Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Patuk Dan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

laporan singkat hasil pemeriksaan tim tanggap darurat bencana gerakan tanah di Desa Terbah, Kecamatan Patuk dan Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai berikut :

A.  Lokasi : Dusun Semilir, Desa Terbah, Kecamatan Patuk

Lokasi 1 ( Dusun Semilir, Desa Terbah, Kecamatan Patuk )

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah

Gerakan tanah terjadi di Dusun Semilir RT. 19/RW.10, Desa Terbah, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografi terletak pada koordinat : 07° 49’ 49,9” LS dan 110° 32’ 58,8” BT, berada pada ketinggian + 421 m di atas permukaan laut (dpl). Bencana gerakan tanah di daerah ini terjadi pada : hari Rabu tanggal  20 Desember 2017 sekitar jam 16.00

 

2. Jenis Gerakan Tanah 

Gerakan tanah berupa nendatan dan retakan yang terjadi pada tebing (gawir) terjal. Nendatan berukuran panjang : 24 m, lebar 36 – 59 m (mengancam rumah-rumah penduduk di bawahnya), tinggi 0,2 – 0,7 m dengan arah N 3020 E, sedangkan retakanya berukuran panjang 40 – 800 m, lebar 0,2 – 0,5 m, kedalaman 0,3 – 0,5 m dengan arah N 1240 E

 

3. Dampak Gerakan Tanah 

Bencana gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • 7 (tujuh) rumah terancam
  • ± 2500 m lahan terancam

 

4. Kondisi Daerah Bencana

 a. Morfologi

Secara umum daerah bencana merupakan lereng timur perbukitan bergelombang lemah - sedang dengan kemiringan lereng agak terjal hingga terjal dengan kemiringan lereng antara 15 – 350 setempat lebih dari 450. berketinggian antara  410 m – 425 m di atas permukaan laut (dpl)

Secara umum daerah ini merupakan lereng dari punggungan memanjang dimana bagian atasnya merupakan dataran sempit memanjang.

b. Kondisi geologi

Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi bencana, batuan dasar daerah bencana adalah perselingan antara tuf, batu pasir dan serpih dengan tanah lapukan berupa lempung pasiran, agak lunak, sarang ketebalan lebih 2 meter.

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta, Jawa ( Wartono Rahardjo,dkk. Puslitbang Geologi, 1995), daerah bencana disusun oleh Formasi Semilir (Tms) yang terdiri dari : tuf, breksi batu apung dasitan, batu pasir dan serpih.

Struktur geologi berupa patahan (sesar) maupun lipatan (fold) tidak dijumpai di daerah ini.

c. Tata guna lahan

 Tata lahan pada lereng bagian atas berupa kebun campuran dengan tanaman keras agak jarang setempat terdapat rumah, pada bagian tengah berupa kebun campuran dengan tanaman keras cukup banyak, sedangkan pada lereng bagian bawah berupa pemukiman (rumah-rumah penduduk) dan kebun campuran serta jalan aspal.

d. Keairan

Keairan pada lokasi bencana berupa aliran permukaan dari air hujan yang mengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah/batuan (pada musim hujan), sedangkan untuk keperluan sehari-hari adalah air yang berasal dari sumur gali dengan kedalaman sekitar 2 – 3 meter (sekitar pemukiman pada lereng bagian bawah).

e. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Kejadian Gerakan Tanah di Kabupaten Gunungkidul pada Bulan Desember 2017  (PVMBG), Kecamatan Patuk terletak pada zona kerentanan gerakan tanah Menengah, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan yang tinggi dan erosi kuat. Daerah bencana dan sekitarnya merupakan daerah yang berpotensi terjadi gerakan tanah apabila lereng diganggu (pemotongan lereng) atau dipicu oleh curah hujan tinggi dalam waktu lama.

5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

  • Sifat fisik batuan tufa yang retak-retak dan sarang (air mudah masuk ke dalam batuan )
  • Adanya gawir terjal dengan kemiringan lebih dari 600 (bekas longsoran lama)
  • Air permukaan yang masuk ke dalam batuan melalui retakan dan memperlemah daya ikat batuan
  • Hujan yang turun dengan waktu lama (sebelum kejadian) sehingga meningkatkan potensi tanah untuk bergerak.
  • 6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Curah hujan yang tinggi serta adanya celah dan retakan pada gawir, mengakibatkan air permukaan (run off) terakumulasi dan masuk ke dalam tanah/batuan melalui retakan-rekahan dan menerus hingga tertahan pada bidang batas antara batuan keras dan tanah pelapukan dan bidang retakan, menyebabkan batuan menjadi lapuk dan tanah/batuan lapuk menjadi jenuh air, sehingga bobot masanya bertambah dan kuat gesernya berkurang, sehingga terjadi nendatan dan retakan yang mengancam rumah-rumah penduduk di bawahnya. Gerakan tanah masih dapat terjadi lagi pada setiap musim hujan, sehingga daerah ini sangat berpotensi terjadi gerakan tanah.

