Laporan Kebencanaan Geologi 11 Januari 2018 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Kamis 11 Januari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan asap putih-kelabu intensitas tipis-sedang tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 500 m di atas puncak condong ke arah Timur.  Pada malam hari tidak teramati sinar api dari puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 10 Januari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 1 kali Gempa Low-Frekuensi (LF)
  • 28 kali Gempa Hembusan
  • Nihil Gempa Tektonik Jauh (TL)
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-4 mm (dominan 1 mm).

Tanggal 11 Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VA)
  • Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 5 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari kawah G. Agung
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.

VONA: Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 08 Januari 2018 Pukul 23:43 WITA, terkait letusan/ hembusan abu vulkanik maksimum mencapai ketinggian abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Tenggara dan Timur.

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap dari arah kawah setinggi 50-500 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 10 Januari 2018 tercatat 3 kali erupsi/letusan dengan tinggi kolom abu 700-1500 m diatas puncak, dan 60 kali gempa guguran,  dengan jarak luncur guguran 500-1500 m ke arah selatan, tenggara dan timur.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Januari 2018 Pukul 14:53 WIB, terkait letusan abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak condong ke Utara dan Baratlaut.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi asap kawah putih dan kelabu tebal tekanan sedang 400-800 m. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 10 Januari 2018 tercatat:

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-12 mm (dominan 2 mm).
  • Gempa Letusan 2 kali.
  • Gempa Vulkanik Dalam (VA) nihil.
  • Gempa Tektonik Lokal (TL) nihil.

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Januari 2018 pukul 07:58 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Baratlaut.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu 300-400 m dari puncak. Angin bertiup ke arah Baratlaut. Dari tanggal 02-11 Januari 2018 rekorder seismograf mengalami gangguan dan masih dalam tahap perbaikan. 
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut, saat cuaca cerah teramati tinggi asap kawah putih tipis tekanan lemah 10 m dari puncak. Angin bertiup kencang ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 10 Januari 2018 tercatat:

  • 3 kali Gempa Hembusan
  • Nihil Gempa Fase Banyak.
  • Nihil Gempa Vulkanik Dangkal.
  • 4 kali Gempa Vulkanik Dalam.
  • 2 kali Gempa Tektonik Lokal.

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA: Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember  2017 yang dibandingkan bulan  Januari 2018,  walaupun tetap tinggi potensinya namun  sedikit mengalami penurunanan potensinya di seluruh wiilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusatenggara Barat.
  2. Kabupaten Trenggalek, Provinsi JawaTimur
  3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  4. Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat
  5. Kabupaten Pacitan, Provinsi JawaTimur

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat  kemiringan lereng terjal, pemotongan jalan yang tidak menggunakan kaidah teknik yang benar , tanah pelapukan yang bersifat porus dan labil , drainase air tidak berfungsi / tidak ada,  adanya peledakan tebing,serta dipicuh oleh curah hujan tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan.
Dampak: Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan 1 orang meninggal dunia dan 2 orang lainnya luka ringan serta  akses jalan raya terhambat yang menghubungkan Sembalun-Suela-Mataram di Kabupaten Lombok Timur (Provinsi Nusatenggara Barat); beberapa rumah warga rusak ringan hingga rusak berat di Kabupaten Trenggalek, Provinsi (JawaTimur); 2 rumah warga rusak danlalu  lintas lumpuh di  Kabupaten Sukabumi (Provinsi Jawa Barat); 1 (satu) orang pekerja dan 2 alat berat tertimbun longsor di Kabupaten Fakfak (Provinsi Papua Barat); beberapa rumah rusak dan hancur serta puluhan keluarga mengungsi ketempat yang aman di  Kabupaten Pacitan ( Provinsi JawaTimur).
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.
  2. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  3. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan asap putih-kelabu intensitas tipis-sedang tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 500 m di atas puncak condong ke arah Timur.  Pada malam hari tidak teramati sinar api dari puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 10 Januari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 1 kali Gempa Low-Frekuensi (LF)
  • 28 kali Gempa Hembusan
  • Nihil Gempa Tektonik Jauh (TL)
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-4 mm (dominan 1 mm).

Tanggal 11 Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VA)
  • Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 5 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap dari arah kawah setinggi 50-500 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 10 Januari 2018 tercatat 3 kali erupsi/letusan dengan tinggi kolom abu 700-1500 m diatas puncak, dan 60 kali gempa guguran,  dengan jarak luncur guguran 500-1500 m ke arah selatan, tenggara dan timur.
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi asap kawah putih dan kelabu tebal tekanan sedang 400-800 m. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 10 Januari 2018 tercatat:

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-12 mm (dominan 2 mm).
  • Gempa Letusan 2 kali.
  • Gempa Vulkanik Dalam (VA) nihil.
  • Gempa Tektonik Lokal (TL) nihil.

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu 300-400 m dari puncak. Angin bertiup ke arah Baratlaut. Dari tanggal 02-11 Januari 2018 rekorder seismograf mengalami gangguan dan masih dalam tahap perbaikan.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga berkabut, saat cuaca cerah teramati tinggi asap kawah putih tipis tekanan lemah 10 m dari puncak. Angin bertiup kencang ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 10 Januari 2018 tercatat:- 3 kali Gempa Hembusan- Nihil Gempa Fase Banyak.- Nihil Gempa Vulkanik Dangkal.- 4 kali Gempa Vulkanik Dalam.- 2 kali Gempa Tektonik Lokal.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara
  • Kemenhub,
  • BMKG, 
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin, 
  • VAAC Tokyo, 
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 08 Januari 2018 Pukul 23:43 WITA, terkait hembusan abu  vulkanik dengan ketinggian abu 5142 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara dan timur.
  2. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Januari 2018 Pukul 14:53 WIB, terkait letusan abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak condong ke Utara dan Baratlaut.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Januari 2018 pukul 07:58 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Baratlaut.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Dibandingkan  bulan Desember    2017 , pada bulan Januari   2018 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  walaupun mengalami  sedikit  penurunan di bandingkan  Desember 2017 , mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai anara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

  1. Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusatenggara Barat
  2. Kabupaten Trenggalek, Provinsi JawaTimur
  3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  4. Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat
  5. Kabupaten Pacitan, Provinsi JawaTimur
  6. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat
  7. Kota Batu (Malang ), Provinsi Jawa Timur
  8. Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo
  9. Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur
  10. Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah
  11. Kabupaten  Sragen, Provinsi Jawa Tengah
  12. Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali
  13. Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi  Sulawesi Barat
  14. Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (Pali), Provinsi Sumatera Selatan
  15. Kabupaten Bangka Barat,  Provinsi Bangka Belitung
  16. Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali
  17. Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan
  18. Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali
  19. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur
  20. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur
  21. Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan
  22. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat
  23. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
  24. Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur
  25. Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur
  26. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur
  27. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah
  28. Kabupaten Malang, Provinsi  Jawa Timur
  29. Kabupaten Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah
  30. Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur
  31. Kabupaten Gianyar,  Provinsi Bali
  32. Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh
  33. Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat
  34. Kabupaten Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah
  35. Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah
  36. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah
  37. Kabupaten  Magetan, Provinsi Jawa Tengah
  38. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur
  39. Kabupaten  Banjarnegara , Provinsi Jawa Tengah
  40. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah
  41. Kabupaten Gianyar ,  Provinsi Bali
  42. Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat
  43. Kota Batu (Malang), Provinsi Jawa Timur. 

Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusatenggara Barat (NTB)
Gerakan tanah terjadi di kaki perbukitan Gn. Rinjani, di Desa Sembalun Bumbung, Kec. Sembalun, Kab. Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) tepatnya di jalan lintas Sembalun-Suela, pada hari Rabu 10 Januari 2018 sekitar pukul 03.00 dan 06.00 WITA, setelah sebelumnya wilayah tersebut diguyur hujan deras. Gerakan tanah ini mengakibatkan 3 orang korban di dalam mobil tersebut (1 orang meninggal dunia dan 2 orang lainnya luka ringan) dan akses jalan raya yang menghubungkan Sembalun-Suela-Mataram terputus.Awalnya gerakan tanah terjadi pukul 03.00 WITA, karena jalan tertutup material longsor ini maka  ketiga korban menginap di dalam mobil jenis Avanza yang diparkir di pinggir jalan raya tersebut. Gerakan tanah  terjadi kembali dan  lebih besar pada pukul 06.00 WITA yang  akhirnya menimbulkan korban.
Sumber : http://regional.liputan6.com/read/3221213/longsor-kaki-rinjani-timbun-warga-di-dalam-mobil
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat Lereng yang terjal, minimnya pepohonan penahan lereng, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, kurang berfungsinya drainase/saluran air dan dipicuh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah.  Jenis gerakan tanah diperkirakan adalah Longsoran bahan rombakan.

2. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur
Gerakan tanah terjadi di 6 (enam) lokasi berada di Desa Prambon, Kec. Tugu, Desa Puyung, Kec. Pule, Desa Gamping Kec. Suruh, Desa Sumberdari Kec. Trenggalek, serta Desa Sumurup dan Desa Masaran Kec. Bendungan pada hari Selasa 9 Januari 2018 setelah sebelumnya turun hujan deras., berasal dari tebing samping dan belakang rumah warga dengan ketinggian tebing bervariasi antara 3 – 15 meter. Akibat gerakan tanah beberapa rumah warga di enam lokasi di atas mengalami rusak ringan hingga rusak berat. Untuk penanganan darurat personel gabungan dari TNI, Polisi, BPBD dan warga bergotong-royong untuk membantu membersihkan material longsor yang menimpa bangunan milik warga
Sumber: https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3806829/longsor-6-titik-di-trenggalek-rusak-8-rumah-warga
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat lereng yang terjal, minimnya pepohonan penahan lereng, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, kurang berfungsinya drainase/saluran air dan dipicuh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah.  Jenis gerakan tanah diperkirakan adalah Longsoran bahan rombakan.

