Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

Laporan singkat hasil pemeriksaan lapangan Tim Paska Bencana Gerakan Tanah di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, berdasarkan surat permintaan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bogor dengan nomor 360/1133-Rehab tanggal 23 September 2019, sebagai berikut:

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:
  1. Lokasi gerakan tanah di desa ini berada di Kp. Wates, yang secara administratif merupakan batas antara 2 desa, yaitu Desa Bantarkaret dan Desa Pangkaljaya, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Secara geografis berada pada 106° 33' 1.73" BT dan 6° 36' 38.16" LS
  2. Kp. Cadas Leueur, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Secara geografis lokasi berada pada 106° 32' 58.35" BT dan 6° 36' 52.02" LS. Terdapat 2 titik lokasi longsoran.

Kejadian gerakan tanah di kedua lokasi tersebut bersamaan pada bulan September 2019, dan retakan-retakan sebelumnya pernah terjadi tetapi masih kecil.

2. Dampak Gerakan Tanah :

 1. Kp. Wates, Desa Bantarkaret dan Desa Pangkaljaya

Dampak dari gerakan tanah:

-     Kp. Wates, Bantarkaret: 2 (dua) unit rumah rusak berat dan beberapa rumah retak-retak (rusak ringan)

-     Kp. Wates, Pangkaljaya: 1 (satu) unit rumah rusak berat dan beberapa rumah retak-retak (rusak ringan)

-     Terdapat nendatan dan retakan di jalan yang menghubungkan kedua desa retak, pada saat pemeriksaan retakan jalan tersebut sudah ditutup dan digunakan kembali

2. Kp. Cadas Leueur, Desa Bantarkaret

-     1 (satu) unit rumah terancam

3. Kondisi daerah bencana :
  • Morfologi :

Secara umum morfologi lokasi bencana di Kp. Wates (desa Bantarkaret dan Pangkaljaya) dan Kp. Cadas Leueur, Desa Bantar Karet Kecamatan Nanggung berupa perbukitan bergelombang berkemiringan landai (100-150) hingga sangat terjal (>400). Di Kampung Wates bagian timur terdapat aliran Sungai Cinampel yang berlereng sangat terjal. Kampung Cadas Leueur ke arah selatan terdapat sungai Cijulang yang padat penduduk sementara ke arah selatan-baratdaya berbatasan dengan pedataran yang dimanfaatkan penduduk untuk bersawah, kemiringan lereng sekitar 100-150. Ketinggian lokasi bencana berada di antara 435 meter di atas permukaan laut. Gerakan tanah terjadi pada tanah/batuan dominan batulempung dan tuf

  • Geologi :

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bogor, Jawa (Effendi dkk, 1998) batuan penyusun daerah bencana gerakan tanah di Kp. Wates merupakan bagian dari formasi tuf batuapung pasiran (Qvst), sedangkan di Kp. Cadas Leueur merupakan endapan lava gunungapi (Qvu) yang terdiri atas aliran lava, bersusunan basal dengan labradorit, piroksen dan hornblenda.

Berdasarkan pengamatan lapangan pada 2 lokasi tersebut, pada bagian atas terdapat tanah dengan ketebalan 2-3 m, bagian bawah berupa tuff batu apung dengan tanah pelapukan lempungan berwarna abu-abu dengan ketebalan 3 meter, sedikit batu lempung pasiran dan batupasir halus beselang seling dan berlapis baik dan tidak dijumpai longsoran.

  • Tataguna Lahan :

Pada lereng atas dan tengah berupa permukiman yang dibangun pada lereng terjal selain itu diselingi pula oleh pepohonan berakar kuat dan dalam. Pada lereng bagian bawah dan pedataran dimanfaatkan penduduk untuk permukiman dan pesawahan.

  • Keairan :

Penduduk umumnya memanfaatkan air berasal dari pegunungan yang disalurkan melalui pipa. Sumur gali berkedalaman 2 meter di kampung Cadas Leueur.

  • Kerentanan Gerakan Tanah :

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah di Kabupaten Bogor (Badan Geologi) dan Peta Prakiraan Potensi Gerakan Tanah bulan September 2019, daerah bencana gerakan tanah di Kp. Wates dan Kp. Cadas Leueur terletak pada zona kerentanan gerakan tanah tinggi, artinya daerah yang mempunyai tingkat kerentanan tinggi untuk gerakan tanah. Pada zona ini sering terjadi gerakan tanah, sedangkan gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.

