Laporan Kebencanaan Geologi 10 Februari 2018

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Sabtu 10 Februari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual puncak gunungapi sering tertutup kabut. Tidak teramati hembusan solfatara di puncak karena puncak tertutup kabut. Angin umumnya berhembus ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 09 Februari 2018 tercatat:

  • 7 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 11 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Tektonik Lokal (TL).

Tanggal 10 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 4 kali Gempa Hembusan.
  • 1 kali Tektonik Lokal (TL) (tidak terasa).

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari kawah G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai dan mengantisipasi potensi ancaman bahaya sekunder berupa lahar hujan terutama pada musim penghujan seperti saat ini.
  • Status Level IV (Awas) hanya berlaku di dalam radius 6 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA: Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Januari 2018 pukul 22:37 WITA, , terkait letusan dengan ketinggian abu 4142 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-timurlaut.

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut.  Tinggi asap putih tipis tekanan sedang di kawah utama 50-150 m dari puncak. Angin umumnya berhembus ke selatan, tenggara, dan timur. Hari ini tidak terjadi letusan. Terjadi guguran yang meluncur sejauh 500-2500 m ke lereng selatan, tenggara, dan timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 09 Februari 2018 tercatat:

  • 17 kali Gempa Guguran
  • 15 kali Gempa Low-Frequency
  • 3 kali Tektonik Lokal (tidak terasa).

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 06 Februari 2018 pukul 07:39 WIB, terkait letusan selama 127 detik dan amplitudo maksimum 26 mm, tinggi kolom abu letusan 3460 m dari permukaan laut atau 1000 m dari puncak condong ke arah baratdaya.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tertutup kabut. Tidak teramati asap hembusan/letusan di kawah utama. Angin ke timur. Melalui rekaman seismograf tanggal 09 Februari 2018 tercatat:

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0,5-32 mm (dominan 2 mm).
  • Gempa Letusan 2 kali.

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 03 Februari 2018 pukul 08:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara dan timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung dapat tampak tertutup kabut. Tidak teramati tinggi hembusan/letusan abu karena puncak tertutup kabut. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah barat dan timur. Kegempaan terakhir pada 09 Januari 2018  tidak terekam karena seismograf mengalami kerusakan. Perbaikan segera akan dilakukan.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi.
Dari kemarin sampai pagi ini ini secara visual puncak gunung tampak tertutup kabut. Pengamatan secara visual asap kawah putih tidak teramati karena puncak tertutup kabut.  Angin ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 09 Februari 2018 merekam gempa-gempa sebagai berikut :

  • 8 kali Gempa Hembusan.
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam.
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal (tidak terasa).

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA: Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018,   realtif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wiilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 

  1. Kabupaten. Mojokerto, Provinsi Jawa Timur
  2. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
  3. Kabupaten  Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah
  4. Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah
  5. Kabupaten Sragen, Provinsi  Jawa Tengah
  6. Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah
  7. Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara
  8. Kabupaten Jember , Provinsi Jawa Timur
  9. Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara
  10. Kabupaten Kampar, Provinsi Riau
  11. Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah

Penyebab : Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat kelerengan, minimnya pepohonan penahan lereng  , tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air,kurang berfungsinya drainase/saluran air, erosi serta di picu oleh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau sesudah terjadinya gerakan tanah Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan     lalu lintas terhambat di Kabupaten. Mojokerto (Provinsi Jawa Timur) ,  Kabupaten Banjarnegara (Provinsi Jawa Tengah), Kabupaten Sragen (Provinsi  Jawa Tengah), Kota Tomohon (Provinsi Sulawesi Utara), di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Provinsi Sulawesi Utara)  dan di Kabupaten Kampar (Provinsi Riau) dan di Kabupaten Brebes (Provinsi Jawa Tengah) ; satu rumah  rusak di Kabupaten  Banyumas (Provinsi Jawa Tengah); enam rumah rusak akses jalan terputus  di Kabupaten Cilacap (Provinsi Jawa Tengah);  4 rumah roboh di  Kabupaten Wonogiri (Provinsi Jawa Tengah); 33 rumah terancam di Kabupaten Jember (Provinsi Jawa Timur)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.
  2. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  3. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual puncak gunungapi lebih sering berkabut. Tinggi asap solfatara di puncak tidak teramati karena puncak tertutup kabut. Angin umumnya berhembus ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 09 Februari 2018 tercatat

  • 7 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 11 kali Gempa Hembusan.
  • 2 kali Tektonik Lokal (tidak terasa).