7. Kesimpulan

  1. Jenis gerakan tanah berupa nendatan yang disertai dengan retakan yang terjadi pada blok batuan dan tanah pelapukan
  2. Daerah ini masih berpotensi terjadi longsor terutama pada musim hujan
  3. Penyebab dari bencana gerakan tanah, antara lain : sifat fisik batuan tufa yang retak-retak dan sarang (air mudah masuk ke dalam batuan);  adanya gawir terjal dengan kemiringan lebih dari 600 (bekas longsoran lama) dan dipicu hujan yang turun dengan waktu lama (sebelum kejadian) sehingga meningkatkan potensi tanah untuk bergerak.
  4. Batuan berkekar (pecah-pecah) sehingga air hujan masuk dan melicinkan lapisan sehingga berfungsi sebagai bidang lincir
8. Rekomendasi Teknis
  • Meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di lokasi gerakan tanah dan sekitarnya, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Apabila terjadi hujan deras (gejala hujan deras), masyarakat disarankan untuk mengungsi ke lokasi aman (terutama malam hari)
  • Daerah ini tidak layak untuk pemukiman
  • Relokasi rumah-rumah yang rusak dan terancam ke lokasi yang aman
  • Menghijaukan daeran bencana dan sekitarnya dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam (berfungsi menahan lereng)
  • Mengatur air permukaan agar tidak meresap ke dalam tanah maupun rekahan, agar tidak menjenuhi tanah pada lereng.
  • Menutup retakan dengan tanah liat yang dipadatkan
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai  upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

Lokasi – 2 ( Dusun Semilir, Desa Terbah, Kecamatan Patuk ) 

1.  Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah 

Gerakan tanah terjadi di Dusun Semilir, Desa Terbah, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografi terletak pada koordinat : 07° 49’ 49,9” LS dan 110° 32’ 58,8” BT, berada pada ketinggian + 421 m di atas permukaan laut (dpl). Bencana gerakan tanah di daerah ini terjadi pada : hari Selasa tanggal  28 November 2017

 

2. Jenis Gerakan Tanah 

Gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan yang terjadi pada tebing (gawir) terjal dengan kemiringan 400. Longsoran bahan rombakan ini terjadi pada 2 (dua) lokasi lereng bagian atas dan lereng bagian tengah. Longsoran pada lereng bagian atas berukuran panjang : 18 m, lebar 12 m, tinggi 2 – 4 m dengan arah N 3020 E. Longsoran pada lereng bagian bawah berukuran panjang : 62 m, lebar 16 - 35 m, tinggi 0,6 – 2,5 m dengan arah N 3380 E.

 

3.  Dampak Gerakan Tanah 

Bencana gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • lahan sawah dan pekarangan seluas sekitar 1,0 Ha rusak
  • jalan aspal sepanjang ±  30 m tertimbun material longsoran, menyebabkan kemacetan lalu lintas

 

4.  Kondisi Daerah Bencana

a.  Morfologi

Secara umum daerah bencana merupakan lereng timur perbukitan bergelombang lemah - sedang dengan kemiringan lereng agak terjal hingga terjal dengan kemiringan lereng antara 15 – 400 berketinggian antara  412 m – 426 m di atas permukaan laut (dpl)

Secara umum daerah ini merupakan lereng dari punggungan memanjang dimana bagian atasnya merupakan dataran sempit memanjang.

b. Kondisi geologi

Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi bencana, batuan dasar daerah bencana adalah perselingan antara tuf, pasir dan serpih dengan tanah lapukan berupa lempung pasiran, agak gembur, sarang dengan,  ketebalan lebih dari 3 meter.

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta, Jawa, Wartono Rahardjo,dkk. Puslitbang Geologi, 1995), daerah bencana disusun oleh Formasi Semilir (Tms) yang terdiri dari : tuf, breksi batu apung dasitan, batu pasir dan serpih.

Struktur geologi berupa patahan (sesar) maupun lipatan (fold) tidak dijumpai di daerah ini.

c. Tata guna lahan

 Tata lahan pada lereng bagian atas berupa kebun campuran dengan tanaman keras agak jarang; pada bagian tengah berupa sawah, kebun campuran dan rumah penduduk;  sedangkan pada lereng bagian bawah berupa sawah dan terdapat jalan aspal.

d. Keairan

Keairan pada lokasi bencana berupa aliran permukaan dari air hujan daan air sawah yang mengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah/batuan (pada musim hujan), sedangkan untuk keperluan sehari-hari adalah air yang berasal dari sumur gali dengan kedalaman sekitar 1 – 2 meter (pada lereng bagian bawah).

e. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Kejadian Gerakan Tanah di Kabupaten Gunung Kidul pada Bulan Desember 2017  (PVMBG), Kecamatan Patuk terletak pada zona kerentanan gerakan tanah Menengah, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan yang tinggi dan erosi kuat. Daerah bencana dan sekitarnya merupakan daerah yang berpotensi terjadi gerakan tanah apabila lereng diganggu (pemotongan lereng) atau dipicu oleh curah hujan tinggi dalam waktu lama.

