Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat

Laporan singkat hasil pemeriksaan gerakan tanah di Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang,  Provinsi Jawa Barat, berdasarkan permintaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kab. Sumedang melalui surat nomor : 360/176/BPBD/2018, tanggal 20 Maret 2018, perihal: Permohonan Pemeriksaan dan Penelitian Atas Tanah Lokasi Bencana, sebagai berikut :

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah

 

Lokasi gerakan tanah di desa ini berada pada beberapa lokasi, yaitu :

  1. Dusun Cibunut RT 13 RW 06, Desa Mekarasih, Kec. Jatigede, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Secara geografi terletak pada koordinat:  06° 55’ 00” LS dan 108° 07’ 4.1 BT pada ketinggian ± 319 m dpl.
  2. Dusun Sukamulya, Desa Mekarasih, Kec. Jatigede, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Secara geografi terletak pada koordinat:  06° 55’ 03” LS dan 108° 07’ 7.8 BT pada ketinggian ± 321 m dpl.
  3. Blok Panyiriban, Dusun Cadas Ngampar RT 15 dan RT 16 RW 07, Desa Mekarasih, Kec. Jatigede, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Secara geografi terletak pada koordinat:  06° 55’ 5” LS dan 108° 07’ 20” BT pada ketinggian ± 310 m dpl.
  4. Dusun Cibadak, Desa Mekarasih, Kec. Jatigede, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Secara geografi terletak pada koordinat:  6° 54’ 28” LS dan 108° 05’ 21” BT pada ketinggian ± 260 m dpl.
  5. Dusun Cibadak, dekat SD Ciboboku Mekarasih, Desa Mekarasih, Kec. Jatigede, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Secara geografi terletak pada koordinat:  6° 55' 35" LS dan 108° 07’ 19.9” BT pada ketinggian ± 260 m dpl.

Gerakan tanah terjadi pada tanggal 18 Maret 2018 pukul 17:00 WIB. Menurut informasi dari masyarakat gerakan tanah terjadi setelah turun hujan lebat yang berlangsung lama.

 

2. Jenis Gerakan Tanah 

a. Dusun Cibunut 

Gerakan tanah pada lokasi ini merupakan amblasan pada jalan sebesar lebih kurang 30 cm dan panjang 25 meter yang mengancam rumah-rumah penduduk yang berada di bawah badan jalan, arah longsoran N 1590 E. Longsoran pertama terjadi pada akhir tahun 2017, material longsoran menimpa halaman rumah warga. Setelah kejadian longsor pertama masyarakat setempat membangun tembok penahan, namun karena tembok penahan yang dibangun kurang dalam/tidak mengenai batuan dasar, jalan kembali ambles dan tembok penahan rusak sehingga longsoran kembali mengenai halaman rumah penduduk.

b. Dusun Sukamulya

Gerakan tanah pada lokasi ini merupakan longsoran bahan rombakan pada lereng sebelah utara, mahkota longsoran tepat berada di belakang rumah warga dengan dimensi panjang 23meter, lebar 11 – 18 meter, tinggi 2-3 meter yang menimpa 1 rumah dengan arah longsoran N 2840 E. Pada bagian atas bukit yang mengalami longsoran terdapat juga retakan pada lahan disposal dengan arah N 2680 E.

c. Dusun Cadas Ngampar

Gerakan tanah pada lokasi ini merupakan gerakan tanah tipe rayapan, ditunjukan dengan adanya nendatan dan retakan. Mahkota berada di dekat pemukiman yang berupa retakan yang menerus dengan arah N 390 E, menghadap ke arah timur laut. Lereng bagian atas di dekat masjid terdapat retakan dengan arah N 200 E dengan lebar retakan 2 – 5 cm dan panjang lebih kurang 5 meter. Pada lereng bagian atas lokasi rayapan terdapat 5 titik longsoran bahan rombakan yang berada pada tebing di samping dan dibelakang rumah warga, dengan arah longsoran N 990 E, N 230 E, N 310 E, N 40 E dan N 3120 E.

