Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Wangunjaya Kecamatan Naringgul, Kab. Cianjur, Provinsi Jawa Barat

 

 

Laporan hasil pemeriksaan lapangan di wilayah Desa Wangunjaya Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat, sebagai berikut:

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Kampung Sukamaju, Mekargalih, Cireundeu, dan Cigaru Desa Wangunjaya. Gerakan tanah pertama berupa longsoran bahan rombakan terjadi di kampung Sukamaju yang secara geografis berada pada koordinat 7° 25' 19,7" LS dan 107° 19' 49,6" BT dan 7° 25' 19" LS dan 107° 19' 51" BT. Gerakan tanah tipe longsoran berikutnya terjadi di kampung Mekargalih yang berada di sebelah timur badan jalan pada koordinat 7° 25' 25,9" LS dan 107° 19' 49,7" BT. Gerakan tanah tipe longsoran juga terjadi di Kampung Cireundeu pada koordinat 7° 25' 2,1" LS dan 107° 19' 54,6" BT. Gerakan tanah berupa nedatan pada badan jalan dan longsoran tebing jalan terjadi di kampung Cigaru yang berada pada koordinat 7° 25' 45,1" LS dan 107° 19' 56,9" BT (Gambar 1).

Menurut keterangan aparat dan penduduk setempat gerakan tanah di Desa Wangunjaya ini terjadi pada hari Minggu, 9 Desember 2018 sekitar pukul 18.30 Wib saat turun hujan.

2. Kondisi daerah bencana :

 a. Morfologi

Morfologi di sekitar lokasi gerakan tanah merupakan perbukitan dengan kemiringan lereng antara 15°-35° dan setempat-setempat dijumpai lereng dengan kemiringan lebih dari 45°. Lereng dengan kemiringan lebih dari 45° ini dijumpai pada tebing jalan dan yang berbatasan dengan lembah dan sungai. Ketinggian lokasi gerakan tanah berada di antara 200 - 350 meter di atas permukaan laut.

b.Geologi

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sindang Barang, Jawa (Koesmono, dkk., 1996), lokasi gerakan berada pada daerah yang disusun oleh batuan dari Formasi Bentang (Tmb) berumur Tersier yang terdiri dari runtuhan turbidit berupa batupasir tuf berlapis baik, kurang mampat, tuf kristal dan tuf batuapung bersisipan lempung. Endapan ini berada di atas Formasi Jampang (Tomj) yang tersusun oleh breksi andesit yang tersemen baik (Gambar 2).

Hasil pengamatan lapangan memperlihatkan bahwa lokasi ini disusun oleh tanah pelapukan berupa lempung pasiran sampai pasir lempungan berwarna coklat terang dengan ketebalan antara 1 – 3 m dan setempat lebih dari 3 m. Tanah penutup berada di atas batupasir tuf berwarna abu-abu terang (Foto 1). Batuan ini ini terendapkan di atas batulempung sebagai sisipan yang berwarna abu-abu yang tersingkap di sekitar lahan kebun campuran.

 c.Keairan

Kondisi air permukaan di lokasi ini baik dan dijumpai mata air yang menurut keterangan penduduk berair sepanjang tahun.

d.Tata guna lahan

Gerakan tanah terjadi pada lahan permukiman yang berkembang di sisi barat dan timur jalan raya yang menghubungkan Kecamatan Naringgul dengan wilayah Kabupaten Bandung. Lahan juga berupa tegalan dan kebun campuran yang berkembang di sisi barat dan timur permukiman. Sawah dijumpai pada bagian ujung longsoran di kampung Sukamaju.

 e.Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Cianjur bulan Desember 2018 (PVMBG-Badan Geologi), Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah tinggi artinya daerah ini mempunyai potensi tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali. (Gambar 3 dan Tabel 1).

 3. Situasi dan Dampak Bencana

Gerakan tanah yang terjadi di kampung Sukamaju adalah tipe longsoran pada lahan kebun campuran yang berbatasan dengan permukiman. Terdapat dua tubuh longsoran yang letaknya berdekatan. Mahkota longsoran pertama berada pada lereng lembah yang di bawahnya terdapat alur air yang mengalir ke arah lembah. Lebar tubuh longsoran mencapai 24 m dengan arah gerakan relatif timur laut (N150E). Longsoran kedua berada di timur laut longsoran pertama dengan arah relatif barat laut (N3050E) dengan lebar tubuh longsoran 8 m (Gambar 4). Longsoran ini terjadi pada lereng dengan kemiringan 150-350 (Foto 2). Longsoran pertama mengakibatkan pondasi sebuah rumah tergerus. Di sekitar lokasi ini juga, menurut keterangan penduduk, muncul rembesan air pada tekuk lereng ketika turun hujan (Foto 3).