Tanggal 10 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) (tidak terasa)
  • 4 kali Gempa Hembusan.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Tinggi asap putih tebal tekanan sedang teramati 50-150 m dari puncak. Angin umumnya berhembus ke segala arah selatan, tenggara, dan timur. Hari ini tidak terjadi letusan. Guguran material pijar dengan jarak luncur 500-2500 m ke arah selatan, tenggara, dan timur. Melalui rekaman seismograf pada 09 Februari 2018 tercatat:

  • 17 kali Gempa Guguran
  • 15 kali Gempa Low-Frequency
  • 3 kali Tektonik Lokal (tidak terasa).

Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 3 Januari 2018 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,60 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tertutup kabut. Tidak teramati asap hembusan/letusan di kawah utama karena puncak tertutup kabut. Angin ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 09 Februari 2018 tercatat:

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0,5-32 mm (dominan 1 mm).
  • Gempa Letusan 1 kali.

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung tampak tertutup kabut. Tidak teramati hembusan abu putih kelabu di kawah utama karena puncak tertutup kabut. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah barat dan timur. Kegempaan terakhir pada 09 Februari 2018 tidak  terekam karena seismograf rusak. Perbaikan segera dilakukan.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.
Dari kemarin sampai pagi ini ini secara visual gunung tertutup kabut. Pengamatan secara visual tidak teramati hembusan di kawah puncak karena tertutup kabut. Angin ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 09 Februari 2018 merekam gempa-gempa sebagai berikut :

  • 8 kali Gempa Hembusan.
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam.
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal (tidak terasa).

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara
  • Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav, 
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Agung, Bali.Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Januari 2018 pukul 22:55 WITA, , terkait letusan dengan ketinggian abu 4142 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-timurlaut.
  2. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 05 Februari 2018 pukul 07:39 WIB, terkait dengan letusan terkait letusan abu mencapai ketinggian 3460 m dari permukaan laut atau 1000 kolom dari puncak (selama 127 detik dan amplitudo maksimum 80 mm) condong ke arah selatan.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 03 Februari 2018 pukul 08:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018  akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah wulayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai anara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 

  1. Kabupaten. Mojokerto, Provinsi Jawa Timur
  2. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
  3. Kabupaten  Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah
  4. Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah
  5. Kabupaten Sragen, Provinsi  Jawa Tengah
  6. Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah
  7. Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara
  8. Kabupaten Jember , Provinsi Jawa Timur
  9. Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara
  10. Kabupaten Kampar, Provinsi Riau
  11. Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah
  12. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah
  13. Kabupaten Jepara, Provinsi  Jawa Tengah
  14. Kabupaten Brebes, Provinsi  Jawa Tengah
  15. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
  16. Kabupaten Minahasa Selatan , Provinsi Sulawesi Utara
  17. Kota Menado, Provinsi Sulawesi Utara
  18. Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah
  19. Kabupaten  Serang, Provinsi Banten
  20. Kabupaten  Jember, Jawa Timur
  21. Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur
  22. Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah
  23. Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah
  24. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  25. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  26. Kota Tangerang, Provinsi Banten
  27. Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur
  28. Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh
  29. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  30. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi D.I.Yogyakarta, 


Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:
1. Kabupaten. Mojokerto, Provinsi Jawa Timur
Hujan deras mengakibatkan tebing setinggi 15 meter di Pacet, Mojokerto, longsor. Material longsor menutup jalur penghubung Kecamatan Pacet dengan Trawas. Tebing di Desa Cembor, Pacet yang longsor mempunyai tinggi 15 meter dengan panjang mencapai 10 meter. Material longsor berupa tanah bercampur bebatuan dan pohon, menutup jalur Pacet-Trawas. Jalan beraspal itu tertimbun material longsor dengan ketebalan lebih dari 1 meter.
Sumber: https://news.detik.com/jawatimur/3859616/hujan-deras-tebing-setinggi-15-meter-di-mojokerto-longsor