d. Dusun Cibadak

Gerakan tanah pada lokasi ini merupakan longsoran tanah dan retakan pada tebing sebelah tenggara dengan arah N 1220 E, mahkota longsoran tepat berada di bawah rumah warga dengan dimensi tinggi lebih kurang 5 meter yang mengancam rumah yang berada di atas dan dibawah tebing, warga setempat telah mengantisipasi dengan membuat penahan dari bambu. Gerakan tanah yang kedua terdapat pada jalan yang berada tidak jauh dari lokasi longsor yang pertama, jenis gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan pada tebing di atas jalan dan dibawah badan jalan dengan arah N 1470 E.

e. Dusun Cibadak, Dekat SD Ciboboku Mekarasih

Gerakan tanah pada lokasi ini merupakan longsoran tanah pada tebing yang berada di sebelah jalan SD Ciboboku Mekarasih dengan arah N 1840 E, mahkota longsoran tepat berada di bawah perpustakaan dengan dimensi tinggi lebih kurang 5 meter yang mengancam badan jalan di bawahnya.

 

3. Dampak Gerakan Tanah 

Bencana gerakan tanah di daerah ini menyebabkan:

a.    Dusun Cibunut

  • 1 (satu) rumah rusak ringan
  • 10 rumah terancam
  • Badan jalan amblas

b. Dusun Sukamulya 

  • 1 (satu) rumah hancur
  • 1 (satu) rumah terancam

c. Dusun Cadas Ngampar

  • 3 (tiga) rumah rusak
  • 3 (tiga) rumah terancam
  • 1 (satu) masjid rusak

d. Dusun Cibadak 

  • 1 (satu) rumah retak
  • 2 (dua) rumah terancam
  • Gorong-gorong tertimbun material longsoran

e. Dusun Cibadak, Dekat SD Ciboboku Mekarasih 

  • 1 (satu) perpustakaan terancam
  • 1 (satu) kandang sapi terancam
  • Badan jalan terancam terkena material longsoran

 

4. Kondisi Daerah Bencana

a. Morfologi

  • Dusun Cibunut, Secara umum daerah bencana merupakan perbukitan bergelombang lemah dengan kemiringan lereng agak curam hingga terjal/curam dengan kemiringan lereng antara 15 – 250.
  • Dusun Sukamulya, Secara umum daerah bencana merupakan perbukitan bergelombang lemah dengan kemiringan lereng agak terjal hingga terjal/curam dengan kemiringan lereng > 450 sedang bagian bawahnya datar, lereng yang longsor ke arah barat.
  • Dusun Cadas Ngampar, Secara umum daerah bencana merupakan perbukitan bergelombang lemah dengan kemiringan lereng agak curam hingga terjal/curam dengan kemiringan lereng > 550, lereng yang longsor ke arah timur.
  • Dusun Cibadak, Secara umum daerah bencana merupakan perbukitan bergelombang lemah dengan kemiringan lereng miring hingga agak curam dengan kemiringan lereng 15 - 200, lereng yang longsor ke arah tenggara.
  • Dusun Cibadak, Dekat SD Ciboboku Mekarasih, Secara umum daerah bencana merupakan perbukitan bergelombang lemah dengan kemiringan lereng agak curam dengan kemiringan lereng > 250, lereng yang longsor ke arah selatan.

b. Kondisi geologi

  • Dusun Cibunut, Dari hasil pemeriksaan di lokasi bencana, batuan penyusun daerah bencana berupa batupasir dengan sisipan batulempung, batupasir berwarna lapuk coklat tua dan warna segar coklat muda dengan ketebalan lebih kurang 3 – 4 meter, kemudian batulempung menyerpih berwarna abu-abu sebagai sisipan. Pada sungai yang terdapat di bagian selatan lereng yang mengalami longsor terdapat setempat bongkah breksi berwarna coklat tua.
  • Dusun Sukamulya, Dari hasil pemeriksaan di lokasi bencana, batuan penyusun daerah bencana berupa perselingan antara batu pasir tufa dengan batu lempung dengan perlpisan hampir sejajar. batu pasir  lapuk lanjut, berwarna coklat, pasir halus-sedang, terpilah buruk, sarang, agak rapuh; sedang batu lempung berwarna abu-abu kehitaman, lunak.  Pada bagian atas berupa timbunan dengan material campuran batu pasir dan lempung. Pada bagian atas bukit yang mengalami longsoran terdapat retakan pada tanah disposal.
  • Dusun Cadas Ngampar, Dari hasil pemeriksaan di lokasi bencana, batuan penyusun daerah bencana berupa breksi vulkanik dengan warna coklat muda, kemudian dibawahnya terdapat batulempung sisipan pasir.
  • Dusun Cibadak dan Dekat SD Ciboboku Mekarasih, Dari hasil pemeriksaan di lokasi bencana, batuan penyusun daerah bencana berupa endapan vulkanik warna coklat tua dan dibawahnya terdapat batulempung.

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Arjawinangun dari Puslitbang Geologi (Djuri, 1995) daerah bencana di dusun Cibunut, Sukamulya dan Cadas Ngampar disusun oleh Anggota Bawah dari Formasi Halang (Tmhl) yang terdiri dari: breksi gunungapi yang bersifat andesit dan basal. Disamping itu ditemukan juga tuf dan lempung serta konglomerat. Sedangkan pada Dusun Cibadak disusun oleh Hasil Gunungapi Muda Tak Teruraikan (Qyu) yang terdiri dari: breksi, lava bersifat andesit dan basal, pasir tufaan dan lapilli.

Struktur geologi akibat deformasi seperti patahan (sesar), lipatan (fold) dan lain-lain tidak terdapat di lokasi ini.

 

c. Tata guna lahan 

  • Dusun Cibunut, Tata guna lahan daerah bencana, pada bagian atas lereng berupa pepohonan besar dengan kerapatan tanaman kurang. Gerakan tanah terjadi pada lereng bagian tengah yang merupakan jalan desa, sedangkan pada lereng bagian bawah merupakan kebun campuran serta terdapat pemukiman dan sawah.
  • Dusun Sukamulya, Tata guna lahan daerah bencana, pada bagian atas lereng berupa pepohonan besar dengan kerapatan tanaman rapat - kurang, kebun campuran dan beberapa rumah. Gerakan tanah terjadi pada lereng bagian atas yang merupakan pepohonan dan kebun campuran, sedangkan pada lereng bagian bawah merupakan sawah dan alur.
  • Dusun Cadas Ngampar, Tata guna lahan daerah bencana, pada bagian atas lereng berupa pepohonan besar dengan kerapatan tanaman kurang, kebun campuran dan beberapa rumah. Gerakan tanah terjadi pada lereng bagian atas dan pada lereng bagian bawah yang merupakan pemukiman.
  • Dusun Cibadak, Tata guna lahan daerah bencana, pada bagian atas lereng berupa pepohonan, kebun campuran dan beberapa rumah. Gerakan tanah terjadi pada lereng bagian bawah yang merupakan pemukiman dan jalan desa.

 

d. Keairan

Keairan pada lokasi bencana berupa aliran permukaan dari air hujan yang mengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah (pada musim hujan). Konsumsi air pada daerah bencana berasal dari mata air yang berada di sumber air dan sebagian dari sumur bor dengan kedalaman 6 – 7 meter.

