Laporan Kebencanaan Geologi 05 Desember 2017 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Selasa 05 Desember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November  2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah berwarna putih tipis tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 500-1000 m di atas puncak condong kearah barat dan timur. Pada malam hari  teramati sebentar sinar api dari lava pijar di kawah puncak. Pada hari ini tidak terjadi erupsi eksplosif dan tidak terekam tremor over scale.Rekaman seismograf Tanggal 04 Desember 2017 tercatat:

  • 14 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • Nihil Gempa Tektonik Lokal
  • Nihil Gempa Erupsi Eksplosif.
  • 29 kali Low Frequency.
  • Nihil Gempa Hembusan.
  • 2 kali Tremor Harmonik.
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm dominan 1 mm.

Tanggal 05 Desember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • Nihil Gempa Hembusan
  • 18 kali Gempa Low Frequency.
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 3 kali Gempa Vulkanik Daalam (VA)
  • Nihil Tektonik Lokal.
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi: Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari kawah G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 10 km dari kawah G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.
VONA: Terakhir terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 November 2017 Pukul 06:45 WITA, terkait hembusan abu vulkanik menerus dengan ketinggian abu 5142 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah putih tipis tekanan lemah tidak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan timur. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi letusan dan 76 gempa guguran. Secara visual tinggi kolom abu tidak teramati karena puncak gunung tertutup kabut. Erupsi disertai guguran lava meluncur sejauh 1000-1500 m  ke lereng selatan dan tenggara. Erupsi tidak disertai oleh awan panas guguran.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 02 Desember 2017 Pukul 14:14 WIB, terkait letusan selama 231 detik. Puncak tertutup kabut. Angin bertiup ke timur.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf terekam:

  • Tremor menerus dengan amplitudo 0,5-8 mm (dominan 2 mm).
  • Gempa letusan 1 kali.- Vulkanik Dalam 1 kali.

Hembusan kolom abu tebal tidak teramati karena kabut. Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 30 Nopember 2017 pukul 07:37 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung tertutup kabut. Asap kelabu tebal tekanan sedang tidak teramati. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 04 Desember 2017 tercatat:

  • 123 kali gempa letusan
  • 91 kali gempa Hembusan
  • 34 kali gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas. Tinggi asap kawah putih tipis 5-25 m. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 04 Desember 2017 tercatat:

  • 25 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Tremor Harmonik.
  • 5 kali Gempa Fase Banyak
  • 3 kali Gempa Tornilo.
  • Nihil Gempa Vulkanik Dangkal.
  • Nihil Gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali Tektonik Lokal.

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA: Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember  2017 yang dibandingkan bulan  November  2017,  menunjukan peningkatan  potensinya dan semakin meluas  di  seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 

  1. Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh
  2. Kabupaten Solok, Sumatera Barat
  3. Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara
  4. Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh
  5. Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan
  6. Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Penyebab: Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan oleh jalan dan pemukiman di dekat kemiringan lereng dan tebing sungai, tingkat pelapukan yang tinggi, drainase tidak berfungsi, kurangnya vegetasi berakar kuat dibagian atas tebing dan dipicuh oleh curah hujn tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah 
Dampak:

  1. Dua rumah warga di Desa Burni Pase, Kecamatan Permata, Bener Meriah, Aceh amblas dihantam longsor pada pukul 01.00 WIB dini hari, Senin (4/12/2017). 
  2. Gerakan tanah / tanah longsor di dalam kompleks Polisi Resort Solok Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada tanggal 4 Desember 2017, pukul 02.30 WIB mengakibatkan  musalah rusak,  kantin rusak berat dan  jalan dalam komplek sepanjang 40 meter amblas. 
  3. Gerakan tanah / tanah longsor di Gang Maninjau Kelurahan, Pancuran Bambu Sibolga Sambas,  Kota Sibolga , Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara  pada  Senin (04/12/2017), satu rumah rusak.
  4. Gerakan tanah/ tanah longsor kembali terjadi di sejumlah titik di lintas Takengon-Gayo Lues, Kabupaten Aceh Tengah pada Senin (4/12/2017) mengakibatkan lalu lintas terhambat
  5. Gerakan tanah / tanah longsor terjadi kembali pada ruas jalan negara di Dusun Tujuh Jambat Genting, Desa Sindang Panjang, Kecamatan Tanjung Sakti Pumi (Pasemah Ulu Muara Ilir), Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan pada hari minggu (3/12) mengakibatkan lalu lintas lumpuh karena tidak ada jalur alternatif. 
  6. Gerakan tanah / tanah  pada ruas jalan di kampung Nteer, kecamatan Ntango, kecamatan Lelak, kabupaten Manggarai sejak hari Sabtu (02/12)  hingga hari Minggu (03/12) mengakibatkan lalu lintas terhambat.  

