Laporan Singkat Pemeriksaan Calon Lahan Relokasi Di Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, Jawa Barat

Laporan singkat hasil pemeriksaan calon lahan relokasi yang dilakukan oleh tim pasca bencana gerakan tanah di wilayah Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat berdasarkan surat permintaan dari Sekretariat Daerah Kabupaten Garut nomor 593.82/2422/Tapem tanggal 30 Agustus 2019, perihal Permohonan Kajian Pergerakan Tanah sebagai berikut:

1. Lokasi Calon Lahan Relokasi

 Lokasi pemeriksaan lahan hunian sementara (Huntara) dan calon lahan relokasi terletak di Kampung Cirejeng RT 01 RW 02, Desa Cihaurkuning, Kec. Cisompet, Kab. Garut, Jawa Barat. Secara geografis lokasi Huntara berada pada koordinat 107° 48' 55,78" BT dan 7° 34’ 25,07” LS, dengan luas lahan ± 2,9 ha dan calon relokasi pada koordinat 107° 48' 59,05" BT dan 7° 34’ 19,49” LS, dengan luas lahan ± 1,3 ha.

Kedua lahan tersebut lokasinya berdekatan, hanya terpisah oleh jalan desa selebar 2,5 meter. Rencananya kedua lahan dipersiapkan untuk merelokasi korban gerakan tanah di Kp. Cirejeng, Desa Cihaurkuning, Kec. Cisompet, sebanyak 60 KK. Posisi kedua lahan ini terletak ± 500 meter dari lokasi bencana gerakan tanah.

 

2. Kondisi Daerah Lahan Relokasi

  • Morfologi, Morfologi pada calon lahan relokasi dan sekitarnya merupakan agak miring (5° – 8°) sampai agak terjal (20°), setempat-setempat pada pinggir lereng terjal > 25°. Lahan huntara dan relokasi ini berada di perbukitan. Huntara pada ketinggian 447 – 477 meter di atas permukaan laut (mdpl), sedangkan calon relokasi pada ketinggian 466 – 487 mdpl.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Hasil Interpretasi Citra Inderaan Jauh Cisompet, Jawa Barat (P3G, 2013) batuan penyusun daerah bencana berupa satuan batupasir tufaan terdiri dari breksi, tuf, dan batupasir. Terdapat struktur geologi berupa pola kelurusan yang berarah barat – tenggara di bagian Utara dari arah relokasi/huntara. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan di lokasi ini, batuan penyusun berupa batupasir tufaan dengan tanah penutup tersusun oleh pasir lempungan berwarna coklat muda-coklat kemerahan, bersifat lepas-lepas, sarang, dan mudah runtuh, dengan ketebalan > 3 meter.
  • Keairan, Ketersediaan air pada daerah Huntara dan calon lahan relokasi berasal dari sumber yang sama yaitu keperluan warga rencananya didapat dari mata air Rancapasung. Namun sebagian warga yang telah menghuni lokasi Huntara ada yang membuat sumur gali sedalam ± 40 meter. Sungai terdekat yaitu S. Ciawi berjarak 2 Km dari dari lahan tersebut.
  • Tata Guna Lahan, Pada saat pemeriksaan, lahan Huntara telah dihuni oleh warga yang akan direlokasi, sebagian kecil pada punggungan terdapat 9 rumah, sisanya rumah-rumah yang menempati daerah pinggiran tebing, yang dikupas menjadi tegak untuk keperluan rumah. Tipe bangunan berupa rumah panggung dan semi permanen. Sedangkan calon lahan relokasi, sebagian dimanfaatkan sebagai kebun campuran dan sisanya masih berupa semak belukar. Status kedua lahan merupakan wilayah hutan produksi yang dikelola oleh Perum Perhutani BKPH Pameungpeuk, KPH Garut. Lahan ini berada sekitar 9 km dari kota kecamatan Cisompet. Kesampaian daerah menuju lahan ini melalui jalan desa selebar ± 2,5 meter, sebagian kondisinya berbatu, sebagian lagi sudah dibeton (semen). Sarana listrik sudah tersedia, bisa didapat dari pemukiman terdekat.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Garut (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara regional daerah Huntara dan calon lahan relokasi terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali terutama akibat curah hujan yang tinggi.

