Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Cibeber, Kab. Cianjur Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan lapangan Tim Tanggap Darurat bencana gerakan tanah di wilayah Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, sebagai berikut:

1. Lokasi Bencana dan Waktu Kejadian

Gerakan tanah terjadi di Dusun Cirawa, Desa Kanoman, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Gerakan tanah terjadi di lereng perbukitan di sekitar Desa Kanoman, Kecamatan Cibeber pada koordinat 06° 55' 14,3" LS - 107° 03' 49,6" BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Selasa, 8 Oktober 2019 sekitar pukul 18.20 WIB.

 

2. Kondisi Daerah Bencana

  • Morfologi, Secara umum morfologi daerah bencana berupa perbukitan berelief landai hingga sedang, sedangkan titik longsoran berupa punggungan berarah barat - timur dengan kemiringan lereng (slope) sekitar 30°. Lokasi bencana berada pada elevasi 750 meter di atas permukaan laut. Terdapat alur sungai kecil (S. Cijati) di bagian utaranya yang selalu berair setiap saat.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Cianjur, Jawa (Sudjatmiko, 1972), batuan penyusun di lokasi bencana merupakan produk gunungapi, berupa breksi andesit bersisipan dengan lava andesit yang tergabung dalam Satuan Gunungapi Tertua (Qot). Berdasarkan pengamatan lapangan, material lereng tersusun atas tanah pelapukan dari breksi vulkanik yang menumpang di atas lava. Tanah pelapukan berupa lempung pasiran berwarna coklat kekuningan, bersifat poros dan permeabel dengan ketebalan mencapai lebih dari 3 meter.
  • Keairan, Penduduk umumnya memanfaatkan air dari saluran irigasi untuk keperluan bercocok tanam dan mengairi sawahnya. Saluran irigasi tersebut melintang di bagian tengah lereng. Sementara untuk kebutuhan sehari-hari menggunakan air dari mata air yang disalurkan melalui pipa-pipa dan sebagian membuat sumur gali.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan di lokasi bencana umumnya berupa sawah dan permukiman. Area pesawahan tersebar dari bagian atas lereng hingga bagian bawah lereng. Sawah di bagian atas lereng berbatasan dengan kebun campuran dan hutan. Sedangkan sebagian punggungan perbukitan dan bagian bawah lereng, area pesawahan mengelilingi permukiman.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana di Kecamatan Cibeber termasuk zona kerentanan gerakan tanah Menengah dan berdasarkan Peta Prakiraan Terjadinya Gerakan Tanah di Kabupaten Cianjur pada Bulan Oktober 2019, daerah bencana termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah. Artinya, Daerah yang mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

3. Situasi dan Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah yang terjadi bertipe longsoran (rotasi). Gerakan tanah ini terjadi pada lereng perbukitan dengan kemiringan lereng 20° - 30° dan arah gerak longsoran N50°E. Tinggi mahkota longsoran  lk. 10 meter, lebar mahkota 41,5 meter, dengan panjang longsoran 50 meter dan panjang landaan 50 meter. Total luas area terdampak lk. 0,1639 Ha. Material longsor berupa lumpur dan tanah pelapukan breksi andesit.

Dampak dari gerakan tanah ini antara lain:

  • 2 (dua) orang meninggal dunia
  • 2 (dua) rumah hancur
  • 1 (satu) rumah rusak ringan
  • 4 (empat) rumah yang terdiri dari 6 KK dan 1 (satu) masjid terancam
  • Area pesawahan rusak

 

4. Faktor Pengontrol Gerakan Tanah

Secara umum gerakan tanah di kedua lokasi tersebut dikontrol oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Kemiringan lereng yang (20° - 30°);
  • Perubahan tata guna lahan yang berubah menjadi pesawahan atau lahan basah;
  • Tanah pelapukan yang tebal berasal dari breksi vulkanik;
  • Curah hujan yang tinggi menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah;

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Kemiringan lereng yang curam di lereng bagian atas Dusun Cirawa, Tanah Pelapukan yang tebal, batuan breksi vulkanik yang posos air,saluran irigasi yang kurang baik (tidak kedap air) dan tataguna lahan berupa sawah disekelilingnya serta dipicu curah hujan yang tinggi mengakibatkan tahanan lereng menjadi lemah sehingga kondisi tanah dan batuan jenuh air menyebabkan bobot masanya bertambah dan kuat gesernya menurun, sehingga tanah tidak stabil (mudah bergerak).

 

6. Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis

Kesimpulan:

  • Daerah ini masih berpotensi untuk bergerak baik longsoran tipe cepat maupun longsoran tipe lambat berupa rayapan (nendatan, retakan, dan amblasan) terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama.

