Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Sukaresmi, Kab. Cianjur Provinsi Jawa Barat

Laporan singkat hasil pemeriksaan tim paska bencana gerakan tanah di wilayah di Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat berdasarkan Surat Permohonan Kajian Geologi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cianjur dengan nomor 362/66/BPBD/2018 sebagai berikut :

A. Lokasi Gerakan Tanah

1 Lokasi Bencana Dan Waktu Kejadian

Gerakan tanah terjadi di kampung Gunung Hawu RT04 RW02, Desa Rawabelut, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat pada koordinat   6°40'26.45"S dan 107° 2'51.20"E.

Hujan dengan intensitas tinggi terjadi pada hari Minggu, tanggal 4 Februari 2018 dan gerakan tanah mulai terjadi pada 5 Februari 2018 sekitar jam 08.00-12.00 WIB.

 

2.   Kondisi Daerah Bencana

  • Morfologi, Secara umum morfologi lokasi bencana di Kampung Gunung Hawu, Desa Rawabelut dan sekitarnya, merupakan perbukitan bergelombang agak curam hingga sangat curam. Gerakan tanah terjadi pada lereng yang agak curam dengan kemiringan 20o, sementara pada lereng bagian atas kemiringan lereng berkisar 30° - 50° Ketinggian lokasi bencana berada pada elevasi 860 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi, Berdasarkan Peta geologi Lembar Cianjur, Jawa (Sudjatmiko, dkk., 2003) dari Puslitbang Geologi, batuan daerah ini disusun oleh Anggota Formasi Batupasir Cantayan (Mtts) yang terdiri dari batupasir, batulempungpasiran, batulempung dan konglomerat. Pengamatan di lapangan menunjukkan adanya batulempung berwarna abu abu kekuningan, lembek dan lapuk. Di bagian selatan dibatasi oleh terobosan batuan beku andesitis membentuk pegunungan.
  • Keairan, Penduduk umumnya memanfaatkan air tanah melalui mata air bersumber dari mata air dari perbukitan sekitar lokasi dengan menggunakan pipa atau selang.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan di lokasi bencana pada lereng atas berupa hutan dan kebun campuran. Pada lereng bagian bawah berupa pesawahan dan sedikit pemukiman. Rumah yang terkena bencana menempati lereng lereng bagian bawah dan pinggir jalan.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Cianjur (PVMBG, Badan Geologi) dan Peta Prakiraan Potensi Terjadinya Gerakan Tanah Jawa Barat Bulan Februari 2018  daerah pemeriksaan termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah. Artinya daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali terutama akibat curah hujan yang tinggi

 

3.  Kondisi Gerakan Tanah dan Akibat yang Ditimbulkan

Gerakan tanah yang terjadi berupa Rayapan disertai Retakan tanah dan penurunan tanah. Panjang gerakan tanah 75 meter, lebar 45 meter dengan arah umum gerakan tanah N 850 E menimbulkan retakan tanah lebar 5 – 60 cm dengan arah retakan N 1750 E, serta menimbulkan penurunan 50 – 100 cm.

Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah ini mengakibatkan :

  • 3 rumah rusak berat
  • Jalan desa beraspal amblas

 

4.  Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah 

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Kemiringan lereng yang curam (200) mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Sifat fisik tanah pelapukan yang tebal dan bersifat poros dan jenuh air tebal >1,5 m.
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan lempung yang bersifat lebih kedap dan berfungsi sebagai bidang gelincir.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air baik air hujan maupun air yang bersumber dari bukit diatasnya
  • Tata lahan berupa pesawahan yang menggunakan air cukup banyak pada seluruh wilayah yang dilewati jalan.
  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah 

Mekanisme gerakan tanah terjadi setelah turun hujan lebat, air hujan tertampung di pesawahan dan meresap masuk kedalam tanah sehingga bobot tanah meningkat mengakibatkan masa tanah bergerak melalui bidang gelincir dalam hal ini lempung tufaan,dan menyebabkan terjadinya  gerakan tanah rayapan dan bergerak sesuai dengan kemiringan lerengnya 

 

6. Kesimpulan dan Rekomendasi

Kesimpulan:

  • Daerah ini masih berpotensi untuk bergerak tipe lambat berupa rayapan, nendatan, retakan, dan amblasan terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama.
  • Pemukiman rusak berat akibat terkena dampak gerakan tanah terutama yang berada di tepi gawir longsoran, sebaiknya segera direlokasi.

Rekomendasi

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah di lokasi tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa, disarankan:

  • Melakukan penghijauan pada kawasan perbukitan terjal dengan tanaman tahunan berakar kuat untuk meningkatkan daya dukung tanah di daerah tersebut.
    • Membuat dan mengarahkan air menjauhi retakan, langsung dialirkan ke lereng bawah/ lembah/arah sungai dengan saluran kedap air.
    • Membuat fondasi jalan desa beraspal yang kuat dengan mengikuti kaidah teknik yang sesuai serta tembok penahan tanah/bronjong pada tebing pada jalan yang telah longsor. Pondasi tembok penahan/bronjong disarankan menembus batuan dasar/keras dan dilengkapi dengan pipa pengering untuk membuang air permukaan.
    • Pengguna jalan harus waspada bila melalui jalur jalan yang longsor terutama pada saat dan setelah turun hujan.
    • Penataan saluran drainase/selokan di kanan kiri badan jalan, langsung dialirkan ke lereng bawah/ lembah/arah sungai dengan saluran kedap air, serta menghindari genangan air pada daerah datar
    • Merelokasi bangunan-bangunan yang terdampak berat ke tempat yang lebih aman
    • Selalu memantau perkembangan retakan yang ada dan jika terjadi perkembangan yang cepat terutama di atas tebing yang sudah longsor, segera menjauh dari lokasi gerakan tanah dan melaporkannya kepada instansi yang berwenang untuk menyampaikan peringatan kepada pengguna jalan/penduduk yang beraktivitas di sekitar bencana.
    • Guna meningkatkan kewaspadaan, aparat setempat hendaknya memasang rambu peringatan rawan longsor pada jalur jalan.
    • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

 

Rawabelut 1 (270218)

Gambar 1. Peta Lokasi Bencana Gerakan Tanah Desa Rawabelut, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur

 

Rawabelut 2 (270218)

Gambar 2. Peta geologi Desa Rawabelut, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur

 

Rawabelut 3 (270218)

Gambar 3. Peta prakiraan terjadinya gerakan tanah bulan Februari 2018, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur.

 

Rawabelut 4 (270218)

Gambar 4. Peta situasi gerakan tanah Kampung GunungHawu, Desa Rawabelut,  Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat

 

Rawabelut 5 (270218)

Gambar 5. Penampang gerakan tanah di Kp Gununghawu, Desa Rawabelut, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur

 

Rawabelut 6 (270218)

Foto 1. Pemeriksaan Gerakan Tanah di Jalan dan Areal Persawahan di Kampung Gununghawu, Desa Rawabelut

 

Rawabelut 7 (270218)

Foto 2. Salah satu retakan di Kp Gununghawu, Desa Rawabelut

 

Rawabelut 8 (270218)

Foto 3. Kenampakan rumah rusak di Kp Gununghawu, Desa Rawabelut

 

Rawabelut 9 (270218)

Foto 4. Kenampakan amblesan tanah sekitar 20 cm di dekat areal persawahan di Kp Gununghawu, Desa Rawabelut