 

3. Potensi Gerakan Tanah

Pada saat pemeriksaan tidak dijumpai gerakan tanah lama maupun baru, namun menurut informasi penduduk, pada musim hujan di sekitar lahan relokasi biasanya terjadi gerakan tanah kecil pada tebing-tebing terjal di sekitar lahan relokasi ini.

Potensi gerakan tanah yang harus diantisipasi adalah gerakan tanah tipe lambat berupa rayapan (retakan, nendatan, amblasan) dan gerakan tanah tipe cepat (longsoran) jika pembangunan pemukiman di kedua lahan ini tidak sesuai dengan persyaratan teknis seperti yang direkomendasikan 

 

4. Kesimpulan dan Rekomendasi

Berdasarkan kondisi geologi, morfologi, kerentanan gerakan tanah, dan fasilitas umum yang menunjang, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Lokasi Huntara di Kp. Cirejeng RT 01 RW 02, Desa Cihaurkuning, Kec. Cisompet Kurang Layak untuk dijadikan lahan relokasi.
  • Lokasi calon lahan relokasi di Kp. Cirejeng RT 01 RW 02, Desa Cihaurkuning, Kec. Cisompet ini Cukup Layak untuk dijadikan lahan relokasi.
  • Apabila kedua lahan di atas tetap akan dijadikan pemukiman maka sebaiknya mengikuti beberapa teknis rekomendasi di bawah.
  • Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hanya menyampaikan potret potensi bencana geologi, dalam hal ini bencana gerakan tanah, dan tidak berhak melarang dan mengijinkan pembangunan lahan relokasi di lokasi ini. Untuk itu PVMBG sangat merekomendasikan dalam pembangunan harus menyesuaikan dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten Garut.

 Untuk menghindari terjadinya gerakan tanah dan mengurangi risiko akibat bencana gerakan tanah, maka direkomendasikan:

  • Calon lahan relokasi perlu penguatan lereng/rekayasa keteknikan sesuai dengan kebutuhan. Jika ada pemotongan lereng agar dilakukan secara berjenjang/terasering dan perkuatan lereng. Jika lahan perlu dibuat urugan maka agar dipadatkan dengan metoda pemadatan yang benar agar permukaan tanah kokoh dan tidak mudah bergeser atau terjadi gerakan tanah tipe rayapan dan juga untuk meningkatkan daya dukung tanah terhadap pondasi dan bangunan yang akan dibangun.
  • Lereng tinggi/terjal yang terjadi akibat pengupasan/pengurugan yang dilakukan perlu diperkuat dengan dinding penahan (retaining wall) yang kokoh dan memenuhi syarat teknis. Dinding penahan disarankan menembus batuan dasar/keras dan dilengkapi dengan parit atau selokan kedap air untuk membuang air permukaan.
  • Lahan kosong/sisa (area tak terbangun) yang dikupas sebagai dampak dari pembangunan baru perlu ditanami kembali dengan tanaman penutup berupa pepohonan yang berakar kuat dan dalam untuk menjaga stabilitas tanah dan daya dukung lingkungan.
  • Penataan drainase (sistem aliran air permukaan dan buangan air limbah rumah tangga) harus dikendalikan dengan saluran yang kedap air, dengan ditembok atau pemipaan, diarahkan langsung ke arah lembah/sungai, untuk menghindari peresapan air ke tanah sehingga dapat memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Sekitar 9 rumah yang berada pada punggungan di Lahan Huntara bisa dipertahankan, namun rumah-rumah terancam yang berada di pinggiran tebing (gawir) lahan Huntara sebaiknya direlokasi karena tebing hasil pemotongan yang terlalu tegak berpotensi terjadi gerakan tanah (Gambar 4).
  • Lahan yang disarankan untuk dikembangkan menjadi pemukiman di lokasi Calon Lahan Relokasi seluas 1,334 ha (Gambar 4).
  • Beberapa cara untuk mengurangi pembebanan pada lereng dalam perencanaan pembangunan untuk sekitar 60 KK (60 rumah), dengan luas perkiraan tiap rumah sekitar 60 m2 per KK, maka agar:
    • Dipertimbangkan jarak antara rumah beserta sarana penunjangnya, jangan sampai terlalu dekat dengan tebing terjal dan jangan terlalu padat.
    • Hindari pembuatan kolam dan lahan basah (pesawahan) di sekitar pembangunan baru nanti, terutama di kaki lereng dan pada bagian atas yang berbatasan dengan lereng/lembah.
    • Tipe bangunan yang cocok adalah model panggung dan/atau bangunan dengan bahan konstruksi ringan. Pondasi agar mencapai batuan dasar/keras, jangan sampai menumpang pada lapisan lunak untuk menghindari rusaknya bangunan jika terjadi longsoran tipe lambat.