4. Kondisi Gerakan Tanah :

Di Kp. Wates, gerakan tanah berupa nendatan dan rayapan kecil terjadi pada tebing setinggi 10-15 meter yang di atasnya berupa permukiman dan retakan selalu berulang. Nendatan dan rayapan pada tebing berkisar 10-20 meter, dengan panjang sekitar 100 m arah gerakan ke Timur (N700-900) dan ke Selatan dan Barat Daya N 2100-240° E. Sedangkan di Kp. Cadas Leueur terdapat 2 titik longsoran kecil di bagian tebing. Lokasi pertama, arah longsoran N 2550 E yang mengancam beberapa pemukiman di bagian atas tebing tersebut. Longsoran di tebing sungai Ciherang, sementara lokasi kedua dengan arah longsoran N 1030 E, longsoran mengarah ke sungai Cijulang, dan mengancam 1 unit pemukiman.

5. Faktor penyebab gerakan tanah:

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah pada kedua lokasi tersebut adalah:

  • Tanah pelapukan yang menumpang di atas batuan yang relatif kedap air.
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan yang bersifat lebih kedap dan berfungsi sebagai bidang gelincir.
  • Kondisi geologi berupa berupa breksi dan tuff dengan tanah pelapukan pasir lempungan - lempungan.
  • Pemotongan lereng yang terlalu tegak.
  • Lokasi rumah yang terlalu berdekatan dengan tebing.
  • Kemiringan lereng yang curam mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Curah hujan yang tinggi yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.
6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah:

Adanya aliran air permukaan (curah hujan tinggi), mengakibatkan air terakumulasi dan masuk ke dalam tanah melalui ruang antar butir, menyebabkan tanah menjadi jenuh air sehingga bobot masanya bertambah serta daya ikatnya berkurang. Kemiringan lereng yang agak curam-sangat curam, membuat tanah menjadi tidak stabil dan terjadi nendatan.

7. Rekomendasi Teknis

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah nendatan dan rayapan lambat di lokasi tersebut, disarankan :

  • 2 (dua) unit rumah rusak di Kp. Wates (Desa Bantarkaret) dan 1 (satu) unit rumah di Kp. Wates (Desa Pangkaljaya) perlu direlokasi ke tempat yang lebih aman, mengingat pemukiman tersebut sudah rusak berulang kali, terutama yang di Kp. Wates (Desa Bantarkaret) yang berbatasan dengan lembah yang sudah terganggu;
  • Memperbaiki rumah yang terkena dampak retakan (Kp. Wates, Desa Bantarkaret dan Desa Pangkaljaya) dengan kontruksi yang lebih kuat;
  • Untuk pembangunan ke depan, hindari mendirikan bangunan pada lereng yeng terjal jikapun terpaksa membangun di tempat tersebut harus dengan tiang pancang yang menembus sampai ke batuan dasar dan mengikuti kaidah teknik sipil yang sesuai;
  • Membuat saluran pengering dengan pipa agar tanah tidak jenuh air;
  • Hindari pembuangan sampah di sekitar lembah yang berbatasan langsung dengan pemukiman;
  • Agar dipasang pondasi bronjong/tembok penahan/turap pada bagian tebing tanah yang terbuka, disarankan menembus batuan dasar/keras dan dilengkapi dengan parit atau selokan kedap air untuk membuang air permukaan;
  • Penataan drainage dengan mengarahkan aliran air (air hujan atau air limbah), langsung dari lereng bukit atas ke lereng bawah/ lembah dengan konstruksi/bahan yang kedap air.
  • Jika ada retakan agar segera ditutup menggunakan tanah lempung/liat dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam area retakan. Hal ini untuk mencegah masuknya air melalui retakan tersebut dan mencegah terjadinya longsoran tipe cepat.
  • Selalu meningkatkan kesiapsiagaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar lereng terjal yang berpotensi terjadinya gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan. Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
  • Selalu memantau perkembangan nendatan yang ada dan jika terjadi perkembangan yang cepat terutama di atas dan di lereng tebing, segera menjauh dari lokasi gerakan tanah dan melaporkannya kepada instansi yang berwenang untuk menyampaikan peringatan kepada penduduk yang beraktivitas di sekitar bencana.
  • Penduduk yang tinggal dan beraktivitas pada lokasi yang berdekatan dengan tebing yang berpotensi longsor atau alur lembah, agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah turun hujan. 

 

Nanggung Bogor 1

 

Nanggung Bogor 2

 

Nanggung Bogor 3 

 

Nanggung Bogor 4

 

Nanggung Bogor 5

 

Nanggung Bogor 6 

 

Nanggung Bogor 7  

 

Nanggung Bogor 8 

Nanggung Bogor 9

 

Nanggung Bogor 10

 

Nanggung Bogor 11

 

Nanggung Bogor 12