Laporan Kebencanaan Geologi 8 Januari 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Senin 08 Januari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Agung (Bali):

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan uap putih hingga kelabu tipis tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 100-500 m di atas puncak condong ke arah selatan dan timur.  Pada malam hari tidak teramati sinar api dari puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 07 Januari 2018 tercatat:

  • 16 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 28 kali Gempa Hembusan
  • Nihil Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-24 mm (dominan 1 mm).

 

Tanggal 08 Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VA)
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 4 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)

 

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari kawah G. Agung
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.
  • Status Level IV (Awas) hanya berlaku di dalam radius 6 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan NORMAL dan masih tetap AMAN.

VONA:

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 Januari 2018 Pukul 11:33 WITA, terkait letusan/ hembusan abu vulkanik maksimum mencapai ketinggian abu 4642 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah baratdaya dan selatan.

 

G. Sinabung (Sumatera Utara):

 

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap dari arah kawah setinggi 50-1000 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah tenggara dan timur. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan dengan tinggi kolom abu 1200 m diatas puncak, dan 52 kali gempa guguran,  dengan jarak luncur guguran 500-1000 m ke arah selatan dan tenggara.

 

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

 

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 07 Januari 2018 Pukul 12:32 WIB, terkait letusan abu tebal selama 212 detik. Tinggi kolom abu tidak teramati karena puncak tertutup kabut. Angin ke arah timur.

 

G. Dukono (Halmahera):

 

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tertutup kabut dan tidak teramati asap kawah putih dan kelabu tebal tekanan sedang. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan. Melalui seismograf tanggal 07 Januari 2018 tercatat:

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-16 mm (dominan 2 mm).
  • Gempa Letusan 1 kali.
  • Gempa Vulkanik Dalam (VA) 1 kali.
  • Gempa Tektonik Lokal 1 kali.

 

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.

 

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 Januari 2018 pukul 09:51 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

G. Ibu (Halmahera):

 

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu 200-600 m dari puncak. Angin bertiup ke arah timur. Dari tanggal 02-08 Januari 2018 rekorder seismograf mengalami kerusakan. Perbaikan segera dilakukan.

 

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

 

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

 

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):

 

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi teramati jelas hingga berkabut, saat cuaca cerah teramati tinggi asap kawah putih tipis tekanan lemah 10 m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 07 Januari 2018 tercatat:

  • 13 kali Gempa Hembusa
  •  Nihil Gempa Fase Banyak.
  • Nihil Gempa Vulkanik Dangkal.
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam.
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal.

 

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.

 

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

 

2. Gerakan Tanah

 

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember  2017 yang dibandingkan bulan  Januari 2018,  walaupun tetap tinggi potensinya namun  sedikit mengalami penurunanan potensinya di seluruh wiilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

 

Gerakan tanah terakhir terjadi :

 

1.            Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali

2.            Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan

3.            Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali

4.            Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur

5.            Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur

6.            Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan

7.            Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat

8.            Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah

9.            Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur

10.          Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur

11.          Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

Penyebab  :

Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng,  pemukiman dan jalan  di bangun di dekat tebing / lereng/ diatas talud, kondisi talud yang tidak tertanam kuat di batuan yang keras, kondisi batuan dan  struktur geologi setempat, sifat tanah pelapukan yang mudah menyerap air ,  labil, vegetasi yang terus berkurang diperbukitan,  drainase air tidak berfungsi / tidak ada serta dipicuh oleh  tingginya curah hujan baik sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah.

 

Dampak  :

Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan sawah 40 are longsor, kandang ternak, Pura Beji pelinngi dan  rumah pemilik sawah tertimbun serta jembatan rusak di  Kabupaten Tabanan (Provinsi Bali);  akses jalan tertutup di Kabupaten Pinrang (Provinsi Sulawesi Selatan) , di Kabupaten Klungkung (Provinsi Bali), di Kabupaten Jember (Provinsi Jawa Timur), di Kabupaten Banjarnegara (Provinsi Jawa Tengah), di  Kabupaten Manggarai Timur (Provinsi Nusa Tenggara Timur); 1 unit rumah rusak akibat tertimbun longsor dan 2 orang hilang diduga tertimbun material longsor di Kabupaten Ponorogo (Provinsi Jawa Timur); satu unit rumah rusak di Kabupaten Balangan (Provinsi Kalimantan Selatan) dan di Kabupaten Bojonegoro (Provinsi Jawa Timur) ; rumah warga tertimbun dan sebuah jembatan rusak di Kabupaten Garut (Provinsi Jawa Barat); talud dan satu rumah rusak di Kabupaten Blitar (Provinsi Jawa Timur)

 

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

 

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

a. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015*, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.

b. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo*, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api);

c. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

 

Gunungapi Agung (Bali).