 

5.  Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

  • Sifat fisik tanah pelapukan yang lunak, sarang dan tebal (> 3 m), serta batuan tufa lapuk yang retak-retak dan sarang (air mudah masuk ke dalam batuan)
  • Adanya gawir terjal dengan kemiringan lebih dari 600 (bekas longsoran lama)
  • Adanya air permukaan yang mudah meresap ke dalam tanah dan retakan pada batuan tufa
  • Adanya lahan sawah yang menyebabkan tanah jenuh air dan mudah bergerak
  • Hujan yang turun dengan waktu lama (sebelum kejadian) sehingga meningkatkan potensi tanah untuk bergerak.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Curah hujan yang tinggi serta adanya lahan sawah, menyebabkan air permukaan tersebut mengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah melalui ruang antar butir dan retakan-rekahan dan menerus hingga tertahan pada bidang batas antara batuan keras dan tanah pelapukan, menyebabkan batuan menjadi lapuk (retakan) dan tanah menjadi jenuh air, sehingga bobot masa tanah bertambah dan kuat gesernya berkurang. Adanya bidang gelincir yang terjadi pada batas antara batuan keras dan tanah pelapukan serta kemiringan lereng yang terjal, maka tanah menjadi tidak stabil dan bergerak turun menjadi longsoran bahan rombakan. Longsoran pada bagian atas merusakan lahan sawah dan kebun campuran, sedangkan di bagian bawah menutup jalan aspal sepanjang 30 meter dan lahan kebun dan sawah seluas sekitar 0,7 Ha.

Daerah ini dan sekitarnya masih berpotensi terhadap bencana gerakan tanah terutama pada musim hujan.

 

7.  Kesimpulan

  1. Jenis gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan (terjadi pada lereng bagian atas dan bagian tengah) yang terjadi pada tanah pelapuka
  2. Daerah ini masih berpotensi terjadi longsor terutama pada musim hujan
  3. Penyebab dari bencana gerakan tanah, antara lain : sifat fisik tanah pelapukan yang tebal (> 3 m), sarang dan jenuh air (lunak); adanya bidang lincir antara tanah pelapukan dan batuan keras di bawahnya, adanya gawir terjal dengan kemiringan lebih dari 400 (bekas longsoran lama) dan dipicu hujan yang turun dengan waktu lama (sebelum kejadian) sehingga meningkatkan potensi tanah untuk bergerak.

 

8. Rekomendasi Teknis

  • Meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di lokasi gerakan tanah dan sekitarnya, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Apabila terjadi hujan deras (gejala hujan deras), masyarakat disarankan untuk mengungsi ke lokasi aman (terutama malam hari)
  • Daerah ini dan sekitarnya masih berpotensi untuk bergerak, terutama pada saat hujan deras dalam waktu lama atau sesudahnya
  • Mengeringkan lahan sawah dan diganti dengan tanaman perkebunan (lahan kering) dan diselingi dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam yang berfungsi menahan lereng.
  • Membersihkan material longsoran pada jalan dan membuang material pada lokasi yang aman.
  • Tidak melakukan penggalian dan penebangan pohon pada lereng (terutama pada lereng bagian atas dan tengah)
  • Menghijaukan daeran bencana dan sekitarnya dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam (berfungsi menahan lereng)
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

B.  Lokasi : Dusun Gupit, Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari

Lokasi – 1 (Dusun Gupit RT.01/RW.01, Desa Tegalrejo )

1.  Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah 

Gerakan tanah terjadi di Dusun Gupit RT.01/RW.01 (alur Kali Bedali), Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografi terletak pada koordinat : 07° 49’ 37,5” LS dan 110° 38’ 07,6” BT, berada pada ketinggian + 495 m sampai + 543 m di atas permukaan laut (dpl). Bencana gerakan tanah di daerah ini terjadi pada : hari Selasa tanggal  28 November 2017 pada saat terjadi hujan lebat dalam waktu lama.

 

2. Jenis Gerakan Tanah 

Gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan yang terjadi pada tebing (gawir) terjal Bukit Nglinduk dengan kemiringan 400 dan berkembang menjadi aliran bahan rombakan (melalui alur sungai Gedali). Aliran bahan rombakan ini terjadi pada aliran anak sungai (S. Gedali) yang menggerus sisi kanan kiri tebing sungai mengalir ke arah hilir merusakkan jembatan dan menimbun dan merusak lahan sawah seluas sekitar 2 (dua) Ha. Longsoran bahan rombakan terjadi di bagian hulu sungai berukuran : panjang 14 m, lebar 10 – 23 m dan tinggi gawir  1,5 – 2,5 m dengan arah N 110 E , sedangkan aliran bahan rombakanya berukuran : panjang 122 m, lebar 25 – 52 m, dengan arah N 190 E

