Update Laporan Gerakan Tanah Kab. Kuningan 27 Februari 2018

I. KECAMATAN KARANGKENCANA
1. DUSUN JABRANTI, DESA GUNUNG JAWA
a. Lokasi Gerakan Tanah

Gerakan tanah terjadi di wilayah Dusun Jabranti, Desa Gunung Jawa, Kec. Karangkencana, Kab. Kuningan, Prov. Jawa Barat pada hari Senin 19 Februari 2018 malam hari setelah turun hujan deras sebelumnya. Lokasi gerakan tanah terletak di sekitar koordinat 070 06” 36,1” LS dan 1080 40” 35,2” BT, dengan ketinggian sekitar 414 meter diatas muka laut.

 

b. Kondisi Gerakan Tanah dan Dampaknya

Jenis gerakan tanah adalah Aliran bahan rombakan pada area perhutani, di aliran S. Cirombeng dengan kemiringan lereng bagian atas (hulu sungai) 450 dan bagian bawah 200 panjang sekitar 375 meter, lebar 75 meter, dengan arah umum gerakan tanah N 2740 E. Longsor diawali dengan terjadinya longsoran bahan rombakan pada tebing sungai bagian hulu dan mengikuti alur sungai menjadi aliran bahan rombakan. Gerakan tanah mengakibatkan tertutupnya akses jalan kabupten dan mengisolir 2000 jiwa di 3 (tiga) wilayah Dusun Jabranti, Banjaran dan Winduherang

 

c. Kondisi Umum Daerah Bencana
  • Morfologi, Morfologi daerah bencana merupakan bagian morfologi perbukitan bergelombang dengan relief rendah hingga kasar dengan kemiringan lereng antara 5 – 600, setempat-setempat pada gawir lereng dan tebing sungai kemiringan hampir tegak yang berujung di S. Cirombeng. Sungai ini mempunyai lebar sekitar 5 meter, berair cukup baik di musim hujan maupun kemarau. Adapun lereng yang mengalami longsor berasal dari perbukitan dengan kemiringan 450.
  • Geologi, Geologi daerah Jabranti merupakan bagian dari Formasi Halang (Tmph), batupasir tufaan, napal, konglomerat dan batulempung di bagian bawah terdapat breksi bersusunan andesit. Batuan tersebut juga telah terlipat dan terkekarkan dan telah lapuk berupa lempung pasiran, coklat tua, sarang, porositas tinggi, gembur mudah menyerap air, tebal 1 – 4 meter.
  • Tataguna Lahan, Tataguna lahan daerah bencana berupa hutan pinus, pesawahan dan kebin campuran yang menempati lerengnya baik di atas maupun lereng bawah.
  • Keairan, Air cukup melimpah di daerah bencana, baik dari S. Cirombeng itu seendiri, maupun berasal dari dari mata air yang dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum dan MCK.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Februari 2018 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah terletak pada daerah yang berpotensi gerakan tanah menengah, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

d. Faktor Penyebab Gerakan Tanah

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi ini antara lain :

  • Kemiringan lereng yang terjal
  • Sifat tanah lapukan yang tebal, gembur, sarang dan mudah meresapkan air
  • Perubahan lahan hutan menjadi sawah
  • Dipicu oleh curah hujan tinggi yang berlangsung lama 

 

e. Mekanisme Gerakan Tanah

Aliran bahan rombakan diawali dengan terjadinya Longsoran bahan rombakan pada tebing hulu sungai yang disebabkan meresapnya air yang masuk ke dalam tanah lapukan yang tebal, sarang, mudah menyerap air, sehingga bobot masa tanah pada tebing hulu sungai bertambah dan kestabilan terganggu dan tanah bergerak dengan bidang gelincir antara tanah pelapukan dan batuan penyusunnya. Material longsoran bahan rombakan ini masuk kedalam aliran sungai yang bergerak dengan cepat  bersamaan dengan terjadinya hujan deras. Dalam pergerakannya Aliran bahan rombakan ini menggerus dasar sungai dan samping kiri dan kanan sungai, sehingga volume dan kecepatan material aliran bahan rombakan semakin besar dan menutup akses jalan kabupaten dilokasi bencana

 

f. Rekomendasi

Beberapa hal yang perlu direkomendasikan dari hasil pemeriksaan adalah : 

  • Segera dilakukan pembersihan material longsoran yang menutupi badan pada jalan
  • Lahan pesawahan pada lereng bawah dan tengah diselang seling dengan tanaman palawija untuk mengurangi tingkat kejenuhan tanah atau ditanami pohon yang kuat berakar dalam untuk menahan lereng
  • Penataan dan pengendalian air permukaan dengan membuat permanen drainase diatas lereng atas dan bawah
  • Perlu kontrol di lereng bagian atas maupun bawah, pada saat musim hujan jika ada tanda tanda retakan tanah, segera diisi dengan tanah liat dan dipadatkan, jika masih terjadi retakan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang
  • Lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah susulan, sehingga perlu sosialisasi dan kewaspadaan bagi masyarakat di sekitar lokasi bencana dan bila perlu dipasang alat pantau longsor
  • Perlu dipasang rambu-rambu bencana tanah longsor

Kuningan 1 (010318)

2. DUSUN CIPARI, DESA MARGACINA

1. Lokasi Gerakan Tanah

Gerakan tanah terjadi di beberapa tempat di sepanjang jalan Desa Sidoagung - Dusun Cipari, Desa Margacina dan di Desa Cipari itu sendiri, Kecamatan Karangkecana, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat pada hari Senin 19 Februari 2018 malam hari setelah turun hujan deras sebelumnya. Berikut 3 longsor utama yang berdampak, yaitu : 

  1. Lokasi gerakan tanah pertama pada jalan desa di Desa Sidoagung - Dusun Cipari, Desa Margacina, terletak pada pada koordinat 070 06’ 31,58” LS dan 1080 39’ 20,19” BT, dengan ketinggian sekitar 398 meter diatas muka laut.
  2. Lokasi gerakan tanah kedua pada jalan desa di Desa Sidoagung - Dusun Cipari, Desa Margacina, terletak pada koordinat 070 06’ 48,17” LS dan 1080 39’ 26,67” BT, dengan ketinggian sekitar 421 meter diatas muka laut.
  3. Lokasi gerakan tanah ketiga di Dusun Cipari, Desa Margacina terletak pada koordinat 070 18’ 32,0” LS dan 1080 34’ 43,8” BT, dengan ketinggian sekitar 588 meter diatas muka laut.

2. Kondisi Gerakan Tanah

Kondisi gerakan tanah di 3 lokasi antara lain:

  • Gerakan tanah pertama, adalah Longsoran bahan rombakan merupakan gabungan dari 3 titik longsor yang sepanjang jalan desa ini, arah umum gerakan tanah N 2700 E dan kemiringan bidang longsor 220 dengan dimensi masing-masing :
    • Longsor pertama panjang 60 meter dan lebar 10-40 meter, kemiringan lereng 300 dan umum gerakan tanah N 2300 E
    • Longsor kedua panjang 65 meter dan lebar 8 meter, kemiringan lereng 290 dan arum gerakan tanah N 2400 E

Gerakan tanah ini mengkibatkan jalan desa terputus tertutup oleh material longsoran

  • Gerakan tanah kedua, berupa Nendatan diserta dengan retakan, dengan arah gerakan tanah N 1360 E, menimbulkan retakan, lebar 10 – 25 cm, penurunan 10 – 60 cm, kemiringan lereng 22 - 550. Gerakan tanah ini mengakibatkan 53 rumah rusak berat dan 1 lapangan volley rusak berat, 152 rumah rusak ringan, 1 bangunan sekolah dan 1 masjid rusak

 

