Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Jelegong Kecamatan Kutawaringin, Kab. Bandung, Provinsi Jawa Barat

Menindak lanjuti surat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung No. 314/1836/BPBD/2018 tanggal 10 Desember 2018 perihal permohonan kajian teknik pergerakan tanah, disampaikan laporan hasil  pemeriksaan  lapangan  di Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat, sebagai berikut:

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi   di 3 (tiga) titik pada badan jalan Ciharuman yang menghubungkan Cipancir dengan Cantilan. Lokasi pertama berupa amblasan tanah di kampung Parungpeusing yang secara geografis berada pada koordinat 6° 57' 23,4" LS dan 107° 31' 51" BT. Lokasi ke dua nendatan pada badan jalan di kampung Cijembel yang berada pada koordinat 6° 57' 15,3" LS dan 107° 31' 52,5" BT. Gerakan tanah berikutnya berupa nendatan pada badan jalan di Gunung Pancir pada koordinat 6° 56' 57.30" LS dan 107° 31' 53.74" BT.

Menurut keterangan aparat dan penduduk setempat gerakan tanah di kampung Parungpeusing  terjadi pada hari Minggu, 9 Desember 2018 sekitar pukul 13.50 Wib ketika tidak sedang turun hujan. Namun beberapa hari sebelumnya, hujan turun di sekitar lokasi gerakan tanah. Gerakan tanah di dua lokasi lainnya, di kampung Cijembel dan Cipancir telah terjadi beberapa minggu sebelum gerakan tanah di Parungpeusing.

 

2.  Kondisi daerah bencana :

  1. Morfologi, Morfologi di sekitar lokasi gerakan tanah merupakan pedataran. Tebing-tebing dijumpai pada lahan yang berbatasan dengan lembah dan sungai Citarum di sebelah timur.  Ketinggian lokasi gerakan tanah berada di antara 600- 650 meter di atas permukaan laut.
  2. Geologi, Berdasarkan pengamatan lapangan, lokasi ini disusun oleh lapukan endapan danau dengan tanah pelapukan berupa lempung pasiran sampai pasir lempungan berwarna coklat dengan ketebalan antara 1 – 2m. Tanah penutup berada di atas endapan danau berupa batupasir tufaan berwarna abu-abu yang tersingkap pada tebing di dekat sungai Citarum (Foto 1). Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bandung, Jawa (Silitonga,  1973), daerah gerakan tanah tersusun oleh Endapan Danau (Ql) berumur Kuarter  yang terdiri dari lempung tufaan, batupasir tufaan, dan kerikil tufaan (Gambar 2).
  3. Keairan, Kondisi air permukaan di lokasi ini baik dengan muka air tanah dangkal. Di sebelah timur mengalir Sungai Citarum yang berair sepanjang tahun.
  4. Tata guna lahan, Gerakan tanah terjadi pada lahan permukiman di kampung Parungpeusing, Cijembel, dan Cipancir Desa Jelegong. Lahan di sekitar lokasi ini umumya dimanfaatkan sebagai persawahan yang berada di sebelah barat dan timur aliran Sungai Citarum. Sebagian lahan juga dimanfaatkan sebagai kebun, kebun campuran, dan tegalan.
  5. Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Bandung bulan Desember 2018 (PVMBG-Badan Geologi), Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah menengah artinya mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan (Gambar 3 dan Tabel 1).

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

Gerakan tanah yang terjadi di kampung Parungpeusing adalah amblasan tanah pada badan jalan (Foto 2). Menurut keterangan penduduk, lokasi badan jalan yang amblas sebelumnya menjadi aliran dari luapan air selokan yang mengarah ke sungai Citarum. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi dan lama air tergenang di atas badan jalan tersebut. Pada saat dilakukan pemeriksaan lapangan, telah dilakukan penanganan oleh pihak Pemerintah Kabupaten Bandung dengan melakukan penimbunan (Foto 3).

