Penurunan Status Gunung Egon

Hasil evaluasi tingkat aktivitas Gunungapi Egon di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, sebagai berikut:

I. Pendahuluan

  • Secara administratif G. Egon terletak di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Secara geografis, puncak G. Egon berada pada 8°40’ Lintang Selatan dan 122°27' Bujur Timur dengan tinggi 1703 meter di atas permukaan laut.
  • Pemantauan secara visual dan instrumental aktivitas vulkanik G. Egon dilakukan dari Pos Pengamatan Gunungapi (Pos PGA) Egon yang berlokasi di Desa Nangatobong, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka (08o 36’ 50,36” LS; 122o 26’ 30,40” BT, pada ketinggian 75 m di atas permukaan laut).
  • Dalam catatan sejarah, dilaporkan bahwa pada periode 1888-1891 dan pada 1892 teramati adanya asap di puncak. Kemudian peningkatan aktivitas vulkanik juga tercatat 2 (dua) kali terjadi yaitu pada 28 September 1907 dimana terjadi letusan di kawah pusat dan pada tahun 1925 dimana terjadi semburan solfatara di kawah puncak bagian barat. Setelah 79 tahun tidak dilaporkan adanya peningkatan aktivitas, G. Egon kembali meletus mulai pada 28 Januari 2004 dengan ketinggian abu mencapai lk. 750m di atas puncak. Letusan ini berlanjut pada Juli 2004 dan Agustus - September 2004. Letusan berikutnya terjadi pada 6 – 13 Februari 2005. Material letusan bulan Juli dan September 2004 didominasi oleh abu sedangkan materi letusan Februari 2005 didominasi oleh lontaran lava pijar berukuran lapilli dengan ketinggian lk. 50 m di atas puncak. Kemudian pada 15 April 2008 kembali terjadi letusan dengan indeks eksplosivitas (VEI) 2 dan ketinggian kolom letusan mencapai lk. 5700 m di atas puncak. Pada 20, 24, dan 28 April 2008 kembali terjadi letusan-letusan dengan eksplosivitas lebih kecil dengan ketinggian masing-masing 3700, 2600, dan 1800 m yang disertai suara gemuruh sedang.
  • Tingkat aktivitas G. Egon diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada 12 Mei 2008 dan selanjutnya diturunkan menjadi Level I (Normal) pada 16 Juli 2009. Pada 15 Desember 2015 pukul 21:00 WITA tingkat aktivitas G. Egon dinaikkan menjadi Level II (Waspada).
  • Selama 1 – 12 Januari 2016, kegempaan G. Egon semakin meningkat dan kemunculan gempa-gempa vulkanik semakin beragam yang mengindikasikan peningkatan intensitas pergerakan magma ke permukaan, sehingga Tingkat Aktivitas G. Egon dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 13 Januari 2016 pukul 06:00 WITA. Pada tanggal 1 Febuari 2016 pukul 12:00 WITA tingkat aktivitas G. Egon diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada).

 

II. Hasil Pengamatan

2.1 Visual 

Hasil pengamatan visual periode 1 Juli 2016 – 31 Oktober 2016 adalah sebagai berikut:

  • Pada bulan Juli 2016, cuaca umumnya cerah, terkadang mendung, sesekali terjadi hujan (curah hujan hingga 8.1 mm), angin tenang hingga sedang dari arah baratlaut. Umumnya gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi terlihat jelas, teramati hembusan asap solfatara G. Egon teramati berwarna putih tipis hingga sedang dengan tinggi kolom asap sekitar 15 – 100 meter di atas puncak. Suhu udara antara 20.2 – 43.1oC.
  • Pada bulan Agustus 2016, cuaca umumnya cerah, terkadang mendung dan berawan, angin tenang hingga sedang dari arah baratlaut dan tenggara. Umumnya gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut 0I – 0III. Saat gunungapi terlihat jelas, tidak teramati adanya hembusan asap solfatara, sesekali asap solfatara teramati berwarna putih tipis hingga sedang dengan tinggi kolom asap sekitar 15 – 25 meter di atas puncak. Suhu udara antara 20.2 – 44.8oC.
  • Pada bulan September 2016, cuaca umumnya cerah, sesekali terjadi hujan. Angin lemah hingga sedang dari arah baratlaut dan tenggara. Umumnya gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut 0I – 0III. Saat gunungapi terlihat jelas, tidak teramati adanya hembusan asap solfatara. Saat teramati, asap solfatara berwarna putih tipis hingga sedang dengan tinggi kolom asap sekitar 15 – 25 meter di atas puncak. Suhu udara antara 20.6 – 46.3oC.
  • Pada bulan Oktober 2016, cuaca cerah hingga mendung, sesekali terjadi hujan gerimis hingga sedang, angin lemah hingga sedang ke arah tenggara, selatan dan barat laut. Suhu udara sekitar 23.4 - 45.5°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Umumnya asap kawah tidak teramati, saat teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 15 – 50 meter dari puncak.