Penyebab gerakan tanah diduga karena kondisi tanah yang tebal dan labil serta dipicu curah hujan yang tinggi. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

2. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
Hujan lebat yang terjadi beberapa hari terakhir memicu longsor dan banjir di berbagai wilayah Kabupaten Banjarnegara, Banyumas dan Cilacap, Kamis sore dan Jumat pagi (8-9/2/2018) ini.Di Banjarnegara, longsor terjadi di empat titik ruas jalur provinsi antara Banjarnegara menuju Kecamatan Karangkobar. Salah satunya terjadi di Desa Paweden Kecamatan Banjarmangu, dengan volume panjang 200 meter lebar 70 meter dan tinggi sekitar 25 meter. Dari Banjarnegara ke Karangkobar, Banjarmangu itu ada empat kejadian longsor. Pada tanggal 9 Februari  ada dua kejadian longsor besar sehingga jalur itu tidak bisa dilalui.  titik kordinat -7.308299,109.714557 hingga saat ini seluas 1,4 hektare . Area longsoran berupa material tanah disertai batu, pohon pinus, pohon salak, pohon albasia. Jalan yang tertutup material longsoran sekitar panjang 200 meter, tinggi 2 meter dengan volume 300 meter kubik.Hingga Jumat siang ini, ruas utama ini menuju Kecamatan Karangkobar masih tertutup. Pasalnya, eskavator tak berani menyingkirkan material lantaran gerakan tanah masih berlangsung. Selain longsoran di Paweden, dilaporkan satu titik jalur Banjarnegara-Karangkobar di Desa Slatri juga tertutup longsor. 
Sumber:http://regional.liputan6.com/read/3272258/banyumas-dan-banjarnegara-dikepung-longsor; http://satelitpost.com/beritautama/tebing-10-meter-longsor-jalur-banjarnegara-ke-pekalongan-lumpuh
Penyebab gerakan tanah diduga karena ketidakstabilan lereng, tanah yang tebal dan dipicu curah hujan yang tinggi. Jenis gerakan tanah adalah longsoran bahan rombakan.

3. Kabupaten  Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah / tanah longsor  terjadi di Desa Samudera Kecamatan Gumelar. Longsor menimpa rumah Kisno dan Tarminah di RT 07/01 Grumbul Mengger, Kamis petang, 8 Februari 2018. Material tebing setinggi 10 meter dan lebar 5 meter longsor dan menjebol ruang makan dengan lebar 4 meter. Beruntung tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.
Sumber: http://regional.liputan6.com/read/3272258/banyumas-dan-banjarnegara-dikepung-longsor
Penyebab gerakan tanah diduga karena kemiringan lereng, litologi dan dipicu curah hujan yang tinggi. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

4. Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah
Hujan deras yang berlangsung Kamis (8/2), menyebabkan beberapa lokasi di Kabupaten Cilacap dan Banyumas mengalami bencana. Gerakan tanah / tanah longsor  terjadi di Desa Karangsari Kecamatan Cimanggu Kabupaten Cilacap dan di Desa Samudra Kulon Kecamatan Gumelar; Di Desa Karangsari telah menyebabkan enam rumah warga mengalami retak-retak dan ada sebagian yang ambles. Di di Desa Samudra Kulon , Gerakan tanah lain juga terjadi pada tebing  dengan ketinggian 5 meter dan panjang 10 meter. Longsoran tersebut menimpa rumah keluarga Kisno (51). Gerakan tanah pada tebing di   ruas jalan dari Kota Kecamatan Cimanggu menuju Desa Negarajati di titik Dusun Telaga Luhur Kecamatan Cimanggu. Tebing longsor dan menimpa jalan dengan panjang 10 meter, tebal tujuh meter dan lebar lima meter. Akibatnya, jalur menuju Negarajati lumpuh total.
Sumber : http://regional.liputan6.com/read/3272258/banyumas-dan-banjarnegara-dikepung-longsor
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat lereng yang terjal, tebalnya tanah pelapukan, dan dipicuh curah hujan yang tinggi.  Jenis gerakan tanah diperkirakan adalah Longsoran bahan rombakan.