 

e. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Kejadian Gerakan Tanah di Kabupaten Sumedang pada Bulan Maret 2018 (PVMBG), wilayah Kecamatan Jatigede terletak pada zona kerentanan gerakan tanah tinggi, artinya daerah yang mempunyai potensi tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

  • Sifat fisik tanah pelapukan yang tebal, lunak dan jenuh air sehingga mudah luruh dan tidak stabil (mudah bergerak);
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga air hujan terakumulasi dan menggerus tebing dan dasar saluran sehingga memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Pemotongan lereng yang tegak sehingga lereng kehilangan tahanan bawahnya;
  • Kurangnya tanaman keras yang berakar kuat dan dalam pada tebing (lereng).
  • Hujan yang turun dengan durasi lama meningkatkan potensi tanah untuk bergerak.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Adanya limpasan air hujan (run off) masuk dan meresap ke dalam tanah timbunan yang bersifat sarang, gembur dan tidak kompak, menyebabkan tanah menjadi jenuh air, sehingga bobot masanya bertambah dan kuat gesernya menurun (kecil), akibat adanya kemiringan lereng yang curam-terjal, maka tanah menjadi tidak stabil dan terjadilah longsoran-longsoran kecil (guguran tanah) dan retakan-retakan. Selain itu limpasan air hujan menggerus lereng tanah timbunan dan tebing saluran sehingga mengikis lereng dan terbentuk alur-alur gerusan yang memicu terjadinya longsoran serta terjadinya sedimentasi dan gerusan pada kaki lereng serta daerah hilir alur.

 

7. Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis 

a. Kesimpulan :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan bahwa:

Daerah bencana di Desa Mekarasih, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang berada pada zona kerentanan gerakan tanah tinggi. Gerakan tanah yang terjadi berupa gerakan tanah tipe rayapan dan longsoran bahan rombakan. Gerakan tanah tersebut disebabkan oleh karena tanah pelapukan yang bersifat sarang dan mudah luruh saat jenuh air, kehadiran bidang gelincir yang berupa lapisan tanah pelapukan dan batulempung. Gerakan tanah tersebut dipicu oleh adanya hujan yang deras dan lama.

 

b. Rekomendasi Teknis

Daerah sekitar bencana gerakan tanah masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah pada setiap musim hujan, maka untuk itu di rekomendasikan sebagai berikut :

  • Perlu kontrol di lereng bagian atas maupun bawah, pada saat musim hujan jika ada tanda tanda retakan tanah, segera diisi dengan tanah liat dan dipadatkan, jika masih terjadi retakan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang;
  • Diperlukan pengendalian air permukaan (surface water drainage) dengan cara perencanaan tata saluran permukaan, pengendalian air rembesan (ground water drainage) serta pengaliran parit pencegat;
  • Saluran kedap air di dekat Mesjid Dusun Cadas Ngampar seharusnya dilanjutkan sampai ke lereng bawah;
  • Rumah yang berada di puncak bukit sangat dekat dengan tebing di Dusun Cadas Ngampar agar dimajukan;
  • Tanah urugan di puncak bukit Dusun Cadas Ngampar mengancam pemukiman yang berada di bawahnya;
  • Membangun tembok penahan hingga pada batuan dasar pada Dusun Cibunut;
  • Selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah turun hujan lebat, warga yang bertempat tinggal pada rumah terancam sebaiknya mengungsi ke tempat yang aman;
  • Rumah yang rusak dan retak disarankan diganti dengan rumah panggung (rumah kayu);
  • Tidak membuat lahan basah di daerah sekitar gerakan tanah;
  • Tanah yang sudah rusak akibat longsor agar dilakukan reklamasi dengan cara lereng dibentuk terasering/berundak;
  • Tanami lereng dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng;
  • Aparatur desa dan masyarakat agar melakukan pemantauan retakan tanah pada daerah tersebut, jika terjadi peningkatan retakan yang cukup signifikan segera dilaporkan kepada BPBD Kabupaten Sumedang.

 

LAMPIRAN

Sumedang 1 (070618)

Gambar 1. Peta Lokasi gerakan tanah di Desa Mekarasih, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang.