Gerakan tanah di kampung Cijembel adalah nendatan pada badan jalan yang berbatasan dengan tebing ke arah lembah di sebelah timur badan jalan. Lereng mengarah ke lembah berupa lahan yang ditumbuhi tanaman pisang dan belukar. Lembah ini juga merupakan alur air yang mengarah ke sungai Citarum di sebelah timur. Di sebelah barat badan jalan yang nendat, terdapat juga amblasan tanah timbunan yang di atasnya berdiri rumah tinggal (Foto 4).

Gerakan tanah di kampung Gunung Pancir adalah retakan dengan dimensi kecil pada badan jalan. Retakan ini juga diikuti oleh nendatan dangkal ke arah lereng yang di bawahnya berupa lahan yang diperkirakan bekas rawa (Foto 5).

Situasi gerakan tanah dapat dilihat pada Gambar 4, 5, 6 dan 7.

Dampak gerakan tanah:

  • Amblasan badan jalan di kampung Parungpeusing mengakibatkan jalur jalan sempat terganggu dan tidak bisa dilewati. Tidak ada dampak kerusakan di pemukiman dan bangunan lain akibat gerakan tanah ini.
  • Gerakan tanah di kampung Cijembel telah diatasi dengan penimbunan dan perataan badan jalan oleh Pihak Pemerintah Kabupaten Bandung. Tidak ada dampak akibat gerakan tanah terhadap permukiman di sekitar.
  • Retakan dan nendatan di Gunung Pancir tidak menimbulkan gangguan pada arus lalu lintas maupun kerusakan pada bangunan di sekitarnya.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Faktor penyebab gerakan tanah adalah interaksi kondisi geologi yang secara umum antara lain adalah:

  • Sifat tanah pelapukan yang porous.
  • Terdapatnya zona lemah berupa rongga-rongga pada tanah penyusun badan jalan yang berfungsi menjadi jalan mengalirnya air menuju ke lembah di sungai Citarum.
  • Sistem drainase yang tidak baik, sehingga aliran air  menggenangi badan jalan dan mengalir melalui rongga-rongga di bawah badan jalan (kampung Parungpeusing) dan menggenangi bagian bawah lereng jalan (di kampung Gunung Pancir dan Cijembel).
  • Beban berulang pada badan jalan oleh kendaraan yang lewat di atas zona lemah akibat gerusan air yang ke arah bawah.
  • Curah hujan yang tinggi beberapa hari sebelumnya menjadi pemicu gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Gerakan tanah di kampung  Parungpeusing dikontrol oleh interaksi kondisi geologi di mana sifat tanah pelapukan yang porous di atas endapan danau yang berongga dan bertufa serta sistem pengaliran air permukaan yang tidak baik. Hujan dengan intensitas  tinggi mengakibatkan air dari selokan meluber dan mengalir melalui badan jalan akibat sistem drainase yang tidak baik. Pada badan jalan yang lebih rendah air menggenang sehingga meresap dan mencari jalan untuk mengalir ke arah bawah menuju lembah sungai Citarum. Tanah di bagian bawah yang berongga menjadi jalan untuk mengalirnya air. Kandungan tuf pada tanah tersebut melarut ketika dilalui air sehingga rongga yang terbentuk membesar. Pembebanan berulang yang ditimbulkan oleh kendaraan yang lewat, mengakibatkan tanah tidak mampu lagi menahan bebannya dan akhirnya amblas meskipun tidak sedang terjadi hujan.

Seperi halnya di kampung Parungpeusing, gerakan tanah di kampung  Cijembel dan Gunung Pancir  juga dikontrol oleh interaksi kondisi geologi di mana sifat tanah pelapukan yang porous serta sistem pengaliran air permukaan yang tidak baik. Faktor lain yang mengontrol adalah morfologi berupa kelerengan pada sisi badan jalan yang mengarah ke lembah di bawahnya. Hujan dengan intensitas  tinggi mengakibatkan air meresap melalui rongga tanah. Peresapan air ini mengakibatkan terjadinya peningkatan bobot massa tanah dan pelunakan pada bagian bawah lereng. Sistem drainase yang kurang baik mengaikatkan air tergenang pada bagian kaki lereng, sehingga pelunakan menjadi lebih intensif. Kondisi tersebut ditambah kelerengan ke arah lembah, mengakibatkan tanah mudah bergerak ke luar lereng. Ketinggian lereng yang rendah menyebabkan gerakan tanah lambat dan dalam dimensi kecil sehingga tidak menimbulkan kerusakan yang parah.