 

3.  Dampak Gerakan Tanah 

Bencana gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • 4 (empat) rumah terancam
  • 1 (satu) Ha lahan sawah dan 1 (satu) Ha pekarangan rusak tertimbun material longsoran
  • 1 jembatan kecil rusak terseret longsoran
  • jalan desa sepanjang ± 100 m tertimbun dan tergerus material longsoran

 

4.  Kondisi Daerah Bencana

a.  Morfologi

Secara umum daerah bencana merupakan lereng timur perbukitan bergelombang lemah - sedang dengan kemiringan lereng agak terjal hingga terjal dengan kemiringan lereng antara 15 – 400 . Pada lembahnya mengalir alur Kali Bedali yang merupakan anak sungai yang berair pada waktu hujan

Secara umum daerah ini merupakan lereng dari perbukitan bergelombang sedang dimana bagian atasnya merupakan dataran memanjang.

b. Kondisi geologi

Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi bencana, batuan dasar daerah bencana adalah perselingan antara tuf dan batu pasir tufa dengan tanah lapukan berupa lempung pasiran, agak gembur, sarang dengan,  ketebalan lebih dari 3 meter. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta, Jawa, (Wartono Rahardjo,dkk. Puslitbang Geologi, 1995), daerah bencana disusun oleh Formasi Semilir (Tms) yang terdiri dari : tuf, breksi batu apung dasitan, batu pasir dan serpih.

Struktur geologi berupa patahan (sesar) maupun lipatan (fold) tidak dijumpai di daerah ini.

c.  Tata guna lahan 

Tata lahan pada lereng bagian atas berupa kebun campuran dan belukar dengan tanaman keras agak jarang; pada bagian tengah berupa kebun campuran dan tegalan serta terdapat rumah-rumah penduduk;  sedangkan pada lereng bagian bawah berupa sawah dan terdapat jalan aspal serta jembatan kecil.

 

d. Keairan

Keairan pada lokasi bencana berupa aliran permukaan dari air hujan yang mengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah/batuan (pada musim hujan), sedangkan untuk keperluan sehari-hari adalah air yang berasal dari sumur gali dengan kedalaman sekitar 3 – 4 meter (sekitar rumah-rumah penduduk) dan air dari mata air yang disalurkan dengan pipa plastik.

e. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Kejadian Gerakan Tanah di Kabupaten Gunung Kidul pada Bulan Desember 2017  (PVMBG), Kecamatan Kendangsari terletak pada zona kerentanan gerakan tanah Menengah, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan yang tinggi dan erosi kuat. Daerah bencana dan sekitarnya merupakan daerah yang berpotensi terjadi gerakan tanah apabila lereng diganggu (pemotongan lereng) atau dipicu oleh curah hujan tinggi dalam waktu lama.

 

5.  Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

  • Sifat fisik tanah pelapukan yang tebal ( > 3,0 m), lunak dan sarang
  • Batuan tufa yang retak-retak dan mudah runtuh
  • Adanya gawir terjal dengan kemiringan lebih dari 600 (bekas longsoran lama)
  • Adanya akumulasi air yang cukup banyak, akibat pembendungan aliran alur sungai oleh material longsoran
  • Hujan yang turun dengan waktu lama (sebelum kejadian) sehingga menyebabkan akumulasi air bertambah dan pembendungan jebol dan menyebabkan terjadinya aliran bahan rombakan.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Curah hujan yang tinggi menyebabkan air permukaan tersebut mengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah melalui ruang antar butir dan retakan-rekahan dan menerus hingga tertahan pada bidang batas antara batuan keras dan tanah pelapukan, menyebabkan batuan menjadi lapuk (retakan) dan tanah menjadi jenuh air, sehingga bobot masa tanah bertambah dan kuat gesernya berkurang. Adanya bidang gelincir yang terjadi pada batas antara batuan keras dan tanah pelapukan serta kemiringan lereng yang terjal, maka tanah menjadi tidak stabil dan bergerak turun menjadi longsoran bahan rombakan. Material longsoran pada bagian atas menutup aliran alur sungai dan terjadilah akumulasi air yang cukup banyak. Adanya hujan deras yang terus menerus menyebabkan air genangan bertambah dan akumulasi air jebol sehingga terjadilah aliran bahan rombakan yang mengalir melalui alur anak sungai dan merusakan lahan sawah dan kebun campuran, sedangkan di bagian bawah menutup jalan aspal sepanjang 40 meter dan lahan kebun dan sawah seluas sekitar 0,7 Ha.

Gerakan tanah masih dapat terjadi lagi pada setiap musim hujan, sehingga daerah ini sangat berpotensi terjadi gerakan tanah.