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


3. Gempa Bumi
Kejadian Gempa bumi 4 Desember 2017:

  1. Gempa bumi di Tenggara Ambon, Maluku
  2. Gempa bumi di BaratLaut Kupang, NTT

Informasi Gempa Bumi:

  1. Gempa bumi terjadi pada hari Senin, 4 Desember 2017, pukul 07:19:27 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 128.70° BT dan 4.19° LS, dengan kekuatan 5,1 SR pada kedalaman 176 km, berjarak 82 km Tenggara Ambon Maluku.
  2. Gempabumi terjadi pada hari Senin, tanggal 4 Desember 2017, pukul 18:52:25 WIB, berkekuatan 5,2 Skala Richter, pada kedalaman 86 km. Lokasi episenter berada pada koordinat 9,89°LS dan 123,03°BT, yang berjarak kurang lebih 71 km di Barat Laut Kota Kupang, NTT. 

Penyebab gempa bumi:

  1. Diperkirakan berasosiasi dengan subduksi di Laut Banda pada Zona Benioff. 
  2. Diperkirakan berasosiasi dengan zona subduksi di selatan Pulau Timor. 

Dampak gempa bumi:Belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.



II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.
  2. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  3. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah berwarna putih tipis tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 500-1000 m di atas puncak condong kearah barat dan timur. Pada malam hari tidak teramati sinar api dari lava pijar di kawah puncak. Hari ini tidak terjadi letusan. Tidak terekam tremor over scale.Rekaman seismograf pada Tanggal 04 Desember 2017 tercatat:

  • 14 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • Nihik Gempa Tektonik Lokal
  • Nihil Gempa Erupsi Eksplosif.
  • 29 kali Low Frequency
  • Nihil Gempa Hembusan.
  • 2 kali Tremor Harmonik.
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-4 mm dominan 1 mm.

Tanggal 05 Desember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • Nihil Gempa Hembusan
  • 18 kali Gempa Low Frequency.
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 3 kali Gempa Vulkanik Daalam (VA)
  • Nihil Tektonik Lokal.
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm).

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Tinggi asap kawah putih tipis tekanan lemah tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan tenggara. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi letusan dan 76 gempa guguran. Secara visual tinggi kolom abu tidak teramati karena puncak tertutup kabut. Erupsi disertai guguran lava meluncur sejauh 1000-1500 m ke lereng selatan dan tenggara. Erupsi tidak disertai awan panas guguran.
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah timur. Erupsi berupa hembusan menerus kolom abu tebal berwarna putih keabuan tekanan sedang tidak teramati. Melalui rekaman seismograf terekam:

  • Tremor terkait hembusan abu menerus dengan amplitudo 0,5-8 mm (dominan 2 mm).
  • Gempa Letusan 1kali.
  • Vulkanik Dalam 1 kali.

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunung tampak berkabut dan secara visual hembusan asap kawah berwarna putih kelabu tebal tekanan lemah - sedang tidak dapat diamati. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 04 Desember 2017 tercatat:

  • 123 kali Gempa Letusan
  • 91 kali Gempa Hembusan
  • 34 kali Gempa Tremor Harmonik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun0 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas. Tinggi asap kawah putih tipis tekanan lemah 5-25 m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 04 Desember 2017 tercatat:

  • 25 kali Gempa Hembusan
  • Nihil Tremor Harmonik.
  • 3 kali Gempa Tornilo
  • 5 kali Gempa Fase Banyak.
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • Nihil Gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali Tektonik Lokal.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara
  • Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Agung, Bali.VONA terakhir terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 November 2017 Pukul 06:45 WITA, terkait hembusan abu vulkanik menerus dengan ketinggian abu 5142 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.
  2. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 02 Desember 2017 Pukul 14:14 WIB, terkait  letusan selama 231 detik. Tinggi kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut. Angin bertiup ke timur.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.VONA Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 30 Nopember 2017 pukul 07:37 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


2. Gerakan Tanah
Dibandingkan  bulan November     2017 , pada bulan Desember   2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi meluas di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, Tengah dan Tenggara , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 

