Peningkatan Status Aktivitas G. Anak Krakatau Dari Level Ii (waspada) Menjadi Level Iii (siaga)

Hasil evaluasi tingkat aktivitas G. Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan hingga tanggal 26 Desember 2018, sebagai berikut:

 I.  Pendahuluan

Gunungapi Anak Krakatau merupakan salah satu gunungapi aktif yang berada di Selat Sunda, muncul diantara P. Panjang, P. Sertung dan P. Rakata (komplek G. Krakatau). Sejak pemunculannya G. Anak Krakatau tanggal 11 Juni 1927 hingga 2011, telah mengalami erupsi lebih dari 100 kali baik bersifat eksplosif maupun efusif. Dengan waktu istirahat berkisar antara 1 — 6 tahun.

Aktivitas G. Anak Krakatau hingga saat ini sedang ‘tumbuh’ membangun diri. Sejak erupsi tahun 2001, G. Anak Krakatau aktif kembali mulai 23 Nopember 2007 sid

10 Juli 2011, dengan kejadian erupsinya yang berlangsung setiap tahun namun dengan jumlah kejadiannya erupsi eksplosif dan potensi ancamannya yang terus menurun. Pasca perbaikan peralatan seismik tanggal 18 Nopember 2011, seismogram merekam gempa-gempa Vulkanik menerus yang jumlahnya mencapai lebih dari 6000 kejadian per hari. Berdasarkan perubahan aktivitas kegempaan tersebut, sejak tanggal 31 Nopember 2011 pukul 24:00 WIB, status aktivitas G. Anak Krakatau ditingkatkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Kegempaan G. Anak Krakatau mengalami penurunan drastis sejak Desember 2011, hingga status aktivitas G. Anak Krakatau diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada tanggal 26 Januari 2012.

Beberapa kali terjadi letusan selama rentang waktu 2012-2013, dengan letusan terbesar terjadi pada tanggal 2 Nopember 2012 dengan kolom asap kelabu mencapai tinggi 1000 meter, diikuti dengan letusan strombolian dan diakhiri dengan leleran lava yang mengalir ke arah tenggara dan baratdaya. Letusan tahun 2013 terjadi pada akhir

bulan Maret dan pertengahan bulan April. Tahun 2016, letusan terjadi pada 20 Juni 2016. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian.

 

II.  Hasil Pengamatan

Pemantauan aktivitas G. Anak Krakatau secara visual maupun seismik dilakukan dari Pos Pengamatan G. Anak Krakatau yang berada di Desa Pasauran Kec. Cinangka, Kab. Serang Provinsi Banten dan Desa Hargo-Pancuran, Kec. Kalianda Kab. Lampung Selatan Provinsi Lampung.

Data seismik yang terekam di lapangan secara telemetri diteruskan ke Pos PGA Pasauran dan Hargo-Pancuran, dan dengan menggunakan VSAT (Satelit), data tersebut diteruskan ke Kantor Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

2.1.  Visual

  • 1-7 Desember 2018, pada umumnya cuaca cerah hingga hujan, angin Lemah ke arah timur dan timur laut. Suhu udara sekitar 23 - 33°C. Kelembaban 56 - 100% Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 500 meter dari atas puncak, bertekanan sedang dengan warna putih hingga hitam dan intensitas sedang hingga tebal.
  • 8-14 Desember 2018, pada umumnya cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan timur laut. Suhu udara sekitar 23 - 33°C. Kelembaban 53 - 100%. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 200 meter dari atas puncak, bertekanan dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tebal.
  • 15-21 Desember 2018, pada umumnya cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan timur laut. Suhu udara sekitar 24 - 33°C. Kelembaban 49 - 97%. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 100 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tipis hingga tebal.
  • 22-26 Desember 2018, pada umumnya cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga kencang ke arah utara dan baratdaya, timur dan timurlaut. Suhu udara sekitar 22 - 30°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200-1500 meter dari puncak.

Kondisi Morfologi

Berdasarkan data Citra Sentinel tanggal 11 Desember 2018 dan 23 Desember 2018 terlihat bahwa sebagian lereng sektor Barat sampai Selatan terlihat telah mengalami longsor yang diperlihatkan dari perbandingan citra sebelum dan sesudah kejadian tsunami.

 

2.2.   Kegempaan

  • 1-7 Desember 2018, Terekam 813 kali gempa Letusan/Erupsi dengan amplitudo 35 - 58 mm dan lama gempa 20 - 365 detik. 10 kali gempa Hembusan dengan amplitudo 9 - 39 mm dan lama gempa 15 - 160 detik. 97 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 3 - 40 mm dan lama gempa 3 - 16 detik. 21 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 26 - 57 mm, S-P 1 - 2.5 detik dan lama gempa 10 - 30 detik. 2 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 48 - 57 mm, S-P 16.4 detik dan lama gempa 96 - 460 detik. 85 kali gempa Harmonik dengan amplitudo 2
  • 58 mm dan lama gempa 26 - 669 detik. Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 58
  • 8-14 Desember 2018, Terekam 142 kali gempa Letusan/Erupsi dengan amplitudo 41 - 58 mm dan lama gempa 28 - 465 detik. 157 kali gempa Hembusan dengan amplitudo 2 - 56 mm dan lama gempa 14 - 800 detik. 193 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 3 - 43 mm dan lama gempa 4 - 18 detik. 68 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 20 - 57 mm, S-P 1 - 3.1 detik dan lama gempa 12 - 41 detik. 2 kali gempa Tektonik Lokal dengan amplitudo 56 - 57 mm, S-P 5.2 - 7.4 detik dan lama gempa 40 - 53 detik. 1 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 17 mm, S-P tidak terbaca dan lama gempa 42 detik. 403 kali gempa Harmonik dengan amplitudo 4 - 58 mm dan lama gempa 10 - 810 detik. Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 55 mm.
  • 15-21 Desember 2018, Terekam 604 kali gempa Letusan/Erupsi dengan amplitudo 45 - 58 mm dan lama gempa 22 - 558 detik. 247 kali gempa Hembusan dengan amplitudo 7 - 47 mm dan lama gempa 23 - 139 detik. 44 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 5 - 30 mm dan lama gempa 5 - 16 detik. 19 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 35 - 58 mm, S-P 1 - 2 detik dan lama gempa 12 -  25 detik. 66 kali gempa Harmonik dengan amplitudo 17 - 58 mm dan lama gempa 13 - 703 detik. Tremor Menerus dengan amplitudo 2 - 58 mm.
  • 22-26 Desember 2018, Tremor Menerus dengan amplitudo 08 - 31 mm, dominan 25 mm.

