Laporan Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Cibanggala Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan lapangan bencana gerakan tanah di Desa Cibanggala, Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

1. Lokasi dan Waktu Kejadian :

Gerakan tanah terjadi di Dusun Cintawangi, RT 9 / RW 2, Kampung Sawahlega, Desa Cibanggala, Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur, pada koordinat 107°12’38.7” BT dan 07°03’56.8” LS (Gambar 1). Gerakan tanah ini terjadi pada 1 Oktober 2019 dan masih berlangsung hingga sekarang, panjang retakan/rekahan sekitar lk. 110 meter dan lebar bervariasi antara 5 – 15 cm dengan arah gerakan ke timurlaut, tepatnya N 72° E.

 

2. Jenis Gerakan Tanah

Gerakan tanah berupa retakan dan longsoran tipe rayapan akibat adanya batuan yang sarang, yaitu lapukan batuan breksi vulkanik (Formasi Cimandiri)  berada di atas batulempung yang kedap air. Lereng yang relatif agak curam di bagian kaki bukit (tubuh longsoran) bagian timur, sehingga menyebabkan massa batuan di bagian atas tertarik ke arah timurlaut (arah retakan N 160° E) dan menyebabkan terjadinya gerakan tanah.

 

3. Dampak gerakan tanah :

Dampak gerakan tanah menyebabkan 4 (empat) rumah terdampak, sebagian pondasinya sudah miring, namum masih tetap dihuni, dan 4 rumah lainnya terancam.

 

4. Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Morfologi daerah bencana berupa perbukitan berelief sedang dengan kemiringan lereng 10° - 15°, pemukiman yang berada di daerah terdampak berada di puncak punggungan atau bukit.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sindangbarang (Koesmono dkk, 1996), Lokasi bencana masuk dalam Formasi Cimandiri (Tmc) yang batuannya berupa perselingan batulempung dan batulanau, setempat gampingan, breksi andesit dan breksi tuf (Gambar 2). Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi bencana, batuan penyusun berupa breksi tuf Kristal berwarna coklat, sedangkan tanah pelapukan berwana coklat tua dengan ketebalan sekitar 1 sampai 2 meter.
  • Tata guna lahan, Tata lahan pada bagian atas perbukitan berupa pemukimandi bagian atas yang dikelilingi oleh sebagian  besar sawah hingga lereng bagian bawah serta sebagian kecil berupa kebun/ladang .
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah yaitu terdapat mata air sebagai keperluan air sehari hari penduduk dan kedalaman muka air tanah cukup dangkal 2 – 4 m. Sumber air lain juga digunakan untuk pengairan sawah dan ladang.

 

5. Zona Kerentanan Gerakan Tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Cianjur (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) (Gambar 3), Kecamatan Campakamulya termasuk zona potensi terjadi Gerakan tanah Menengah sampai Tinggi.

Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah adalah daerah yang mempunyai kerentanan menengah untuk terkena gerakan tanah.  Pada  zona  ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi  adalah daerah yang mempunyai kerentanan tinggi untuk terkena gerakan tanah. Pada zona ini sering terjadi gerakan tanah sedangkan gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat,

 

6. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

  • Tanah lapukan dan batuan di permukaan yang tebal, gembur, dan sarang mudah menyerap air.
  • Adanya kemiringan lereng dengan slope sekitar 11°, sehingga menyebabkan terjadinya longsor (rayapan) kearah tenggara.
  • Adanya batuan dasar di bagian bawah yang bersifat lempungan yang kedap air.
  • Morfologi berbentuk lembah di bagian lereng yang mengalami pergerakan dan merupakan daerah tangkapan air (catchment area).
  • Adanya sawah di sekitar pemukiman hingga lereng bagian bawah pemukiman.
  • Drainase yang kurang baik di daerah pemukiman dan persawahan.
  • Hujan dengan intensitas tinggi sebagai pemicu terjadinya gerakan tanah.

 

 

2. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Curah hujan yang tinggi membuat material lereng jenuh air dan menurunkan kuat gesernya. Tanah lapukan dan batuan di permukaan yang tebal, gembur, dan sarang (Formasi Cimandiri) mudah menyerap air. Adanya batuan dasar di bagian bawah yang bersifat lempungan yang kedap air, yang selanjutnya berfungsi sebagai bidang gelincir.

Disamping itu tataguna lahan yang berupa sawah di sekitar pemukiman menyebabkan tanah menjadi basah dan sangat jenuh air, sehingga tanah/batuan menjadi mudah bergerak menuruni lereng.  Material lereng yang telah rapuh tersebut semakin mudah bergerak ke luar/tertarik karena kemiringan lereng yang agak curam, akibatnya terbentuklah retakan (N 160° E), hingga akhirnya terjadi gerakan tanah berupa rayapan ke arah tenggara (N 72° E).

 

 

3. Kesimpulan dan Rekomendasi

Kesimpulan

  1. Berdasarkan kajian di lapangan terjadinya gerakan tanah terutama diakibatkan oleh kondisi geologi (terutama situasi dan kondisi batuan dan morfologi), curah hujan yang relatif tinggi dan tataguna lahan dimana sawah berada di areal pemukiman yang berlereng.
  2. Gerakan tanah dapat berkembang lebih lanjut, yang ditandai oleh adanya retakan-retakan di sekitar lokasi longsoran.

