melakukan koordinasi dan diskusi tentang mitigasi gempabumi dengan SekCam Geumpang (Bpk Bismi).
  • Melakukan pemeriksaan dampak gempa di Kantor Camat Geumpang, Pasar Geumpang dan Masjid Besar Geumpang.
  • Melakukan pengukuran mikrotremor di Kantor Camat Geumpang dan Gampong Bangkeh.
  • Tim Tanggap Darurat akan melapor dan diskusi dgn Camat Geumpang sebagaimana yang direkomendasikan oleh Kepala BPBD Pidie.


Gempa bumi di BaratDaya Pulau Morotai,Maluku Utara

Informasi Gempabumi :

Gempabumi terjadi pada hari Minggu, tanggal 11 Februari 2018, pukul 14:05:24 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempabumi berada pada koordinat 2,12°LU dan 128,36°BT, dengan magnitudo 5,0 SR pada kedalaman 62 km, berjarak 27 km BaratDaya Pulau Morotai, Maluku Utara.

Penyebab gempabumi : 

Diperkirakan berasosiasi dengan penunjaman Punggungan Mayu dan Lempeng Halmahera.

Dampak gempabumi : 

Belum ada laporan mengenai kerusakan dan korban jiwa. gempabumi ini di rasakan II - III Skala (MMI) di Tobelo.Gempabumi ini tidak menimbulkan tsunami.

Rekomendasi : 

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari Pemerintah dan BPBD setempat.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan.


II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.
  2. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  3. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I


Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi tertutup kabut sehingga asap dari kawah tidak dapat diamati. Teramati 3 kali letusan dengan ketinggian 1000-1500 m di atas puncak dan 10 kali guguran lava dengan jarak luncur 500 m mengarah ke timur dan tenggara. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan.

Melalui rekaman seismograf pada 11 Februari 2018 tercatat :

  • 3 kali Gempa Letusan
  • 10 kali Gempa Guguran
  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 9 kali Gempa Low-Frequency
  • 1 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal

Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 3 Januari 2018 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,60 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, erupsi terakhir terjadi pada 24 Januari 2018 dengan ketinggian abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas didominasi hembusan asap kawah dengan ketinggian 50-500. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih setinggi 100 m di atas puncak. Angin mengarah ke Timur.

Rekaman seismograf tanggal 11 Februari 2018 tercatat :

  • 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 6 kali Gempa Hembusan

Tanggal 12 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat :

  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 2 kali Gempa Hembusan

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati karena tertutup kabut.

Melalui seismograf tanggal 11 Februari 2018 tercatat :

  • Gempa Letusan 5 kali- Gempa Vulkanik Dalam 2 kali
  • Gempa Tektonik Jauh Terasa 1 kali (MMI II)
  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-10 mm (dominan 2 mm).

Tidak terdengar bunyi gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati karena tertutup kabut. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah Timur dan Barat. Pada 11 Februari 2018 rekorder seismograf mengalami gangguan (carrier off).  
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).

Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian maksimum 5-100 meter di atas puncak, condong ke arah Timur.

Melalui rekaman seismograf pada 11 Februari 2018 tercatat :

  • 36 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional :

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll


VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Februari 2018 pukul 22:33 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 22:17 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3960 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Selatan.
  2. G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 11 Februari 2018 pukul 07:39 WITA, terkait penurunan aktivitas vulkanik dan hembusan asap putih sekitar 100 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timurlaut.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 9 Februari 2018 pukul 08:04 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1329 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah Tenggara.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

 

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari 2018 yang dibandingkan bulan  Februari 2018 akan tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari Pulau Sumatra,  Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai utamanya di daerah wulayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai anara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 

  1. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur,
  2. Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat,
  3. Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara,
  4. Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan,
  5. Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan,
  6. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat,
  7. Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur ,
  8. Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah,
  9. Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah,
  10. Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan,
  11. Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah.
  12. Kabupaten. Mojokerto, Provinsi Jawa Timur,
  13. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah,
  14. Kabupaten  Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah,
  15. Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah,
  16. Kabupaten Sragen, Provinsi  Jawa Tengah,
  17. Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah,
  18. Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara,
  19. Kabupaten Jember , Provinsi Jawa Timur,
  20. Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara,
  21. Kabupaten Kampar, Provinsi Riau,
  22. Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah,
  23. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah,
  24. Kabupaten Jepara, Provinsi  Jawa Tengah,
  25. Kabupaten Brebes, Provinsi  Jawa Tengah ,
  26. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah , 
  27. Kabupaten Minahasa Selatan , Provinsi Sulawesi Utara,
  28. Kota Menado, Provinsi Sulawesi Utara,
  29. Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah,
  30. Kabupaten  Serang, Provinsi Banten,
  31. Kabupaten  Jember, Jawa Timur,
  32. Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur,
  33. Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah,
  34. Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah,.


Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur

Gerakan tanah terjadi di Tiga Desa dan satu Kelurahan di Tiga Kecamatan di Kab.Jember, Jawa Timur, yaitu :

  1. Dusun Gujuran, Desa Suco Pangepok, Kecamatan Jelbuk dengan dimensi longsoran tinggi 25 meter dan lebar 30 meter mengakibatkan satu rumah mengalami kerusakan terjadi pada hari Jumat 9 Februari 2018.
  2. Dusun Rayap, Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa menyebabkan kerusakan jalan samping pemukiman warga dan mengancam 37 keluarga karena dekat lokasi gerakan tanah. Pada hari Jumat 9 Februari 2018 malam hari.
  3. Dusun Sumber Candik, Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk dengan dimensi longsoran panjang 50 meter dan tinggi 10 meter mengakibatkan kerusakan pada saluran irigasi.
  4. Lingkungan Perbal, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang mengakibatkan saluran irigasi rusak karena tertutup material longsoran.

Sumber : http://beritajatim.com/peristiwa/320982/tanah_longsor_terjadi_di_4_desa_dan_kelurahan.html

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah dan  bahan rombakan.

2. Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.

Gerakan tanah terjadi di Jalur jalan Poros Trans Sulawesi tepatnya di Lingkungan Labuang, Kelurahan Mosso, Kecamatan Sendana, Kabupaten Mamuju mengakibatkan akses jalan tertutup sementara karena tertutup material longsoran dan sebuah mobil mengalami kerusakan namun tidak ada korban jiwa. Gerakan tanah terjadi pada hari Sabtu 10 Februari 2018.

Sumber : https://www.wartaekonomi.co.id/read170420/longsor-di-majene-telan-sebuah-mobil-hingga-ringsek.html

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran bahan rombakan.

3. Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara

Gerakan tanah terjadi di Jalan Trans Sulawesi tepatnya di Ujung Desa Blangko, Kecamatan Sinonsayang mengakibatkan akses jalan tidak bisa dilalui karena tertutup material longsoran dengan panjang longsoran kurang lebih 400 meter. Gerakan tanah terjadi pada hari Sabtu 10 Februari 2018 pagi hari.

Sumber : http://www.tribunnews.com/regional/2018/02/11/jalan-trans-sulawesi-tertimbun-longsor

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

4. Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan

Gerakan tanah terjadi di Kampung Ranga-ranga, Kelurahan Betteng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Gerakan tanah mengakibatkan akses jalan tertutup sementara karena sebagian badan jalan tertutup material longsoran. Gerakan Tanah terjadi pada Sabtu 10 Februari 2018 malam hari.

Sumber : http://makassar.tribunnews.com/2018/02/11/lagi-kampung-ranga-ranga-pinrang-dilanda-longsor-pemerintah-mana

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

5. Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.

Gerakan tanah terjadi di Parangbiring, Dusun Pattirorang, Desa Sicini, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Gerakan tanah mengakibatkan satu orang warga setempat tewas akibat tertimpa batu yang ikut longsor dari atas bukit. Gerakan tanah terjadi pada hari Minggu 11 Februari 2018.

Sumber :  http://makassar.tribunnews.com/2018/02/11/longsor-di-sicini-gowa-satu-warga-tewas-tertimbun

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran bahan rombakan.

6. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Gerakan tanah terjadi di Kampung Leuwi BIlik RT 4/6, Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tepatnya di jalur alternative Citeureup – Cipanas. Gerakan tanah mengakibatkan akses jalan tertutup sementara karena sebagian badan jalan tertutup material longsoran. Gerakan tanah terjadi pada hari Sabtu 10 Februari 2018 pada pukul 20.30 WIB malam hari.

Sumber : http://bogor.tribunnews.com/2018/02/11/tebing-di-jalur-alternatif-bogor-cianjur-longsor-begini-kondisinya-sekarang

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, tanah pelapukan yang tebal dan mudah tererosi juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

Rekomendasi 

  • Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan;
  • Bagi yang bermukim dekat dengan tebing atau lereng yang terjal agar meningkatkan kewaspadaannya terutama saat terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama;
  • Segera membersihkan material longsoran yang menutup badan jalan dengan mengutamakan faktor keselamatan karena masih berpotensi gerakan tanah susulan;
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman tersebut;
  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah;
  • Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat;
  • Tidak membangun pemukiman di dekat  tebing / lereng;
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan;
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi yang mengikuti kaidah – kaidah geologi teknik;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.