 

7.  Kesimpulan

  1. Jenis gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan (terjadi pada lereng bagian atas dan bagian tengah) dan berkembang menjadi aliran bahan rombakan.
  2. Bencana ini disebabkan oleh adanya pembendungan aliran alur sungai pada lereng bagian atas dan jebol karena tidak kuat menahan volume air yang selalu bertambah.
    1. Daerah ini masih berpotensi terjadi longsor terutama pada musim hujan

8. Rekomendasi Teknis

  • Daerah ini dan sekitarnya masih berpotensi untuk bergerak, terutama pada saat hujan deras dalam waktu lama atau sesudahnya
  • Meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di lokasi gerakan tanah dan sekitarnya, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Apabila terjadi hujan deras (gejala hujan deras), masyarakat di daerah dan sekitar lokasi bencana diminta segera mengungsi ke lokasi aman (terutama malam hari)
  • Rumah-rumah di sekitar dan di bawah daerah bencana perlu direlokasi ke lokasi aman.
  • Melakukan normalisasi aliran sungai, agar aliran air dan material lancar
  • Mengganti jembatan yang rusak dengan jembatan pada dasar sungai (submersible bridge)
  • Tidak membuat bangunan di sekitar aliran sungai, kelokan sungai maupun pada hilir (muara) aliran sungai
  • Tidak melakukan penggalian atau penambangan pada lereng (terutama lereng bagian atas dan tengah)
  • Tidak melakukan penebangan pohon pada lereng (terutama pada lereng bagian atas dan tengah)
  • Menghijaukan daeran bencana dan sekitarnya dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam (berfungsi menahan lereng)
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

Lokasi – 2  ( Dusun Gupit RT 02/ RW 01, Desa Tegalrejo ) 

1.  Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah 

Gerakan tanah terjadi di Dusun Gupit RT 02/ RW 01, Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografi terletak pada koordinat : 07° 49’ 27,9” LS dan 110° 38’ 02,3” BT, berada pada ketinggian + 462 m sampai + 506 m di atas permukaan laut (dpl). Bencana gerakan tanah di daerah ini terjadi pada : hari Selasa tanggal  28 November 2017 pada saat terjadi hujan lebat dalam waktu lama.

 

2. Jenis Gerakan Tanah 

Gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan yang terjadi pada tebing (gawir) terjal perbukitan bergelombang lemah – sedang dengan kemiringan antara 17 sampai > 400 .  Gerakan tanah terjadi pada beberapa tempat berukuran panjang antara 8 – 20 m,  lebar antara 5 – 16 m, tinggi gawir antara 0,7 – 2,0 m,  Sedangkan di RT 04/RW 01 telah merusak 1 rumah dan beberapa rumah lainya terancam. Apabila terjadi hujan deras dalam waktu lama longsoran ini akan bergerak dan material longsoranya makin mendekati pemukiman di bawahnya.

 

3.  Dampak Gerakan Tanah 

Bencana gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • 1 (satu) rumah rusak tertimbun
  • 5 (lima) rumah terancam ( RT.02 / RW. 01 )
  • 0,6 Ha lahan pekarangan rusak tertimbun material longsoran

 

4.  Kondisi Daerah Bencana

a.  Morfologi

Secara umum daerah bencana merupakan lereng timur perbukitan bergelombang lemah - sedang dengan kemiringan lereng agak terjal hingga terjal dengan kemiringan lereng antara 15 – 400 berketinggian antara  500 m – 524 m di atas permukaan laut (dpl)

b. Kondisi geologi

Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi bencana, batuan dasar daerah bencana adalah perselingan antara tuf, batu pasir tufa dan serpih dengan tanah lapukan berupa lempung pasiran, agak gembur, sarang dengan,  ketebalan lebih dari 3 meter. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta, Jawa, (Wartono Rahardjo,dkk. Puslitbang Geologi, 1995), daerah bencana disusun oleh Formasi Semilir (Tms) yang terdiri dari : tuf, breksi batu apung dasitan, batu pasir dan serpih.

Struktur geologi berupa patahan (sesar) maupun lipatan (fold) tidak dijumpai di daerah ini.

c.  Tata guna lahan 

Tata lahan pada lereng bagian atas berupa kebun campuran dengan tanaman keras agak jarang; pada bagian tengah berupa kebun campuran, sawah dan setempat rumah penduduk; sedangkan pada lereng bagian bawah berupa kebun campuran, rumah-rumah dan jalan desa. Rumah yang rusak terletak pada lereng bagian tengah sedang yang terancam terletak pada lereng bagian bawah.

d. Keairan

Keairan pada lokasi bencana berupa aliran permukaan dari air hujan dan air sawah yang mengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah/batuan (pada musim hujan), sedangkan untuk keperluan sehari-hari adalah air yang berasal dari sumur gali dengan kedalaman sekitar 1 – 2 meter.

e. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Kejadian Gerakan Tanah di Kabupaten Gunung Kidul pada Bulan Desember 2017  (PVMBG), Kecamatan Gedangsari terletak pada zona kerentanan gerakan tanah Menengah, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan yang tinggi dan erosi kuat. Daerah bencana dan sekitarnya merupakan daerah yang berpotensi terjadi gerakan tanah apabila lereng diganggu (pemotongan lereng) atau dipicu oleh curah hujan tinggi dalam waktu lama.

