Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Pagelaran, Kab. Cianjur Provinsi Jawa Barat

Laporan singkat hasil pemeriksaan tim paska bencana gerakan tanah di wilayah di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat Surat Permohonan Kajian Geologi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cianjur dengan nomor 362/28/BPBD/2018 sebagai berikut :

A. Lokasi Gerakan Tanah

1 Lokasi Bencana Dan Waktu Kejadian

Gerakan tanah terjadi di kampung Cipulus dan sekitarnya, Desa Pangadegan, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.  Gerakan tanah jenis rayapan sudah sering terjadi pada tahun tahun sebelumnya di daerah ini.

 

2.   Kondisi Daerah Bencana

  • Morfologi, Secara umum morfologi lokasi bencana di Kampung Cipulus, Desa Pangadegan, Kecamatan Pagelaran dan sekitarnya, merupakan perbukitan bergelombang agak curam hingga sangat curam. Gerakan tanah terjadi pada lereng yang agak curam dengan kemiringan 10-30o.  Ketinggian lokasi bencana berada 500 - 600 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi, Berdasarkan Peta geologi Lembar Sindangbarang (Koesmono, dkk., 1996), batuan daerah ini disusun oleh Anggota Kadupandak,  Formasi Bentang, yang terdiri dari batulempung, batulanau, batulempung tufaan dan Formasi Koleberes. Pengamatan di lapangan menunjukkan adanya batulempung berwarna abu abu kekuningan, lembek dan lapuk yang ditutupi oleh breksi tufaan yang kemungkinan termasuk kedalam Formasi Koleberes, berwarna abu abu dan kompak.
  • Keairan, Penduduk umumnya memanfaatkan air tanah melalui mata air bersumber dari mata air dari perbukitan sekitar lokasi dengan menggunakan pipa atau selang, sumur penduduk berkedalaman 2 meter.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan di lokasi bencana pada lereng atas berupa kebun campuran. Pada lereng bagian bawah berupa pesawahan dan pemukiman. Rumah yang terkena bencana menempati daerah pinggir jalan desa berbeton dan  lereng lereng bagian bawah.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Cianjur (PVMBG, Badan Geologi) dan Peta Prakiraan Potensi Terjadinya Gerakan Tanah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat Bulan Februari 2018, daerah pemeriksaan termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah -  Tinggi. Artinya daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali terutama akibat curah hujan yang tinggi

 

3.  Kondisi Gerakan Tanah dan Akibat yang Ditimbulkan 

Gerakan tanah yang terjadi berupa Rayapan disertai Retakan tanah, penurunan tanah dan rayapan tipe lambat. Arah retakan N3000E, lebar 5 – 15 cm, serta menimbulkan penurunan tanah 15 cm.

Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah ini mengakibatkan :

  • 200 rumah rusak yang meliputi 8 ke RT an
  • Jalan desa berbeton patah sejumlah 26 kepingan
  • Sekolah Dasar retak retak dan miring (SD Ciganea)

 

4.  Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah 

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Kemiringan lereng yang curam (300) mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Sifat fisik tanah pelapukan yang tebal dan bersifat poros dan jenuh air tebal >2 m.
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan lempung yang bersifat lebih kedap dan berfungsi sebagai bidang gelincir.
  • Tata lahan berupa pesawahan yang menggunakan air cukup banyak pada seluruh wilayah yang dilewati jalan dan pemukiman.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik, baik air yang bersumber dari hujan maupun air yang bersumber dari bukit diatasnya
  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah 

Mekanisme gerakan tanah terjadi setelah turun hujan lebat, air hujan tertampung di pesawahan dan meresap masuk kedalam tanah sehingga bobot tanah meningkat mengakibatkan masa tanah bergerak melalui bidang gelincir dalam hal ini batulempung tufaan,dan menyebabkan terjadinya  gerakan tanah rayapan dan bergerak sesuai dengan kemiringan lerengnya 

 

6. Kesimpulan dan Rekomendasi

Kesimpulan:

  • Daerah ini masih berpotensi untuk bergerak tipe lambat berupa nendatan, retakan, amblasan dan rayapan, terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama.
  • Pemukiman yang terkena dampak berat akibat gerakan tanah sebaiknya segera direlokasi.

 

7. Rekomendasi

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah di lokasi tersebut, untuk menghindari terjadinya bencana yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa, disarankan:

  • Melakukan penghijauan pada kawasan perbukitan terjal dengan tanaman tahunan berakar kuat untuk meningkatkan daya dukung tanah di daerah tersebut.
  • Membuat dan mengarahkan air menjauhi retakan, langsung dialirkan ke lereng bawah/ lembah/arah sungai dengan saluran kedap air.
  • Selalu memantau perkembangan retakan yang ada dan jika terjadi perkembangan yang cepat, segera menjauh dari lokasi gerakan tanah dan melaporkannya kepada instansi yang berwenang untuk menyampaikan peringatan kepada pengguna jalan/penduduk yang beraktivitas di sekitar bencana.
  • Membuat fondasi jalan desa yang kuat dengan mengikuti kaidah teknik yang sesuai serta tembok penahan tanah/bronjong pada tebing pada jalan yang telah rawan amblas. Pondasi tembok penahan/bronjong disarankan menembus batuan dasar/keras dan dilengkapi dengan pipa pengering untuk membuang air permukaan.
  • Pengguna jalan harus waspada bila melalui jalur jalan yang longsor terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Penataan saluran drainase/, langsung dialirkan ke lereng bawah/ lembah/arah sungai dengan saluran kedap air, serta menghindari genangan air pada daerah datar
  • Merelokasi bangunan-bangunan yang terdampak berat ke tempat yang lebih aman
  • Guna meningkatkan kewaspadaan, aparat setempat hendaknya memasang rambu peringatan rawan amlas pada jalur jalan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Cipulus 1 (270218)

Gambar 1. Peta Lokasi Bencana Gerakan Tanah Desa Pangadegan, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur

 

Cipulus 2 (270218)

Gambar 2. Peta geologi Desa Pangadegan, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur

 

Cipulus 3 (270218)

Gambar 3. Peta prakiraan terjadinya gerakan tanah bulan Februari 2018, Desa Pangadegan, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur

 

Cipulus 4 (270218)

Gambar 4. Peta situasi gerakan tanah Kampung Desa Pangadegan,  Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

 

Cipulus 5 (270218)

Gambar 5. Penampang gerakan tanah di Kp Cipulus, Desa Pangadegan, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur

 

Cipulus 6 (270218)

Foto 1. Salah satu rumah rusak akibat rayapan di Kp Cipulus

 

Cipulus 7 (270218)

Foto 2.  Kenampakan Batulempung anggota Formasi Koleberes di Kp Cipulus

 

Cipulus 8 (270218)

Foto 3. Jalan Kampung di Desa Pangadegan yang retak akibat rayapan

 

Cipulus 9 (270218)

Foto 4. Kenampakan sekolah (SD Ciganea) yang rusak akibat gerakan tanah