3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
Bencana gerakan tanah terjadi di 5 titik di Kampung Ciseupan, RT 01/13, Desa Cidadap, Kampung Bababakanwareng, RT 02/13, Desa Cidadap, Kampung Cikadaka, RT 03/14, Desa Cidadap. Kemudian, Kampung Cibarengkok, RT 01/15, Desa Cidadap dan Kampung Babakanbaru, RT 04/14, Desa Cidadap, Kec. Simpenan, Kab. Sukabumi, Prov. Jawa Barat, Rabu, 10 Jnuari 2018, setelah hujan deras sejak hari Selasa 9 Januari 2018 malam hingga Rabu 10 Januari2018. mengakibatkan 2 rumah warga rusak dan jalan yang menghubungkan antara desa tersebut diatas tertimbun longsor sehingga lalu lintas lumpuh.
Sumber : https://www.antaranews.com/berita/676638/banjir-dan-longsor-landa-kecamatan-simpenan-sukabumi
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat lereng yang terjal, minimnya pepohonan penahan lereng, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, kurang berfungsinya drainase/saluran air dan dipicuh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah.  Jenis gerakan tanah diperkirakan adalah Longsoran bahan rombakan.

4. Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat
Gerakan tanah terjadi pada tebing Bandara Torea Fakfak Papua Barat pada hari Rabu 10 Januari 2018 pukul 09.00 WIT saat hujan deras. berakibat tebing setinggi 50 meter runtuh menimbun 1 (satu) orang pekerja dan 2 alat berat, saat ini korban masih dalam pencarian
Sumber : https://www.antvklik.com/news/tebing-bandara-longsor-pekerja-dan-alat-berat-tertimbun
Penyebab diperkirakan adanya pengambilan material tebing untuk proyek penimbunan ujung pacu landasan Bandara Torea, tanpa memperhitungkan keamanan, aktifitas pembangunan bandara menggunakan peledakan yang menjadi pemicu retakan di tebing batu  dan dipicuh oleh curah hujan tinggi sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah hingga akhirnya terjadi longsor  dengan jenis longsoran bahan rombakan.

5. Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur
Gerakan tanah terjadi di Dusun Tegal, dan Dusun Mujing Rt 09 RW 09, Desa BorangKec. Arjosari,Kab. Pacitan pada hari Selasa 9 Januarir 2018, setelah turun hujan deras sejak sehari sebelumnya. Dampaknya  beberapa rumah rusak dan hancur dan puluhan keuarga mengungsi ketempat yang aman
Sumber : https://www.antvklik.com/news/diterjang-longsor-rumah-warga-di-pacitan-jawa-timur-rata-dengan-tanah
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat lereng yang terjal, minimnya pepohonan penahan lereng, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, kurang berfungsinya drainase/saluran air dan dipicuh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah.  Jenis gerakan tanah diperkirakan adalah Longsoran bahan rombakan.

Rekomendasi:

  • Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas, serta pengguna jalan harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi kawasan  rawan gerakan tanah;
  • Segera membersihkan material longsor yang menutup jalan agar lalu lintas kembali lancar dengan tetap kewaspadaan selama melakukan kegiatan pembersihan tersebut;
  • Agar melakukan pengaturan lalu lintas, dilakukan dengan sistem buka tutup;
  • Menjaga  kewaspadaan bagi warga perumahan yang bermukim di sekitar lokasi bencana, segera mengungsi jika hujan deras lebih 3 jam;
  • Rumah segera diperbaiki dengan diperkuat dengan tembok penahan lereng dengan pondasi mencapai batuan/tanah keras;
  • Lereng di sekitarnya dilandaikan dan ditanam pohon yang berakar kuat dan dalam;
  • Pada lokasi kejadian gerakan tanah di bandara,  untuk perbaikan tebing dan landas pacu agar memperhatikan keamanan dan keselamatan serta perlu kewaspadaan para pekerja dan masyarakat pengguna jasa Bandara Torea;
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan;
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman tersebut;
  • Pembuatan dinding penahan lereng yang dilengkapi dengan lubang saluran air, serta mengatur drainase di atas dan pada lereng;
  • Tidak membangun di dekat tebing;
  • Melandaikan lereng dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi yang mengikuti kaidah – kaidah geotek;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.