 

5.  Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

  • Sifat fisik tanah pelapukan yang tebal ( > 3 m), lunak dan sarang
  • batuan tufa yang retak-retak dan mudah runtuh
  • Adanya gawir terjal dengan kemiringan lebih dari 600 (bekas longsoran lama)
  • Adanya bidang lincir antara tanah pelapukan dengan batuan (yang relative lebih kedap air)
  • Hujan yang turun dengan waktu lama (sebelum kejadian) sehingga meningkatkan potensi tanah untuk bergerak dan menyebabkan terjadinya aliran bahan rombakan.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Curah hujan yang tinggi serta adanya lahan sawah, menyebabkan air permukaan tersebut mengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah melalui ruang antar butir dan retakan-rekahan dan menerus hingga tertahan pada bidang batas antara batuan keras dan tanah pelapukan, menyebabkan batuan menjadi lapuk (retakan) dan tanah menjadi jenuh air, sehingga bobot masa tanah bertambah dan kuat gesernya berkurang. Adanya bidang gelincir yang terjadi pada batas antara batuan keras dan tanah pelapukan serta kemiringan lereng yang terjal, maka tanah menjadi tidak stabil dan bergerak turun menjadi longsoran bahan rombakan. Longsoran pada bagian atas merusakan lahan sawah dan kebun campuran, bagian tengah merusak lahan kebun campuran dan rumah penduduk, sedangkan di bagian bawah mengancam beberapa rumah penduduk dan lahan pekarangan.

Gerakan tanah masih dapat terjadi lagi pada setiap musim hujan, sehingga daerah ini sangat berpotensi terjadi gerakan tanah.

 

7.  Kesimpulan

  1. Jenis gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan (terjadi pada lereng bagian atas dan bagian tengah) yang terjadi pada tanah pelapukan
  2. Daerah ini masih berpotensi terjadi longsor terutama pada musim hujan
  3. Penyebab dari bencana gerakan tanah, antara lain : sifat fisik tanah pelapukan yang tebal (> 3 m), sarang dan jenuh air (lunak); adanya bidang lincir antara tanah pelapukan dan batuan keras di bawahnya, adanya gawir terjal dengan kemiringan lebih dari 400 (bekas longsoran lama) dan dipicu hujan yang turun dengan waktu lama (sebelum kejadian) sehingga meningkatkan potensi tanah untuk bergerak.

 

8. Rekomendasi Teknis

  • Daerah ini dan sekitarnya masih berpotensi untuk bergerak, terutama pada saat hujan deras dalam waktu lama atau sesudahnya
  • Meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di lokasi gerakan tanah dan sekitarnya, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Apabila terjadi hujan deras (gejala hujan deras), masyarakat di daerah dan sekitar lokasi bencana diminta segera mengungsi ke lokasi aman (terutama malam hari)
  • Rumah-rumah yang rusak dan terancam (dekat tebing/gawir) direlokasi ke lokasi aman.
  • Mengganti lahan sawah dengan tanaman keras, yang dapat berfungsi menahan lereng
  • Tidak membuat kolam atau penampungan air pada lereng bagian atas dan tengah.
  • Tidak melakukan penggalian atau penambangan pada lereng (terutama lereng bagian atas dan tengah)
  • Tidak melakukan penebangan pohon pada lereng (terutama pada lereng bagian atas dan tengah)
  • Menghijaukan daerah bencana dan sekitarnya dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam (berfungsi menahan lereng)
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

Lokasi – 3  ( Dusun Gupit RT. 04/ RW. 01, Desa Tegalrejo ) 

1.  Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah 

Gerakan tanah terjadi di Dusun Gupit RT 04/ RW 01, Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografi terletak pada koordinat : 07° 49’ 27,9” LS dan 110° 38’ 02,3” BT, berada pada ketinggian + 462 m sampai + 506 m di atas permukaan laut (dpl). Bencana gerakan tanah di daerah ini terjadi pada : hari Selasa tanggal  28 November 2017 pada saat terjadi hujan lebat dalam waktu lama.

 

2. Jenis Gerakan Tanah 

Gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan yang terjadi pada tebing (gawir) terjal perbukitan bergelombang lemah – sedang dengan kemiringan antara 17 sampai > 300.  Gerakan tanah terjadi pada lereng bagian atas dan bawah ( di atas dan di bawah rumah) berukuran panjang antara 8 – 15 m,  lebar antara 5 – 12 m, tinggi gawir antara 0,7 – 2,0 m,  Gerakan tanah ini telah merusak 1 rumah dan mengancam beberapa rumah lainya.  Apabila terjadi hujan deras dalam waktu lama, longsoran ini bisa berkembang dan mengancam pemukiman di bawahnya (di bawah jalan).

