Laporan Kebencanaan Geologi 06 Februari 2018 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Selasa 06 Februari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual puncak gunungapi tidak dapat teramati dengan baik karena sepanjang hari gunung tertutup kabut dan sering hujan. Tinggi asap solfatara putih tipis tekanan lemah 200 m dari puncak. Angin umumnya berhembus ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 05 Februari 2018 tercatat:

  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 4 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 5 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 1 mm).

Tanggal 06 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 3 Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 3 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari kawah G. Agung
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai dan mengantisipasi potensi ancaman bahaya sekunder berupa lahar hujan terutama pada musim penghujan seperti saat ini.
  • Status Level IV (Awas) hanya berlaku di dalam radius 6 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA: Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Januari 2018 pukul 22:37 WITA, , terkait letusan dengan ketinggian abu 4142 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-timurlaut.

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut.  Tinggi asap putih tipis tekanan sedang di kawah utama 100-600 m dari puncak. Angin umumnya berhembus dan selatan. Kolom abu letusan teramati putih kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 1000 m dari puncak. Guguran material pijar dengan jarak luncur 700-1500 m ke arah timur, tenggara, dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 05 Februari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Letusan
  • 11 kali Gempa Guguran
  • 13 kali Gempa Low-Frequency
  • 1 kali Gempa Fase Banyak

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 05 Februari 2018 pukul 07:39 WIB, terkait letusan selama 127 detik dan amplitudo maksimum 26 mm, tinggi kolom abu letusan 3460 m dari permukaan laut atau 1000 m dari puncak condong ke arah baratdaya.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati tertutup kabut. Tidak teramati asap hembusan di kawah utama. Angin ke timur. Melalui seismograf tanggal 05 Februari 2018 tercatat:

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0,5-22 mm (dominan 2 mm).
  • Gempa Letusan 5 kali.

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 03 Februari 2018 pukul 08:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara dan timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung dapat teramati tertutup kabut. Tidak teramati asap dan abu erupsi. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah timur. Kegempaan terakhir pada 05 Januari 2018  terekam :

  • 113 kali gempa letusan
  • 96 kali gempa Hembusan
  • 38 kali gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi.
Dari kemarin sampai pagi ini ini secara visual gunung tertutup kabut. Pengamatan secara visual asap kawah putih tipis tidak teramati karena kabut. Angin ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 05 Februari 2018 merekam gempa-gempa sebagai berikut :

  • 6 kali Gempa Hembusan.
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA: Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018,   realtif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wiilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 

  1. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  2. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  3. Kota Tangerang, Banten

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat lereng  terjal, minimnya pepohonan penahan lereng, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, adanya lapisan kedap air bertindak yang bertindak sebagai bidang gelincir gerakan tanah, saluran drainase yang kurang baik, kontruksi dinding penahan tanah tidak mampu menahan beban  serta di picu oleh oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau sesudah terjadinya gerakan tanah.
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan   akses jalan terganggu, satu orang  meninggal, 6 orang hilang, tiga rumah rusak serta 7 orang luka ringan sampai berat di .Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa Barat); Jalur kereta api Sukabumi - Bogor terputus sementara di Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa Barat); mobil tertimbun beserta 2 orang penumpangnya di Kota Tanggareang (Provinsi Banten)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Gempa Bumi di Tenggara Sikka, NTT
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Senin tanggal 5 Februari 2018 pukul 02:55:04 WIB. Menurut BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 9,27°LS dan 122,54°BT, dengan magnituda 5.3 SR pada kedalaman 59 km, berada pada jarak 80 km tenggara Sikka, Nusatenggara Timur.
Penyebab Gempa bumi:Diperkirakan gempa bumi ini berasosiasi dengan zona subduksi lempeng Indo-Australia di bawah lempeng Eurasia.
Dampak Gempa bumi:Belum ada informasi mengenai korban jiwa maupun kerusakan bangunan. Gempa bumi ini tidak mengakibatkan tsunami.
Rekomendasi;

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.

 

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.
  2. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  3. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual puncak gunungapi lebih sering berkabut dan hujan. Tinggi asap solfatara di puncak teramati putih tipis tekanan lemah 200 m. Angin umumnya berhembus ke arah timur. Rekaman seismograf tanggal 05 Februari 2018 tercatat:

  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 4 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 5 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 1 mm).

Tanggal 06 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 3 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 1 mm).

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Tinggi asap putih tebal tekanan sedang teramati 100-600 m dari puncak. Angin umumnya berhembus ke segala arah barat dan selatan. Tinggi kolom abu letusan putih kelabu tebal tekanan sedang 1000 m dari puncak. Guguran material pijar dengan jarak luncur 700-1500 m ke arah timur, tengara, dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada 05 Februari 2018 tercatat:

  • 3 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Letusan
  • 11 kali Gempa Guguran
  • 13 kali Gempa Low-Frequency
  • 1 kali Gempa Fase Banyak

Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 3 Januari 2018 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,60 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati tertutup kabut. Tidak teramati asap hembusan/letusan di kawah utama. Angin ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 05 Februari 2018 tercatat:

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0,5-22 mm (dominan 2 mm).
  • Gempa Letusan 5 kali.

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung tertutup kabut. Tidak teramati asap dan abu erupsi. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah barat hingga timur. Kegempaan terakhir pada 05 Februari 2018 terekam :

  • 113 kali gempa letusan
  • 96 kali gempa Hembusan
  • 38 kali gempa Tremor Harmonik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.
Dari kemarin sampai pagi ini ini secara visual gunung tertutup Kabut. Pengamatan secara visual asap kawah menunjukkan asap putih tipis tidak teramati karena kabut. Melalui rekaman seismograf pada 05 Februari 2018 merekam gempa-gempa sebagai berikut :

  • 6 kali Gempa Hembusan.
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara
  • Kemenhub,
  • BMKG, 
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin, 
  • VAAC Tokyo, 
  • dll


VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Agung, Bali.Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Januari 2018 pukul 22:55 WITA, , terkait letusan dengan ketinggian abu 4142 m di atas permukaan laut atau 1000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-timurlaut.
  2. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 05 Februari 2018 pukul 07:39 WIB, terkait dengan letusan terkait letusan abu mencapai ketinggian 3460 m dari permukaan laut atau 1000 kolom dari puncak (selama 127 detik dan amplitudo maksimum 80 mm) condong ke arah selatan.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 03 Februari 2018 pukul 08:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018  akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah wulayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai anara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

  1. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  2. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  3. Kota Tangerang, Provinsi Banten
  4. Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur
  5. Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh
  6. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  7. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi D.I.Yogyakarta
  8. Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat
  9. Kabupaten Kudus, Jawa Tengah,
  10. Kabupaten Muaro Jambi, Jambi
  11. Kabupaten Pati, Jawa Tengah,
  12. Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah,
  13. Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur
  14. Kabupaten Padeglang, Provinsi Banten
  15. Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat
  16. Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah
  17. Kabupaten Banjar negara, Provinsi Jawa Tengah
  18. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
  19. Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur,
  20. Kabupaten Badung, Provinsi  Bali,
  21. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur
  22. Kabupaten Lebak, Provinsi  Banten
  23. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi D.I. Yogyakarta.

Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:
1.Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
Hujan deras menimbulkan bencana longsor di kawasan Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor. Total ada lima titik longsor di jalur Puncak sehingga mengakibatkan akses tertutup . Gerakan tanah terjadi di 5 titik Kabupaten Bogor, yaitu: di daerah Widuri, Kecamatan Cisarua; di sekitar daerah Grand Hill Cisarua; di daerah Riung Gunung, di daerah tugu Botol Kecap Riung Gunung dan di sekitar Masjid At-Ta'awun Tugu Selatan Kampung Maseng, RT 02/08, Desa Warung Menteng, Kecamatan Cijeruk. Gerakan tanah terjadi pada hari senin 5 Februari 2018 pukul 09:25 WIB.

  • di Widuri, Kecamatan Cisarua, longsor setinggi 10 meter sehingga menutup sebagian setengah jalan nasional.
  • Grand Hill Cisarua, longsoran tanah memenuhi hampir setengah jalan dari tebing perumahan. Longsoran juga mengakibatkan bahu jalan amblas dan material tanah dari tebing menutup sebagian bahu jalan.
  • di Riung Gunung, Kecamatan Cisarua dekat Gunung Mas. Longsor setinggi 15 meter menutupi badan jalan di dekat Riung Gunung, sehingga kendaraan tidak dapat dilalui.
  • di sekitar Masjid At-Ta'awun Tugu Selatan, Cisarua. Material tanah menutupi jalan nasional dengan ketinggian longsor mencapai 15 meter. Kemudian longsor juga terjadi di dekat tugu Botol Kecap Riung Gunung, longsoran menutup setengah jalan.

Satu orang dilaporkan meninggal dunia di lokasi longsor di Kecamatan Cisaru dan enam orang hilang tertimbun longsor di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Berdasarkan laporan sementara, satu korban meninggal bernama Lilis (40), pemilik warung di sekitar Masjid Atta'wun, Kecamatan Cisarua. Bersama Lilis, empat orang dilaporkan mengalami luka. Dari empat orang luka tersebut, satu orang dilaporkan dalam keadaan kritis dan semua korban luka berada di Rumah Sakit Umum Daerah Cimacan, Cipanas untuk mendapatkan perawatan medis.
Sementara, longsor juga menimpa tiga rumah warga di Kampung Maseng, RT 02/08, Desa Warung Menteng, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Kejadian ini mengakibatkan setidaknya tujuh korban mengalami luka ringan sampai berat dan telah dibawa ke Puskesmas Caringin. Berdasar keterangan warga, Saifudin menjelaskan, masih ada setidaknya enam korban yang belum ditemukan.
Sumber berita: https://news.detik.com/berita/3850426/lokasi-longsor-di-puncak-bertambah-jadi-5-titikhttp://regional.kompas.com/read/2018/02/05/13045041/longsor-puncak-bogor-lalu-lintas-dialihkan-via-sukabumi-dan-jonggol; http://www.beritasatu.com/nasional/476981-longsor-di-puncak-satu-tewas-satu-keluarga-masih-hilang.html
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing yang materialnya menimpa badan jalan yang berada di bawahnya. Gerakan tanah disebabkan oleh kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah yang poros dan mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum  dan atau sesudah terjadinya gerakan tanah.

