Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Cisolok, Kab. Sukabumi Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan lapangan Tim Tanggap Darurat bencana gerakan tanah di wilayah Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, sebagai berikut:

1. Lokasi Bencana dan Waktu Kejadian

Gerakan tanah terjadi di Kampung Adat Garehong, Dusun Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Gerakan tanah terjadi di lereng Gunung Surandil pada koordinat 06° 48' 56,22" LS - 106° 27' 26,68" BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Senin, 31 Desember 2018 sekitar pukul 17.00 WIB.

 2. Kondisi Daerah Bencana

  • Morfologi

Secara umum morfologi daerah bencana berupa perbukitan terjal hingga sangat terjal, dengan kemiringan lereng antara 30° - 70°. Lokasi bencana berada pada elevasi 850 meter di atas permukaan laut. Terdapat alur kecil di sekitar gawir gerakan tanah dengan aliran bersifat musiman yang bermuara ke Sungai Cibareno di sisi barat lokasi bencana.

  • Geologi

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Leuwidamar, Jawa (Sudjatmiko dan Santosa, 1992), batuan penyusun di lokasi bencana berupa breksi andesit dan aglomerat yang tergabung dalam Satuan Breksi Tapos (Qvb).

Berdasarkan pengamatan lapangan, material lereng tersusun atas tanah pelapukan yang menumpang di atas breksi vulkanik. Tanah pelapukan berupa lempung pasiran berwarna merah kekuningan, bersifat poros dan permeabel dengan ketebalan mencapai lebih dari 4 meter.

  • Keairan

Penduduk umumnya memanfaatkan air dari saluran irigasi untuk keperluan bercocok tanam. Saluran irigasi tersebut melintang di bagian tengah lereng. Sementara untuk kebutuhan sehari-hari menggunakan air permukaan yang disalurkan melalui pipa-pipa.

  • Tata Guna Lahan

Tata guna lahan di lokasi bencana umumnya berupa sawah dan permukiman. Area pesawahan tersebar dari bagian atas lereng hingga bagian bawah lereng. Sawah di bagian atas lereng berbatasan dengan kebun campuran dan hutan cemara yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS). Sedangkan di bagian bawah lereng, area pesawahan mengelilingi permukiman.

  • Kerentanan Gerakan Tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana di Kecamatan Cisolok termasuk zona kerentanan gerakan tanah Menengah-Tinggi. Sedangkan berdasarkan Peta Prakiraan Terjadinya Gerakan Tanah di Kabupaten Sukabumi pada Bulan Desember 2018, daerah bencana termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi. Artinya, di daerah ini mempunyai potensi tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini sering terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak.

 3. Situasi dan Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah bertipe longsoran yang berkembang menjadi aliran bahan rombakan. Gerakan tanah ini terjadi pada perbukitan dengan kemiringan lereng 40 - 60° dan arah gerak longsoran N250°E. Tinggi gawir mencapai 60 meter, lebar mahkota 73 meter, dengan panjang gawir 185 meter dan panjang landaan antara 381 – 590 meter. Total luas area terdampak mencapai 10,6 Ha. Material longsor berupa lumpur dan bongkah andesit berukuran 2 – 3 meter. Pada bagian atas mahkota longsor terdapat gawir longsoran lama yang terjadi 4 tahun lalu (turun 1 – 2 meter).

Dampak dari gerakan tanah ini antara lain:

  • 32 (tiga puluh dua) orang meninggal dunia
  • 1 (satu) orang belum ditemukan
  • 3 (tiga) orang luka berat
  • 64 (enam puluh empat) orang mengungsi
  • 29 (dua puluh sembilan) rumah tertimbun/rusak berat
  • Area pesawahan dan jalan desa tertimbun

 4. Faktor Pengontrol Gerakan Tanah

 Secara umum gerakan tanah di kedua lokasi tersebut dikontrol oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Kemiringan lereng yang terjal (>40°);
  • Perubahan tata guna lahan yang berubah menjadi pesawahan dan ladang;
  • Tanah pelapukan yang tebal berasal dari breksi vulkanik;
  • Curah hujan yang tinggi menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah;

