Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah

Laporan  singkat  hasil  pemeriksaan  lapangan Tim Pemeriksaan Tanggap Darurat Gerakan Tanah di Kecamatan Pandanarum,    Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah,  berdasarkan  permintaan  dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kab. Banjarnegara, dengan Surat Nomor:  360/046/BPBD/2018 tertanggal 12 Februari 2018, hasil  pemeriksaan adalah sebagai berikut:

 

A. Kampung Sawangan, Desa Sirongge, Kecamatan Pandanarum

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Lokasi gerakan tanah di desa ini berada pada Kampung Sawangan, RT 01/RW 06, Desa Sirongge, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Secara geografis lokasi tersebut berada pada  109°36' 25,7" BT dan 07° 13' 41,0" LS. Gerakan tanah terjadi pada Hari Sabtu Malam tanggal 10 Februari 2018, setelah hujan deras dan lama.

 

2. Dampak Gerakan Tanah :
  • 1 jalan desa penghubung Kampung Sawangan dan Bantengan putus
  • 1 rumah rusak ringan
  • 10 rumah terancam
  • Kebun, ladang dan sawah seluas 29.550 M² rusak

 

3. Kondisi daerah bencana :
  • Morfologi: Morfologi daerah bencana memilki ketinggian 850-1000 m dpl merupakan morfologi perbukitan bergelombang dengan relief sedang hingga kasar dengan puncak Bukit pada ketinggian 1308 m dpl, kemiringan lereng antara 20° – 35°
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan pekalongan, Jawa (W.H. Condon, dkk, P3G, 1996) batuan penyusun daerah merupakan Formasi Rambatan (Tmr) yang terdiri dari serpih, napal dan batupasir gampingan. Formasi Rambatan iniditerobos oleh intrusi diorite. Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi, daerah bencana tersusun atas tanah pelapukan cukup tebal berupa lempung pasiran, coklat tua, plastisitas sedang, permeabilitas tinggi, gembur dan mudah menyerap air. Di bawah tanah pelapukan terdapat serpih dan batu lempung.
  • Tata Guna Lahan: Tataguna lahan pada lokasi tersebut berupa kebun campuran, pemukiman dan sawah berada di bagian tengah dan bawah daerah longsoran serta jalan desa pada lereng bagian tengah daerah longsoran.
  • Keairan: Kondisi keairan di daerah bencana sangat berlimpah untuk keperluan sehari-hari menggunakan air dari mataair. Rembesan air muncul pada tekuk lereng dan alur sungai yang bersumber dari perbukitan di sebelah timur laut dari lokasi gerakan tanah. Alur sungai Bantengan berada dibagian bawah lereng dengan debit yang cukup besar.
  • Kerentanan Gerakan Tanah: Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Februari 2018 di Kabupaten Banjarnegara (Badan Geologi), daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah tinggi, artinya daerah ini mempunyai potensi tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama maupun baru dapat aktif kembali.

 

4. Kondisi Gerakan Tanah :

Jenis gerakan tanah yang terjadi di lokasi ini berupa longsoran dengan arah longsoran relatif ke arah baratdaya, karena kandungan airnya melimpah berubah menjadi aliran bahan rombakan. Mahkota longsor memiliki lebar 95 meter, tinggi 10 meter dan panjang landaan ±440 meter. Pada bagian tepi tubuh longsoran  masih b anyak terdapat retakan dengan lebar 5-10 cm. Material longsoran mncapai Sungai Bantengan sehinga patut untuk diwaspadai penyumbatan material longsoran tersebut biar tidak terjadi banjir bandang.

 

5. Faktor penyebab gerakan tanah:

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah pada kedua lokasi tersebut adalah:

  • Serpih dan Napal Formasi Rambatan bersifat rapuh dan lembek jika jenuh air.
  • Lereng bukit yang curam;
    • Sifat tanah pelapukan yang sarang dan mudah luruh jika terkena air;
    • Buruknya sistem drainase pada lereng
    • Perubahan tata guna lahan dari tanaman berakar dalam menjadi kebun campuran  di sekitar lokasi bencana;
  • Kontak intrusi diorite dengan dengan napal dan serpih Formasi Rambatan
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama yang turun sebelum gerakan tanah terjadi semakin memicu terjadinya gerakan tanah.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah:

Kondisi geologi berupa serpih, napal, serta lensa-lensa lempung warna abu-abu gelap pada kelerengan yang terjal serta melimpahnya air dari beberapa sumber pada alur turut mengontrol kejadian gerakan tanah di daerah ini. Curah hujan yang tinggi serta kondisi morfologi berupa lembahan menyebabkan air hujan mudah terakumulasi pada zona ini.  Akibatnya kondisi tanah dan batuan jenuh air menyebabkan bobot masanya bertambah dan kuat gesernya menurun, sehingga tanah tidak stabil (mudah bergerak). Lempung yang berwarna abu-abu gelap dibawah lapisan napal dan serpih mudah membubur jika jenuh air sehingga menyebabkan tanah menjadi tidak stabil dan mudah bergerak. Karakteristik napal, serpih dan lapisan lempung tersebut menyebabkan gerakan tanah awal berupa rayapan, namun karena kemiringan lereng yang terjal dan jenuh air sehingga terjadi perubahan gerakan dari tipe lambat (rayapan) menjadi aliran bahan rombakan.

 

7. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut :

  • Rumah milik Bapak Saefudin, Amin Diudi, Sumarno sebaiknya dilakukan relokasi mandiri atau melandaikan timbunan material longsoran yang ada disamping atau didepan rumah. Hal ini dilakukan agar jika terjadi pergerakan tidak kearah rumah Bapak Saefudin, Amin Diudi, Sumarno atau mengurangi gaya dorong dari material longsoran
  • Masyarakat yang mengungsi bisa kembali lagi kecuali 11 rumah milik (Bapak Saefudin, Amin Diudi, Sumarno, Bapak Sutrisno, Hadi Kahono, Bu Harno, Redi, Siswanto, Rahmanto, Adam, Jumarno)
  • Sementara penghuni di 8 rumah (Bapak Sutrisno, Hadi Kahono, Bu Harno, Redi, Siswanto, Rahmanto, Adam, Jumarno) bisa kembali dengan catatan jika hujan lebat atau hujan gerimis tapi berlangsung lama sebaiknya mengungsi dulu.
  • Jika retakan dan amblesan pada area 11 rumah tersebut berkembang intensif, sebaiknya 11 rumah tersebut direlokasi.
  • Genangan dan aliran air di area longsoran tersebut sebaiknya dialirkan agar tidak terjadi genangan di area longsoran
  • Masyarakat agar mewaspadai alur air jika tiba-tiba berhenti atau tidak mengalir karena akan menimbulkan dorongan yang besar pada area longsoran
  • Saat ini Sungai Bantengan masih mengalir walaupun terjadi penyempitan akibat material longsor, namun perlu diantisipasi jika Sungai Bantengan terjadi pembendungan agar segera dibuka untuk menghindari terjadinya banjir bandang.
  • Pohon-pohon diarea longsoran harap dibersihkan, namun senantiasa waspada terhadap potensi longsoran susulan dalam pemotongannya
  • Tipe gerakan tanah yang masih mungkin terjadi adalah gerakan tanah lambat sehingga ada tanda-tanda sebelum terjadi longsoran.
  • 2 kolam sebaiknya dikeringkan agar tidak menjenuhkan rumah yang berada dibawah/depan kolam
  • Masyarakat sekitar diharapkan waspada terutama saat dan setelah turun hujan karena masih berpotensi terjadi longsor susulan;
  • Penataan dan pengendalian air permukaan dengan membuat permanen irigasi diatas lereng dan pembuatan saluran drainase di sepanjang jalan desa;
  • Perlu kontrol di lereng bagian atas maupun bawah, pada saat musim hujan jika retakan semakin bertambah lebar atau ada tanda tanda retakan tanah, segera diisi dengan tanah liat dan dipadatkan, jika masih terjadi retakan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang;
  • Lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah susulan, sehingga perlu sosialisasi dan kewaspadaan bagi masyarakat di sekitar lokasi bencana.
  • Jika muncul retakan dan amblesan berbentuk tapal kuda segera diinformasikan ke Pemerintah Daerah/Aparat Setempat/ BPBD Banjarnegara. Hal ini sebagai tanda awal akan terjadi longsoran.

 

B. DUSUN BEDAHAN, DESA PRINGAMBA, KECAMATAN PANDANARUM
1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di lahan perkebunan di Dusun Bedahan, Desa Pringamba, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Secara geografis terletak pada koordinat 109° 37' 4,52" BT dan 07° 14' 1,26" LS. Gerakan tanah terjadi hampir bersamaan dengan yang terjadi di Dusun Sawangan, Desa Sirongge.

 

2. Kondisi Bencana dan Akibat Yang Ditimbulkan:

Jenis gerakan tanah berupa nendatan dengan material berupa tanah lanau pasiran berwarna merah. Lebar mahkota 15 meter dengan panjang tubuh longsoran 43 meter, arah gerakan N225°E dan tinggi mahkota 15 meter. Retakan berbentuk busur terdapat di sekitar mahkota longsoran dengan arah yang sejajar dengan bentuk mahkota.Dampak gerakan tanah:

  • Lahan perkebunan rusak
  • Warga khawatir terjadi longsoran yang lebih besar

 

3. Kondisi Daerah Gerakan Tanah:
  • Morfologi, Secara umum, lokasi gerakan tanah merupakan lembah di antara Gunung Deles dan Gunung Condong dengan aliran utamanya berada di Kali Sokaraja yang mengalir ke baratdaya. Gerakan tanah terjadi di lereng salah satu anak sungainya yang berasal dari kaki Gunung Deles. Kemiringan lereng agak curam (20°) dengan elevasi antara 1000-1025 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa (Condon, dkk., 1996) lokasi gerakan tanah tersusun oleh batuan Formasi Rambatan (Tmr) yang terdiri dari serpih,  napal dan batupasir gampingan. Pengamatan di lapangan terdapat tanah pelapukan yang tebal (>3 meter) berjenis lanau pasiran berwarna coklat, poros, relatif mudah tererosi. Tanah pelapukan ini menutupi batupasir gampingan yang tersingkap di kaki lereng dalam kondisi lapuk namun masih menyisakan fragmen batuan asalnya.
  • Tata Guna Lahan, Lahan perkebunan campuran merupakan tata guna lahan yang melingkupi seluruh area gerakan tanah. Di bagian atas didominasi oleh kebun teh, di bagian tengah berupa gelagah dan rerumputan, sedangkan di bagian bawah berupa bambu dan pepohonan lain. Anak Sungai Sokaraja mengalir tepat di bagian bawah lereng.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah umumnya kering saat musim kemarau. Aliran dari anak sungai Sokaraja menjadi sumber air permanen yang berada di sekitar lokasi gerakan tanah. Air hujan mengalir membentuk alur musiman menuju sungai, dan sebagian meresap ke dalam tanah.

 

4. Kerentanan Gerakan Tanah:

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah pada bulan Februari 2016 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Pandanarum termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah-Tinggi. Sedangkan lokasi gerakan tanah termasuk dalam zona potensi terjadi gerakan tanah Tinggi. Artinya, daerah ini mempunyai tingkat kerentanan tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

5. Faktor Penyebab Gerakan Tanah:
  • Serpih dan napal yang rapuh dan lembek jika jenuh air
  • Kemiringan lereng yang curam
  • Material penyusun lereng yang mudah tererosi
  • Erosi vertikal dari alur sungai musiman di sepanjang lereng
  • Erosi aliran sungai di bagian bawah lereng
  • Curah hujan yang tinggi menjadi pemicu gerakan tanah

 

6. Mekanisme Gerakan Tanah:

Alur yang terbentuk dari limpasan air hujan mengalami erosi vertikal setiap hujan turun. Kemiringan lereng yang tidak terlampau curam membuat erosi terjadi secara perlahan. Sementara itu, aliran air sungai juga terus mengerosi bagian bawah lereng serta mengangkut endapan yang terbawa alur limpasan tersebut. Perbedaan ketinggian antara dasar alur dan tanah sekitarnya membuat kestabilan lereng terganggu sehingga terbentuk retakan pada tanah yang terus bertambah lebar. Saat kestabilan lereng semakin berkurang, terjadi nendatan di sepanjang alur hingga ke bagian hulu dari alur tersebut. Material nendatan yang terbawa alur masuk ke sungai di bawah lereng dan langsung terangkut aliran sungai.

 

7. Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis:

Berdasarkan tinjauan di lapangan, disimpulkan bahwa:

  • Material gerakan tanah masih berpotensi bergerak dan menyumbat aliran air di bawah lereng namun terjadi secara perlahan sehingga akan segera tersapu air sungai, tidak membentuk bendungan yang menyumbat aliran air.
  • Lembah sungai di bawah lereng cukup lebar dan tidak dalam sehingga potensi terjadinya pembendungan aliran air oleh material gerakan tanah ini relatif kecil.
  • Gerakan tanah masih berpotensi terjadi kembali dengan retakan tanah di sekitar mahkota sebagai indikasinya.

Untuk, sebagai langkah penanggulangan diberikan rekomendasi sebagai berikut:

  • Lakukan pemantauan terhadap debit air. Jika debit air mengecil, segera lakukan pemeriksaan di daerah hulu untuk memastikan apakah terjadi penyumbatan atau tidak. Segera bersihkan material gerakan tanah jika terjadi penyumbatan agar aliran air kembali normal.
  • Hindari aktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah saat hujan deras turun dan beberapa jam setelah reda. Setelah dipastikan tidak ada perkembangan retakan tanah, aktivitas dapat dilanjutkan kembali.
  • Menutup retakan dengan tanah liat yang dipadatkan atau bahan kedap air lainnya untuk mencegah air masuk ke retakan yang dapat mempercepat gerakan tanah.
  • Buat saluran air agar limpasan air hujan mengalir menjauhi daerah gerakan tanah dan tidak terjadi penggenangan di tubuh gerakan tanah.
  • Bronjong atau pepohonan berakar serabut (bambu, pisang, kelapa, dan lain-lain) dapat digunakan untuk mengurangi laju erosi di bagian bawah lereng, ditempatkan tepat di tepian sungai yang bersinggungan dengan kaki lereng.
  • Masyarakat harap tetap waspada dan memantau perkembangan retakan tanah. Segera lapor kepada pemerintah daerah setempat jika retakan bertambah luas atau mulai mendekati area pemukiman maupun pusat aktivitas masyarakat.

 

LAMPIRAN

Sirongge 1 (270218)

Gambar 1. Peta lokasi gerakan tanah di Kecamatan Pandanarum

 

Sirongge 2 (270218)

Gambar 2. Peta Geologi Regional Kecamatan Pandanarum dan Sekitarnya

 

Sirongge 3 (270218)

Gambar 3. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Bulan Februari 2018 di Kab. Banjarnegara

 

Sirongge 4 (270218)

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kp. Sawangan, Desa Sirongge, Kecamatan Pandanarum, Kab. Purbalingga

 

Sirongge 5 (270218)

Gambar 5. Penampang Situasi Gerakan Tanah di Kp. Sawangan, Desa Sirongge, Kecamatan Pandanarum, Kab. Purbalingga

 

Sirongge 6 (270218)

Gambar 6. Foto Udara yang memperlihatkan material longsoran mengancam 11 pemukiman di Kp. Sawangan, Desa Sirongge, Kecamatan Pandanarum, Kab. Banjarnegara.

 

Sirongge 7 (270218)

Gambar 7. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kp. Bedahan, Desa Pringamba, Kecamatan Pandanarum, Kab. Purbalingga

 

Sirongge 8 (270218)

Gambar 8. Penampang Situasi Gerakan Tanah di Kp. Bedahan, Desa Pringamba, Kecamatan Pandanarum, Kab. Purbalingga

 

Sirongge 9 (270218)

Mahkota Longsoran di Kp. Sawangan, Desa Sirongge, Kecamatan Pandanarum, Kab. Banjarnegara

 

Sirongge 10 (270218)

Pemukiman yang berjarak ± 170 m dari mahkota longsoran

 

Sirongge 11 (270218)

Batulempung dan serpih yang merupakan batuan dasar di atas tanah penutup berupa lempung pasiran

 

Sirongge 12 (270218)

Ujung material longsoran yang mulai menutupi aliran Sungai Bantengan dan perlu di waspadai agar tidak terjadi pembendungan di aliran sungai

 

Sirongge 13 (270218)

Material Longsoran yang mengenai dapur dan halaman rumah penduduk di Kp. Sawangan, Desa Sirongge, Kec. Pandanarum

 

Sirongge 14 (270218)

Mahkota Longsoran di ladang Ds. Bedahan Desa Pringamba, Kecamatan Pandanarum

 

Sirongge 15 (270218)

Material longsoran yang turun ke lembah sungai di Bedahan

 

Sirongge 16 (270218)

Material longsoran yang sudah masuk ke sungai yang perlu di pantau agar tidak sampai membendung aliran sungai di Bedahan

 

Sirongge 17 (270218)

Tim Badan Geologi sedang menjelaskan kejadian gerakan tanah Kepada Dandim Kabupaten Banjarnegara di Kp. Sawangan, Desa Sirongge, Kec. Pandanarum, Kab. Banjarnegara.