 

Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).

Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan uap air dan abu tipis-sedang putih kelabu tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 100-500 m di atas puncak condong ke arah selatan dan timur. Pada malam hari tidak teramati sinar api dari arah puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 07 Januari 2018 tercatat:

  • 16 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 28 kali Gempa Hembusan
  • Nihil Tektonik Lokal (TL).
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-24 mm (dominan 1 mm).

 

Tanggal 08 Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 6 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VA)
  • 11 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 1 mm)

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

 

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

 

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap putih tipis tekanan lemah dari arah kawah setinggi 50-1000 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah tenggara dan timur. Melalui rekaman seismograf dan visual

tercatat 2 kali erupsi/letusan dengan tinggi kolom abu 1200 m diatas puncak, dan 51 kali gempa guguran,  jarak luncur guguran 500-1000 m ke arah selatan dan tenggara.

 

Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.

 

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

 

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

 

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

 

Gunungapi Dukono (Halmahera).

 

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya tertutup kabut, asap kawah putih dan kelabu tebal tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan. Melalui seismograf tanggal 07 Januari 2018 tercatat:

  • Gempa Letusan 1 kali.
  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-16 mm (dominan 2 mm)
  •  Vulkanik Dalam (VA) 1 kali
  • Tektonik Lokal (TL) 1 kali.

 

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

 

Gunungapi Ibu (Halmahera).

 

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Tinggi asap kelabu tebal teramati 200-600 m. Angin bertiup ke arah selatan dan timur. Sistem rekorder seismograf dari tanggal 02-08 Januari 2018 mengalami kerusakan, perbaikan segera dilakukan.

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

 

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT). 

 

Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi teramati cerah hingga berkabut, saat cuaca cerah teramati asap putih tipis tekanan lenah 10 m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 07 Januari 2018 tercatat:

  • 13 kali Gempa Hembusan
  • Nihil Gempa Fase Banyak.
  • Nihil Gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal.

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

 

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

 

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Agung, Bali.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 03 Januari 2018 Pukul 11:33 WITA, terkait letusan/ hembusan maksimum abu vulkanik  dengan ketinggian abu 4642 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah baradaya dan selatan.

 

(2) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 07 Januari 2018 Pukul 13:32 WIB, terkait letusan abu tebal selama 212 detik. Tinggi kolom abu tidak teramati karena puncak tertutup kabut. Angin ke arah timur.

 

(3) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 Januari 2018 pukul 09:51 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

(4) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

(5) G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

 

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

 

Dibandingkan  bulan Desember    2017 , pada bulan Januari   2018 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  walaupun mengalami  sedikit  penurunan di bandingkan  Desember 2017 , mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai anara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua.

 

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

1. Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali*,

2.Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan*,

3.Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali*,

4.Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur*,

5.Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur*,

6.Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan*,

7.Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat*,

8.Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah*,

9. Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur*,

10. Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur*,

11. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur*,

12.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah,

13.Kabupaten Malang, Provinsi  Jawa Timur,

14.Kabupaten Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah,

15.Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur,

16. Kabupaten Gianyar,  Provinsi Bali,

17. Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh,

18. Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat,

19.Kabupaten Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah,

20.Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah,

21.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah,

22.Kabupaten  Magetan, Provinsi Jawa Tengah,

23.Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur,

24.Kabupaten  Banjarnegara , Provinsi Jawa Tengah,

25. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah,

26. Kabupaten Gianyar ,  Provinsi Bali ,

27. Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat,

28. Kota Batu (Malang), Provinsi Jawa Timur,

29.Kabupaten  Semarang, Provinsi Jawa Tengah,

30.Kabupaten  Pekalongan,  Provinsi Jawa Tengah,

31.Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan,

32. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat,

33. Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan,

34. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah,

35. Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah,

36.Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan.

37.Kabupaten Bantul, Provinsi DI. Yogyakarta,

38. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur,

39. Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur,

40. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur,

41.Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah,

42.Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat,

43. Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali,

44.  Kabupaten Pidie , Provinsi Aceh.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

 

1. Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali

 

Gerakan tanah / tanah longsor terjadi  di Banjar Asah Tegeh, Desa Karyasari, Kecamatan Pupuan, Kab. Tabanan pada Sabtu (6/1/2018) malam sekitar pukul 20.30 Wita. Sebelum kejadian,  malam itu tidak ada hujan deras, hanya saja sebelumnya pada sore hari hujan lebat melanda Kecamatan Pupuan. Dampaknya  sawah milik I Nengah Wiliana seluas 40 are longsor dan mengubur kandang babi dari 7 KK mengakibatkan  puluhan ternak mati serta  jembatan penghubung antara 7 KK sepanjang 8 meter ini pun ikut tergerus hingga menyebabkan warga terisolasi. Bahkan, Pura Beji serta pelinggih kemulan dan rumah pemilik sawah juga tertimbun. Namun beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

http://bali.tribunnews.com/2018/01/07/disapu-longsor-puluhan-babi-milik-warga-pupuan-mati-muliastra-hanya-5-selamat http://www.balipost.com/news/2018/01/07/33685/Hujan-Deras-Sebabkan-Longsor-di...html

 

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah dan aliran bahan rombakan.