Gerakan tanah berikutnya adalah nendatan dan longsoran bahan rombakan di Kampung Mekargalih Desa Wangunjaya. Gerakan tanah pertama berupa longsoran bahan rombakan yang menutup badan jalan raya Naringgul-Kabupaten Bandung (Gambar 4 dan 5). Longsoran ini telah ditangani dan material telah dibersihkan (Foto 4). Gerakan tanah berikutnya dalah longsoran dan nendatan pada lereng dengan ketinggian 15 meter, kemiringan lereng 350 dengan lebar tubuh gerakan tanah mecapai 30 meter. Gerakan tanah ini berarah N700E atau relatif ke arah timur (Gambar 4 dan 5). Material rombakan yang telah bergerak menutup jalan setapak pada tekuk lereng yang merupakan ujung longsoran, sedangkan ke bagian atas terbentuk retakan-retakan dan nendatan yang mengarah ke sebuah bangunan (bengkel) (Foto 5).

Gerakan tanah di Kampung Cireundeu adalah longsoran bahan rombakan pada alur sungai kecil yang tidak permanen. Longsoran terjadi pada dua sisi lereng alur sungai kecil dengan kemiringan <450. Material longsoran bergerak mengikuti alur alir sungai tersebut dan tanah permukaan tergerus serta tertarik oleh gerakan tanah tersebut (Gambar 6).

Di wilayah Desa Wangunjaya, gerakan tanah juga terjadi di kampung Cigaru. Gerakan tanah berupa nendatan pada badan jalan dan longsoran bahan rombakan pada tebing jalan yang mengarah ke permukiman. Nendatan terjadi pada sisi kiri jalan (dari arah Naringgul menuju Bandung) sepanjang 70 meter (Gambar 7). Pada saat pemeriksaan telah dilakukan penanganan dengan pengecoran pada badan jalan yang amblas, tetapi tidak dilakukan perkuatan lereng jalan yang mengarah ke permukiman (Foto 7).

Dampak gerakan tanah:

  • Satu unit rumah di kampung Sukamaju rusak pondasinya terbawa longsoran dan satu unit rumah lainya terancam akibat gerakan tanah tersebut serta kemunculan rembesan air ketika turun hujan lebat.
  • Jika gerakan tanah di kampung Sukamaju terus berkembang, dikhawatirkan akan mengancam bangunan-bangunan yang berdiri di bibir tebing dan berada di atas tubuh longsoran.
  • Satu unit bangunan yang dimanfaatkan sebagai bengkel di kampung Mekargalih, yang berdiri di bibir tebing terancam akibat longsoran yang berkembang ke arah atas dan telah membentuk retakan serta nendatan pada tanah pemukaan di bawah bangunan tersebut.
  • Satu unit rumah di kampung Cireundeu yang dekat aliran sungai yang longsor dan tanah permukaannya sudah miring serta terancam jika gerakan tanah terus berkembang.
  • Satu unit rumah di Kampung Cigaru yang berdiri di bibir tebing dan telah dikosongkan, rusak akibat gerakan tanah.
  • Satu Unit rumah di kampung Cigaru yang berdiri di pinggir jalan yang mengalami nendatan dan longsoran terancam jika gerakan tanah terus berkembang.
4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Faktor penyebab gerakan tanah adalah interaksi kondisi geologi, di antaranya:

  • Sifat tanah pelapukan yang porous.
  • Terdapatnya zona lemah berupa kontak antara tanah pelapukan yang bersifat porous dan bagian bawahnya yang bersifat kedap serta berfungsi sebagai bidang gelincir.
  • Morfologi di sekitar lokasi gerakan tanah dengan kemiringan lereng agak terjal sampai terjal.
  • Sistem drainase yang tidak baik dan tidak kedap air, sehingga aliran air menggerus tanah di sekitar aliran.
  • Aliran sungai dan alur alir kecil mengakibatkan terjadinya pengerosian secara lateral dan pelunakan pada kaki lereng.
  • Pembebanan pada badan jalan.
  • Curah hujan yang tinggi sebagai pemicu gerakan tanah.
5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Secara umum gerakan tanah di Desa Wangunjaya, Kecamatan Naringgul dikontrol oleh interaksi kondisi geologi di mana sifat tanah pelapukan yang porous di atas lapisan yang kedap air serta kemiringan lereng yang agak terjal sampai terjal. Sistem pengaliran air permukaan yang tidak baik dan tidak kedap air turut mengontrol terjadinya gerakan tanah di lokasi ini.

