Tanggapan Bencana Gerakan Tanah Kec. Pagedangan, Kab. Tangerang Provinsi Banten

Tanggapan bencana gerakan tanah di Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, berdasarkan pemberitaan media https://metro.tempo.co/read/1136827/rumah-retak-akibat-tanah-bergerak-di-pagedangan-warga-mengungsi/full&view=ok , sebagai berikut:

 1. Lokasi dan waktu kejadian:

Gerakan tanah terjadi pada RT 04/RW 01, Kampung Kadu Sirung, Desa Kadu Sirung, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Gerakan tanah terjadi pada hari Senin, 15 Oktober 2018 setelah hujan deras.

 

2. Jenis gerakan tanah:

Jenis gerakan tanah berupa gerakan tanah lambat/ rayapan yang terjadi pada jalan dan pemukiman.

 

3. Dampak gerakan tanah:
  • 1 (satu) rumah rusak atau retak-retak
  • Jalan Retak sepanjang 50 meter itu dan kedalaman bervariasi dari 0,5 meter hingga 1 meter.

 

4. Kondisi daerah bencana :
  • Secara umum lokasi bencana merupakan dataran dengan kemiringan lereng secara umum kurang dari 10°. Setempat terdapat gawir agak terjal di perbatasan rawa atau sungai dengan permukiman atau jalan. Lokasi bencana berada pada elevasi sekitar 60 meter di atas permukaan laut.
  • Berdasarkan Peta Geologi Lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu, Jawa (Turkandi drr., P3G, 1992), daerah bencana tersusun oleh Formasi Genteng (Tpg) yang terdiri dari tuf batuapung, batupasir tufan, breksi andesit, konglomerat dan sisipan batulempung tufan. Karakteristik batuan ini bersifat poros, berlapis, relatif mudah melapuk.
  • Berdasarkan Peta Potensi Terjadinya Gerakan Tanah di Kabupaten Tangerang Provinsi Banten pada Bulan Oktober 2018 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Pagedangan termasuk dalam zona potensi gerakan tanah Rendah. Artinya daerah yang mempunyai potensi rendah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah jika tidak mengalami gangguan pada lereng, dan jika terdapat gerakan tanah lama, lereng telah mantap kembali. Gerakan tanah berdimensi kecil mungkin dapat terjadi terutama tebing lembah (alur) sungai.

 

5. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan:
  • Curah hujan yang tinggi sebelum dan saat terjadi gerakan tanah
  • Daerah tersebut merupakan sawah yang ditimbun untuk pemukiman
  • Penataan air permukaan yang kurang baik.

 

6. Rekomendasi Teknis:
  • Retakan yang terjadi agar segera ditimbun agar air tidak masuk kedalam retakan.
  • Gerakan tanah ini merupakan gerakan tanah tipe lambat dan bukan liquifaksi.
  • Rumah yang terkena jalur retakan sebaiknya dipindah atau diperbaiki untuk menghindari keruntuhan bangunan karena temboknya retak-retak.
  • Gerakan tanah ini kemungkinan karena tanah timbunan kurang padat namun karena kelerengan yang tidak terlalu terjal sehingga kemungkinan berkembang menjadi longsoran besar sangat kecil.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi gerakan tanah dan pengguna jalan agar selalu waspada terutama saat turun hujan deras terhadap potensi munculnya retakan.
  • Menata aliran air permukaan agar tidak masuk ke dalam retakan.
  • Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Tanggerang 1 (161018)

Gambar 1 Peta Petunjuk Lokasi Bencana Gerakan Tanah

 

Tanggerang 2 (161018)

Gambar 2 Peta Geologi Lokasi Retakan Tanah

 

Tanggerang 3 (161018)

Gambar 3 Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Tangerang, Banten Bulan Oktober 2018