  

III. Evaluasi

Sampai dengan tanggal 15 Desember 2018, aktivitas berupa letusan strombolian dan kadang tenang satu sampai dua hari, berselang stromboIianseIin.PAda tanggal 19-21 Desember 2018, aktivitas masih berupa letusan dan tanggal 22 Desember 2018 dari jam 07 pagi, rekaman seismik menunjukkan bahwa letusan menerus tanpa jeda.

Terjadi gempa pada jam 20.55 WIB. Tercatat dalam skala kecil di stasiun seismic Sertung dan juga stasiun seismik G. Gede, Puncak, Cianjur. Gempa diperkirakan berada di komplek Krakatau. Pada Jam 21.03 WIB, alat seismic di G. Anak Krakatau mati. Diperkirakan terkena letusan. Pemantauan selanjutnya menggunakan stasiun seismik Sertung. Data seismik tidak menunjukkan adanya gejala kenaikan energi seismik sebelum kejadian longsor.

Sejak tanggal 20 Desember 2018 diamati adanya letusan Tipe Surtseyan, yaitu aliran lava atau magma yang keluar langsung kontak dengan air. Hal ini berarti bahwa debit volume magma yang dikeluarkan meningkat dan lubang kawah membesar, kemungkinan terdapat lubang kawah baru yang lebih dekat dengan ketinggian air.

Sejak tanggal 22 Desember 2018 pagi sampai saat ini, letusan berlangsung tanpa jeda. Gelegar suara letusan terdengar beberapa kali per menit. Saat ini aktivitas letusan masih berlangsung secara menerus, yaitu berupa letusan strombolian disertai aliran lava pijar dan awan panas.

Pada tanggal 26 Desember 2018 letusan berupa awan panas dan surtseyan. Awan panas ini yang mengakibatkan adanya hujan abu termasuk yang terekam pada 26 Desember 2018 jam 17.15 WIB. Dari Pos Kalianda, jam 12 malam melaporkan suara gemuruh dengan intensitas tinggi.

  

IV. Potensi Bencana Erupsi G. Anak Krakatau

Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) menunjukan hampir seluruh tubuh G. Krakatau yang berdiameter z 2 Km dan area di seputarannya merupakan kawasan rawan bencana. Berdasarkan data-data visual dan instrumental potensi bahaya dari aktifitas Gunung Krakatau saat ini adalah lontaran material pijar dan guguran awan panas yang bisa menyebabkan gelombang tinggi di sekitar komplek G. Krakatau. Sedangkan sebaran abu vulkanik tergantung dari arah dan kecepatan angin.

 

V. Kesimpulan
  • Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga tanggal 26 Desember 2018, maka tingkat aktivitas G. Anak Krakatau ditingkatkan dari LEVEL ll (Waspada) menjadi LEVEL III (Siaga) terhitung tanggal 27 Desemeber 2018 pukul 06:00 WIB.
  • Pemantauan secara intensif dan kontinyu tetap dilakukan guna memantau aktivitas G. Krakatau. Status G. Anak Krakatau dapat berubah sewaktu-waktu baik penurunan ataupun Kenaikan status, dan akan disesuaikan sesuai dengan perubahan tingkat kegiatan dan ancamannnya.

 

VI. Rekomendasi

Sehubungan dengan tingkat aktivitas Level III (Siaga) tersebut, kami merekomendasikan sebagai berikut :

  • Masyarakat tidak diperbolehkan mendekati G. Krakatau dalam radius 5 km dari Kawah, yaitu di dalam kompleks Krakatau yang dibatasi oleh P. Rakata, Pulau Sertung dan P. Panjang.
  • Masyarakat agar menyiapkan masker untuk mengantisipasi jika terjadi hujan abu.Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi G. Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat.
  • Untuk informasi dapat menghubungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (022) 7272606 di Bandung (Provinsi Jawa Barat) atau Pos Pengamatan G. Krakatau (0254) 651449 di Pasauran (Provinsi Banten)

 

 

LAMPIRAN

Krakatau 1 (271218)

Lampiran 1 Grafik Kegempaan G. Anak Krakatau 2018

 

Krakatau 2 (271218)

Lampiran 2. Peta KaWaSarl Rawan Bencana G. Anak Krakatau

 

Krakatau 3 (271218)

LAMPIRAN  3.  Perbandingan Citra Sentinel  G.  Anak Krakatau tanggal 11 Desember dan 23 Desember 2018

 

Krakatau 4 (271218)

LAMPIRAN 4. Kondisi Pasca kejadian Tsunami G. Anak Krakatau pasca kejadian longsor tanggal 22 Desember 2018 dari Citra Sentinel. Tanda merah menunjukkan bagian dari tubuh Anak Krakatau yang hilang dibandingkan dengan Citra tanggal 11 November 2018.