  1. Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh,
  2. Kabupaten Solok, Sumatera Barat,
  3. Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara,
  4. Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh,
  5. Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan,
  6. Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur,
  7. Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah
  8. Kota Sabang, Provinsi Aceh,
  9. Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh,
  10. Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah,
  11. Kabupaten Bangkalan (Madura) , Provinsi Jawa Timur,
  12. Kota Subulussalam, Provinsi Aceh,
  13. Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara,
  14. Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh,
  15. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten,
  16. Kota Batu (Malang), Provinsi Jawa Timur,
  17. Kota Lhokseumawe , Provinsi Aceh,
  18. Kabupaten Indramayu, Provinsi  Jawa Barat,
  19. Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu,
  20. Kabupaten Bireun, Provinsi  Aceh,
  21. Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur,
  22. Kabupaten Pacitan, Provinsi  Jawa Timur,
  23. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah,
  24. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,
  25. Provinsi  Daerah Istimewa Yogyakarta,
  26. Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,
  27. Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,
  28. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur,
  29. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat,
  30. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat,
  31. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat,
  32. Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah,
  33. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.
  34. Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,
  35. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah,
  36. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur.
  37. Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah,
  38. Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat.

 

Kejadian Gerakan Tanah terbaru:
1. Kabupaten Bener Meriah, Provinsi NAD
Dua rumah warga di Desa Burni Pase, Kecamatan Permata, Bener Meriah, Aceh amblas dihantam longsor. Bangunan rumah hancur dan jatuh ke jurang.Kendati demikian dilaporkan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, lantaran pemilik tidak berada di dalam rumah. Kejadian berlangsung sekira pukul 01.00 WIB dini hari, Senin (4/12/2017).Dua rumah yang hancur akibat longsor tersebut sudah dievakuasi menggunakan alat berat. Lokasi sudah dibersihkan. Sementara dua kepala keluarga sudah mengungsi.
Sumber berita :https://news.okezone.com/read/2017/12/04/340/1824828/2-rumah-warga-di-bener-meriah-masuk-jurang-akibat-longsor
Penyebab  gerakan tanah diperkirakan akibat  pemukiman terlalu dekat dengan tebing, tanah pelapukan yang tebal serta mudah menyerap air, kurangnya vegetasi berakar kuat dibagian atas tebing dan dipicu oleh curah hujn tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah berupa longsoran tanah.
Rekomendasi:

  • Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
  • Agar Masyarakat yang melintas daerah rawan gerakan tanah harap meningkatkan kewaspadaannya.
  • Agar dipasang  rambu rawan bencana gerakan tanah
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi menembus batuan yang keras.
  • Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
  • Penggalian atau pemotongan lereng harap tidak terlalu curam dan memenuhi kaidah keteknisan tanah dan batuan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat

 

2. Kabupaten Solok, Sumatera Barat
Dua bangunan dan jalan di dalam kompleks Polisi Resort Solok Arosuka, Kabupaten Solok Sumatera Barat, amblas setelah daerah tersebut dilanda hujan lebat tadi malam. Kejadiannya pada pukul 02.30 WIB setelah kawasan tersebut dilanda hujan dengan intensitas tinggi, akibatnya sebagian musalah amblas dan satu kantin milik Polres Arosuka rusak berat terbawa longsor sedangkan jalan dalam komplek sepanjang 40 meter juga ikut amblas. Dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa. Namun akitvitas di Polres terkendala akibat jalan rusak. Sementara, kompleks Polres Solok Arosuka ini terletak di daerah perbukitan dan tidak daerah datar dengan curah hujan yang tinggi sangat rawan terjadi longsor. 
Sumber : http://m.viva.co.id/berita/nasional/984127-markas-polisi-di-solok-ambrol-disapu-longsor
Penyebab gerakan tanah adalah tanah pelapukan yang tebal serta mudah menyerap air, kurangnya vegetasi berakar kuat dibagian atas tebing dan dipicuh oleh curah hujan tinggi sebelum dan pada saat  terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah berupa longsoran tanah.
Rekomendasi:

  • Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
  • Agar masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi menembus batuan yang keras.
  • Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat

 

3. Kabupaten Tapanuli Tengah , Provinsi Sumatera Utara 
Hujan deras yang terjadi mulai pagi hari hingga malam ini, Senin (04/12/2017) di Kota Sibolga, telah mengakibatkan longsor yang terjadi di Gang Maninjau Kelurahan, Pancuran Bambu Sibolga Sambas, yang mengakibatkan bangunan rumah milik Ali Mudin Guchi kondisinya rusak.
Sumber : http://www.rri.co.id/sibolga/post/berita/464004/daerah/seharian_hujan_banjir_dan_longsor_melanda_sibolga.htmlhttps://news.okezone.com/read/2017/12/04/340/1824672/banjir-serta-longsor-melanda-9-kecamatan-di-kabupaten-bireuen
Penyebab banjir dan tanah longsor adalah intesitas hujan yang ekstrim dengan drainase yang tidak mampu menampung debit air. Tanah pelapukan yang tebal serta mudah menyerap air, kurangnya vegetasi berakar kuat di bagian atas tebing dan dipicu oleh curah hujan tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi:

  • Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi banjir dan longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan banjir dan longsor
  • Pemasangan rambu rawan bencana banjir dan tanah longsor untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Saluran drainase segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat

 


3. Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh

Selama sepekan terakhir, hujan dengan intensitas ringan landa tengah Aceh. Akibatnya, sejumlah titik di wilayah itu diterjang longsor. Pada Senin (4/12/2017), longsor kembali terjang lintas Takengon-Gayo Lues, tepat di kilometer 14, 38, 45 dan kilometer 52, antara kecamatan Pegasing-Linge, Aceh Tengah.  Longsor terparah terjadi di kilometer 38 dan 52. Sejumlah batang pohon dan material longsor tanah liat turut menutupi sebagian badan jalan. Tinggi material longsor dilaporkan capai 2,5 meter dengan panjang 10 meter. Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu, namun akses  transportasi dari Takengon-Gayo Lues atau sebaliknya, dilaporkan terganggu. Material longsornya sudah dibersihkan, pada pukul 16:00 WIB. Sedangkan akses transportasi Takengon-Gayo Lues masih diberlakukan buka tutup tepat di kilometer 19, Aceh Tengah lantaran sedang dilakukan perbaikan badan jalan yang amblas.  Terpisah, Sekretaris BPBD Aceh Tengah, Mauliza Uswa juga melaporkan kondisi lintas Takengon-Bintang via utara Danau Laut Tawar tepat di kawasan Utung-Utung kecamatan Kebayakan yang mengancam keselamatan pengguna jalan. Bahu jalan pada sisi danau terancam amblas. Saat ini memasang Line BPBD guna mengingatkan pengguna jalan agar tetap waspada. (MS/AKS)
Sumber : http://www.rri.co.id/post/berita/463968/daerah/ekses_longsor_lintas_takengongalus_berlaku_buka_tutup.html
Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng yang terjal, batuan dan tanah pembentuk lereng yang labil, drainasi air yang kurang baik menyebabkan air melimpah ke jalan serta dipicuh oleh hujan terus menerus sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi :

  • Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat

 

4. Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan
Gerakan tanah / tanah longsor terjadi kembali pada ruas jalan negara di Dusun Tujuh Jambat Genting, Desa Sindang Panjang, Kecamatan Tanjung Sakti Pumi (Pasemah Ulu Muara Ilir), Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan. Tingginya curah hujan membuat kondisi tanah di sisi jalan sangat labil. Apalagi ruas jalan yang berada di gugusan Bukit Barisan tersebut berada di sisi cadas yang menjulang dan jurang yang dalam. Tidak ada ruas jalan alternatif lain membuat aktivitas lalu lintas menjadi lumpuh. Longsor skala kecil yang terus terjadi menghambat pembukaan badan jalan. Apalagi, material longsor tanah bercampur batu. 
Sumber : https://www.jpnn.com/news/longsor-akses-jalan-lintas-tanjung-sakti-dan-pumu-lumpuh
Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan kemiringan lereng yang terjal disisi jalan, material batuan melapuk dan banyak mengalami rekahan tubuh batuan dan dipicu oleh hujan deras sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah
Rekomendasi  :

  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi menembus batuan yang keras.
  • Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat

 

5. Kabupaten Manggarai Provinsi NTT
Gerakan tanah / tanah longsor terjadi di sejumlah titik Longsor di Jalur Ruteng Labuan Bajo. Titik longsor yang paling banyak ditemui umumnya masih berada diwilayah kabupaten Manggarai. Salah satu titik longsor yang terjadi yaitu dikampung, kecamatan Ntango, kecamatan Lelak, kabupaten Manggarai. Longsoran yang dikabarkan terjadi sejak hari Sabtu (02/12)  hingga hari Minggu (03/12) dinihari itu hampir menutupi separuh badan jalan. Warga setempat berusaha untuk membersihkan ruas jalan agar bisa dilalui kembali oleh kendaraan.
http://www.floreseditorial.com/waspada-sejumlah-titik-longsor-di-jalur-ruteng-labuan-bajo/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng, batuan dan tanah pembentuk lereng yang tidak stabil dan dipicuh curah hujan yang terus menerus.
Rekomendasi :

  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi menembus batuan yang keras.
  • Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.