Laporan Kebencanaan Geologi 22 November 2017 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Rabu 22 Nopember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan baratdaya. Melalui rekaman seismograf tercatat 7 kali erupsi/letusan. Secara visual tinggi kolom abu mencapai 2000 m. Erupsi tidak disertai awan panas. Terekam 46 kali gempa guguran lava dengan jarak luncur 1000-1500m mengarah ke timur, tenggara dan selatan.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 November 2017 Pukul 21:26 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. 

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tipis-sedang - kelabu tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 300-1000 m di atas puncak, pukul 17:05 WITA terjadi letusan dengan tinggi 700 meter dari puncak serta asap letusan berwarna putih kelabu tebal. Hujan abu tipis (0-0,1mm) di daerah Pidpid-Nawehkerti. Seismograf merekam getaran tremor menerus dengan amplitudo 2 - 7 mm (dominan 3 mm)Rekaman seismograf Tanggal 21 Nopember 2017 tercatat:

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 8 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 1 kali Gempa Tremor Non Harmonik
  • 1 kali Gempa Tremor Harmonik
  • 2 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

Tanggal 22 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
  • 2 kali Gempa Tremor Non Harmonik

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
VONA: Terakhir terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 November 2017 Pukul 17:05 WITA, terkait letusan dengan ketinggian abu 3842 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara..

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah barat dan baratlaut. Melalui rekaman seismograf terekam 6 kali Erupsi/letusan dan Tremor menerus terekam dengan amplitudo 0,5-10,0 mm (dominan 2 mm). Secara visual kolom abu erupsi tebal berwarna putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 500-900 m di atas puncak. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 21 Nopember 2017 pukul 07:05 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2129 m di atas permukaan laut atau 600 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Tinggi kolom erupsi/letusan tidak teramati. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 21 November 2017 tercatat:- 101 kali gempa Erupsi/letusan- 90 kali gempa Hembusan- 40 kali gempa Tremor Harmonik- 4 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi asap kawah teramati setinggi 5-100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 21 Nopember 2017 tercatat:- 30 kali Gempa Hembusan- 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal- 3 kali Gempa Vulkanik Dalam- 8 kali Gempa Fase Banyak
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA: Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2017 yang dibandingkan bulan  Oktober  2017,  menunjukan  potensinya hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 

  1. Kabupaten  Kebumen, Provinsi  Jawa Tengah
  2. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara
  3. Kabupaten Deli Serdang,  Provinsi Sumatera Utara
  4. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur
  5. Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur
  6. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur

Penyebab: Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan oleh kemiringan lereng, sifat batuan dan tanah pelapukan yang poros, drainase yang kurang baik, turap dengan pondasi yang tidak kuat,  erosi sungai serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak:

  1. Gerakan tanah / Tanah Longsor di lokasi penambangan andesit  di Dukuh Era, Desa Karangkembang, Kecamatan Alian, Kebumen, Jawa Tengah pada  Senin (20/11/2017) sekitar pukul 08.30 WIB mengakibatkan 1 korban tewas dan dua orang luka -luka
  2. Gerakan Tanah / Tanah Longsor di ruas jalan Tondano-Manado di antara Desa Suluan dan Desa Rumengkor, Kecamatan Tombulu Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara pada Selasa (21/11/2017) siang mengakibatkan ruas jalan tertutup dan  lalulintas macet total
  3. Gerakan Tanah / Tanah Longsor terjadi di Jalan Jamin Ginting, Desa Lau Kaban, Kabupaten Deli Serdang,  Provinsi Sumatera Utara   pada  Selasa malam tanggal 21 November 2917 mengakibatkan ruas jalan tertutup dan  lalulintas macet
  4. Gerakan Tanah / Tanah Longsor terjadi di Desa Tanggul Kulon, Kecamatan Tanggul, . Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur pada Senin malam, 20 November 2017 mengakibatkan tiga rumah warga terancam
  5. Gerakan Tanah / Tanah Longsor terjadi pada jalur jalan alternatif  arah Jombang - Lamongan di Desa Cupak, Kecamatan Ngusikan,   Kabupaten Jombang Provinsi Jawa Timur  pada  Selasa tanggal 21 November 2917 mengakibatkan kendaraan tidak dapat lewat karena jalan terputus.
  6. Gerakan Tanah / Tanah Longsor di desa Pucanganak, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek di kilometer 16 jalur Trenggalek - Ponorogo, Provinsi Jawa Timur pada  minggu malam 20 November 2017 sekitar pukul 21.00 WIB, 21 November 2017   senin pagi pukul 04.30 WIB , 21 November 2017 sekitar pukul 08.30 WIB mengakibatkan jalan  ditutup sementara dan dialihkan ke jalur alternatif.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


