G. Sumbing - Kegiatan Vulkanik Dan Letusan Yang Tercatat Dalam Sejarah

 

KEGIATAN VULKANIK DAN LETUSAN YANG TERCATAT DALAM SEJARAH

Letusan dalam sejarah hanya tercatat satu kali yaitu tahun 1730 yang terjadi di kawah puncak, dimana terbentuk kubah lava dengan aliran lava ke arah bibir kawah terendah diperkirakan terjadi pada tahun tersebut (Junghuhn, 1853 dan Traverne, 1926).

Pada tahun 1937 kepulan asap solfatara yang bersuhu lebih kurang 90°C nampak pada kubah lava dan kubangan lumpur di belakang kubah lava. Pada pemeriksaan puncak/kawah yang dilakukan bulan juni 1989, salah satu bekas lubang letusan yang terletak di sebelah utara sebagian terisi air berwarna keabu-abuan. Tidak nampak adanya kegiatan vulkanik, kepulan asap solfatara dan fumarola di daerah puncak/kawah, baik letak maupun hembusannya pada Juni 1989 tidak jauh berbeda bila dibandingkan dengan keadaan tahun 1977. Kepulan asap solfatara di berbagai tempat menghasilkan endapan kristal belerang.

Di sebelah barat terdapat dua dataran yang berdekatan, dibataasi oleh bongkah-bongkah lava. Disini nampak kegiatan vulkanik berupa kepulan solfatara, fumarola dan mata air panas. Dataran sempit di sebeleah selatan yang diapit oleh kubah lava dan pematang kawah sebelah tenggara-barat daya terisi oleh bahan lepas yang telah ditumbuhi rerumputan. Di beberapa tempat nampak bekas kegiatan solfatara dan fumarola berwarna keputih-putihan. 

pada tahun 1922 kubah lava belum ditutupi tumbuh-tumbuhan. Baru sejak 1925 mulai ditumbuhi lumut-lumutan dan rerumputan. Pada saat ini kubah lava tertutup agak lebat oleh tetumbuhan perdu dan rerumputan.

Bekas lubang letusan no.4 (Kawah D) kegiatan vulkanik berupa kepulan asap solfatara dan fumarola. Di beberapa tempat ada yang mengandung gas-gas S02, H2S, C02 dan C1. Kepulan asap solfatara dan fomarola itu pada umumnya keluar berderet mengikuti dua rekahan. Rekahan pertama terdapat di sebelah barat dasar kawah sepanjang lebih kurang 150m, rekahan kedua terdapat di sebelah timur dan sejajar dengan rekahan yang pertama. berdekatan dengan tembusan-tembusan gas tersebut ada tempat yang oleh penduduk setempat disebut "kuburan keramat Sunan Geseng".

Seperti halnya pada tahun 1921/1922 kepulan gas-gas hanya muncul pada dasar kawah saja. Tahun 1921 suhunya berkisar antara 85°-98° C. Tahun 1927 suhunya sedikit menurun yaitu 78°C-95°C. Tahun 1927 suhu solfatara dan fumarola pada rekahan sebelah barat dari utara ke selatan adalah 89oC-85,5oC. Pada umumnya suhu pada lubang-lubang gas di rekahan sebelah barat maupun rekahan sebelah timur turun 5°C-7°C dibandingkan dengan sebelumnya.

Suhu pada kolam lumpur yang terdapat di tengah-tengah dasar kawah adalah 36°C, suhu pada kolam itu adalah suhu yang terendah. Tahun 1934 suhu solfatara pada rekahan sebelah barat berkisar antara 88,5°C-91°C. Ada 3 kepulan gas dengan suara tiupan (blazer), suhunya 91°C.

Bekas lubang letusan no.2 (Kawah B), kegiatan vulkanik berupa kepulan asap fumarola dan solfatara putih tipis yang keluar dari rekahan bagian barat suhunya 89°C-125°C. Disini juga terdapat mata air panas. Tahun 1977 suhu maksimum mencapai 125°C, yaitu pada solfatara yang bertekanan kuat dengan suara tiupan yang keras (blazer), suhu pada lubang blazer lainnya sekitar 100°C, sedangkan suhu mata air panas 86°C. Mata air panas ini airnya sangat bening berbau belerang dan rasanya kesat. Di sebelah timur air panas terdapat 2 buah kolam lumpur, suhunya 77°C. Suhu pada lubang-lubang solfatara pada rekahan di dasar kawah sebelah timur 34°C-76°C.

Pada umumnya tahun 1977 suhu pada lubang-lubang solfatara cenderung menunjukkan kenaikan 7°C sampai 34°C dibandingkan dengan tahun 1934. Perubahan/perpindahan kegiatan vulkanik hanya terjadi di sekitar Kawah B. Sepintas lalu seperti ada keseimbangan antara suhu dan luas penyebaran lapangan solfatara dan fumarola, dimana jika tembusan panas tersebat lebih luas maka suhu akan turun dan sebaliknya.