Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah

Laporan  hasil  pemeriksaan  lapangan  Bencana Gerakan Tanah di Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi ini merupakan wilayah terdampak gempabumi tektonik dengan magnitude 4,4 SR pada kedalaman 4 Km dengan pusat gempa di darat pada jarak 52 Km utara Kebumen (BMKG). Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, kondisi gerakan tanah adalah sebagai berikut:

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah yang dipicu gempabumi terjadi  di Dusun Bakalan Desa Kertosari Kecamatan Kalibening. Secara geografis lokasi gerakan tanah terletak pada koordinat 109° 40' 8,076" : -7° 13' 28,308". Gerakan tanah yang dipicu gempabumi ini, juga terjadi di Dusun Kebutuh Desa Kertosari, Kecamatan Kalibening yang secara geografis terletak pada 109° 40' 58,3464" : -7° 13' 28,8264". Gerakan tanah ini terjadi pada hari Rabu, 18 April 2018 setelah terjadi gempabumi tektonik sekitar pukul 13.28 WIB saat tidak  turun hujan.

 

2.  Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Morfologi di daerah bencana secara umum merupakan perbukitan bergelombang dengan kemiringan lereng agak curam sampai sangat curam, terutama pada tebing jalan. Gerakan tanah terjadi pada lereng dengan kemiringan antara 15o sampai 30o pada lahan kebun palawija dan 35o sampai 60o tebing di atas dan di bawah badan jalan. Di Dusun Kebutuh gerakan tanah terjadi pada lereng dengan kemiringan antara 15o sampai 25o pada lahan ladang  palawija pada punggungan dan 35o sampai lebih dari 60o pada lahan yang berbatasan dengan lembah. Ketinggian lokasi gerakan tanah berada di antara 1250-1300 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa (Condon dkk., 1996), secara regional lokasi gerakan tanah disusun oleh batuan gunungapi Jembangan berupa lava andesit dan batuan klastika gunungapi berupa aliran lava, breksi aliran dan piroklastika, lahar dan aluvium (Qjm). Berdasarkan pengamatan lapangan, di lokasi Bakalan dan Kebutuh Kecamatan Kalibening tanah pelapukan berupa lempung pasiran dengan ketebalan > 5 m di atas batuan dasar breksi tufan .
  • Keairan, Kondisi air permukaan di daerah baik dan dijumpai mata air. Pada bagian kaki lereng di sekitar lokasi gerakan tanah Dusun Kebutuh merupakan hulu anak sungai yang mengalir ke arah barat laut dan timur laut.
  • Tata guna lahan, Lahan di dusun Bakalan dan Kebutuh umumnya dimanfaatkan sebagai lahan perladangan berupa kebun palawija.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Banjarnegara bulan April 2018 (PVMBG-Badan Geologi), Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah menengah - tinggi artinya Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

Gerakan tanah yang terjadi di Dusun Bakalan adalah retakan dan longsoran bahan rombakan pada tebing di atas jalan dan tebing jalan Kp. Bakalan - Kp. Susukan - Kp. Witra. Retakan terjadi di permukaan tanah pada badan jalan dengan dengan lebar antara 1 cm sampai dengan 25 cm dengan arah umum retakan relatif utara - selatan (Foto 1). Retakan dan longsoran juga terjadi pada tebing-tebing di jalan antara pertigaan Jalan Raya Wanayasa – Pekalongan menuju Dusun Bakalan. Beberapa retakan yang terjadi di sekitar permukiman telah berkembang menjadi longsoran bahan rombakan (Foto 2).

Di Dusun Bakalan Desa Kertosari sebelumnya pernah terjadi gerakan tanah berupa retakan dan nedatan pada lahan kebun palawija milik warga yang telah membentuk mahkota dengan arah N 355º E (Foto 3). Gerakan tanah lama ini tidak mengalami perkembangan lagi akibat guncangan gempabumi yang terjadi pada 18 April 2018.

Di Dusun Kebutuh, gerakan tanah yang dipicu oleh guncangan gempabumi terjadi di areal perladangan pada perbukitan yang terletak di sebelah utara permukiman. Gerakan tanah di lokasi ini berupa retakan dengan lebar retakan antara 5 – 50 cm dan arah umum N 70 ºE (Foto 4). Longsoran bahan rombakan terjadi pada tebing dengan kemiringan lebih dari 60º dengan arah umum gerakan N 286º E atau relatif barat – timur dan N 310º E atau relatif barat laut – tenggara (Foto 5). Menurut keterangan penduduk setempat, longsor di lokasi ini pernah terjadi pada tahun 1986 silam.

Di Dusun Kebutuh juga pernah terjadi gerakan tanah berupa retakan di lahan perkebunan pada perbukitan yang berada di sebelah selatan permukiman Kebutuh. Gempabumi yang terjadi pada 18 April 2018 tidak memicu berulangnya retakan di lokasi tersebut. Hal ini terlihat dari tidak ditemukannya retakan-retakan baru serta retakan lama sudah tidak terlihat lagi.

 

4. Dampak gerakan tanah:

  • Badan Jalan yang menghubungkan Kp. Bakalan - Kp. Susukan - Kp. Witra tertutup material longsoran dan mengakami retakan, sehinngga menggangu transportasi.
  • Badan jalan antara simpangan Jalan raya Wanayasa-Pekalongan menuju Kampung Bakalan sempat tertutup material longsoran.
  • Penduduk khawatir akan terjadinya longsoran yang lebih besar.
  • Lahan pertanian mengalami kerusakan.

Hasil pengamatan di lapangan memperlihatkan masih terdapatnya potensi gerakan tanah susulan, mengingat masih terdapatnya retakan-retakan tanah, baik pada tebing di atas jalan dan badan jalan. Retakan masih berpotensi berkembang karena curah hujan yang masih tinggi. Retakan pada punggungan di utara Dusun Kebutuh jika berkembang menjadi longsoran bahan rombakan, materialnya akan bergerak ke arah barat laut dan timur laut. Material berpotensi melanda areal ladang dan kebun dengan mengikuti dua alur alir anak sungai yang berada di bawah punggungan yang mengalami retakan.

 

5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Faktor penyebab gerakan tanah adalah interaksi kondisi geologi yang secara umum antara lain adalah:

  • Kemiringan lereng yang sangat terjal (>60º).
  • Sifat tanah pelapukan yang lepas dan porous.
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dan bagian bawahnya yang lebih padu.
  • Kekuatan tanah dan batuan yang lemah akibat karakteristik massanya yang dikontrol oleh diskontinuitas karena guncangan gempabumi.
  • Peningkatan tegangan geser akibat tekanan lokal oleh gempabumi.
  • Gempabumi tektonik dengan magnitude 4,4 SR menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Guncangan gempabumi yang terjadi mengakibatkan terbentuknya bidang diskontinuitas berupa retakan-retakan pada permukaan tanah. Retakan ini menjadi pengontrol massa tanah dan batuan sehingga kekuatannya menjadi lemah. Guncangan gempabumi juga mengakibatkan peningkatan tegangan geser pada tanah dan batuan penyusun di lokasi gerakan tanah. Kondisi tersebut ditambah dengan kemiringan lereng yang terjal sampai sangat terjal dan bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan bagian bawahnya yang lebih segar, mengakibatkan tanah bergerak ke luar lereng dan terjadilah longsoran bahan rombakan. Pada bagian tanah yang tidak terlalu dekat dengan lereng, kondisi- kondisi tersebut di atas mengakibatkan terbentuknya retakan.

 

7. Rekomendasi Teknis

Mengingat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi, serta terbentuknya retakan akibat guncangan gempabumi, untuk menghindari kerusakan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa, direkomendasikan:

  • Segera dilakukan penataan aliran air permukaan dengan mengalirkannya menjauh dari retakan dan menutup serta memadatkan retakan.
  • Segera  membersihkan material longsoran dan normalisasi jalan. Aktivitas ini agar dilakukan dengan selalu memperhatikan kondisi cuaca dan faktor keselamatan, jika turun  hujan agar segera dihentikan.
  • Aparatur desa dan masyarakat setempat agar selalu melakukan pemantauan perkembangan retakan tanah. Jika muncul retakan baru segera menutup retakan dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air hujan tidak masuk/meresap dan menjenuhi tanah pada lereng. Jika retakan berkembang mendekat kearah pemukiman maka segera melaporkan ke pemerintah daerah dan segera mengungsi.
  • Aparatur desa dan masyarakat setempat agar selalu melakukan pemantauan dan pengontrolan bendung-bendung alam pada bagian hulu dan melakukan pembobolan jika ditemukan bendung alam untuk menghindari terjadinya banjir bandang.
  • Selalu meningkatkan kewaspadaan bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi longsor dan area landaannya serta lokasi retakan tanah terutama pada saat dan setelah terjadi hujan deras yang berlangsung lama.
  • Tidak beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah dan dekat dengan alur lembah yang berpotensi menjadi jalan mengalirnya material longsoran dan tebing yang curam pada saat atau setelah turun hujan dengan intensitas tinggi.
  • Memasang rambu peringatan rawan longsor pada jalur jalan untuk meningkatkan kewaspadaan bagi pengguna jalan.
  • Untuk ke depannya agar tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat dengan tebing dan alur lembah atau aliran sungai yang berpotensi menjadi jalan mengalirnya material longsoran.
  • Tidak mencetak kolam dan sawah pada bagian atas dan tengah lereng.
  • Tidak melakukan aktivitas yang dapat mengganggu kestabilan lereng, seperti pemotongan lereng sembarangan, penebangan pohon-pohon besar dengan sembarangan  sehingga dapat memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Menanami lereng bagian atas, tengah dan bawah dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam (tanaman tahunan) yang akarnya dapat mengikat tanah pada lereng.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Kalibening 1 (300418)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah di Kp. Bakalan dan Kp. Kebutuh, Desa Kertosari, Kec. Kalibening.

 

Kalibening 2 (300418)

Gambar 2. Peta Geologi Regional Desa Kertosari dan Sekitarnya, Kec. Kalibening, Kab. Banjarnegara

 

Kalibening 3 (300418)

Gambar 3. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Pada Bulan April 2018 Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah.

 

TABEL 1. WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH DI KABUPATEN BANJARNEGARA BULAN APRIL 2018

Kalibening 4 (300418)

Keterangan :

Kalibening 5 (300418)

 

Kalibening 6 (300418)

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kp. Bakalan, Desa Kertosari, Kec. Kalibening, Kab. Jawa Tengah

 

Kalibening 7 (300418)

Gambar 5. Penapang Situasi Gerakan Tanah di Kp. Bakalan, Desa Kertosari, Kec. Kalibening, Kab. Jawa Tengah

 

Kalibening 8 (300418)

Gambar 6. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kp. Kebutuh, Desa Kertosari, Kec. Kalibening, Kab. Jawa Tengah

 

Kalibening 9 (300418)

Gambar 7. Penapang Situasi Gerakan Tanah di Kp. Kebutuh, Desa Kertosari, Kec. Kalibening, Kab. Jawa Tengah

 

Kalibening 10 (300418)

Foto 1. Retakan dan longsoran pada jalan yang menghubungkan Dusun Bakalan – Dusun Witra – Dusun Susukan. Kanan bawah normalisasi jalan dan pembersihan material longsoran oleh aparat, relawan, dam masyarakat.

 

Kalibening 11 (300418)

Foto 2. Retakan yang terjadi pada jalur jalan antara pertigaan Jalan Raya Wanayasa – Pekalongan menuju Dusun Bakalan di permukiman telah berkembang menjadi longsoran bahan rombakan.

 

Kalibening 12 (300418)

Foto 3.  Alat pemantauan gerakan tanah pada lokasi gerakan tanah lama di atas Dusun Bakalan yang telah berhenti dan tidak terpicu oleh gempabumi tektonik yang terjadi di wilayah Kalibening.

 

Kalibening 13 (300418)

Foto 4.  Gerakan tanah berupa retakan (panah merah)  dengan lebar antara 5 – 50 cm dan arah umum N 70 ºE pada punggungan di sebelah utara Dusun Kebutuh.

 

Kalibening 14 (300418)

Foto 5. Longsoran bahan rombakan terjadi pada tebing dengan kemiringan lebih dari 60º dengan arah umum gerakan N 286º E atau relatif barat – timur (kanan) dan N 310º E atau relatif barat laut – tenggara (kiri).