3. Gempa Bumi
Gempa bumi di baratlaut Pulau Nias, Sumatra Utara
Informasi Gempa bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Selasa, 21 November 2017, pukul 06:41:55 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 96,93° BT dan 1,37° LU, dengan magnitudo 5,3 SR pada kedalaman 15 km, berjarak 52 km baratlaut Nias Utara, Sumatra Utara. Berdasarkan GFZ pusat gempa bumi berada pada koordinat 97,09° BT dan 1,49° LU, dengan magnitudo M 4,8 pada kedalaman 36 km. USGS, menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 96,924° BT dan 1,367° LU, dengan magnitudo M 5,3 pada kedalaman 9,2 km. 
Penyebab gempa bumi: Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. 
Dampak gempa: Berdasarkan info BMKG, gempa bumi ini dirasakan di Nias dengan intensitas III MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi; 

  1. Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.
  2. Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 1 gunung api status AWAS/Level IV sejak 2 Juni 2015, yaitu G. Sinabung, Sumut;
  2. 1 gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung - Bali  sejak 29 Oktober 2017 pukul 16:00 WITA.
  3. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  4. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan baratdaya. Melalui rekaman seismograf tercatat 7 kali erupsi/letusan. Secara visual tinggi kolom abu mencapai 2000 m. Erupsi tidak disertai awan panas. Terekam 46 kali gempa guguran lava dengan jarak luncur 1000-1500m mengarah ke timur, tenggara dan selatan.
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tipis-kelabu tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 300-1000 m di atas puncak, pukul 17:05 WITA terjadi letusan dengan tinggi 700 meter dari puncak serta asap letusan berwarna putih kelabu tebal. Hujan abu tipis (0-0,1) di daerah Pidpid-Nawehkerti. Seismograf merekam getaran tremor menerus dengan amplitudo 2 - 7 mm (dominan 3 mm)Melalui rekaman seismograf Tanggal 21 Nopember 2017 tercatat:

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 8 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 1 kali Gempa Tremor Non Harmonik
  • 1 kali Gempa Tremor Harmonik
  • 2 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

Tanggal 22 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)
  • 2 kali Gempa Tremor Non Harmonik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah barat dan baratlaut. Melalui rekaman seismograf terekam 6 kali Erupsi/letusan dan Tremor menerus terekam dengan amplitudo 0,5-10,0 mm (dominan 3 mm). Secara visual kolom abu erupsi tebal berwarna putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 500-900 m di atas puncak. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Tinggi kolom erupsi/letusan tidak teramati. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 21 November 2017 tercatat:

  • 101 kali gempa Erupsi/letusan
  • 90 kali gempa Hembusan
  • 40 kali gempa Tremor Harmonik
  • 4 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi asap kawah teramati setinggi 5-100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 21 Nopember 2017 tercatat:

  • 30 kali Gempa Hembusan
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 8 kali Gempa Fase Banyak

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara
  • Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 November 2017 Pukul 21:26 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut.
  2. G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 November 2017 Pukul 17:05 WITA, terkait letusan dengan ketinggian abu 3842 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 21 Nopember 2017 pukul 07:05 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2129 m di atas permukaan laut atau 600 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah barat.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


2. Gerakan Tanah
Dibandingkan  bulan Oktober 2017 , pada bulan November  2017 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  berpotensi di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , Nusa Tenggara , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