2.2 Instrumental

Hasil pengamatan kegempaan selama periode 17 – 31 Oktober 2016 adalah sebagai berikut:

  • Pada bulan Juli 2016, terekam: 62 kali gempa Hembusan, 4 kali gempa Double Event, 5 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 59 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 16 kali gempa Tektonik Lokal, dan 105 kali gempa Tektonik Jauh (TJ).
  • Pada bulan Agustus 2016, terekam: 104 kali gempa Hembusan, 5 kali gempa Low Frequency, 4 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 71 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 26 kali gempa Tektonik Lokal, dan 117 kali gempa Tektonik Jauh (TJ).
  • Pada bulan September 2016, terekam: 115 kali gempa Hembusan, 12 kali gempa Low Frequency, 3 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 49 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 26 kali gempa Tektonik Lokal, dan 134 kali gempa Tektonik Jauh (TJ).
  • Pada bulan Oktober 2016, terekam: 82 kali gempa Hembusan, 4 kali gempa Low Frequency, 9 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 44 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 1 kali gempa terasa dengan skala II MMI, 37 kali gempa Tektonik Lokal, dan 106 kali gempa Tektonik Jauh (TJ).

Grafik jenis dan jumlah gempa harian selengkapnya hingga 31 Oktober 2016 dapat dilihat pada lampiran 2.

 

III. Evaluasi

  • Pengamatan visual ke arah puncak/kawah G. Egon tidak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan dalam hal warna dan ketinggian asap hembusan.
  • Jenis gempa pada akhir periode didominasi oleh Tektonik Jauh yang bersumber dari aktifitas pergerakan tektonik.
  • Jumlah dan jenis gempa pada akhir periode menunjukkan penurunan (lampiran 3). Pada periode ini, aktivitas vulkanik didominasi oleh aktivitas permukaan ditandai dengan jumlah Gempa Hembusan yang masih relatif tinggi.
  • Grafik amplitudo seismik (RSAM) periode 1 Desember 2015 hingga 30 Oktober 2016 menunjukkan fluktuasi dan pola menurun pada akhir periode (lampiran 4).
  • Analisis frekuensi dan distribusi kegempaan G. Egon 1 Desember 2015 hingga 30 Oktober 2016 (Lampiran 5) menunjukkan dominasi Gempa Hembusan pada akhir periode, sedangkan grafik probabilitas kejadian erupsi menunjukkan nilai menurun, berkaitan dengan menurunnya jumlah gempa-gempa vulkanik.
  • Grafik frekuensi dominan gempa (Lampiran 6) menunjukkan bahwa pada akhir periode gempa-gempa mempunyai frekuensi relatif tinggi, diduga berkaitan dengan dominasi Gempa Hembusan. Kejadian ini juga dapat dilihat pada grafik interval waktu antara gempa serta S-P yang relatif mengecil (Lampiran 6), mengindikasikan kedalaman sumber gempa yang relatif dangkal. Grafik jumlah dan energi kumulatif gempa menunjukkan laju yang rendah. Hal ini berkaitan dengan penurunan jumlah gempa vulkanik. Grafik interval waktu antar gempa menunjukkan rentang yang membesar berkaitan dengan semakin jarangnya jumlah kejadian gempa.

 

IV. Potensi Bahaya 

Secara umum, tipe letusan G. Egon adalah freatik. Letusan tipe ini dapat terjadi secara tiba – tiba jika terjadi interaksi antara uap (steam) magma dengan air di bawah permukaan (hydrothermal) yang mengakibatkan perubahan fasa cair menjadi uap, menghasilkan perubahan volume (dekompresi) dan mendorong batuan penutup (plug) di dekat permukaan kawah. Gejala yang teramati saat ini identik dengan gejala peningkatan kegempaan sebelum letusan G. Egon 15 April 2008 yang berlangsung relatif singkat. Saat ini potensi bahaya yang mungkin terjadi adalah letusan freatik sebagai mana telah diuraikan di atas.

