Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Telemow Kec. Sepaku, Kab. Penajam Paser Utara Provinsi Kalimantan Timur

Laporan singkat hasil pemeriksaan bencana gerakan tanah di wilayah Di Desa Telemow Kec. Sepaku, Kab. Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur, berdasarkan permintaan Pemeriksaan Gerakan Tanah Daerah dari BPBD Kab. Penajam Paser Utara No. 364/095/BPBD-KL/IV/2018. Hasil pemeriksaan sebagai berikut:

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Desa Telemow Kec. Sepaku dengan koordinat 116° 40’ 54,9” BT dan 01° 04’ 59,8” LS. Terjadi Gerakan Tanah pada jalan dan pemukiman penduduk.

Gerakan tanah ini bertipe longsoran.  Kejadian gerakan tanah pada tanggal 11 April 2018 pukul 4.20 WITA.

 

2. Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi. Secara umum daerah bencana merupakan lereng perbukitan bergelombang sedang dengan kemiringan lereng 25 - 30°. Mahkota longsoran terjadi pada bagian punggungan bukit tepatnya pada jalan penghubung desa di Kec. Sepaku.
  • Geologi, Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi bencana batuan penyusun daerah bencana pada bagian atas berupa tanah pelapukan, perlapisan batupasir sedang dan batulempung hitam yang menumpang diatas batupasir kuarsa. Kemiringan perlapisan batuan secara umum searah dengan kemiringan lereng. Secara stratigrafi regional bagian paling bawah adalah Formasi Tmpb (Formasi Pulau Balang) yang terdiri dari batupasir, batupasir kuarsa, batulempung sisipan batubara dan terdapat struktur regional yang berkembang (S. Hidayat dan I. Umar, 1994).
  • Keairan, Kondisi keairan di daerah bencana untuk keperluan sehari-hari menggunakan air dari mata air dan danau/kolam yang berada disebelah selatan. Pada bagian bawah mahkota longsoran muncul mata air yang tersebar sejajar pada jarak 20 m – 120 meter dari kolam/danau. Pembuangan air sangatlah liar, baik dibuang ke tanah dan juga melalui saluran air yang kurang tertata dengan baik.
  • Tata guna lahan, Pada lereng bagian atas atau pada daerah yang longsor berupa jalan dan lereng yang dipotong, sementara dibagian atasnya lagi berupa hutan pinus yang tumbuh disekitar kolam/danau. Sedangkan lereng bagian bawah merupakan pemukiman padat penduduk.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Gerakan Tanah bulan April 2018, lokasi bencana terletak pada potensi Gerakan Tanah Menengah. Potensi Menengah berarti pada zona ini kemungkinan terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, serta gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3. Kondisi Bencana dan Akibat yang Ditimbulkan : 

Gerakan tanah yang terjadi di Desa Telemow Kec. Sepaku berupa longsoran dengan arah gerakan relatif ke arah Barat Laut (N 338° E). Mahkota longsoran dengan lebar 75 meter, daerah terlanda dengan luas lk 4.510m2. Kondisi lereng yang terjal, kemiringan batuan yang hampir searah dengan kemiringan lereng dan terdapatnya mata air dari tekuk lereng maka panjang material longsoran mencapai 82 m. Terdapat pula kesejajaran mata air sepanjang 120 m dari mahkota Longsoran.

Dampak bencana menyebabkan :

  • 23 rumah rusak berat
  • 35 KK mengungsi
  • 32 rumah terancam

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Kemiringan lereng yang terjal dan perlapisan batuan yang mengikuti lereng
  • Mata air pada tekuk lereng dan tersebar pada lereng sehingga meningkatkan gaya penyebab longsor
  • Tanah pelapukan yang tebal dan gembur diatas batuan dasar yang relatif lebih kedap air
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama, memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Sistem drainase air yang belum tertata.

 

5.   Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah : 

Curah hujan yang tinggi menyebabkan air hujan masuk ke dalam tanah melalui retakan dan ruang antar butir tanah sehingga tanah pelapukan menjadi jenuh air menyebabkan bobot masanya bertambah dan kuat gesernya menurun, ditambah dengan faktor tekanan air kolam/danau yang masuk kedalam tanah yang muncul dalam manisfestasi mata air menyebabkan beban tanah menjadi bertambah. Kelerengan yang curam – terjal (20-35o) dan lapisan batupasir yang hampir searah dengan kemiringan lereng menyebabkan potensi gerakan tanah makin tinggi, disamping itu munculnya mata air pada kontak tanah pelapukan, perlapisan batupasir dan batulempung menyebabkan lereng menjadi tidak stabil dan terjadilah pergerakan tanah.

 

6.   Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

Rekomendasi teknis:
  • Daerah bencana terletak pada daerah rawan longsor dan masih berpotensi bergerak apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama, sehingga masyarakat yang berada/tinggal di lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan yang berlangsung lama.
  • Berdasarkan kajian 23 rumah yang rusak berat dan 35 KK pada zona merah sebaiknya direlokasi ketempat yang aman. (peta terlampir)
  • Zona kuning diminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi pergerakan tanah (peta terlampir)
  • Jika muncul retakan segera menutup retakan dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air hujan tidak masuk/meresap dan menjenuhi tanah pada lereng.
  • Melakukan pemantauan secara berkala guna mengetahui perkembangan retakan, dan apabila berkembang segera melaporkan ke BPBD setempat.
  • Melakukan pemantauan mata air, jika mata air berubah menjadi keruh atau ada campuran lumpur, segera melaporkan ke BPBD setempat
  • Melakukan pemantauan debit air dalam kolam/danau dan bila perlu dilakukan  pengurangan air danau guna mengurangi tekanan air.
  • Memelihara lereng bagian atas dan tengah dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam (tanaman tahunan) yang akarnya dapat mengikat tanah pada lereng, serta mampu menyerap air.
  • Pembuatan sistem drainase yang tertata baik dan kedap air serta dialirkan langsung ke sungai atau menjauhi lereng.
  • Tidak melakukan pemotongan lereng dengan sudut lereng lebih besar dari 150 dengan tinggi lereng lebih dari 1,5 meter.
  • Perlu sosialisasi mengenai tanda-tanda awal gerakan tanah/longsor serta mitigasinya untuk mengurangi risiko bencana.

 

LAMPIRAN

Kaltim 1 (070518)

Gambar 1. Lokasi Gerakan Tanah di Desa Telemow

 

Kaltim 2 (070518)

Gambar 2. Peta Geologi Telemow dan sekitarnya

 

Kaltim 3 (070518)

Gambar 3.  Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah Provinsi Kaltim di Bulan April 2018

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

BULAN APRIL 2018

Kaltim 4 (070518)

Keterangan:

Kaltim 5 (070518)

 

Kaltim 6 (070518)

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan Tanah

 

Kaltim 7 (070518)

Foto 1. Mahkota longsoran pada bagian atas

 

Kaltim 8 (070518)

Foto 2. Batuan Dasar di Daerah Bencana berupa perselingan batupasir dan batulempung hitam

 

Kaltim 9 (070518)

Foto 3. Kenampakan Batupasir kuarsa dengan ukuran butir sedang-kasar

 

Kaltim 10 (070518)

Foto 4. Kenampakan area terdampak longsor dari atas diambil menggunakan drone (BPBD PPU)

 

Kaltim 11 (070518)

Foto 5.  Rumah yang rusak berat akibat longsoran

 

Kaltim 12 (070518)

Foto 6. Pengumpulan data dari Tokoh Masyarakat dan BPBD PPU