Laporan Kebencanaan Geologi 10 Januari 2018 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Rabu 10 Januari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan uap putih hingga kelabu tipis tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 100-300 m di atas puncak condong ke arah selatan dan tenggara.  Pada malam hari tidak teramati sinar api dari puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 09 Januari 2018 tercatat:

  • 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 7 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 25 kali Gempa Hembusan
  • Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-4 mm (dominan 1 mm).

Tanggal 10 Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • Nihil Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VA)
  • Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 2 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0,5-2 mm (dominan 0,5 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari kawah G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.

VONA: Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 08 Januari 2018 Pukul 23:43 WITA, terkait letusan/ hembusan abu vulkanik maksimum mencapai ketinggian abu 5142 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara dan timur.

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap dari arah kawah setinggi 100-200 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah timur. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan dengan tinggi kolom abu 1600 m diatas puncak, dan 90 kali gempa guguran,  dengan jarak luncur guguran 500-1000 m ke arah selatan, tenggara dan timur.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 09 Januari 2018 Pukul 10:34 WIB, terkait letusan abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 1600 m dari puncak condong ke selatan dan timur.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi sering tertutup kabut. Teramati tinggi asap kawah putih dan kelabu tebal tekanan sedang 300-400 m. Angin bertiup lemah-sedang ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 09 Januari 2018 tercatat:- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-10 mm (dominan 2 mm).- Gempa Letusan 2 kali.- Gempa Vulkanik Dalam (VA) nihil.- Gempa Tektonik Lokal (TL) nihil.
Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 Januari 2018 pukul 09:51 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu 200-600 m dari puncak. Angin bertiup ke arah timur. Dari tanggal 02-10 Januari 2018 rekorder seismograf mengalami kerusakan. Perbaikan segera dilakukan. 
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi teramati jelas hingga berkabut, saat cuaca cerah teramati tinggi asap kawah putih tipis tekanan lemah 5-10 m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 09 Januari 2018 tercatat:

  • 6 kali Gempa Hembusan
  • Nihil Gempa Fase Banyak.
  • 4 kali Gempa Vulkanik Dangkal.
  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam.
  • Nihil Gempa Tektonik Lokal.

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA: Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.


2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember  2017 yang dibandingkan bulan  Januari 2018,  walaupun tetap tinggi potensinya namun  sedikit mengalami penurunanan potensinya di seluruh wiilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat2. Kota Batu (Malang ), Provinsi Jawa Timur
Penyebab: Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat  kemiringan lereng terjal, pemotongan jalan yang tidak menggunakan kaidah teknik yang benar , tanah pelapukan yang bersifat porus dan labil serta dipicuh oleh curah hujan tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan.
Dampak: Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan akses jalan terhambat di Kabupaten Kuningan, (Provinsi Jawa Barat); satu ruma rusak dan akses jalan terputus di Kota Batu (Malang ) ( Provinsi Jawa Timur)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.
  2. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  3. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan abu tipis-sedang putih kelabu tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 100-500 m di atas puncak condong ke arah timur. Pada malam hari tidak teramati sinar api dari arah puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 09 Januari 2018 tercatat:

  • 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 7 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 25 kali Gempa Hembusan
  • Nihil Tektonik Lokal (TL).
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-4 mm (dominan 1 mm).

Tanggal 10 Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • Nihil Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VA)
  • 2 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0,5-2 mm (dominan 0,5 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap putih tipis tekanan lemah dari arah kawah setinggi 100-200 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah barat. Melalui rekaman seismograf dan visualtercatat 2 kali erupsi/letusan dengan tinggi kolom abu 1600 m diatas puncak, dan 90 kali gempa guguran,  jarak luncur guguran 500-1000 m ke arah selatan, tenggara, dan timur.
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya tertutup kabut, asap kawah putih dan kelabu tebal teramati mencapai ketinggian 300-400 m. Angin bertiup lemah-sedang ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 09 Januari 2018 tercatat:

  • Gempa Letusan 2 kali.
  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-10 mm (dominan 2 mm).
  • Vulkanik Dalam (VA) nihil.
  • Tektonik Lokal (TL) nihil.

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu tebal teramati 200-600 m. Angin bertiup ke arah selatan dan timur. Sistem rekorder seismograf dari tanggal 02-10 Januari 2018 mengalami kerusakan, perbaikan segera dilakukan.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi teramati cerah hingga berkabut, saat cuaca cerah teramati asap putih tipis tekanan lenah 5-10 m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui rekaman seismograf pada 09 Januari 2018 tercatat:

  • 6 kali Gempa Hembusan
  • Nihil Gempa Fase Banyak.
  • 4 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • Nihil Gempa Tektonik Lokal.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara
  • Kemenhub,
  • BMKG, 
  • Air Nav, 
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin, 
  • VAAC Tokyo, 
  • dll


VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 08 Januari 2018 Pukul 23:43 WITA, terkait hembusan abu  vulkanik dengan ketinggian abu 5142 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara dan timur.
  2. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 09 Januari 2018 Pukul 10:34 WIB, terkait letusan abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 4060 m dari permukaan laut atau 1600 m dari puncak. Kolom abu condong ke selatan dan timur.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 Januari 2018 pukul 09:51 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah barat.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


2. Gerakan Tanah
Dibandingkan  bulan Desember    2017 , pada bulan Januari   2018 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  walaupun mengalami  sedikit  penurunan di bandingkan  Desember 2017 , mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai anara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 

  1. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat
  2. Kota Batu (Malang ), Provinsi Jawa Timur
  3. Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo
  4. Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur
  5. Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah
  6. Kabupaten  Sragen, Provinsi Jawa Tengah
  7. Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali
  8. Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi  Sulawesi Barat
  9. Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (Pali), Provinsi Sumatera Selatan
  10. Kabupaten Bangka Barat,  Provinsi Bangka Belitung
  11. Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali
  12. Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan
  13. Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali
  14. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur
  15. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur
  16. Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan
  17. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat
  18. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
  19. Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur
  20. Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur
  21. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur
  22. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah
  23. Kabupaten Malang, Provinsi  Jawa Timur
  24. Kabupaten Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah
  25. Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur
  26. Kabupaten Gianyar,  Provinsi Bali
  27. Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh
  28. Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat
  29. Kabupaten Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah
  30. Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah
  31. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah
  32. Kabupaten  Magetan, Provinsi Jawa Tengah
  33. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur
  34. Kabupaten  Banjarnegara , Provinsi Jawa Tengah
  35. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah
  36. Kabupaten Gianyar ,  Provinsi Bali
  37. Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat
  38. Kota Batu (Malang), Provinsi Jawa Timur
  39. Kabupaten  Semarang, Provinsi Jawa Tengah
  40. Kabupaten  Pekalongan,  Provinsi Jawa Tengah
  41. Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan
  42. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat
  43. Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan
  44. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah
  45. Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah.

 

Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat
Hampir empat jam hujan deras di wilayah Selatan Kabupaten Kuningan menyebabkan tanah longsor di Desa Kutawaringin, Kecamatan Selajambe, hingga menutup akses jalan yang menghubungkan Cipasung-Subang, Senin (8/1) sekitar pukul 17.00 WIB. Tebing setinggi 25 meter yang baru dikeruk karena proyek pelebaran jalan ambrol hingga menutup jalan sepanjang 50 meter dengan ketebalan tanah mencapai 50 sentimeter. Beruntung saat kejadian kondisi jalan tengah sepi sehingga musibah tanah longsor tidak sampai memakan korban jiwa.
Sumber : http://www.radarcirebon.com/tebing-longsor-akses-akses-jalan-cipasung-subang-tertutup.html
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

2. Kota Batu (Malang ), Provinsi Jawa Timur
Intensitas hujan yang terus tinggi berdampak becana longsor di Kota Batu. Sedikitnya ada empat titik longsor terjadi, sejak Senin (8/1). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu mencatat peristiwa longsor terjadi di Jalur Payung 2 Songgoriti, Songgokerto (jalan penghubung Batu-Pujon), jalur Dusun Toyomerto, Pesanggrahan, Jalan Klemuk Songgoriti dan pemukiman warga di Jalan Bromo, Kelurahan Sisir. Peristiwa di Kelurahan Sisir, Longsor menimpa halaman belakang rumah milik Yunani (67) beralamat Jalan Bromo gang VI RT03 RW12 Sisir Kota Batu. Akibat debit air DAS Brantas yang meninggi dan deras, plengsengan non teknis longsor. Diameter longsor tinggi 6 meter, lebar 7 meter dan ketebalan sekitar 3 meter.Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu Achmad Choirur Rochiim mengatakan, beberapa peristiwa longsor terutama yang menyebabkan akses jalan terhambat langsung ditangani TRC BPBD Kota Batu. Bekerja sama TNI, Polres Batu, DPK Kota Batu serta DPUPR Kota Batu, RAPI dan relawan. “Misal di jalur Payung 2 dan Toyomerto. Langsung ditangani tim agar tidak menghambat lalu lintas. Meminta bantuan Mobil Damkar untuk membersihkan jalan dari sisa material longsor agar tidak licin,” kata Rochiim.
Sumber : https://malangvoice.com/awas-longsor-kepung-kota-batu/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat  kemiringan lereng terjal, pemotongan jalan yang tidak menggunakan kaidah teknik yang benar , tanah pelapukan yang bersifat porus dan labil serta dipicuh oleh curah hujan tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan.

Rekomendasi :

  • Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas, serta pengguna jalan harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi kawasan  rawan gerakan tanah.
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman tersebut.
  • Pembuatan dinding penahan lereng yang dilengkapi dengan lubang saluran air, serta mengatur drainase di atas dan pada lereng.
  • Tidak membangun di dekat tebing
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi yang mengikuti kaidah – kaidah geotek.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.