 

6. Rekomendasi

Mengingat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi, untuk menghindari kerusakan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa, direkomendasikan:

  • Selalu meningkatkan kewaspadaan bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah terjadi hujan deras yang berlangsung lama.
  • Penataan saluran drainase di kanan kiri badan jalan, langsung dialirkan ke lereng lembah/arah sungai dengan saluran kedap air, dan menghindari genangan air pada daerah datar dan badan jalan.
  • Membuat perkuatan pada lereng di bawah badan jalan dengan tiang pancang yang kuat dan menembus batuan dasar.
  • Tidak melakukan aktivitas yang dapat mengganggu kestabilan lereng, seperti pemotongan lereng sembarangan, penebangan pohon-pohon besar dengan sembarangan sehingga dapat memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Mengingat di sekitar lokasi gerakan tanah sebelumnya pernah dilakukan aktivitas penggalian (informasi masyaraka setempat), untuk mencegah kerugian harta benda dan korban jiwa akibat gerakan tanah, hendaknya:
    • Tidak mendirikan bangunan atau rumah di dekat lereng-lereng bekas galian.
    • Jika hendak mendirikan bangunan di lahan tersebut, hendaknya dilakukan pemadatan yang baik dan perkuatan yang sesuai dengan kaidah keteknikan.
  • Untuk ke depannya agar tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat dengan tebing dan alur lembah atau aliran sungai yang berpotensi menjadi jalan mengalirnya material longsoran.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Bandung 1 (160119)

Gambar 1. Peta petunjuk lokasi gerakan tanah di Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Bandung 2 (160119)

Gambar 2.  Peta Geologi daerah Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Bandung 3 (160119)

Gambar 3.  Peta Prakiraan Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Kabupaten Bandung di Bulan Desember 2018

 

Bandung 4 (160119)

Gambar 4.  Peta situasi gerakan tanah di Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung

 

Bandung 5 (160119)

Gambar 5.  Penampang situasi gerakan tanah di kampung Gunung Pancir Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung

 

Bandung 6 (160119)

Gambar 6.  Penampang situasi gerakan tanah di kampung Parungpeusing Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung

 

Bandung 7 (160119)

Gambar 7.  Penampang situasi gerakan tanah di kampung Cijembel Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung

 

TABEL 1. WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

KABUPATEN BANDUNG , PROVINSI JAWA BARAT

 BULAN DESEMBER 2018

Bandung 8 (160119)

Keterangan: 

Bandung 9 (160119)

 

Bandung 10 (160119)

Foto 1. Singkapan batupasir tufaan berwarna abu-abu pada aliran sungai kecil yang bermuara di sungai Citarum (tanda panah).

 

Bandung 11 (160119)

Foto 2. Amblasan pada badan jalan di Kp. Parungpeusing sebelum dilakukan penimbunan (sumber BPBD Kab. Bandung)

 

Bandung 12 (160119)

Foto 3. Ambalasan pada badan jalan di Kp. Parungpeusing setelah ditimbun oleh Pemerintah Kabupaten Bandung (pada saat pemeriksaan).

 

Bandung 13 (160119)

Foto 4. Gerakan tanah di kampung Cijembel. Nendatan pada badan jalan yang telah ditimbun dan diratakan (kiri atas).  Amblasan pada tanah timbunan dekat rumah tinggal (kanan atas). Bawah, rumah tinggal yang dibangun di atas tanah timbunan.

 

Bandung 14 (160119)

Foto 5. Gerakan tanah di kampung Gunung Pancir berupa retakan kecil dan nendatan dangkal. Tanda panah menunjukkan tanah yang diperkirakan berupa rawa (di balik benteng) dan mengalami pelunakan akibat genangan air.