 

2.Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan

 

Gerakan tanah terjadi di jalur jalan, tepatnya di Kampung Ranga-ranga, Kelurahan Betteng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan. Dampaknya akses jalan tertutup sementara tidak bisa dilalui kendaraan akibat tertutup material longsor. Gerakan tanah terjadi pada hari Sabtu 6 Januari 2018 sore hari.

 

http://makassar.tribunnews.com/2018/01/07/material-longsor-tutup-jalan-kelurahan-betteng-pinrang-begini-kondisinya

 

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

3.Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali

 

Gerakan tanah terjadi di jalur jalan yang menghubungkan antara Kabupaten Klungkung dengan Kabupaten Gianyar, tepatnya di tebing sebelah timur jembatan Tukad Melangit. Dampaknya tebing jalan mengalami longsor dan material nya menutup sebagian badan jalan. Gerakan tanah terjadi pada hari Minggu 7 Januari 2018 dini hari.

 

http://bali.tribunnews.com/2018/01/07/longsor-ganggu-arus-jalan-di-perbatasan-klungkung-gianyar

 

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

 

4.Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur

 

Gerakan tanah terjadi di wilayah Dukuh Gondang RT.02 RW.03, Desa Tumpuk, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur pada hari Minggu 7 Januari 2018 sekitar pukul 17.30 WIB. Dampaknya 1 unti rumah rusak akibat tertimbun longsor dan 2 orang hilang diduga tertimbun material longsor.

 

https://kanalponorogo.com/longsor-sawoo-ibu-dan-balita-belum-ditemukan/

 

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

 

5.Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur

 

Gerakan tanah / tanah longsor kembali terjadi di Dusun Silosanen, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Sabtu (6/1/2018) pukul setengah tujuh malam. Ini longsor kedua setelah 1 Januari 2018 lalu  yang  berjarak sekitar 30 meter dari lokasi tanah longsor pertama. Longsor susulan ini terjadi karena hujan berintensitas tinggi yang mengguyur daerah dataram tinggi yang memiliki retakan tanah. Akibatnya jalan penghubung desa Pace dan Desa Mulyorejo tertutup longsoran baru. Namun kendaraan roda empat masih bisa lewat. Tak ada korban jiwa dan material

 

http://beritajatim.com/peristiwa/317980/longsor_kembali_terjadi_di_silo_jember.html

 

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

6.Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan

 

Gerakan tanah terjadi di Desa Muara Pitap, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan. Dampaknya satu unit rumak mengalami rusak. Gerakan tanah terjadi pada hari Minggu 7 Januari 2018 pada pukul 04.00 WITA.

 

http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/01/07/hujan-deras-pagi-tadi-banjir-dan-longsor-kembali-terjadi-di-lokasi-ini

 

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah yang labil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

 

7.Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat

 

Intensitas hujan yang cukup tinggi selama dua hari mengguyur Garut mengakibatkan bergesernya material tanah. Longsor  terjadi di dua kampung sekaligus di Kecamatan Karangtengah Garut pada Sabtu (06/01/2018). Material longsor di Kampung Cileles Desa Cintamanik menimbun rumah warga, merusak sebuah jembatan di Kampung Bojongsari yang  menghubungkan jalan antara Kampung Bojongsari ke Kampung Cituak. Akibat tertimbun longsor, pengguna jalan harus hati-hati melewati jembatan tersebut.

 

https://www.google.co.id/amp/s/wartapriangan.com/2018/01/07/dua-kampung-di-garut-dilanda-longsor/amp/

 

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah . Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

 

8.Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah

 

Gerakan tanah / tanah longsor pada  jalur jalan di Desa Asinan dipicu hujan dengan intensitas sedang dengan durasi yang cukup panjang beberapa waktu lalu. Hujan yang disertai petir memicu jalan yang berada di RT 3 RW 1 Desa Asinan longsor pada tanggal 7 Januari 2018  sekitar  jam empat dini hari. Panjang jalan yang patah mencapai 50 meter dengan lebar jalan lima meter dan tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda empat

 

http://googleweblight.com/?lite_url=http://www.wawasan.co/home/detail/2168/Longsor-Jalan-Asinan-Kalibening-Putus&ei=4ektUaED&lc=en-

