Laporan Kebencanaan Geologi 26 Agustus 2017 (06:00 Wib)

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2
I. SUMMARY:

Hari ini, Sabtu,  26 Agustus 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini tampak sering berkabut. Teramati asap putih tipis mencapai ketinggian 50-400 m dari puncak, condong ke arah Timur. Secara visual dan melalui rekaman seismograf teramati 4 kali erupsi letusan dengan tinggi kolom abu mencapai 1000-1500 m di atas puncak, condong ke Timur, Tenggara  dan Selatan. Teramati guguran lava yang meluncur sejauh 500-1000 m ke arah Tenggara dan Timur. Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:
  •  Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit Tanggal 25 Agustus 2017 Pukul 08:40 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 1000  di atas puncak, condong ke arah Selatan.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas dan terkadang berkabut. Teramati kolom abu erupsi menerus putih kelabu tebal tekanan lemah - sedang mencapai ketinggian 600-800 m condong ke Barat. Letusan terbesar terjadi sebanyak 45 kali. Tidak teramati adanya jatuhan abu di Pos Dukono. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 24 Agustus 2017 pukul 07:05 WIT. Tinggi kolom abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Barat.

G. Ibu:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual pada 24 Agustus G. Ibu jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi kolom erupsi putih kelabu mencapai 300-500 m di atas puncak, condong ke utara-timurlaut. 
Rekomendasi:
Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA:
Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 15 Agustus 2017 pukul 10:27 WIT Kepulan abu vulkanik setinggi 1825 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak, kolom abu condong ke arah Utara.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas  beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah pada bulan Agustus 2017 relatif sama  dibandingkan dengan potensi terjadinya gerakan tanah pada bulan Juli 2017. Seluruh Wilayah Indonesia dari Sumatera sampai Papua masih berpotensi terjadinya gerakan tanah. Dan wilayah Indonesia Bagian timur meliputi wilayah Sulawesi, Maluku bagian utara  dan Papua potensi terjadinya gerakan tanah relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Sumatera, Kalimantan, Bali dan Nusatenggara. Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1.Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 
2.Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.
Penyebab:
Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena curah hujan yang tinggi; lereng yang agak terjal; penambangan yang tidak mempertimbangkan teknik penambangan yang benar, dan akibat  erosi sungai, dan curah hujan yang tinggi .
Dampak :
1. Gerakan tanah / tanah longsor terjadi di lokasi tambang pasir di Provinsi Nusa Tenggara Timur, mengakibatkan 1 (satu) orang meninggal dunia.  
2. Gerakan tanah / tanah longsor terjadi di Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, mengakibatkan saluran drainase tertimbun. 
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. 
Masyarakat dapat mengunduh melalui http://vsi.esdm.go.id/gallery/index.php?/category/12

II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 
a. 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut); 
b. Sebanyak 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api); 
c. Sisanya 51 gunung api: Status Normal/Level 1.

Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin hingga pagi ini Sinabung tampak jelas hingga berkabut. Kepulan asap putih tipis teramati mencapai ketinggian 50-400 m condong ke arah Timur. Secara visual dan melalui rekaman seismograf teramati 4 kali erupsi letusan dengan tinggi kolom mencapai 1000-1500 m di atas puncak, condong ke Timur, Tenggara dan Selatan. Teramati guguran lava yang meluncur sejauh 500-1000 m ke arah Timur dan Tenggara. Tidak terdengar suara gemuruh/dentuman di Pos Sinabung yang berjarak 8 km di Tenggara dari puncak. Hasil pengukuran volume kubah lava terakhir pasca letusan besar Tanggal 02-03 Agustus 2017 dilakukan pada Tanggal 06 Agustus 2017  yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 23700 m3.

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung api tampak jelas hingga berkabut. Kolom abu erupsi menerus putih kelabu tekanan lemah - sedang mencapai ketinggian 600-800 m dari puncak, condong  ditiup angin ke arah Barat. Terdengar suara gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. Letusan terbesar terekam sebanyak 45 kali dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-15 mm (dominan 2 mm).