 

LAMPIRAN

Cisompet 1 (151119)

Gambar 1. Peta Lokasi Huntara dan Calon Lahan Relokasi di Kp. Cirejeng, Desa Cihaurkuning, Kec. Cisompet, Kab. Garut.

 

Cisompet 2 (151119)

Gambar 2. Peta Geologi Calon Lahan Relokasi dan sekitarnya di Kp. Cirejeng, Desa Cihaurkuning, Kec. Cisompet, Kab. Garut.

 

Cisompet 3 (151119)

Gambar 3. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Lokasi Huntara dan Calon Lahan Relokasi di Kp. Cirejeng, Desa Cihaurkuning, Kec. Cisompet, Kab. Garut.

 

Cisompet 4 (151119)

Gambar 4. Peta Situasi Lokasi Huntara dan Calon Lahan Relokasi di Kp. Cirejeng, Desa Cihaurkuning, Kec. Cisompet, Kab. Garut.

 

Cisompet 5 (151119)

Gambar 5. Sketsa Penampang Lokasi Huntara dan Calon Lahan Relokasi di Kp. Cirejeng, Desa Cihaurkuning, Kec. Cisompet, Kab. Garut.

 

Cisompet 6 (151119)

Foto 1. Calon Lahan Relokasi di Kp. Cirejeng, Desa Cihaurkuning, Kec. Cisompet, Kab. Garut, berada di bagian timur jalan desa, yang merupakan area kebun campuran.

 

Cisompet 7 (151119)

Foto 2. Tanah pelapukan yang tebal, mudah hancur, dan lepas-lepas pada lokasi calon relokasi dan Huntara. Hal ini menyebabkan tanah di lokasi ini dan sekitarnya rentan terjadinya gerakan tanah

 

Cisompet 8 (151119)

Foto 3. Rumah-rumah yang berada pada pinggiran tebing (gawir) pada Lokasi Huntara di Kp. Cirejeng, Desa Cihaurkuning yang disarankan relokasi. Memperlihatkan pola kelurusan pada perbukitan di bagian utara lokasi.

 

Cisompet 9 (151119)

Foto 4. Tipe rumah semi permanen dan rumah panggung yang berada di Lokasi Huntara agar dipertahankan dan disarankan agar rumah sejenisnya dapat dikembangkan di Calon Lahan Relokasi.

 

Cisompet 10 (151119)

Foto 5. Pemeriksaan Lahan Huntara dan Calon Lahan Relokasi dilaksanakan Tim Pasca Gerakan Tanah PVMBG, Badan Geologi bersama pihak Setda Kab. Garut, petugas Perum Perhutani KPH Garut, aparat desa, dan warga Kp. Cirejeng, Desa Cihaurkuning, Kec. Cisompet