Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Sukapura, Kab. Probolinggo Provinsi Jawa Timur

Laporan singkat hasil pemeriksaan tim paska bencana gerakan tanah di wilayah di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur berdasarkan Surat Permohonan Kajian Geologi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Probolinggo dengan nomor 360/305/426.205/2018 sebagai berikut :

 

1. Lokasi Bencana Dan Waktu Kejadian

Pemeriksaan gerakan tanah dilakukan di sepanjang Jalan Utama dari Desa Sapikerep hingga Wonokerto khususnya pada beberapa titik yang sering terjadi kejadian tanah longsor.

Pemeriksaan gerakan tanah juga dilakukan khususnya pada akses jalan menuju lautan pasir Bromo. Lokasi Gerakan tanah pada koordinat S 7°55.678 E112°57.985091, Dusun Cemorolawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Gerakan tanah terjadi pada hari Minggu pagi tanggal 18 Maret 2018 WIB.

 

2. Kondisi Daerah Bencana

  • Morfologi, Secara umum morfologi di daerah Kecamatan Sukapura khususnya di Kawasan Gunung Bromo merupakan pegunungan dengan kemiringan lereng terjal – sangat curam (>55°). Sebagian besar jalan dibuat dengan memotong lereng dengan kemiringan yang terjal. Ketinggian lokasi ini terletak antara 1300- 2100 m dpl.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Gunungapi Bromo (Zaennuddin dkk, 1994), kawasan Sukapura tersusun oleh endapan Ignimbrite Sukapura hasil dari pembentukan Kaldera Ngadisari (SUig,152000 tahun lalu). Endapan ignimbrit ini berupa campuran material antara fragmen batuan, batuapung berwarna abu-abu berukuran 2 – 32 cm dengan litik andesit dan gelas, terkonsolidasi samoai sebagian terlaskan. Endapan ini melampar melewati lembah Sapikerep menuju lereng Gunung Tengger dan tersebar ke arah barat, timur, dan utara melalui celah Sukapura seperti adukan yang dicurahkan dari celah tersebut. Ignimbrit ini membentuk kipas raksasa seluas sekitar 320 km2. Di atas endapan Ignimbrit Sukapura terendapkan Aliran Lava Ngadas (Nla). Lava ini berbutir sedang – kasar, vesikuler, berwarna abu-abu tua, berkomposisi mineral dengan fenokris plagioklas, olivine, dan piroksen dalam massadasar mikrolit plagioklas, piroksen, dan gelas. Lava ini tersingkap pada Sungai Ngadas. Lava ini berumur 135000 – 30000 tahun yang lalu. Di atas Lava Ngadas, terendapkan Endapan Aliran Piroklastika Ngadas (Nap). Formasi ini terdiri atas perselingan endapan aliran, jatuhan piroklastik, surge, dan freatik, berukuran bervariasi dari abu hingga bongkah. Aliran piroklastik ini tidak terlaskan, masiv, sortasi buruk, tersusun atas batuapung berwarna hitam hingga abu-abu berdiameter 2 – 32 cm dengan litik gelas, basalt, andesit, dan diorite berdiameter antar 2 – 4 cm. Sebagian besar Jalan Utama Sapikerep – Wonokerto tersusun oleh Formasi Batuan ini. Di atasnya lagi terendapkan Endapan Jatuhan Piroklastika Wonokitri dan Endapan Piroklastika Ngadas. Endapan Jatuhan Piroklastika Wonokitri terdiri dari perlapisan jatuhan piroklastik berupa batuapung berwarna abu-abu tua hingga abu-abu muda, berukuran lapilli sampai kerakal dalam matriks abu. Sedangkan Endapan Piroklastika Ngadas berwarna coklat, berbutir halus – sedang, tersusun oleh batuapung berwatna kemerahan dengan fragmen litik kecil. Umur endapan ini 33000 – 1000 tahun yang lalu. Formasi batuan ini menutupi Endapan Aliran Piroklastika Ngadas. Sedangkan pada lokasi kejadian tanah longsor di akses jalan menuju lautan pasir, secara umum tersusun oleh Endapan Abu Hitam Widodaren (Wjph). Endapan ini didominasi oleh material halus dari abu, berwarna hitam sampai coklat keabu-abuan, beberapa litik gelas berukuran kerakal, agak terkonsolidasi hingga lepas-lepas, selain itu juga dijumpai fragmen arang kayu.
  • Keairan, Penduduk di Kawasan Wisata Bromo umumnya memanfaatkan air tanah melalui mata air bersumber dari mata air dari perbukitan sekitar lokasi dengan menggunakan pipa atau selang.
  • Tata Guna Lahan, Secara umum tata guna lahan di Kawasan Wisata Bromo didominasi oleh perkebunan, ladang, dan pemukiman.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Probolinggo (PVMBG, Badan Geologi) dan Peta Prakiraan Potensi Terjadinya Gerakan Tanah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur Bulan Maret 2018, daerah pemeriksaan termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah -  Tinggi. Artinya daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali terutama akibat curah hujan yang tinggi

 

3.  Kondisi Gerakan Tanah

Gerakan tanah umum terjadi sepanjang jalur utama dari Desa Sapikerep – Wonokerto. Penyebab utamanya adalah jalur jalan berada pada tebing yang terjal atau hampir tegak akibat pemotongan lereng, seperti pada di daerah Jurangjontro (Foto 2). Pada musim penghujan jalur jalan sepanjang kurang lebih 5 km tersebut akan rentan terjadi longsor. Longsor – longsor lokal sepanjang jalur tersebut sangat mungkin terjadi. Selain itu juga terdapat potensi terjadinya runtuhan batu (rockfall) karena dijumpai fragmen batuan yang cukup besar yang terdapat pada lereng lereng. Longsor maupun runtuhan batu tersebut umumnya akan mengganggu jalur transportasi dan akses menuju Kawasan Wisata Bromo.

Sedangkan untuk kejadian gerakan tanah pada akses menuju Lautan Pasir Bromo berupa longsoran dengan dimensi tinggi sekitar 36 m dan lebar 20 m. Longsor tersebut menutupi jalur utama sehingga kendaraan wisatawan menuju Lautan Pasir dan sekitarnya tidak bisa lewat. Tidak ada korban jiwa akibat longsor tersebut.

 

4.  Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah 

  • Kemiringan lereng yang terjal – sangat curam (hampir tegak akibat pemotongan lereng).
  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah
  • Tanah pelapukan yang tebal
  • Perubahan tata guna lahan
  • Tidak adanya penguat lereng pada beberapa jalur yang rentan longsor
  • Untuk kejadian pada akses menuju Lautan Pasir Bromo, terdapat retakan di bagian atas sebelum terjadi longsor menurut penuturan warga sekitar.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah 

Mekanisme gerakan tanah pada akses menuju Lautan Pasir Bromo terjadi akibat adanya retakan yang muncul pada lereng di atasnya. Adanya akumulasi curah hujan  selama beberapa hari sebelumnya hingga kejadian (14,4 mm/hari – 28,3 mm/hari berdasarkan laporan bulanan G Bromo dari Pos Pengamatan Gunungapi Bromo) menyebabkan air terus mengisi retakan. Akibatnya air terakumulasi dan masuk ke dalam tanah melalui ruang antar butir dan retakan-retakan, menyebabkan tanah menjadi jenuh air sehingga bobot masanya bertambah, tekanan pori meningkat serta daya ikatnya berkurang. Adanya bidang gelincir (antara tanah pelapukan dan bidang gelincir yang lebih kedap air) serta kemiringan lereng yang curam-sangat curam, maka tanah menjadi tidak stabil dan bergerak perlahan menuruni lereng, sehingga terjadilah longsor.

 

6. Rekomendasi

Jalan Sapikerep - Ngadisari

  • Penguatan lereng menggunakan retaining wall sesuai dengan kaidah geologi teknik pada beberapa lokasi jalan yang rentan/sering terjadi longsor, khususnya jalur Jurangjero dan Jurangjontro (Foto 2).
  • Pemasangan rambu rambu rawan longsor sepanjang Jalan Utama dari Sapikerep hingga Ngadisari
  • Membuat dan mengarahkan air permukaan menjauhi lereng, langsung dialirkan ke lereng bawah/ lembah/arah sungai dengan saluran kedap air.
  • Melakukan penghijauan pada kawasan perbukitan terjal dengan tanaman tahunan berakar kuat untuk meningkatkan daya dukung tanah di daerah tersebut
  • Meningkatkan kewaspadaan masyarakat dan pengguna jalan pada potensi gerakan tanah di Kawasan Wisata Bromo
  • Masyarakat dan pengguna jalan agar selalu waspada dan berhati-hati terutama pada saat musim hujan atau pada sesaat atau setelah terjadi hujan.
  • Masyarakat agar waspada terhadap potensi runtuhan batu (rockfall) yang sewaktu-waktu dapat terjadi 

Jalan menuju Lautan Pasir

  • Masyarakat dan pengguna jalan agar selalu waspada saat melintasi jalan tersebut. Apabila hujan dengan intensitas tinggi terjadi diharapkan untuk tidak memaksakan diri melintasi jalur tersebut
  • Apabila muncul retakan pada lereng di sekitar jalan tersebut agar segera melapor ke instansi terkait agar segera ditindaklanjuti
  • Koordinasi antar instansi agar terus ditingkatkan terkait mitigasi bencana geologi (BPBD, Pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, serta Pemerintah Daerah).

 

LAMPIRAN

Sukapura 1 (270418)

Gambar 1. Peta Lokasi Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolonggo, Jawa Timur

 

Sukapura 2 (270418)

Gambar 2. Peta geologi Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo,  Jawa Timur

 

Sukapura 3 (270418)

Gambar 3. Peta zona kerentanan gerakan tanah Kota dan Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur

 

Sukapura 4 (270418)

Gambar 4. Peta prakiraan wilayah terjadinya gerakan tanah pada bulan Maret 2018, Kabupaten dan Kota Probolinggo

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

KABUPATEN PROBOLINGGO PROVINSI JAWA TIMUR

 BULAN MARET 2017

Sukapura 5 (270418)

Keterangan :

Sukapura 6 (270418)

 

Sukapura 7 (270418)

Gambar 4. Peta Situasi pada jalur Sapikerep – Wonokerto, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo

 

Sukapura 8 (270418)

Gambar 5. Peta situasi gerakan tanah pada akses jalan menuju Lautan Pasir, Dusun Cemorolawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo

 

Sukapura 9 (270418)

Gambar 6. Penampang gerakan tanah pada akses jalan menuju Lautan Pasir, Dusun Cemorolawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo

 

Sukapura 10 (270418)

Foto 1. Salah satu jalan yang longsor di daerah Sapikerep

 

Sukapura 11 (270418)

Foto 2.  Longsor pada dinding jalan yang tegak karena pemotongan lereng

 

Sukapura 12 (270418)

Foto 3. Kenampakan lereng yang terjal sepanjang jalan Sapikerep

 

Sukapura 13 (270418)

Foto 4. Kenampakan lereng yang terjal sepanjang jalan Wonokerto

 

Sukapura 14 (270418)

Foto 5. Peninjauan lapangan bersama Kalak BPBD Probolinggo dan Babinsa Sukapura

 

Sukapura 15 (270418)

Foto 6. Kenampakan longsor pada akses jalan menuju lautan pasir

 

Sukapura 16 (270418)

Foto 7. Kenampakan Longsor pada tanggal 18 Maret 2018 (Dokumentasi BPBD Probolinggo)