5. Kabupaten Sragen, Provinsi  Jawa Tengah
Gerakan tanah / tanah longsor  menerjang satu rumah warga atas nama  Sriyatun, 50, warga Dukuh Ngargorejo RT 003, Bukuran, Kalijambe, Sragen, Kamis (8/2/2018) sekitar pukul 15.00 WIB. Longsor terjadi dipicu hujan deras berjam-jam.Selain Material longsor yang masuk ke rumah dan  merusak satu rumah juga membuat akses warga melalui jalan tersebut terganggu. Sebab jalan antardusun berupa tanah denan lebar 2,5 meter itu ambrol separuhnya. Warga harus ekstra hati-hati saat melintasi jalur itu.
Sumber : http://m.harianjogja.com/baca/2018/02/09/bencana-sragen-rumah-janda-di-kalijambe-dihantam-tanah-longsor-893089; http://m.solopos.com/2018/02/09/bencana-sragen-rumah-janda-di-kalijambe-dihantam-tanah-longsor-893089
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat tidak terdapat penahan lereng, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, dan kurang berfungsinya drainase/saluran air. Terdapat potensi terjadi Longsor. Jenis longsoran adalah longsoran bahan rombakan

6. Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah
Gerakan tanah / tanah longsor terjadi di  Perumahan Citra Jaya 5 Jatibedug di Desa Purworejo, Kecamatan Wonogiri pada Jumat (9/2/2018) sekitar pukul 16.00 WIB . Dampaknya adalah  tembok dan pondasi empat rumah roboh akibat peristiwa itu. Sebelumnya daerah tersebut  diguyur hujan dengan intensitas sedang di wilayah Kecamatan Wonogiri. Sumber : https://www.jawapos.com/radarsolo/read/2018/02/09/47796/empat-rumah-warga-di-wonogiri-tergerus-longsor
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat Kelerengan, Ketebalan tanah, dan dipicu curah hujan yang tinggi.  Jenis gerakan tanah diperkirakan adalah Longsoran bahan rombakan.

7. Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara
Hujan seharian yang mengguyur Kota Tomohon kemarin (8/2/2018), membuat sejumlah titik tertimpa longsor. Terpantau, tiga titik di ruas jalan Rurukan-Tondano, satu titik di Kelurahan Lahendong dan satu lagi di Kelurahan Kakaskasen. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa akibat peristiwa itu. Pada Pukul 09.30 material longsor berhasil kita bersihkan, karena menutupi sebagian ruas jalan Rurukan-Tondano,
Sumber : http://manadopostonline.com/read/2018/02/09/Lima-Titik-Terkena-Longsor/29985
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat Kelerengan, Ketebalan tanah, dan dipicu curah hujan yang tinggi.  Jenis gerakan tanah diperkirakan adalah Longsoran bahan rombakan.

8. Kabupaten Jember , Provinsi Jawa Timur
Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan  Retakan dan tanah ambles di perkebunan sengon milik warga di Jember. Dampaknya mengancam  sekitar 33 rumah yang berada tak jauh dari lokasi. Informasi tanggal 9 Februari 2018,  retakan dan amblesan tanah itu terjadi sekitar 5 hari lalu. Dari pemantauan yang kita lakukan, ada 2 retakan dan 1 amblesan tanah. Untuk amblesnya tanah sekitar 80 cm, retakannya lebar 100 cm, kedalamannya 280 cm, panjangnya 600 meter, dan itu terjadi di lahan teras siring milik warga yang ditanami pohon sengon
Kejadian tersebut diperkirakan dipicuh oleh guyuran hujan yang terjadi terus menerus hampir setiap hari. 
Sumber  : https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3858358/tanah-retak-dan-ambles-bahayakan-33-rumah-warga-di-jember?_ga=2.159738557.1044447279.1518149270-1674987841.1518149270
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat kelerengan, kondisi geologi setempat  , tanah lapukan / tanah urugan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air,kurang berfungsinya drainase/saluran air menyebabkan air melimpah ke jalan, serta di picuh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau sesudah terjadinya gerakan tanah

9. Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara
Gerakan tanaah / tanah longsor yang dipicuh oleh hujan lebat yang melanda wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara mengakibatkan  Jalan Trans-Sulawesi yang menghubungkan antara Bolaang Mongodow Utara dan Provinsi Gorontalomengalami longsor, Kamis (8/2/2018). Material longsor berupa tanah dan pohon, menutupi Jalan Trans-Sulawesi. Kejadian itu membuat arus lalu lintas yang meng-hubungkan empat kabupaten jadi terhambat dan membuat kemacetan terjadi sepanjang 3 km. Dari arah Gorontalo longsor terjadi di Desa Komus Timur 1. Sementara dari arah Manado longsor terjadi dari Desa Tote. Di Tote longsoran terparah sepanjang enam meter. Sementara Komus sekitar 5 meter. Longsor di Tote terjadi pukul 01.00 dini hari. Ada sekitar tujuh longsoran.
Sumber  : http://manado.tribunnews.com/2018/02/08/jalan-trans-sulawesi-di-bolmut-tertutup-longsor-dua-titik-ini-paling-parah; Sumber  : http://www.tribunnews.com/regional/2018/02/09/jalur-trans-sulawesi-lumpuh-total-tertutup-longsor
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat kelerengan, minimnya pepohonan penahan lereng  , tanah lapukan / tanah urugan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air , serta di picuh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau sesudah terjadinya gerakan tanah

10. Kabupaten Kampar, Provinsi Riau
Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan  tanah ambles terjadi di jalan lintas Riau-Sumatra Barat pada Km 70, Dusun Bukit Agung, Desa Kuok, Kecamatan Kuok, Kabupaten Kampar, Riau. Hal itu terjadi di bagian sisi kanan jalan dengan kedalaman 2 meter dan lebar 6 meter. Akibatnya, selain kendaraan pribadi yang dapat lewat dengan sistem buka-tutup, arus kendaraan bertonase besar seperti truk dan angkutan barang terpaksa dialihkan ke jalur alternatif. Badan jalan itu ambles pada Rabu (7/2) siang. Sampai tadi malam, proses pemulihan masih belum selesai. 
Sumber : http://www.mediaindonesia.com/news/read/144506/tanah-longsor-tutup-jalan-trans-sulawesi/2018-02-09
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat, minimnya pepohonan penahan lereng  , tanah lapukan / tanah urugan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air,kurang berfungsinya drainase/saluran air menyebabkan air melimpah ke jalan, serta di picuh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau sesudah terjadinya gerakan tanah

11. Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah / tanah longsor pada  jalan raya provinsi penghubung antara desa Batursari, kecamatan Sirampog, kabupaten Brebes menuju desa Sigedong, kecamatan Bumijawa, kabupaten Tegal tertimbun longsor. Kamis, 8/2/2018. Lokasi kejadian berada di kawasan Perhutani tepatnya di petak 13 A. RPH Igir Klanceng, BKPH Paguyangan, KPH Pekalongan Barat. Hujan lebat dengan intensitas tinggi pada hari Rabu malam mengakibatkan tanah longsor sekitar jam 13.30 WIB. 
Sumber : https://www.redaksimedinas.com/jalan-provinsi-batursari-sigedong-tertimbun-longsor/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat kelerengan, minimnya pepohonan penahan lereng  , tanah lapukan / tanah urugan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air , serta di picuh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau sesudah terjadinya gerakan tanah

Rekomendasi : 

  • Masyarakat dan pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan
  • Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat;
  • Material longsoran yang menutup badan jalan dan yang menyumbat agar segera dibersihkan dan selalu waspada terhadap potensi adanya longsor susulan
  • Jalan dan rumah segera diperbaiki dengan diperk;uat dengan tembok penahan lereng dengan pondasi mencapai batuan/tanah keras;
  • Lereng dilandaikan dan penguatan lereng, pada bagian bawah lereng ditembok/difondasi yang kuat hingga mencapai lapisan keras.
  • Tidak melakukan aktifitas diatas atau dibawah tebing yang terjal;
  • Memasang rambu - rambu peringatan rawan longsor;
  • Membuat saluran drainase yang kedap air, serta mengalirkannya menjauh dari retakan;
  • Membangun dinding penahan longsor dan menata aliran air permukaan pada lereng;
  • Tidak membangun pemukiman di dekat  tebing / lereng;
  • Membuat rambu-rambu lalu lintas peringatan rawan longsor, agar pengguna jalan waspada bila melalui jalur jalan ini, terutama di musim hujan;.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat.