Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Kidangpananjung, Kecamatan Cillilin Dan Desa Karangsari, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat

Laporan  hasil  pemeriksaan  lapangan  bencana gerakan tanah di Desa Kidangpananjung, Kecamatan Cillilin dan Desa Karangsari, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat berdasarkan surat permintaan pemeriksaan No 360/109 BPBD/2018. Hasil pemeriksaan sebagai berikut, sebagai berikut :

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

  1. Desa Kidangpananjung, Retakan yang berpotensi gerakan tanah terjadi di Dusun 3, Desa Kidangpananjung, Kecamatan Cillilin, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak pada koordinat : 107° 28' 32,30" BT dan 6° 58' 49,89"LS, retakan terjadi pada awal April 2018.
  2. Desa Karangsari, Gerakan tanah terjadi di Dusun Gunungkarang, Desa Karangsari, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak pada koordinat : 107° 20' 25,79"  BT dan 6° 57' 51,5304" LS. Gerakan tanah berupa tipe rayapan dan nendatan terjadi pada awal April 2018. Di lokasi ini pernah terjadi juga gerakan tanah pada tahun 2010.

 

2. Kondisi daerah bencana :

a. Morfologi
  • Desa Kidangpananjung, Secara umum daerah bencana merupakan lereng perbukitan bergelombang sedang sampai terjal dengan kemiringan lereng tebingnya mencapai 450
  • Desa Karangsari, Secara umum daerah bencana merupakan lereng perbukitan sedang dengan kemiringan lereng ±20°-25°.

b. Geologi

Berdasarkan peta geologi lembar Cianjur (Sudjatmiko, 2003), lokasi bencana di Desa Kidangpananjung, termasuk dalam batuan andesit (a). Hasil pengamatan di lokasi bencana, tanah pelapukan berupa pasir, tuf berwarna coklat muda yang menumpang di atas batuan andesit tersebut.

Sedangkan di Desa Karangsari, dengan lembar peta geologi yang sama yaitu lembar Cianjur, termasuk ke dalam breksi tufaan, lava, batupasir, dan konglomerat (Pb). Hasil pengamatan di lapangan tanah lapukan berupa lempung pasiran, dan pasir tufaan yang berwarna coklat muda-coklat tua, lapukan tersebut menumpang di atas breksi tufaan. Tanah lapukan tersebut bersifat sarang, porositas tinggi, gembur mudah menyerap air, tebal 1 – 1,5 meter.

c. Keairan

Kondisi keairan di Dusun 3, Desa Kidangpananjung terdapat mataair di bagian Selatan lokasi bencana yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan untuk air bersih yang dialirkan menggunakan pipa.

Sedangkan di lokasi Dusun Gunungkarang, Desa Karangsari terdapat aliran sungai dibagian Timur dari lokasi bencana, sedangkan sumur permukaan di lokasi dengan kedalaman lebih kurang 5m.

d. Tata guna lahan

  • Desa Kidangpananjung, Pada lereng bagian Dusun 3, Desa Kidangpananjung, berupa kawasan hutan pinus yang dikelola KPH dan lereng bagian bawah berupa sawah dan pemukiman.
  • Desa Karangsari, Pada lereng atas berupa pemukiman dan akses jalan desa, sedangkan lereng bagian bawah kebun campuran dan sungai intermitten.

e. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Bandung Barat bulan April 2018 (PVMBG-Badan Geologi), kedua lokasi bencana tersebut terletak pada daerah potensi gerakan tanah menegah-tinggi artinya pada lokasi ini berpotensi menegah - tinggi terjadi gerakan tanah. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

 1. Desa Kidangpananjung

Gerakan tanah yang terjadi di Dusun 3, Desa Kidangpananjung dimungkinkan berupa rayapan yang ditandai dengan retakan. Retakan setempat-setempat dengan panjang bervariasi 2-10m, lebar retakan 5-15cm, dan mengalami penurunan lebih kurang 40cm. Arah retakan N 1750E, relatif Utara-Selatan dengan kemiringan lereng 450. Karena lereng yang agak terjal (45°) dan tanah pelapukan menumpang di atas batuan vulkanik berupa andesit, maka berpotensi terjadi perubahan tipe gerakan tanah dari rayapan menjadi tipe cepat. Terdapat gerakan tanah lama berupa longsoran bahan rombakan, kejadian tahun 2016 di sebelah tenggara dari lokasi retakan berjarak lebih kurang 1km.