3. Kondisi Umum Daerah Bencana
  • Morfologi, Morfologi daerah bencana merupakan bagian morfologi perbukitan Cipari yang bergelombang dengan relief rendah hingga kasar dengan kemiringan lereng antara 12 – 603, setempat-setempat pada gawir lereng dan tebing jalan kemiringan hampir , tegak.
  • Geologi, Geologi daerah Cipari merupakan bagian dari Formasi Halang (Tmph), batupasir tufaan, napal, konglomerat dan batulempung di bagian bawah terdapat breksi bersusunan andesit. Batuan tersebut juga telah terlipat dan terkekarkan dan telah lapuk berupa lempung pasiran, coklat tua, sarang, porositas tinggi, gembur mudah menyerap air, tebal 1 – 4 meter.
  • Tataguna Lahan, Tataguna lahan umumnya berupa pemukiman dan kebun campuran terdiri dari kelapa, dan tanaman sayuran, dimana lahan menempati daerah rawan longsor termasuk badan jalan desa dengan lebar sekitar 3 meter, sekolahan, masjid, areal terbatas untuk pesawahan dan empang/kolam.
  • Keairan, Air cukup tersedia di daerah bencana, pada bagian atas maupun bawah lereng muncul mata air dan untuk mengairi sawah dan dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum dan MCK. Terdapat pula sungai dengan lebar 2 meter yang berair pada musim hujan saja sedangkan musim kemarau sedikit sekali airnya.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Februari 2018 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah ini berada pada potensi gerakan tanah  tinggi, artinya daerah ini mempunyai potensi tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

4. Faktor Penyebab Gerakan Tanah

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi ini antara lain :

  • Kemiringan lereng yang terjal
  • Sifat fisik tanah lapukan yang sarang, tebal dan mudah menyerap air
  • Adanyanya batulempung, kedap air, yang bertindak sebagai bidang gelincir gerakan tanah
  • Penataan air yang tidak optimal
  • Dipicu oleh curah hujan tinggi berlangsung lama, sehingga akan meresap kedalam tanah yang gembur tersebut dan melicinkan batuan lunak yang kedap air

 

5. Mekanisme Gerakan Tanah

Ada 2 jenis mekanisme gerakan tanah,

Yang pertama untuk yang longsoran bahan rombakan dengan gerakan cepat, berawal dari hujan deras sebelumnya yang mengakibatkan lereng jenuh air. Air meresap masuk ke dalam tanah lapukan, sarang, mudah menyerap air, sehingga bobot masa tanah bertambah dan kestabilan terganggu dan tanah bergerak cepat dengan bidang gelincir antara tanah pelapukan dan batuan penyusunnya batupasir tufaan.

Yang kedua untuk longsoran dengan tipe nendatan diertai retakan juga berawal dari hujan deras sebelumnya yang mengakibatkan lereng jenuh air. Air meresap masuk ke dalam tanah lapukan yang sarang, mudah menyerap air, sehingga bobot masa tanah bertambah dan kestabilan terganggu dan tanah bergerak lambat dengan bidang gelincir antara tanah pelapukan dan batuan kedap air dalam hal ini berupa lapisan lempung, sehingga bergerak lambat

 

6. Rekomendasi

Beberapa hal yang perlu direkomendasikan dari hasil pemeriksaan ini adalah : 

  • Pembersihan material longsoran di jalan desa
  • Retakan pada lereng atas (lokasi gerakan tanah pertama) segera diisi dengan tanah liat setempat dan dipadatkan agar air tidak masuk kedalamnya
  • Tebing yang terkena longsor segera diperbaiki dengan memasang fondasi dan bangunan penahan tebing hingga mencapai lapisan keras
  • Penataan dan pengendalian air permukaan dengan membuat saluran drainase di atas lereng maupun lereng bawah dan di sisi jalan desa
  • Perlu ditanam pohon berakar dalam untuk menahan lereng, terutama lereng yang sedikit vegetasinya.
  • Rumah di Dusun Cipari tidak layak huni, maka sebaiknya di relokasi ke tempat lain yang aman
  • Perlu kontrol di lereng bagian atas maupun bawah, pada saat musim hujan jika ada tanda tanda retakan tanah, segera diisi dengan tanah liat dan dipadatkan, jika masih retakan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang
  • Lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah susulan, sehingga perlu kewaspadaan bagi masyarakat sekitar dan juga pengguna jalan desa di sekitar lokasi bencana