2.Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
Longsor mengakibatkan terputusnya jalur kereta api Sukabumi-Bogor dan mengakibatkan tiga rumah warga ikut menjadi korban, Senin (5/2). Peristiwa ini tepatnya terjadi di KM 13.800 dari Stasiun Batu Tulis, Kampung Maseng RT 02/08, Desa Warung Menteng, Kecamatan Cijeruk, Bogor pada pukul 12.48 WIB. Ada dua titik longsor di jalur lintas Bogor - Sukabumi diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi di kawasan Bogor dan sekitarnya. Dua titik tersebut, yakni:di petak jalan Cigombong-Cicurug pada km 20+7/8 dan di petak jalan Batu Tulis-Maseng pada km 13+8/9. Kejadian ini mengakibatkan terganggunya perjalanan KA .
Sumber berita: http://www.beritasatu.com/megapolitan/476932-longsor-jalur-kereta-bogorsukabumi-terganggu.html
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, tanah pelapukan yang tebal dan labil, dan dipicu oleh curah hujan lebat sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

3.Kota Tangerang, Banten.
Gerakan tanah / tanah longsor pada dinding penahan tanah yang berada di bawah jalur rel kereta Bandara di Jalan Parimeter Selatan Bandara Soekarno-Hatta, pada  Senin (5/2/2018) sekitar pukul 17.00 WIB. Gerakan tanah diperkirakan akibat hujan deras yang mengguyur daerah Tangerang. Dampaknya  longsor menutupi badan jalan. Dimensi longsor Panjang 15 meter dan ditemukan beberapa retakan didi dinding penahan tanah tersebut. Sebuah mobil dan dua penumpangnya dikabarkan tertimpa material longsoran. Kemacetan panjang di Jalan Perimeter Selatan dari arah Tangerang (M1) dan sebaliknya pun tidak bisa dihindari. 
Sumber: http://news.liputan6.com/read/3259820/longsor-tutup-underpass-parimeter-bandara-soekarno-hatta; dan  http://www.tribunnews.com/metropolitan/2018/02/05/mobil-tertimpa-longsor-di-jalan-menuju-bandara-soekarno-hatta
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran tanah yang berada di underpass Parimeter Selatan longsor menutupi badan jalan.  Gerakan tanah disebabkan oleh sifat tanah yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah. 

Rekomendasi : 

  • Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi longsoran atau dibawah tebing agar selalu waspada terutama saat hujan;
  • Masyarakat dan pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan;
  • Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat;
  • Material longsoran yang menutup badan jalan agar segera dibersihkan dan selalu waspada terhadap potensi adanya longsor susulan;
  • Tidak melakukan aktifitas diatas atau dibawah tebing yang terjal;
  • Melakukan perkuatan pada tebing lereng;
  • Memasang rambu - rambu peringatan rawan longsor;
  • Membuat saluran drainase yang kedap air, serta mengalirkannya menjauh dari retakan;
  • Masyarakat yang terdampak bencana agar mengungsi dulu ke tempat yang aman;
  • Bagi yang bermukim dekat dengan tebing atau lereng yang terjal agar meningkatkan kewaspadaannya terutama saat terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama;
  • Membangun dinding penahan longsor dan menata aliran air permukaan pada lereng;
  • Tidak membangun pemukiman di dekat  tebing / lereng;
  • Membuat rambu-rambu lalu lintas peringatan rawan longsor, agar pengguna jalan waspada bila melalui jalur jalan ini, terutama di musim hujan;.
  • Perlu ditingkatkan pemantauan/inspeksi jalur kereta api yang utamanya berpotongan dengan terowongan jalur jalan  yang berada pada daerah rentan gerakan tanah. 
  • Masyarakat dan PT KAI agar memantau munculnya retakan untuk antisipasi terjadinya longsoran baru.
  • PT KAI sebaiknya melakukan realtime monitoring pada jalur kereta api yang rawan gerakan tanah/ tanah longsor.
  • Menata drainase yang berada di atas bangunan underpass dengan konstruksi kedap air agar air permukaan tidak meresap dan menjenuhi tanah;
  • Perbaikan underpass sesuai dengan teknis konstruksi yang baik.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat.