Laporan Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kp. Gunungbatu, Desa Kertaangsana, Kec. Nyalindung, Kab. Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

Berdasarkan permohonan BPBD kabupaten Sukabumi No. 360/435/IV/Bid.PK, bersama  ini kami sampaikan  laporan  hasil pemeriksaan lapangan  bencana gerakan tanah di Kp. Gunungbatu, Desa Kertaangsana, Kec. Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, sebagai berikut :

 A. Kp. Gunungbatu, Desa Kertaangsana, Kec. Nyalindung, Kab. Sukabumi

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah yang terjadi di Kp. Gunungbatu, Desa Kertaangsana, Kec. Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. Secara geografis lokasi berada pada 07° 1’ 48” LS dan 106° 55’ 36,2” BT. Gerakan tanah mulai pada bulan Februari 2019 dan intensif terjadi pada tanggal 23 April 2019. Kondisi curah hujan pada lokasi gerakan tanah masih tinggi.

 

2.   Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi, Secara umum, morfologi daerah bencana berupa perbukitan dengan kemiringan lereng sedang – terjal (7 - 30°). Daerah bencana berada pada ketinggian 800 – 900 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Hasil Interpretasi Citra Inderaja Jauh ( Sidarta, PSG, 2013), daerah bencana disusun oleh batuan dari Formasi Anggota Bojonglopang (Tmcb) dengan litologi batugamping koral sampai bioklastik pasiran dengan sisipan napal, batupasir, batulempung, konglomerat dibagian bawah dan lensa-lensa batubara. Hasil pengamatan lapangan, batuan dasar penyusun daerah bencana bagian atas berupa tanah hasil pelapukan batuan vulkanik berwarna coklat dengan ketebalan 3-5 meter, yang menutupi batuan breksi dengan fragmen berukuran kerikil-bongkah dengan masadasar berukuran pasir-lempung berwarna coklat  dan dijumpai pula tuf.  Pada bagian lain ditemukan batulempung berwarna abu abu dengan sisipan batulempung hitam bersifat rapuh dan mudah bergerak.
  • Keairan, Kondisi air permukaan di daerah bencana banyak dijumpai pada area lahan basah berupa persawahan dan kolam. Pada bagian bawah terapat alur -alur sungai.
  • Tata guna lahan, Lahan di daerah lokasi gerakan tanah pada umumnya berupa persawahan dan pemukiman, selain itu terdapat pula kebun campuran. Jalan desa dan pemukiman warga berkembang dibagian atas area persawahan. Selain itu wilayah ini dilintasi oleh jalan Nasional.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan April 2019 di Kabupaten Sukabumi, Kecamatan Nyalindung terletak pada potensi kerentanan gerakan tanah Menengah, artinya daerah yang mempunyai potensi menengah untuk terjadinya gerakan tanah. Pada daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

Jenis gerakan tanah yang terjadi adalah rayapan pada lereng dan longsoran tanah pada lereng bagian bawah. Retakan dan amblasan tanah banyak dijumpai pada pemukiman, jalan dan persawahan, terutama pada jalan nasional yang melewati desa tersebut. Retakan pada areal persawahan memiliki arah N 190-290° E (relatif ke arah selatan barat daya) dengan panjang retakan lk 100-150 meter dan lebar retakan sekitar 5-150 cm, amblasan memiliki kedalaman antara 10–180 m. Sedangkan aliran debris/tanah skala kecil pada lereng bagian bawah memiliki arah longsoran N 340-350° E (ke arah barat laut).

Dampak bencana:

Berdasarkan data terakhir dari BPBD kab. Sukabumi, dampak bencana sebagai berikut:

  • Sebagian badan jalan nasional dan saluran drainase rusak
  • Sebagian jalan desa juga terjadi retakan dan amblasan
  • 129 rumah di RT 01,02, dan 03 terdampak,
  • Jumlah penduduk terdiri 161 KK dan 482 jiwa
  • 69 rumah rusak berat dengan 225 jiwa, 40 rumah terancam dengan 128 jiwa
  • Beberapa area persawahan rusak,

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah:

Secara umum faktor yang menyebabkan terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Kemiringan lereng yang sedang hingga terjal  (7-300} mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Tanah pelapukan yang tebal dan bersifat poros dan jenuh air.
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan breksi serta batuan lempung yang bersifat lebih kedap yang berfungsi sebagai bidang gelincir.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air baik air hujan maupun air yang tergenang pada persawahan dan kolam terakumulasi dan terkonsentrasi di lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya gerakan tanah,
  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah
  • Pemotongan lereng untuk pemukiman dan jalan provinsi dilakukan  pada lereng yang curam
  • Aktifitas transportasi melewati jalan provinsi ini cukup tinggi .

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Gerakan tanah di Kampung Gunungbatu, Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung ini adalah jenis rayapan. Retakan, nendatan dan amblesan seringkali dijumpai. Adanya aliran air permukaan berasal dari curah hujan tinggi, maupun  genangan air di pesawahan dan kolam mengakibatkan air terakumulasi dan terserap ke dalam tanah melalui ruang antar butir dan retakan-retakan sehingga tanah menjadi jenuh air dan bobot masanya bertambah. Tekanan pori meningkat dan daya ikat antar butir berkurang. Selain itu adanya bidang gelincir (antara tanah pelapukan dan breksi vulkanik serta lempung yang lebih kedap air), adanya kemiringan lereng yang sedang hingga terjal, maka kestabilan tanah dan batuan terganggu dan bergerak perlahan menuruni lereng, menyebabkan terjadinya gerakan tanah tipe rayapan termasuk didalamnya retakan, nendatan, amblesan. Pada bagian ujung rayapan terdapat longsor bahan rombakan dalam skala kecil.