Merujuk kepada catatan sejarah letusan (jangka panjang) G. Egon, Potensi bahaya yang dapat ditimbulkan oleh letusan G. Egon dibagi kedalam tiga tingkatan dari tinggi ke rendah sebagimana tertuang dalam peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) G. Egon, yaitu:

  • Dalam Kawasan Rawan Bencana III: sering terlanda awan panas dan kemungkinan aliran lava, serta dalam radius 1,5 km dari pusat kawah sering terlanda lontaran/guguran batu pijar.
  • Dalam Kawasan Rawan Bencana II: berpotensi terlanda awan panas dan aliran lahar, serta dalam radius 3 km dari pusat kawah berpotensi terlanda hujan abu lebat dan lontaran batu (pijar).
  • Dalam Kawasan Rawan Bencana I: berpotensi terlanda lahar/banjir serta dalam radius 5 km dari pusat kawah berpotensi terlanda hujan abu lebat dan lontaran batu (pijar) berukuran lebih kecil dari 6 cm.

Potensi bahaya G. Egon saat ini yang mungkin terjadi kemungkinan terbatas di sekitar lubang tembusan gas di area kawah aktif yaitu berupa gas vulkanik beracun yang dapat membahayakan jiwa manusia.

Pembagian KRB G. Egon selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 7.

 

V. Kesimpulan

  1. Hasil pemantauan visual maupun instrumental secara menerus menunjukkan adanya kecenderungan penurunan aktivitas vulkanik.
  2. Berdasarkan hasil analisis data visual, instrumental, dan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 1 November 2016 pukul 16:00 WITA tingkat aktivitas G. Egon diturunkan dari Level II (Waspada) menjadi Level I (Normal).
  3. Jika terjadi peningkatan aktivitas vulkanik G. Egon secara signifikan, maka tingkat aktivitasnya dapat dinaikkan sesuai dengan tingkat ancamannya.

 

VI. Rekomendasi 

Sehubungan dengan G. Egon berada dalam Tingkat Aktivitas Level I (Normal) maka direkomendasikan:

  1. Masyarakat di sekitar G. Egon dan pengunjung/wisatawan dapat beraktivitas seperti biasanya namun disarankan agar membatasi aktivitas (tidak berlama-lama) dan tidak bermalam di area kawah aktif, serta tidak mendekati lubang tembusan gas yang berada di sekitar area kawah untuk menghindari potensi bahaya yang mungkin terjadi, seperti di antaranya gas beracun.
  2. Masyarakat di sekitar G. Egon diharap tetap tenang dan tidak tepancing isu-isu letusan G. Egon yang tidak jelas sumbernya.
  3. Masyarakat agar mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur.

 

LAMPIRAN

 

LAMPIRAN 1

 Seismogram G. Egon

Egon 3 (041116)

 

LAMPIRAN 2

Hasil pengukuran suhu solfatara dan kadar gas kawah G. Egon, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 22 Oktober 2016

Egon 1 (041116)

Egon 2 (041116)

 

LAMPIRAN 3

Grafik Histogram Kegempaan G. Egon, Nusa Tenggara Timur 1 Desember 2015 – 31 Oktober 2016

Egon 4 (041116)

 

LAMPIRAN 4

Analisis Frekuensi Distribusi Kegempaan G. Egon, Nusa Tenggara Timur 1 Desember 2015 – 31 Oktober 2016

Egon 5 (041116)

 

LAMPIRAN 5

Grafik RSAM G. Egon, Nusa Tenggara Timur 1 Desember 2015 – 17 Oktober 2016

Egon 6 (041116)

 

LAMPIRAN 6

Grafik Frekuensi Dominan Gempa G. Egon, Nusa Tenggara Timur 1 Desember 2015 – 17 Oktober 2016

Egon 7 (041116)

 

LAMPIRAN 7

Grafik Analisis Kegempaan G. Egon, Nusa Tenggara Timur 1 Desember 2015 – 17 Oktober 2016

Egon 8 (041116)

 

LAMPIRAN 8

 PETA KAWASAN RAWAN BENCANA G. EGON

Egon 9 (041116)