 2. Desa Karangsari

 Gerakan tanah yang terjadi di Dusun Gunungkarang berupa tipe rayapan yang ditandai dengan retakan dan nendatan. Retakan setempat-setempat yang terdapat di 2 unit pemukiman dan kebun dengan panjang 2-7 meter dan lebar 2-10cm. Arah longsoran N 840 E dan kemiringan lereng  240. Di sebelah Timur lokasi, terdapat kubangan air apabila terjadi intensitas hujan yang tinggi, tetapi dengan cepat air kubangan surut dan keluar dibagian Timur berupa kebun yang merupakan bagian tebing sungai Cilanang dan merupakan lokasi longsoran sebelumnya (2010). Dampak dari bencana mengakibatkan:

  • 1 unit rumah rusak berat
  • 9 unit rumah rusak ringan

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Secara umum faktor penyebab terjadinya retakan dan gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

 1. Desa Kidangpananjung

  • Kemiringan lereng yang agak terjal
  • Tanah pelapukan yang bersifat lunak menumpang pada bagian batuan vulkanik berupa breksi dan andesit
  • Intensitas curah hujan tinggi berlangsung lama, sehingga akan meresap ke dalam tanah lapukan yang gembur tersebut dan melicinkan batuan lunak yang kedap air
  • Limpasan air hujan (run off) yang menyebabkan lapisan tanah pelapukan menjadi jenuh air dan retak
  • Adanya kolam dan belum adanya saluran irigasi yang belum permanen, sehingga air mudah meresap dan menggenangi lereng bawahnya.

 2. Desa Karangsari

  • Tanah pelapukan yang agak tebal menumpang pada batuan breksi yang mengandung tuf
  • Pemotongan lereng yang digunakan untuk akses jalan dan pemukiman
  • Intensitas curah hujan tinggi berlangsung lama, sehingga akan meresap kedalam tanah yang gembur tersebut dan melicinkan batuan lunak yang kedap air
  • Adanya saluran air yang belum permanen dan tidak tertata dengan baik, sehingga air mudah meresap dan menggenangi lereng bawahnya
  • Lahan tegalan dengan vegetasi yang kurang rapat

 

 5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Berdasarkan pengamatan di lapangan, mekanisme terjadinya retakan-retakan di puncak G. Gedugan di Desa Kidangpananjung, Kecamatan Cillilin, lokasi tersebut mempunyai tanah lapukan yang agak tebal dan menumpang pada batuan breksi dan andesit serta berawal dari curah hujan yang tinggi serta saluran drainase yang kurang baik dan kelerengan terjal menyebabkan air hujan masuk ke dalam tanah  dan jenuh air sehingga menjadi retak. Vegetasi di sekitar lokasi retakan merupakan tanaman yang tidak berakar kuat, dibanding dengan umumnya yang merupakan hutan pinus. Pada saat pemeriksaan, retakan belum berkembang, tetapi karena kemiringan lereng yang terjal dan jika dipicu curah hujan yang tinggi secara terus menerus memungkinkan terjadi gerakan tanah.

Sedangkan di Desa Karangsari, Kecamatan Cipongkor

Sementara di lokasi bencana gerakan tanah kemungkinan mekanismenya dipicu adanya curah hujan tinggi, sehingga menyebabkan bobot massa lereng bertambah dan kuat gesernya berkurang/menurun. Sifat fisik batuan/tanah menjadi kurang kompak. Penataan drainase yang tidak kedap air mengakibatkan limpasan air hujan yang sebagian besar meresap ke dalam tanah dan menjenuhi lereng sehingga tanah menjadi jenuh air. Tanah lapukan  yang menumpang diatas batuan yang lebih kedap air dengan kelerengan yang relatif landai  jika hujan lebat gerakan tanah tipe rayapan mungkin terjadi.