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

 Kemiringan lereng yang curam di lereng bagian atas Kp. Garehong, Tanah Pelapukan yang tebal, batuan breksi vulkanik yang posos air,saluran drainase yang kurang baik serta tataguna lahan berupa sawah dibagian atas serta dipicu curah hujan yang tinggi mengakibatkan tahanan lereng menjadi lemah sehingga kondisi tanah dan batuan jenuh air menyebabkan bobot masanya bertambah dan kuat gesernya menurun, sehingga tanah tidak stabil (mudah bergerak).

 6. Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis

 Kesimpulan:

Daerah ini masih berpotensi untuk bergerak baik longsoran tipe cepat maupun longsoran tipe lambat berupa rayapan (nendatan, retakan, dan amblasan) terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama.

Rekomendasi:

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah di lokasi tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa direkomendasikan sebagai berikut:

  • Daerah terdampak di Kp. Garehong sebaiknya direlokasi ke tempat yang lebih aman;
  • Lokasi untuk lahan relokasi masih didiskusikan oleh pihak Pemerintah Daerah, jika sudah ada akan meminta bantuan Badan Geologi untuk mengkaji kelayakan daerah tersebut;
  • Perlu dilakukan proteksi lereng mengingat kawasan di sekitar Dusun Cimapag berlereng terjal sehingga sistem pertanian lahan basah berupa sawah tidak cocok;
  • Pesawahan yang berada di atas (bagian timur dan selatan) perkampungan Cimapag lama sebaiknya kembali dijadikan kawasan lindung (sebagian sudah masuk Kawasan Lindung TNHS);
  • Genangan dan aliran air di area longsoran tersebut sebaiknya dialirkan agar tidak terjadi genangan di area longsoran;
  • Saat ini Sungai Cibareno masih mengalir walaupun terjadi penyempitan akibat material longsor, namun perlu diantisipasi jika Sungai Cibareno terjadi pembendungan agar segera dibuka untuk menghindari terjadinya banjir bandang;
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat.
  • Tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat dengan tebing dan alur lembah atau aliran sungai yang berpotensi menjadi jalan mengalirnya material longsoran;
  • Tidak melakukan aktivitas yang dapat mengganggu kestabilan lereng, seperti pemotongan lereng sembarangan, penebangan pohon-pohon besar dengan sembarangan sehingga dapat memicu terjadinya gerakan tanah; Sosialisasi terhadap daerah rawan bencana harus intensif dilakukan mengingat banyaknya daerah rawan bencana gerakan tanah/longsor;
  • Perlu kontrol di lereng bagian atas maupun bawah Dusun Cimapag agar Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bencana agar waspada dan memantau munculnya retakan-retakan dan amblesan baru. Jika menemukan hal tersebut segera melapor ke BPBD;
  • Evaluasi penataan ruang sangat perlu dilakukan dan memperhatikan aspek bencana.

 

sukabumi-1

 Gambar 1. Peta Lokasi Bencana Gerakan Tanah di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

sukabumi-2

Gambar 2. Peta geologi Kecamatan Cisolok dan Sekitarnya, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

sukabumi-3

Gambar 3. Peta Prakiraan Terjadinya Gerakan Tanah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada Bulan Desember 2018

 

TABEL 1. WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH DI KABUPATEN SUKABUMI, PROVINSI JAWA BARAT BULAN BULAN DESEMBER 2018

 

tabel sukabumi

sukabumi-4

Gambar 4 Peta situasi gerakan tanah Dusun Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

sukabumi-5

Gambar 5. Sketsa penampang gerakan tanah Dusun Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

 

FOTO-FOTO PENINJAUAN LAPANGAN

 

sukabumi-6

 

sukabumi-6

 

sukabumi-7

 

sukabumi-8

 

Laporan ini bisa di unduh/ di download disini