Rekomendasi

  • Pemukiman yang berada sekitar retakan dan zona gerakan tanah agar direlokasi menjauh dari retakan, mengingat masih berpotensi longsor.
  • Masyarakat yang terdampak disarankan mengungsi ke tempat yang lebih aman.
  • Warga yang bermukim di sekitar lokasi longsor  agar meningkatkan kewaspadan terutama ketika hujan turun.
  • Rumah yang sudah mengkhawatikan sebaiknya dibongkar untuk menghindari ambruk.
  • Melakukan pemantauan retakan, genangan air, saluran irigasi yang berkelanjutan untuk memitigasi terjadinya pergerakan tanah,
  • Tidak beraktifitas di sekitar zona gerakan tanah, terutama saat hujan turun sebagai antisipasi terjadinya longsor susulan.
  • Pesawahan yang berada di sekitar perkampungan Cintawangi ini sebaiknya dijadikan lahan kering;
  • Sistem aliran air permukaan (drainase) pada lahan ini harus diperbaiki sedemikian rupa agar air permukaan mengalir dengan baik, salurannya dibuat kedap air untuk mengurangi resapan air ke dalam tanah.
  • Tidak mendirikan bangunan di sekitar alur lembah sungai/alur aliran bahan rombakan yang berpotensi menjadi jalan mengalirnya material longsoran pada saat atau setelah turun hujan dengan intensitas tinggi;
  • Mengeringkan kolam/tampungan-tampungan air pada tubuh longsoran untuk mengurangi pembebanan.
  • Tidak beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah dan dekat dengan alur lembah sungai/alur curah anak sungai yang berpotensi menjadi jalan mengalirnya material longsoran dan tebing yang curam pada saat atau setelah turun hujan dengan intensitas tinggi;
  • Tidak melakukan aktivitas yang dapat mengganggu kestabilan lereng, seperti pemotongan lereng sembarangan, penebangan pohon-pohon besar dengan sembarangan  sehingga dapat memicu terjadinya gerakan tanah;
  • Memelihara vegetasi/tanaman keras berakar kuat dan dalam di daerah berlereng terjal untuk menjaga kestabilan lereng dan mengurangi laju erosi dari limpasan air hujan. Lahan kering disarankan pada area ini,
  • Perlu kontrol di lereng bagian atas maupun bawah Dusun Cintawangi agar Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bencana agar waspada dan memantau munculnya retakan-retakan dan amblesan baru. Jika menemukan hal tersebut segera melapor ke BPBD;
  • Evaluasi penataan ruang sangat perlu dilakukan dan memperhatikan aspek bencana.
  • Karena gerakan tanah yang terjadi merupakan tipe rayapan, maka rumah panggung akan lebih aman digunakan dibanding rumah permanen.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat dalam penanganan gerakan tanah atau tanah longsor.

 

LAMPIRAN

Cibanggala 1 (151119)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah di Kp. Sawahlega, Dsn. Cintawangi, Ds. Cibanggala, Kec. Campakamulya, Kabupaten Cianjur.

 

Cibanggala 2 (151119)

Gambar 2. Peta Geologi Daerah Desa Cibanggalan dan sekitarnya Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur

(Sumber : Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Badarwaru ; Koesmono, dkk., 1996).

 

Cibanggala 3 (151119)

Gambar 3. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Cianjur

 

Cibanggala 4 (151119)

Gambar 4. Peta situasi gerakan tanah di, Dsn. Cintawangi, Kp. Sawahlega, Ds. Cibanggala, Kec. Campakamulya, Kabupaten Cianjur.

 

Cibanggala 5 (151119)

Gambar 5. Penampang gerakan tanah di Dsn. Cintawangi, Kp. Sawahlega, Ds. Cibanggala, Kec. Campakamulya, Kabupaten Cianjur.

 

Cibanggala 6 (151119)

Foto 1. Area pesawahan yang mengalami penurunan dan retakan, di Dsn. Cintawangi, Ds. Cibanggala, Kec. Campakamulya, Kabupaten Cianjur.

 

Cibanggala 7 (151119)

Foto 2. Area pesawahan yang mengalami longsor (rayapan), di Dsn. Cintawangi, Ds. Cibanggala, Kec. Campakamulya, Kabupaten Cianjur.

 

Cibanggala 8 (151119)

Foto 3. Rumah yang terancam, berada pada jalur retakan, disekelilingnya merupakan area pesawahan, di Dsn. Cintawangi, Ds. Cibanggala,   Kec. Campakamulya, Kabupaten Cianjur.

 

Cibanggala 9 (151119)

Foto 4 dan 5. Pondasi rumah yang mengalami penurunan dan pergeseran akibat dari gerakan tanah rayapan dan retakan di Dsn Cintawangi, Ds. Cibanggala,   Kec. Campakamulya, Kabupaten Cianjur.