 

Sumedang 2 (070618)

Gambar 2. Peta Geologi Desa Mekarasih, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang.

 

Sumedang 3 (070618)

Gambar 3. Peta Situasi Gerakan Tanah Dusun Cibunut dan Sukamulya, Desa Mekarasih, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang.

 

Sumedang 4 (070618)

Gambar 4. Penampang Situasi Gerakan Tanah Dusun Sukamulya, Desa Mekarasih, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang.

 

Sumedang 5 (070618)

Gambar 5. Penampang Situasi Gerakan Tanah Dusun Cibunut, Desa Mekarasih, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang.

 

Sumedang 6 (070618)

Gambar 6. Peta Situasi Gerakan Tanah Dusun Cadasngampar, Desa Mekarasih, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang.

 

Sumedang 7 (070618)

Gambar 7. Penampang Situasi Gerakan Tanah Dusun Cadasngampar, Desa Mekarasih, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang.

 

Sumedang 8 (070618)

Gambar 8. Peta Situasi Gerakan Tanah Dusun Cibadak, Desa Mekarasih, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang.

 

Sumedang 9 (070618)

Gambar 9. Penampang Situasi Gerakan Tanah Dusun Cibadak, Desa Mekarasih, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang.

 

Sumedang 10 (070618)

Gambar 10. Peta Prakiraan Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Maret  2018 di Kabupaten Sumedang.

 

FOTO LAPANGAN

DUSUN CIBUNUT

Sumedang 11 (070618)

Foto 1. Lokasi jalan yg amblas di Dusun Cibunut, Desa Mekarasih, tampak pada foto tiang listrik ikut miring akibat pergerakan tanah.

 

Sumedang 12 (070618)

Foto 2. Lokasi jalan yg amblas dari bawah di dekat pemukiman warga.

 

Sumedang 13 (070618)

Foto 3. Rumah yang terkena dampak material longsoran dari jalan.

 

Sumedang 14 (070618)

Foto 4. Rumah yang retak yang berada di bawah badan jalan yang longsor.

 

Sumedang 15 (070618)

Foto 5. Batuan penyusun di daerah penelitian berupa perselingan batupasir dan batulempung.

 

DUSUN SUKAMULYA

Sumedang 16 (070618)

Foto 6. Longsoran bahan rombakan yang menimpa 1 rumah di Dusun Sukamulya.

 

Sumedang 17 (070618)

Foto 7. Mata air yang berada di sebelah lokasi longsoran.

 

Sumedang 18 (070618)

Foto 8. Retakan yang berada di atas lokasi longsoran pada lahan disoposal.

 

 

DUSUN CADAS NGAMPAR

Sumedang 19 (070618)

Foto 9. Amblasan tanah yang terdapat di dusun Cadas Ngampar.

 

Sumedang 20 (070618)

Foto 10. Masjid yang retak akibat pergerakan tanah.

 

Sumedang 21 (070618)

Foto 11. Rumah yang terancam gerakan tanah.

 

Sumedang 22 (070618)

Foto 12. Batuan penyusun daerah bencana.

 

DUSUN CIBADAK

Sumedang 23 (070618)

Foto 13. Gerakan tanah yang terjadi di Dusun Cibadak, sudah ditanggulangi oleh warga setempat menggunakan bambu.

 

Sumedang 24 (070618)

Foto 14. Rumah yang berada di atas tebing yang longsor mengalami retakan.

 

Sumedang 25 (070618)

Foto 15. Saluran yang tidak kedap air membuat lereng menjadi jenuh.

 

Sumedang 26 (070618)

Foto 16. Gorong-gorong yang tertutup material longsoran.

 

Sumedang 27 (070618)

Foto 17. Longsoran yang mengancam badan jalan dan perpustakaan di atasnya di dekat SD Mekarasih.