  1. Kabupaten  Kebumen, Provinsi  Jawa Tengah
  2. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara
  3. Kabupaten Deli Serdang,  Provinsi Sumatera Utara
  4. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur
  5. Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur
  6. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur
  7. Kabupaten  Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara
  8. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi D.I. Yogyakarta
  9. Kota Jambi, Provinsi Jambi
  10. Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat
  11. Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta
  12. Kabupaten  Lumajang,  Provinsi Jawa Timur
  13. Kabupaten. Lamongan, Provinsi Jawa Timur
  14. Kabupaten Badung, Provinsi Bali
  15. Kabupaten Tabanan, Provinsi  Bali
  16. Kabupaten Bogor, Provinsi  Jawa Barat 
  17. Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah,
  18. Kabupaten  Kulonprogo, Provinsi DI Yogyakarta,
  19. Kabupaten Lumajang , Provinsi Jawa Timur,
  20. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,
  21. Kabupaten Magelang , Provinsi Jawa Tengah
  22. Kota Batu ( Malang), Provinsi Jawa Timur,
  23. Kabupaten lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, 
  24. Kabupaten Karo, Provinsi  Sumatera Utara
  25. Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah
  26. Kabupaten Sukabumi, Provinsi  Jawa Barat,
  27. Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur,
  28. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah,
  29. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat,
  30. Kota Malang, Provinsi Jawa Timur,
  31. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,
  32. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat,
  33. Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur,
  34. Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat,
  35. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat,
  36. Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat,
  37. Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur,
  38. Kabupaten Sukoharjo , Provinsi Jawa Tengah,
  39. Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah,
  40. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan,
  41. Kabupaten Padang Sidempuan, Provinsi Sumatera Utara, 

Kejadian Gerakan Tanah  terbaru:
1.Kabupaten  Kebumen, Provinsi  Jawa Tengah
Sebuah tebing batu andesit di Dukuh Era, Desa Karangkembang, Kecamatan Alian, Kebumen, Jawa Tengah, longsor saat tengah ditambang, Senin (20/11/2017) sekitar pukul 08.30 WIB. Akibatnya, seorang penambang yang saat itu tengah beroperasi bernama Ahmad Fauzan (35) dilaporkan tewas tertimpa reruntuhan batu. Sementara dua korban lain dinyatakan selamat, masing-masing bernama Suradi (65) dan Ahmadi. Keduanya merupakan warga desa setempat dan mengalami luka-luka hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Ketiga korban melakukan penggalian batu di tanah milik Pardi dengan menggunakan peralatan tradisional berupa gancu atau belencong untuk membelah batuan. Gerakan tanah ini terjadi karena kemiringan lereng yg curam dan dipicu oleh curah hujan tinggi.
Sumber: http://regional.kompas.com/read/2017/11/21/06250581/satu-penambang-tewas-tertimpa-longsoran-tebing-batu-di-kebumen
Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tidak beraktivitas di sekitar lokasi bencana terutama saat hujan karena berpotensi terjadi longsor susulan
  • Menutup lokasi pertambangan dan menghentikan aktivitas pertambangan
  • Para penambang dihimbau untuk mematuhi pedoman  standar keselamatan kerja saat melakukan penambangan
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat sekitar
  • Masyarakat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan pemerintah daerah / BPBD setempat

 

2. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara
Gerakan Tanah / Tanah Longsor di ruas ruas jalan Tondano-Manado di antara Desa Suluan dan Desa Rumengkor, Kecamatan Tombulu pada Selasa (21/11/2017) siang .Intensitas curah hujan yang cukup tinggi mengguyur wilayah Sulut termasuk Kabupaten Minahasa, membuat ruas jalan Tondano-Manado tersebut  tertutup akibat adanya tanah longsor  dan  sempat membuat lalulintas macet total 
Sumber  :http://zonautara.com/blog/2017/11/21/longsor-tutupi-ruas-jalan-tondano-manado/
https://elshinta.com/news/127810/2017/11/21/longsor-tutup-jalan-penghubung-manado-minahasa
Penyebab gerakan tanah adalah kelerengan dan pelapukan batuan serta  dipicu oleh curah hujan tinggi dengan durasi lama. Sedangkan tipe gerakan tanah adalah longsoran aliran bahan rombakan
Rekomendasi :

  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.


3. Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara
Gerakan Tanah / Tanah Longsor terjadi di Jalan Jamin Ginting, Desa Lau Kaban, Kabupaten Deli Serdang  pada  Selasa malam tanggal 21 November 2917. Material longsor menutupi badan jalan hingga menyebabkan jalan Medan-Berastagi terputus total dai memicu kemacetan panjang. Peristiwa longsor ini menurut pihak BPBD terjadi karena hujan lebat yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Dalam informasi peringatan dini cuaca disebutkan hingga tanggal 21 November 2017 pukul 15.50 WIB hujan sedang hingga lebat disertai kilat/petir dan angin kencang.
Sumber : 
http://www.rmolsumut.com/read/2017/11/21/52526/Longsor-di-Sembahe,-Jalan-Medan-Berastagi-Putus-Total-
https://makobar.com/2017/11/21/hati-hati-longsor-melanda-kawasan-tikungan-tirtanadi-sibolangit/
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah  dan batuan yang labil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama. Jenis gerakan tanah merupak tipe longsoran debris.
Rekomendasi :

  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.


4. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur
Gerakan Tanah / Tanah Longsor terjadi di Desa Tanggul Kulon, Kecamatan Tanggul, pada Senin malam, 20 November 2017. Dalam longsor kali ini, plesengan atau dinding penahan sungai itu runtuh.Gerakan Tanah  tersebut mengancam tiga rumah warga yang berada di sekitar plengsengan. Potensi terjadi longsor susulan pun cukup besar akibat retakan tanah dan faktor cuaca.
Sumber  : http://regional.liputan6.com/read/3169536/longsor-dan-puting-beliung-terjang-jember
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan rumah dibangun dekat tebing sungai, fondasi turap yang kurang kuat, tanah  yang poros dan mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Rekomendasi:

  • masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terutama saat turun hujan deras terhadap potensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Masyarakat sebaiknya mengungsi ketempat yang aman mengingat pemukiman tidak jauh dari tebing sungai  dan mewaspadai potensi longsoran susulan
  • Membangun didinding penahan  tebing sungai untuk mengurangi dampak erosi sungai
  • Masyarakat agar tenang dan selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.


5. Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur
Gerakan Tanah / Tanah Longsor terjadi pada jalur jalan alternatif  arah Jombang - Lamongan di Desa Cupak, Kecamatan Ngusikan,   Kabupaten Jombang  pada  Selasa tanggal 21 November 2917. Akibatnya kendaraan roda empat tidak dapat lewat karena jalan terputus. Lokasi jalan sepanjang  50 meter tersebut kembali longsor saat dalam perbaikan akibat kejadian longsor sebelumnya
sumber  :  https://kabarjombang.com/jalan-longsor-jalur-alternatif-jombang-lamongan-putus/
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah  dan batuan yang labil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama. Jenis gerakan tanah merupak tipe longsoran tanah 
Rekomendasi :

  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.


6. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur
Gerakan Tanah / Tanah Longsor   kembali terjadi di desa Pucanganak, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek di kilometer 16 jalur Trenggalek - Ponorogo. Kejadian tanah longsor ini terjadi tiga kali terhitung mulai tanggal 20 November 2017 pada  minggu malam sekitar pukul 21.00 dan 21 November 2017 di  senin pagi pukul 04.30 dan terjadi longsor lagi 21 November 2017 sekitar pukul 08.30 WIB. Kejadian gerakan tanah  yang ke tiga yang terjadi sekitar pukul 08.30 pagi tersebut merupakan peristiwa longsor yang cukup besar dibandingkan  dua longsor sebelumnya  dengan  lebar longsoran mencapai 25 meter serta memiliki ketinggian 50 meter. Akibatnya jalur Trenggalek - Ponorogo ditutup sementara dan dialihkan ke jalur alternatif yakni Pucanganak - Gading - Pangkal Ponorogo sejauh 3 kilometer.
Sumber  :
https://www.bangsaonline.com/berita/28665/longsor-jalur-trenggalek-%E2%80%93-ponorogo-ditutup
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah  dan batuan yang labil, juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama. Jenis gerakan tanah merupak tipe longsoran debris.
Rekomendasi :

  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.