Hujan dengan intensitas tinggi mengakibatkan peresapan air pada tanah pelapukan yang porous sehingga tanah jenuh dan mengalami peningkatan bobot massa tanah. Penjenuhan dan pelunakan tanah oleh aliran air pada bagian kaki lereng mengakibatkan bagian bawah lereng mengalami penurunan kekuatan penahannya. Karena pembebanan yang terus meningkat seiring curah hujan yang tinggi dan bagian bawah lereng yang telah lemah, serta akumulasi air pada kontak batuan mengakibatkan tanah bergerak ke luar lereng dengan bidang gelincir pada kontak batuan ini. Gerakan tanah dimulai dari kaki lereng sehingga bagian atasnya tertarik. Selain kondisi geologi, gerakan tanah pada badan jalan di kampung Cigaru, juga dipengaruhi oleh pembebanan berulang kendaraan yang melewati jalan tersebut.

 6. Rekomendasi

Mengingat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi serta masih terdapatnya retakan pada bagian atas lereng untuk menghindari berkembangnya longsoran ke arah permukiman di bagian bawah dan atas tubuh longsoran, serta jatuhnya korban jiwa, direkomendasikan: 

  • Selalu meningkatkan kewaspadaan bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah hujan dengan intensitas tinggi dan lama.
  • Agar dilakukan penataan saluran drainase dan langsung dialirkan ke lereng lembah/ sungai dengan saluran kedap air.
  • Segera menutup retakan dan memadatkannya serta mengarahkan aliran air menjauh dari retakan untuk memperlambat masuknya air ke dalam tanah.
  • Di lokasi Sukamaju agar dilakukan pembersihan material longsoran, normalisasi jalan setapak yang terputus, dan melakukan perkuatan lereng, termasuk memperbaiki dan memperkuat pondasi rumah yang tergerus longsoran.
  • Di lokasi Mekargalih agar segera dilakukan penutupan retakan yang berkembang di bawah bangunan dan dipadatkan.
  • Di lokasi Cireundeu agar dilakukan perkuatan lereng pada tebing sungai untuk menghindari perkembangan gerakan tanah ke arah permukiman.
  • Di lokasi Cigaru agar segera dilakukan perkuatan pada lereng di bawah badan jalan dengan tiang pancang yang kuat dan menembus batuan dasar agar gerakan tanah tidak melebar dan mengancam rumah di bawahnya.
  • Jika gerakan tanah terus berkembang, bangunan di lokasi Sukamaju, Mekargalih, Cireundeu, dan Cigaru yang rusak dan terancam agar segera dikosongkan dan mengungsi ke tempat aman dari ancaman gerakan tanah.
  • Seluruh aktivitas penanganan gerakan tanah ini agar dilakukan dengan selalu memperhatikan kondisi cuaca dan faktor keselamatan.
  • Agar dilakukan pemantauan mandiri terhadap perkembangan gerakan tanah yang melibatkan masyarakat dan aparat setempat. Jika terjadi perkembangan yang intensif, penduduk yang tinggal di dekat lokasi gerakan tanah agar segera mengungsi ke tempat yang aman dari ancaman gerakan tanah dan melaporkannya kepada aparat pemerintah setempat.
  • Tidak melakukan aktivitas yang dapat mengganggu kestabilan lereng, seperti pemotongan lereng sembarangan, penebangan pohon-pohon besar dengan sembarangan sehingga dapat memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Agar tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat dengan tebing lereng dan alur lembah atau aliran sungai yang berpotensi menjadi jalan mengalirnya material longsoran.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya, seperti kemunculan mata air baru, perubahan warna ari pada mata air menjadi keruh, serta getaran yang sifatnya local, sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

 

cianjur

 

cianjur 2

cianjur 3

 

cianjur 4

cianjur 5

 

cianjur 6

cianjur 7

cianjur 8

 

cianjur 9

cianjur 10

Laporan singkat ini dapat diunduh atau download disini