 

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, drainase yang tidak berfungsi / tidak ada sehingga air melimpas ke jalan,  juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah . Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

 

9. Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur

 

Hujan deras mengguyur wilayah Mukun, Desa Mokel, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT pada Sabtu (6/1/2018) sore selama kurang lebih lima jam sejak pukul 14.00 wita. Dampaknya Gerakan tanah / tanah longsor terjadi  di sejumlah titik jalur provinsi yang menghubungkan Mukun-Borong dan Mukun- Ruteng. Ada delapan titik longsor yang sangat parah yaitu di Wae Lekot dan tujuh titik lainnya terdapat di antara kampung Pedak dan Kampung  Deru. Longsor kali ini adalah longsor yang sangat parah yang diakibatkan hujan lebat yang mengguyuri daerah tersebut kurang lebih selama lima jam. Banyak pohon-pohon besar dan batu-batu besar yang sudah menutupi badan jalan dan kendaraan pun sangat sulit untuk melewati jalur tersebut.

 

https://www.florespost.co/2018/01/07/hujan-deras-akibatkan-tanah-longsor-di-beberapa-titik-ruas-jalan-mukun-borong/

 

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah yang labil, drainase yang tidak berfungsi / tidak ada sehingga air melimpas ke jalan,  juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah . Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran bahan rombakan dan jatuhan.

10. Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur

 

Gerakan tanah / tanah longsor terjadi Desa Senganten, Kecamatan Gondang, pada Sabtu (6/1/2017) sekitar 18:30 malam .  Kronologi kejadian ketika hujan dengan intensitas sedang menguyur wilayah Kecamatan Gondang kurang lebih selama 2 jam. Mengakibatkan tebing penahan rumah setinggi 3 meter dan sepanjang kurang lebih 8 meter milik warga, longsor mengenai rumah warga atas nama Suyono dan Yatjupri. Akibat kejadian tersebut 1 Rumah rusak, dinding kayu rumah jebol terkena longsoran tanah.

 

https://www.google.co.id/amp/s/m.kumparan.com/blokbojonegoro/hujan-selama-2-jam-rumah-di-bojonegorotertimpa-longsor.amp

 

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal , rumah di bangun dekat tebing, talud penahan longsor dengan pondasi tidak kuat, pengaturan drainase kurang baik baik/ tidak berdampak air terakumulasi di didinding penahan tebing, dengan kondisi tanah yang labil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah . Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

 

11. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur

 

Gerakan tanah / tanah longsor pada  mengakibatkan talud Sungai Lahar di wilayah Kepanjen Kidul Kota Blitar Jawa Timur ambrol, Sabtu (6/1/2018). Hujan deras yang terjadi sepanjang sore di wilayah kota Blitar mengakibatkan debit air sungai Lahar meningkat. Kondisi ini mengakibatkan talut penahan yang juga menjadi pondasi rumah, di jalan Kali Brantas, Kelurahan Kauman Kecamatan Kepanjen Kidul Ambrol.

 

http://agtvnews.com/2018/01/satu-rumah-longsor-tergerus-banjir.html

 

Penyebab gerakan tanah diperkirakan  rumah  di bangun di dekat tebing sungai/ diatas talud, erosi sungai, sifat tanah pelapukan yang labil dan mudah terosi serta dipicuh oleh  tingginya curah hujan baik sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah.

 

*Rekomendasi :

 

•Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan.

•Tidak melakukan pencarian hewan ternak terutama pada musim hujan dikarenakan masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.

•Petugas/aparat setempat yang sedang melakukan pencarian korban yang diduga hilang tertimbun material longsor agar berhati-hati dan disarankan tidak saat/sesudah turun hujan terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama dikarenakan masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.

•Bagi yang bermukim dekat dengan tebing atau lereng yang terjal agar meningkatkan kewaspadaannya terutama saat terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama.

•Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.

•Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan

•Melandaikan lereng dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi yang mengikuti kaidah – kaidah geologi.

•Memperbaiki drainase dan saluran air permukaan agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan serta tidak membiarkan bebas air melalui lereng;

•Penataan aliran air permukaan (run off) secara menyeluruh di daerah bencana gerakan tanah dan sekitarnya.

•Retakan segera ditutup agar air tidak masuk kedalam retakan tersebut;

•Memelihara vegetasi berakar kuat dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng ;

•Agar dibangun bangunan penahan longsor / talud dengan pondasi mencapai batuan yang keras  ;

•Tidak membangun di dekat  tebing / lereng , di dekat  tebing sungai dan diatas talud sungai;

•Pembangunan talud yang longsor  agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan;

•Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;

•Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah  / BPBD setempat.