Kuningan 2 (010318)

II. KECAMATAN CINIRU
1. DUSUN BABAKAN, DESA PINARA
a. Lokasi Gerakan Tanah

Gerakan tanah terjadi di wilayah Dusun Babakan, Desa Pinara, Kec. Ciniru, Kab. Kuningan, Prov. Jawa Barat pada hari Senin 19 Februari 2018 malam hari setelah turun hujan deras sebelumnya. Lokasi gerakan tanah terletak di sekitar koordinat 070 05” 17,0” LS dan 1080 31” 41,9” BT, dengan ketinggian sekitar 626 meter diatas muka laut.

 

b. Kondisi Gerakan Tanah dan Dampaknya

Jenis gerakan tanah adalah Longsoran bahan rombakan, dengan kemiringan lereng 360 dan bagian bawah 200 panjang 305 meter, lebar 52 meter, dengan arah umum gerakan tanah N 100 E, Gerakan tanah mengakibatkan tertutupnya akses jalan desa dan mengancam perkampungan Ciniru

 

c. Kondisi Umum Daerah Bencana
  • Morfologi, Morfologi daerah bencana merupakan bagian morfologi perbukitan bergelombang dengan relief rendah hingga kasar dengan kemiringan lereng antara 8 – 550, setempat-setempat pada gawir lereng dan tebing sungai kemiringan hampir tegak yang berujung di S. Cipicung. Sungai ini mempunyai lebar sekitar 2 meter, berair cukup baik di musim hujan maupun kemarau. Adapun lereng yang mengalami longsor berasal dari perbukitan dengan kemiringan 550.
  • Geologi, Geologi daerah Babakan Pinara disusun oleh Formasi Halang (Tmhg) Anggota Gunung Hurip, terdiri dari breksi sedimen gunungapi & konglomerat bersusunan andesit dan basal bersisipan batupasir, serpih dan batulempung pasiran (Kastowo 75)
  • Tataguna Lahan, Tataguna lahan daerah bencana berupa pesawahan dan hutan, kebin campuran yang menempati lerengnya baik di atas maupun lereng bawah.
  • Keairan, Air cukup melimpah di daerah bencana, baik dari dari mata air yang dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum dan MCK.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Februari 2018 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah terletak pada daerah yang berpotensi gerakan tanah tinggi, artinya daerah ini mempunyai potensi tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

d. Faktor Penyebab Gerakan Tanah

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi ini antara lain :

  • Kemiringan lereng yang terjal
  • Sifat tanah lapukan yang tebal, gembur, sarang dan mudah meresapkan air
  • Perubahan lahan hutan menjadi sawah
  • Dipicu oleh curah hujan tinggi yang berlangsung lama 

 

e. Faktor Penyebab Gerakan Tanah

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi ini antara lain :

  • Kemiringan lereng yang terjal
  • Tanah lapukan yang tebal, gembur, sarang, mudah menyerap air
  • Faktor keairan, baik karena curah hujan tinggi berlangsung lama, sehingga akan meresap kedalam tanah yang gembur tersebut dan melicinkan batuan lunak yang kedap air
  • Alih fungsi lahan menjadi pesawahan
  • Penataan air yang belum maksimal

 

f. Mekanisme Gerakan Tanah

Longsoran bahan rombakan bergerak dengan cepat, berawal air drainase dan mata air yang menjenuhi lereng, ditambah hujan deras sebelumnya yang mengakibatkan lereng tambah jenuh air. Air meresap masuk ke dalam tanah lapukan yang tebal, sarang, mudah menyerap air, sehingga bobot masa tanah bertambah dan kestabilan terganggu dan tanah bergerak dengan bidang gelincir antara tanah pelapukan dan batuan penyusunnya, yang bertindak sebagai bidang gelincir gerakan tanah

 

2. DUSUN CIRAHARJA, DESA GUNUNGMANIK

a. Lokasi dan Waktu Kejadian

Lokasi gerakan tanah terletak di Dukuh Lor, Desa Sidomulyo, Kec. Purworejo, Kab. Purworejo, Prov. Jawa Tengah, terletak pada koordinat 070 41’ 28,51” LS dan 1100 02’ 45,08” BT, berada pada ketinggian 152 m diatas muka laut. Gerakan tanah terjadi pada Rabu, 29 November 2017, malam hari setelah sebelumnya hujan terjadi deras.

 

b. Kondisi Gerakan Tanah dan Dampaknya
  • Gerakan tanah berupa Rayapan disertai retakan tanah, terjadi pada area perkampungan padat pada lokasi yg berdekata dengan lereng trjal. Panjang 60 meter, lebar 220 meter, kemiringan lereng 15 - 340, setempat setempat gawir lereng hampir tegak. Retakan, lebar 5 cm, kedalaman 5 – 12 cm, membentuk tapal kuda dengan arah umum gerakan tanah N 1400 E
  • Gerakan tanah ini mengakibatkan  1 rumah rusak dan 3 rumah lainnya terancam. 

 

c. Kondisi Daerah Pemeriksaan

  • Morfologi, Morfologi daerah bencana mmerupakan perbukitan bergelombang sedang hingga kasar merupakan lereng perbukitan dengan kemiringan 5 - 740, setempat setempat gawir lereng hampir tegak, dengan ketinggian sekitar xx m di atas muka laut.
  • Geologi, Geologi daerah Babakan Pinara disusun oleh Formasi Halang (Tmhg) Anggota Gunung Hurip, terdiri dari breksi sedimen gunungapi & konglomerat bersusunan andesit dan basal bersisipan batupasir, serpih dan batulempung pasiran (Kastowo 75)
  • Tataguna Lahan, Tata guna lahan pada umumnya berupa kebun campuran terdiri dari pohon buah-buahan, kelapa, bambu. Rumah-rumah umumnya menempati lereng relatif datar dan sebagian tepi lereng yang terjal, sehingga beberapa diantaranya terkena retakan.
  • Keairan, Air umumnya berasal dari mata air dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari, dan air ini dialirkan melalui slang-selang dan pembuangan belum melalui drainase yang baik.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadinya Gerakan Tanah Jawa Barat Bulan Februari 2018 daerah pemeriksaan termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi. Artinya daerah ini mempunyai tingkat kerentanan tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali terutama akibat curah hujan yang tinggi.

 

d. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

  • Lereng yang terjal
  • Sifat fisik tanah lapukan yang sarang dan tebal,
  • Adanya batuan kedap air yang berfungsi sebagai bidang gelincir gerakan tanah
  • Drainase dan penataan air kurang baik termasuk pembuatan kolam-kolam ikan
  • Dipicu oleh curah hujan tinggi.

 

e. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Mekanisme gerakan tanah terjadi setelah turun hujan lebat, air hujan meresap masuk kedalam tanah sehingga bobot tanah meningkat mengakibatkan masa tanah bergerak melalui bidang gelincir dalam hal ini lapisan batulempung. Karena terdapat kemiringan lereng, maka masa tanah mulai terganggu kesetimbannya dan terjadilah retakan tanah diatas lapisan lempung.

 

f. Rekomendasi :

  • Retakan yang terjadi segera diisi dengan tanah lempung dan dipadatkan,
  • Drainasenya ditata
  • Pohon berakar kuat dan dalam perlu ditambah,
  • Rumah dengan kerusakan berat agar dikosongkan, sedangkan kerusakan ringan masih bisa ditempati, namun tetap memantau perkembangan retakan
  • Masyarakat perlu waspada bila perlu mengungsi ke tempat yang aman jika terjadi hujan lebih dari 3 jam,
  • Jika akan membangun bangunan sebaiknya memakai konstruksi ringan/kayu dengan fondasi panggung,
  • Lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah susulan, sehingga perlu sosialisasi dan kewaspadaan bagi masyarakat di sekitar lokasi bencana

 

Kuningan 3 (010318)

 

Kuningan 4 (010318)

 

Kuningan 5 (010318)