 

3.  Dampak Gerakan Tanah 

Bencana gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • 1 (satu) rumah rusak
  • 4 (empat) rumah terancam ( di bawah jalan )
  • 500 m2 lahan pekarangan rusak tertimbun material longsoran

 

4.  Kondisi Daerah Bencana

a.  Morfologi

Secara umum daerah bencana merupakan lereng timur perbukitan bergelombang lemah - sedang dengan kemiringan lereng agak terjal hingga terjal dengan kemiringan lereng antara 15 – 400 berketinggian antara  390 m – 410 m di atas permukaan laut (dpl). Tebing di belakang rumah (yang longsor) merupakan bekas pemotongan lereng dengan sudut > 300, sedangkan di depan rumah (yang longsor) merupakan tebing terjal dengan kemiringan > 350.

b. Kondisi geologi

Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi bencana, batuan dasar daerah bencana adalah perselingan antara tuf, batu pasir tufa dan serpih dengan tanah lapukan berupa lempung pasiran, agak gembur, sarang dengan,  ketebalan lebih dari 3 meter. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta, Jawa, (Wartono Rahardjo,dkk. Puslitbang Geologi, 1995), daerah bencana disusun oleh Formasi Semilir (Tms) yang terdiri dari : tuf, breksi batu apung dasitan, batu pasir dan serpih. Struktur geologi berupa patahan (sesar) maupun lipatan (fold) tidak dijumpai di daerah ini.

c.  Tata guna lahan 

Tata lahan pada lereng bagian atas berupa kebun campuran dengan tanaman dominan jati; pada bagian tengah berupa kebun campuran dengan tanaman keras jarang dan rumah penduduk; sedangkan pada lereng bagian bawah berupa kebun campuran, rumah-rumah dan jalan desa. Rumah yang rusak terletak pada lereng bagian tengah sedang yang terancam terletak pada lereng bagian bawah (bawah jalan).

d. Keairan

Keairan pada lokasi bencana berupa aliran permukaan dari air hujan  yang mengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah/batuan (pada musim hujan), sedangkan untuk keperluan sehari-hari adalah air yang berasal dari mata air sekitarnya yang diambil dengan selang plastik.

e. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Kejadian Gerakan Tanah di Kabupaten Gunung Kidul pada Bulan Desember 2017  (PVMBG), Kecamatan Gedangsari terletak pada zona kerentanan gerakan tanah Menengah, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan yang tinggi dan erosi kuat. Daerah bencana dan sekitarnya merupakan daerah yang berpotensi terjadi gerakan tanah apabila lereng diganggu (pemotongan lereng) atau dipicu oleh curah hujan tinggi dalam waktu lama.

 

5.  Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

  • Sifat fisik tanah pelapukan yang tebal ( > 2,5 m), lunak dan sarang
  • Batuan tufa yang retak-retak dan mudah runtuh
  • Adanya gawir terjal dengan kemiringan lebih dari 400 (bekas pemotongan lereng)
  • Adanya bidang lincir antara tanah pelapukan dengan batuan (yang relatif lebih kedap air) 
  • Hujan yang turun dengan waktu lama (sebelum kejadian) sehingga meningkatkan potensi tanah untuk bergerak dan menyebabkan terjadinya aliran bahan rombakan.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Curah hujan yang tinggi serta adanya lahan sawah, menyebabkan air permukaan tersebut mengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah melalui ruang antar butir dan retakan-rekahan dan menerus hingga tertahan pada bidang batas antara batuan keras dan tanah pelapukan, menyebabkan batuan menjadi lapuk (retakan) dan tanah menjadi jenuh air, sehingga bobot masa tanah bertambah dan kuat gesernya berkurang. Adanya bidang gelincir yang terjadi pada batas antara batuan keras dan tanah pelapukan serta kemiringan lereng yang terjal (pemotongan lereng), maka tanah menjadi tidak stabil dan bergerak turun menjadi longsoran bahan rombakan.

Gerakan tanah masih dapat terjadi lagi pada setiap musim hujan, sehingga daerah ini sangat berpotensi terjadi gerakan tanah.

 

7.  Kesimpulan

  1. Jenis gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan (terjadi pada lereng bagian atas dan bagian tengah) yang terjadi pada tanah pelapukan
    1. Daerah ini masih berpotensi terjadi longsor terutama pada musim hujan
    2. Penyebab dari bencana gerakan tanah, antara lain : sifat fisik tanah pelapukan yang tebal (> 2,5 m), sarang dan jenuh air (lunak); adanya bidang lincir antara tanah pelapukan dan batuan keras di bawahnya, adanya gawir terjal dengan kemiringan lebih dari 400 (bekas pemotongan lereng) dan dipicu hujan yang turun dengan waktu lama (sebelum kejadian) sehingga meningkatkan potensi tanah untuk bergerak.