 

Rekomendasi:

Mengingat musim hujan sudah mulai dan masih adanya potensi gerakan tanah di lokasi tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa direkomendasikan sebagai berikut:

  • Daerah terdampak di Dusun Cirawa (3 Rumah) direlokasi ke tempat yang lebih aman;
  • Daerah ini masih berpotensi untuk bergerak baik longsoran tipe cepat maupun longsoran tipe lambat sehingga 4 (empat) rumah yang terdiri dari 6 KK dan 1 (satu) masjid terancam yang berada di bagian atas mahkota longsoran perlu meningkatkan kewaspadaan dengan memantau retakan retakan baru yang muncul dan segera mengungsi apabila gerakan tanah yang terjadi di Dusun Cirawa ini semakin berkembang.
  • Jika muncul retakan baru agar segera ditutup menggunakan tanah lempung/liat dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam area retakan. Hal ini untuk mencegah masuknya air melalui retakan tersebut dan mencegah terjadinya longsoran tipe cepat.
  • Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di lokasi bencana dan sekitarnya agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan yang berlangsung lama. Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
  • Melakukan pemantauan retakan, genangan air, saluran irigasi yang berkelanjutan untuk memitigasi terjadinya pergerakan tanah,
  • Perlu dilakukan proteksi lereng mengingat kawasan di sekitar Dusun Cirawa berlereng cukup curam sehingga sistem pertanian lahan basah berupa sawah tidak cocok;
  • Pesawahan yang berada di sekitar perkampungan Cirawa ini sebaiknya kembali dijadikan lahan kering;
  • Jika masih tetap dijadikan sebagai lahan persawahan, sebaiknya saluran airnya (drainase) dibuat kedap air;
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat.
  • Tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat dengan tebing dan alur lembah atau aliran sungai yang berpotensi menjadi jalan mengalirnya material longsoran;
  • Tidak melakukan aktivitas yang dapat mengganggu kestabilan lereng, seperti pemotongan lereng sembarangan, penebangan pohon-pohon besar dengan sembarangan  sehingga dapat memicu terjadinya gerakan tanah;
  • Sosialisasi terhadap daerah rawan bencana harus intensif dilakukan mengingat banyaknya daerah rawan bencana gerakan tanah/longsor;
  • Perlu kontrol di lereng bagian atas maupun bawah Dusun Cirawa agar Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bencana agar waspada dan memantau munculnya retakan-retakan dan amblesan baru. Jika menemukan hal tersebut segera melapor ke BPBD;
  • Tidak mendirikan bangunan di sekitar alur lembah sungai/alur aliran bahan rombakan yang berpotensi menjadi jalan mengalirnya material longsoran pada saat atau setelah turun hujan dengan intensitas tinggi;
  • Tidak beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah dan dekat dengan alur lembah sungai/alur curah anak sungai yang berpotensi menjadi jalan mengalirnya material longsoran dan tebing yang curam pada saat atau setelah turun hujan dengan intensitas tinggi;
  • Evaluasi penataan ruang sangat perlu dilakukan dan memperhatikan aspek bencana.

 

LAMPIRAN

Cibeber 1 (151119)

Gambar 1. Peta Lokasi Bencana Gerakan Tanah di Desa Kanoman, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

 

Cibeber 2 (151119)

Gambar 2. Peta geologi Kecamatan Cibeber dan Sekitarnya, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat

 

Cibeber 3 (151119)

Gambar 3. Peta Prakiraan Terjadinya Gerakan Tanah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Bulan Oktober 2019

 

TABEL 1. WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH DI KABUPATEN CIANJUR,

PROVINSI JAWA BARAT BULAN OKTOBER 2019

Cibeber 4 (151119)

Keterangan :

Cibeber 5 (151119)

 

Cibeber 6 (151119)

Gambar 4 Peta situasi gerakan tanah Dusun Cirawa, Desa Kanoman, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur.

 

Cibeber 7 (151119)

Gambar 5. Sketsa penampang gerakan tanah Dusun Cirawa, Desa Kanoman, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur.

 

FOTO-FOTO PENINJAUAN LAPANGAN

Cibeber 8 (151119)

Foto 1. Kp. Cirawa, Desa Kanoman, Kec. Cibeber, Kab. Cianjur, kondisi morfologinya berupa perbukitan bergelombang, dengan kemiringan lereng landai – sedang.

 

Cibeber 9 (151119)

Foto 2. Gerakan Tanah di Kp. Cirawa, Desa Kanoman,  Kec. Cibeber, Kab. Cianjur dilihat dari drone

 

Cibeber 10 (151119)

Foto 3. Gerakan Tanah di Kp. Cirawa, Desa Kanoman,  Kec. Cibeber, Kab. Cianjur. Gerakan tanah tipe rotasi ini, mengakibatkan 2 (dua) rumah hancur akibat dorongan material longsoran.

 

Cibeber 11 (151119)

Foto 4. Kondisi mahkota longsoran, tampak yang berwarna kuning kecoklatan merupakan bidang gelincirnya, berupa hasil pelapukan dari lava.

 

Cibeber 12 (151119)

Foto 5. Rumah yang terdampak gerakan tanah/ longsor di Desa Kanoman, Kec. Cibeber, yang terjadi pada 8 Oktober 2019, mengakibatkan 2 (dua) orang meninggal, serta 2 rumah hancur dan 1 rumah rusak ringan.

 

Cibeber 13 (151119)

Foto 6. Bangunan rumah dan kandangan ayam yang terancam, karena posisinya berada pada jalur berpotensi menjadi jalan mengalirnya material longsoran pada saat atau setelah turun hujan dengan intensitas tinggi.

 

Cibeber 14 (151119)

Foto 7. Koordinasi Tim Badan Geologi dengan BPBD Kab. Cianjur sebelum melakukan pemeriksaan gerakan tanah