 

6. Rekomendasi Teknis

Dalam rangka upaya penanggulangan terjadinya retakan yang berkembang menjadi gerakan tanah (Desa Kidanpananjung) dan gerakan tanah susulan (Desa Karangsari), direkomendasikan hal-hal sebagai berikut, antara lain:

1. Desa Kidangpananjung

  • Daerah ini masih berpotensi terjadi retakan, tetapi pergerakannya lambat, sehingga masyarakat yang beraktifitas di sekitar lokasi retakan dan perkampungan di bawah (Dusun 3) tidak perlu khawatir, namun perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama.
  • Mengendalikan air permukaan pada lereng, agar air tidak masuk ke dalam retakan tanah dengan membuat saluran kedap air dan air dibuang (dialirkan) menjauhi lereng yang retak.
  • Untuk meningkatkan stabilitas lereng, maka di lokasi retakan dan lereng bawah (Selatan) tidak dijadikan lahan pertanian sayuran dan sawah tetapi ditanami dengan pepohonan yang berakar kuat dan dalam seperti akasia, sengon, lamtoro dan sejenisnya.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Jika muncul retakan segera ditutup yang dipadatkan dengan tanah agar air tidak masuk ke dalam retakan tersebut.

2. Desa Karangsari

  • Daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah tipe lambat, tetapi pergerakannya tidak secepat sebelumnya, sehingga masyarakat dilokasi bencana tidak perlu khawatir, namun perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama.
  • Pemukiman di sekitar lokasi bencana terutama 2 (dua) rumah yang rusak berat dan retak, yang terletak lereng atas dipinggir jalan agar dipindahkan (relokasi) ke lokasi yang aman.
  • Saat ini perkampungan tersebut belum perlu direlokasi, namun disarankan bangunan yang ada jangan bangunan permanen, karena tipe gerakan tanah lambat biasa merusak pondasi dan dinding bangunan permanen.
  • Rumah yang rusak (retak-retak) dindingnya harap segera diperbaiki agar tidak runtuh jika curah hujan tinggi.
  • Untuk meningkatkan stabilitas lereng, maka daerah tersebut tidak dijadikan lahan pertanian sayuran, sawah dan agar ditanami dengan pepohonan yang berakar kuat dan dalam seperti akasia, sengon, lamtoro dan sejenisnya.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah
  • Jika muncul retakan segera ditutup yang dipadatkan dengan tanah agar air tidak masuk ke dalam retakan tersebut.

 

LAMPIRAN

Cililin 1 (070518)

Gambar 1. Peta petunjuk lokasi gerakan tanah di Kecamatan Cililin dan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat

 

Cililin 2 (070518)

Gambar 2. Peta Geologi Kecamatan Cililin dan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat

 

Cililin 3 (070518)

Gambar 3. Peta prakiraan potensi gerakan tanah bulan April 2018 di Kabupaten Bandung Barat

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

KABUPATEN BANDUNG BARAT PROVINSI JAWA BARAT

BULAN APRIL 2018

Cililin 4 (070518)

Keterangan :

Cililin 5 (070518)

 

Cililin 6 (070518)

Gambar 4. Peta situasi gerakan tanah Desa Kidangpananjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat

 

Cililin 7 (070518)

Gambar 5. Penampang A-B gerakan tanah Desa Kidangpananjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat

 

Cililin 8 (070518)

Gambar 6. Peta situasi gerakan tanah Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat

 

Cililin 9 (070518)

Gambar 7. Penampang A-B gerakan tanah Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat

 

Cililin 10 (070518)

Cililin 11 (070518)

Foto 1. Retakan di G. Gedugan, Desa Kidangpananjung, Kec. Cililin dengan lebar 5-15cm dan panjang bervariasi 2-7m

 

Cililin 12 (070518)

Cililin 13 (070518)

Foto 2. Retakan di Kp. Gunungkarang, Desa Karangsari, Kecamatan Cipongkor

 

Cililin 14 (070518)

(a)

Cililin 15 (070518)

(b)

Foto 3. Singkapan batuan vulkanik di G. Gedugan, Desa Kidangpananjung (a), kontak satuan batupasir tufaan dengan tanah lapukan di Desa Karangsari (b)

 

Cililin 16 (070518)

(a)

Cililin 17 (070518)

(b)

Foto 4. Pemukiman Dusun 3 Desa Kidangpananjung diambil dari lokasi retakan G. Gedugan (a) Penggunaan lahan berupa kebun campuran di Desa Karangsari (b)