 

8. Rekomendasi Teknis

  • Daerah ini dan sekitarnya masih berpotensi untuk bergerak, terutama pada saat hujan deras dalam waktu lama atau sesudahnya
  • Meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di lokasi gerakan tanah dan sekitarnya, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Apabila terjadi hujan deras (gejala hujan deras), masyarakat di daerah dan sekitar lokasi bencana diminta segera mengungsi ke lokasi aman (terutama malam hari)
  • Rumah-rumah yang rusak dan terancam (dekat tebing/gawir) direlokasi ke lokasi aman.
  • Tidak membuat kolam atau penampungan air pada lereng bagian atas dan tengah.
  • Tidak melakukan penggalian atau penambangan pada lereng (terutama lereng bagian atas dan tengah)
  • Tidak melakukan penebangan pohon pada lereng (terutama pada lereng bagian atas dan tengah)
  • Menghijaukan daerah bencana dan sekitarnya dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam (berfungsi menahan lereng)
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

 

gunung kidul

gunung kidul2

gunung kidul3

gunung kidul4

gunung kidul5

gunung kidul6

gunung kidul7

gunung kidul8

gunung kidul9

gunung kidul10

gunung kidul11

gunung kidul12

gunung kidul13

gunung kidul14

gunung kidul15

gunung kidul16

 

gunung kidul17

Foto - 1 : Nendatan yang terjadi di Dusun Semilir, Desa Terbah,

Kec. Patuk, Kab. Gunung Kidul

gunung kidul18

 

Foto - 2 : Retakan yang terjadi di Dusun Semilir, Desa Terbah,

Kec. Patuk, Kab. Gunung Kidul

 

gunung kidul19

Foto - 3 : Tebing curam yang mengalami nendatan dan mengancam pemukiman

di Dusun Semilir, Desa Terbah, Kec. Patuk, Kab. Gunung Kidul

 

gunung kidul20

 

 

Foto - 4 : Paritan pada bagian atas retakan yang menyebabkan air permukaan

masuk ke dalam tanah dan menjenuhkan tanah pada lereng

 

 

 

 

gunung kidul21

 

Foto - 5 : Kondisi longsoran bagian atas yang terjadi di Dusun Semilir,

Desa Terbah, Kec. Patuk, Kab. Gunung Kidul

 

gunung kidul34

Foto - 6 : Kondisi longsoran di Dusun Semilir,

Desa Terbah, Kec. Patuk, Kab. Gunung Kidul dimana materialnya

menumpuk di jalan dan menyebabkan kemacetan

 

 

 

gunung kidul22

 

Foto - 7 : Kondisi retakan yang terjadi pada tebing jalan dan mengancam

jalur jalan  di Dusun Semilir, Desa Terbah, Kec. Patuk, Kab. Gunung Kidul

 

 

gunung kidul23

 

Foto - 8 : Kondisi retakan yang terjadi pada tebing jalan dan mengancam

rumah-rumah di pinggir jalan  di Dusun Semilir, Desa Terbah,

Kec. Patuk, Kab. Gunung Kidul

 

 

gunung kidul24

Foto - 9 : Kondisi gerakan tanah jenis aliran bahan rombakan  yang terjadi

pada aliran alur sungai di Dusun Gupit RT.01/RW.01, Desa Tegalrejo,

Kecamatan Kendangsari, Kabupaten Gunung Kidul,

 

gunung kidul25

 

Foto - 10 : Kondisi gerakan tanah pada lereng bagian atas terjadi

pada aliran alur sungai di Dusun Gupit RT.01/RW.01, Desa Tegalrejo,

Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul,

 

 

gunung kidul26

 

Foto - 11 : Kondisi bekas pembendungan material gerakan tanah

yang jebol pada lereng bagian  aliran alur sungai di Dusun Gupit RT.01/RW.01,

Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul,

 

 

gunung kidul28

 

Foto – 13 : Kenampakan rumah yang terancam bencana gerakan tanah di

Dusun Gupit RT.01/RW.01, Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari,

Kabupaten Gunung Kidul,

gunung kidul29

Foto - 14 : Kondisi gerakan tanah jenis longsoran bahan rombakan

yang terjadi  di Dusun Gupit RT 02/ RW 01, Desa Tegalrejo,

Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul,

 

 

gunung kidul30

Foto - 15 : Kondisi rumah-rumah yang terancam akibat gerakan tanah

di Dusun Gupit RT 02/ RW 01, Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari,

Kabupaten Gunung Kidul,

 

 

gunung kidul31

Foto - 16 : Kondisi lahan sawah pada lereng bagian tengah  dan

rumah yang terancam gerakan tanah di Dusun Gupit RT 02/ RW 01,

Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul,

 

 

 

gunung kidul32

 

Foto - 17 : Kondisi rumah-rumah yang terancam akibat gerakan tanah

di Dusun Gupit RT 02/ RW 01, Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari,

Kabupaten Gunung Kidul,

 

gunung kidul33

 

Foto - 18 : Kondisi gerakan tanah jenis longsoran bahan rombakan

yang terjadi  di Dusun Gupit RT.04/RW.01, Desa Tegalrejo,

Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul,