Laporan Bencana Gerakan Tanah Di Hutan Penelitian Arcamanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan bencana gerakan tanah di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Surat Permintaan dari Kementerian Lingkungan Hidup No : S.611/P3H/PDTLP/PSL.3/10/2019 , sebagai berikut :

1.    Lokasi Gerakan Tanah :

Gerakan tanah terjadi di Perbukitan Kawasan Penelitian Hutan Arcamanik, yang merupakan lahan Perhutani Wilayah Kampung Pondok Buah Batu, Desa Mekarmanik Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, yang secara geografis terletak pada koordinat :

  1. 060 50” 36,6468” LS dan 1070 41” 37,05” BT.
  2. 060 50” 30,8652” LS dan 1070 41” 43,3896” BT.
  3. 060 50” 44,7864” LS dan 1070 41” 32,8164” BT.
  4. 060 50” 44,6892” LS dan 1070 41” 36,888” BT.

Gerakan tanah terjadi 26 Oktober 2018 dan masih berlangsung sampai pada saat pemeriksaan ini. Lokasi ini juga telah diperiksa oleh Tim PVMBG, Badan Geologi pada Bulan Desember 2018, dan sudah dikirimkan laporan singkat hasil pemeriksaannya dengan nomor 3129/BGL.V/2018.

2.    Jenis Gerakan Tanah :

Jenis gerakan tanah yang terjadi adalah longsoran tipe lambat (Rayapan/Nendatan), dengan ditandai adanya rekahan/ retakan pada tanah. Dengan lebar retakan 10 – 50 cm, kedalaman retakan 2 – 4,5 meter, panjang retakan 2 – 50 meter.

3. Dampak Gerakan Tanah :

Lahan hutan penelitian perhutani mengalami retakan pada 4 (empat) titik, yaitu :

  • Titik pertama kedalaman retakan 1 – 3,5 meter, lebar retakan 10 – 50 cm, panjang retakan 15 meter, dan arah retakan N 70° E.
  • Retakan pada titik kedua dengan arah retakan N 20° E, panjang retakan 50 meter, lebar retakan 10 – 50 cm, kedalaman retakan 4,5 meter.
  • Titik ketiga dengan arah retakan N 100° E, Panjang retakan 10 meter, lebar retakan 10 – 20 cm, dan kedalaman retakan 3 meter.
  • Titik keempat arah retakan pada N 85° E, panjang retakan 45 meter, lebar retakan 10 – 50 meter, dan kedalaman retakan 2 – 4,5 meter.

4.    Kondisi Umum Daerah Bencana :

a. Morfologi

Morfologi di daerah bencana dan sekitarnya merupakan perbukitan agak terjal – terjal dengan kemiringan lereng 20° - > 40°. Daerah ini berada pada ketinggian ± 1375 - 1385 meter di atas permukaan laut.

b. Geologi

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bandung, Jawa (Silitonga, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1973), batuan penyusun di daerah bencana berupa Hasil Gunungapi Tua Tak Teruraikan tersusun dari breksi gunungapi, lahar, dan lava (Qvu).

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan di lokasi ini, batuan penyusun berupa breksi dan bongkahan lava dengan tanah penutup tersusun oleh pasir lempungan, gembur, berwarna coklat muda - coklat tua, dengan ketebalan antara ± 1 – 2 meter.

 c. Tataguna Lahan

Lokasi bencana dari lereng bawah sampai atas merupakan lahan Perhutani Wilayah Manglayang Barat berupa kebun campuran yang didominasi bambu hitam, pohon pinus, dan di bagian atas terdapat perkebunan kopi.

 d. Keairan

Kondisi keairan di lokasi bencana ini baik, pada bagian lembah terdapat sungai dengan aliran yang deras pada saat musim penghujan.

 e. Kerentanan Gerakan Tanah

  • Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Lembar Jawa Bagian Barat (PVMBG, 2009), wilayah ini terletak pada daerah zona kerentanan gerakan tanah menengah - tinggi. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru dapat aktif bergerak akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.
  • Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Oktober 2019, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Cimenyan terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah – Tinggi artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

5.    Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lahan Perhutani sebagai berikut:

  • Tanah pelapukan yang sarang dan mudah luruh jika terkena air yang berada di atas lapisan batuan yang kedap air, sehingga kontak keduanya merupakan bidang gelincir gerakan tanah.
  • Kelerengan yang terjal sehingga memungkinkan tanah untuk mudah bergerak.
  • Retakan muncul terutama di sekitar areal pohon bambu. Keberadaan pohon bambu pada lereng terjal/gawir tersebut jika terjadi hujan disertai angin akan menyebabkan lereng tidak stabil.

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Gerakan tanah pada lokasi ini terjadi pada lokasi yang disusun oleh batuan yang lapuk dan tanah pelapukan bersifat sarang, yang mudah menyerap air. Hujan disertai angin menyebabkan pohon bambu pada lereng terjal/gawir mudah roboh dan tanah menjadi gembur. Selain itu limpasan air permukaan dari hujan meresap melalui pori tanah dan tanah yang gembur, sehingga tanah permukaan menjadi jenuh dan mudah longsor. Tanah yang jenuh membuat bobot massa tanah meningkat. Kemiringan lereng yang terjal semakin membuat lereng menjadi tidak stabil dan bergerak mencari kesetimbangan baru, maka terjadilah gerakan tanah.

7. Rekomendasi

Dari kondisi kelerengan dan arah pergerakan tanah di perbukitan lahan Perhutani Kp. Pondok Buah Batu ini mengarah ke arah lembah sungai yang berada di Utara perbukitan, sementara pemukiman Kp. Pondok Buah Batu berada di bagian Selatan perbukitan, sehingga pemukiman Kp. Pondok Buah Batu aman dari ancaman gerakan tanah di lahan Perhutani tersebut.

Rekomendasi Teknis:

Daerah gerakan tanah di perbukitan lahan Perhutani Kp. Parabonan ini masih berpotensi untuk bergerak (longsoran dan rayapan) terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama. Mengingat mau memasuki musim penghujan dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

  • Masyarakat yang beraktivitas di lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan yang berlangsung lama.
  • Selalu memantau perkembangan retakan yang ada dan jika terjadi perkembangan yang cepat, segera menjauh dari lokasi gerakan tanah dan melaporkannya kepada instansi yang berwenang.
  • Retakan yang ada dan jika muncul retakan baru agar segera ditutup menggunakan tanah dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam area retakan. Hal ini untuk mencegah masuknya air melalui retakan tersebut dan mencegah terjadinya longsoran tipe cepat.
  • Mempertahankan tanaman/pohon-pohon yang berakar kuat dan dalam untuk meningkatkan daya dukung tanah di daerah tersebut.
  • Menjaga fungsi lahan perbukitan dengan tidak melakukan pengupasan lereng yang dapat mengakibatkan kestabilan lereng terganggu.
  • Mengurangi atau mengganti tanaman bambu yang berada pada sepanjang lereng yang rentan gerakan tanah dengan tanaman lain yang memiliki akar tunggang dan kuat.
  • Mengatur aliran air permukaan/drainase agar air tidak meresap ke bawah permukaan yang dapat mempercepat terjadi gerakan tanah.
  • Memantau aliran sungai agar tidak terjadi penumpukan/timbunan material longsoran karena bisa menyebabkan banjir bandang.
  • Memasang peringatan daerah rawan terjadi tanah longsor, agar masyarakat yang beraktifitas dan pengguna pengguna jalan waspada bila melalui wilayah ini, terutama di musim hujan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah. 

 

Arcamanik 1 

 

Arcamanik 2 

 

Arcamanik 3 

 

Arcamanik 4  

Arcamanik 5 

 

Arcamanik 6 

 

Arcamanik 7

 

Arcamanik 8 

Arcamanik 9