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu.
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya hanya di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Secara visual pada 24 Agustus teramati tinggi kolom erupsi abu mencapai 300-500 m di atas puncak, condong ke utara-timurlaut. Tidak terdengar suara dentuman/gemuruh di Pos Ibu yang berjarak 10 km di barat puncak. Kegempaan pada 24 Agustus :- Letusan 90 kali- Hembusan 41 kali- Guguran  24 kali- Tremor harmonik 3 kaliBadan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik produk aktivitas gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (http://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:
  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG, 
  • Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, 
  • dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit Tanggal 25 Agustus 2017 Pukul 08:40 WIB, terkait dengan letusan yang disertai kepulan kolom abu mencapai ketinggian 1000 m di atas puncak,  condong ke arah Selatan.
(2) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 24 Agustus 2017 pukul 07:05 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Barat.
(3) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 15 Agustus 2017 pukul 10:27 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1825 m di atas permukaan laut atau 500 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Pada bulan Agustus  2017, potensi terjadinya gerakan tanah  diperkirakan masih tetap berpeluang di seluruh di wilayah Indonesia dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Beberapa wilayah Sumatera pada bulan Agustus 2017 sedikit mengalami peningkatan utamanya   di wilayah Aceh dan Sumatera Barat, Sumatra Utara. Untuk  wilayah timur Indonesia seperti Papua, Maluku bagian Utara dan Sulawesi berpotensi terjadinya gerakan tanah relatif tinggi dibandingkan wilayah lainnya di Indonesia. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan, wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan; Jambi bagian barat daya; Sumatra Selatan bagian barat; Sebagian Lampung barat;  Banten barat-barat daya, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian utara, tengah, tenggara; Yogyakarta bagian utara; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah; sebagian kecil bagian tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sulawesi Utara bagian tengah; Sebagian utara Gorontalo; Sulawesi Barat bagian tenggara dan tengah; Sulawesi Selatan bagian selatan, utara dan timur; Nusa Tenggara Barat bagian tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur, baratdaya dan tenggara; Maluku; Maluku Utara; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:
1. Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur*,  
2. Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur*,  
3. Kabupaten lima puluh kota, Provinsi Sumatera Barat,  
4. Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara,
5. Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu,
6. Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara,
7. Kabupaten Painan, Provinsi Sumatera Barat,
8. Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah,
9  Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara,
10. Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 
 
1. Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur
Gerakan tanah terjadi di lokasi tambang pasir Bogor Weol Cancar, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur, terjadi pada hari Kamis, 24 Agustus 2017, pukul 15.00. Dampak dari gerakan tanah ini mengakibatkan 1 (satu) orang meninggal dunia.

Sumber :http://www.kbknews.id/2017/08/25/anak-tujuh-tahun-tewas-tertimpa-longsor-tebing-pasir-di-manggarai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=anak-tujuh-tahun-tewas-tertimpa-longsor-tebing-pasir-di-manggarai. 
Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang curam, sehingga lereng menjadi tidak stabil.
Rekomendasi :
  • Agar masyarakat yang beraktifitas di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Kegiatan  penambangan  agar dilakukan tata cara yang aman dalam penambangan pasir dan batu. 
  • Cara penggalian penambangan yang baik antara lain adalah dengan memotong lereng secara undak-undak dan pemotongan lereng tebing dimulai dari lereng bagian atas.    
  • Dalam kegiatan penambangan diperlukan adanya perencanaan yang matang mengenai tata cara teknis penambangan yang aman dari  ancaman longsoran. Di samping itu perlu bimbingan teknis penambangan yang baik dan benar, sehingga penambangan tidak merusak lingkungan dan terjaminnya keselamatan kerja bagi penambang.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk  selalu mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah setempat.

2. Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur
Gerakan tanah terjadi di Kawasan PT Powertrain RT 12, Kelurahan Kariangau, Kecamatan Balikpapan Barat, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, pada hari Kamis, 24 Agustus 2017. Gerakan tanah ini mengakibatkan saluran drainase tertimbun. 
Sumber : http://balikpapan.prokal.co/read/news/218400-dihantam-banjir-drainase-rt-12-longsor.html
Jenis gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan karena erosi sungai, dan curah hujan yang tinggi.
Rekomendasi :
  • Agar masyarakat yang beraktifitas di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan
  • Agar talud segera dibangun kembali dengan menggunakan tembok penahan yang dibuat ”subdrain” sehingga dapat mengurangi tekanan air pori pada tanah/ batuan. 
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk menjauhi lokasi bencana dan selalu mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah setempat.