 

6. Kesimpulan

Kesimpulan:

  • Daerah ini masih berpotensi untuk bergerak terutama longsoran tipe lambat berupa rayapan, retakan, dan amblasan terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama.
  • Pemukiman yang terkena dampak gerakan tanah terutama yang berada pada zona terdampak gerakan tanah terancam keselamatan jiwa dan harta bendanya

 

7. Rekomendasi

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah di lokasi tersebut terutama berupa retakan aktif di bagian atas jalan provinsi serta di tempat lainnya, maka untuk menghindari  jatuhnya korban jiwa, direkomendasikan:

  1. Merelokasi pemukiman penduduk yang berada di daerah terdampak gerakan tanah rayapan berupa retakan, amblasan dan pergeseran tanah dan batuan yang berada pada lereng berkemiringan sedang sampai terjal (kritis).
  2. Memperbaiki jalan nasional dengan konstruksi beton dan membuat pelebaran jalan dengan pemotongan lereng yang mengikuti kaidah keteknikan agar menjauhi lereng terjal. Jika gerakan tanah di kawasan jalan terus menerus aktif maka sebaiknya jalan dipindahkan ke tempat yang lebih aman.
  3. Membuat tembok penahan tanah dan batuan pada tebing pinggir jalan dengan mengikuti kaidah teknik yang sesuai. Pondasi tembok penahan disarankan menembus batuan dasar/keras dan dilengkapi dengan pipa pengering untuk membuang air permukaan.
  4. Tidak mendirikan bangunan pada lereng atau pada daerah yang dekat dengan tebing, lembah atau alur sungai yang berpotensi terlanda longsor
  5. Penataan saluran drainase/selokan di pinggir badan jalan dengan saluran kedap air, langsung dialirkan ke lereng bawah/ lembah/arah sungai, dan menghindari genangan air pada daerah datar
  6. Membuat dan mengarahkan air menjauhi retakan, langsung dialirkan ke lereng bawah/ lembah/arah sungai dengan saluran kedap air.
  7. Pengguna jalan harus waspada bila melalui jalur jalan yang longsor terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  8. Guna meningkatkan kewaspadaan maka aparat agar memasang rambu peringatan rawan longsor pada wilayah yang berpotensi terjadi longsor
  9. Melakukan penghijauan pada kawasan persawahan dengan tanaman tahunan  berakar kuat untuk meningkatkan daya dukung tanah di daerah tersebut.
  10. Selalu memantau perkembangan retakan yang ada dan jika terjadi perkembangan yang cepat terutama pada tebing yang sudah longsor, segera menjauh dari lokasi gerakan tanah dan melaporkannya kepada instansi yang berwenang untuk menyampaikan peringatan kepada pengguna jalan/penduduk yang beraktivitas di sekitar bencana.
  11. Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah

 

LAMPIRAN

Kab. Sukabumi 1 (090519)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan tanah di Kp. Gunungbatu, Ds. Kertaangsana, Kec. Nyalindung, Kab. Sukabumi

 

Kab. Sukabumi 2 (090519)

Gambar 2. Peta Geologi Kp. Gunungbatu, Ds. Kertaangsana, Kec. Nyalindung, Kab. Sukabumi

 

Kab. Sukabumi 3 (090519)

Gambar 3. Peta Situasi Gerakan Tanah Kp. Gunungbatu, Ds. Kertaangsana, Kec. Nyalindung, Kab. Sukabumi

 

Kab. Sukabumi 4 (090519)

Gambar 4. Penampang situasi gerakan tanah di Kp. Gunungbatu, Ds. Kertaangsana, Kec. Nyalindung, Kab. Sukabumi

 

Kab. Sukabumi 5 (090519)

Gambar 5. Peta Prakiraan Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan April 2019 di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH DI KAB. SUKABUMI APRIL 2019

Kab. Sukabumi 6 (090519)

Keterangan:

Kab. Sukabumi 7 (090519)

 

A. Kp. Gunungbatu, Desa Kertaangsana, Kec. Nyalindung, Kab. Sukabumi

Kab. Sukabumi 8 (090519)

Foto 1. Retakan, Amblasan tanah dan kerusakan drainase pada Jalan Provinsi menyebabkan terhambatnya jalur transportasi

 

Kab. Sukabumi 9 (090519)

Foto 2. Retakan, Amblasan tanah pada pemukiman

 

Kab. Sukabumi 10 (090519)

Foto 3. Kerusakan parah pada pemukiman

 

Kab. Sukabumi 11 (090519)

Foto 4. Retakan dan Amblasan tanah pada kebun, jalan desa, dan sawah

 

Kab. Sukabumi 12 (090519)

Foto 5. Litologi breksi (bagian atas), Tuffan (tengah) dan sisipan batubara (bawah) merupakan Anggota Bojonglopang yang bergerak

 

Kab. Sukabumi 13 (090519)

Foto 6. Litologi Breksi dari Formasi Jampang menjadi batuan dasar di lokasi longsor

 

Kab. Sukabumi 14 (090519)

Foto 7. Koordinasi dengan Bupati, Kalak BPBD dan SKPD Kab Sukabumi

 

Kab. Sukabumi 15 (090519)

Foto 8. Sosialisasi dengan Media Massa Perihal Kondisi dan Situasi Pergerakan Tanah