Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Salem, Kab. Brebes Provinsi Jawa Tengah

Laporan singkat hasil pemeriksaan tim pasca bencana gerakan tanah di wilayah di Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah berdasarkan surat permintaan dari Bupati Brebes nomor 360/00012/2018, perihal Permohonan Survey Tanah Longsor/Gerakan Tanah sebagai berikut:

A. Lokasi Gerakan Tanah Desa Tembongraja

1 Lokasi Bencana Dan Waktu Kejadian

Gerakan tanah terjadi di Kampung Tegalgede RT 04 RW 02, Desa Tembongraja, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Gerakan tanah terjadi di 2 (dua) titik yaitu:

  • Lokasi permukiman 7° 08' 51,8” LS - 108° 46' 02,7” BT
  • Lokasi permukiman 7° 08' 51,7” LS - 108° 46' 03,5” BT

Gerakan tanah mulai terjadi sejak 17 Desember 2017 dan masih berlangsung pada saat pemeriksaan gerakan tanah. Gerakan tanah terjadi setelah turun hujan dengan intensitas tinggi beberapa hari sebelum kejadian.

 

2.   Kondisi Daerah Bencana

  • Morfologi, Secara umum morfologi lokasi bencana di Desa Tembongraja dan sekitarnya, merupakan perbukitan bergelombang agak curam hingga sangat curam, dengan kemiringan lereng antara 10° - 20° di sekitar permukiman, gerakan tanah pada lereng yang terjal dengan kemiringan > 45o. Ketinggian lokasi bencana berada di antara 450 - 500 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Majenang, Jawa (Kastowo dan Suwarna, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1996), batuan penyusun di daerah bencana berupa batupasir, batulempung, konglomerat dan napal (Formasi Kaliglagah, Tpg). Berdasarkan pengamatan lapangan, batuan berupa batu lempung tufaan dengan sisipan batupasir, tanah pelapukan berupa pasir lempungan berwarna coklat sampai coklat kemerahan dengan ketebalan di atas > 4 meter, kontak langsung dengan batulempung di bawahnya sebagai bidang gelincir.
  • Keairan, Penduduk umumnya memanfaatkan air tanah melalui sumur bor dengan rata-rata kedalaman 13 meter untuk keperluan sehari-hari. Pada bagian lembah bagian Selatan mengalir Kali Gunung dan di lembah bagian Utara  mengalir Sungai Cibinong.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan di lokasi bencana pada lereng atas berupa permukiman dan jalur jalan Kabupaten. Pada lereng bagian tengah sampai lereng bagian bawah berupa kebun campuran dan pesawahan.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Brebes bulan Desember 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana di Kecamatan Salem termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah - Tinggi artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 

3.  Kondisi Gerakan Tanah dan Akibat yang Ditimbulkan

Gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan. Longsoran terjadi pada tebing setinggi 10 meter yang di atasnya ada permukiman serta pada tebing setinggi 15 meter yang menopang badan jalan Kabupaten. Lebar mahkota longsoran pada tebing permukiman berkisar 50 meter, dengan panjang berkisar dari 10 meter dengan arah gerakan ke Utara N 5° E. Rumah-rumah yang terancam pada saat pemeriksaan berjarak sekitar 1 – 3 meter dari tebing yang longsor. Lebar mahkota longsoran pada tebing jalan berkisar 30 meter, dengan panjang berkisar dari 15 meter dengan arah gerakan ke Utara N 20° E.

Dampak Gerakan Tanah:

  • 7 (tujuh) rumah terancam
  • 1 (satu) bangunan ricemill terancam
  • Bahu jalan kabupaten longsor
  • 3 (tiga) rumah rusak berat dan sudah direlokasi.

 

4.  Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah 

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Kemiringan lereng yang agak curam hingga sangat curam mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Tanah pelapukan yang tebal dan bersifat poros dan jenuh air.
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan yang bersifat lebih kedap dan berfungsi sebagai bidang gelincir (batulempung).
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air baik air hujan maupun air limbah rumah tangga terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor.
  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.

 

5.  Kesimpulan dan Rekomendasi

Kesimpulan: Daerah ini masih berpotensi untuk bergerak baik longsoran tipe cepat maupun longsoran tipe lambat berupa rayapan (nendatan, retakan, dan amblasan) terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama.

Rekomendasi:

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah di lokasi tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

  • Membuat bronjong/tembok penahan untuk tebing pada permukiman/jalan
  • Selalu meningkatkan kesiapsiagaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan. Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
  • Selalu memantau perkembangan retakan yang ada dan jika terjadi perkembangan yang cepat terutama di atas tebing yang sudah longsor, segera menjauh dari lokasi gerakan tanah dan melaporkannya kepada instansi yang berwenang untuk menyampaikan peringatan kepada penduduk yang beraktivitas di sekitar bencana, untuk antisipasi jika terjadi longsor susulan.
  • Retakan yang ada dan jika muncul retakan baru agar segera ditutup menggunakan tanah lempung/liat dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam area retakan. Hal ini untuk mencegah masuknya air melalui retakan tersebut dan mencegah terjadinya longsoran tipe cepat.
  • Pengarahan aliran air (air hujan, air limbah rumah tangga, dan mata air) menjauh dari retakan, langsung dari lereng bukit atas ke lereng bawah/ lembah/arah sungai.
  • Penataan drainase di sekitar permukiman terutama dan samping dan belakang rumah (yang menuju tebing longsor) dengan saluran yang kedap air, dengan ditembok atau pemipaan, untuk menghindari peresapan air secara cepat yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Jangka panjang: 7 rumah yang berada diatas tebing sebaiknya dipindahkan ketempat yang aman.
  • Pada jalur jalan Kabupaten:
    • Pengguna jalan harus waspada bila melalui jalur jalan yang longsor terutama pada saat dan setelah turun hujan.
    • Perkuatan lereng untuk jalan yang sudah longsor, untuk sementara dibuat cerucuk agar longsor tidak berkembang.
    • Guna meningkatkan kewaspadaan, aparat setempat hendaknya memasang rambu peringatan rawan longsor pada jalur jalan. Juga menyiapkan peralatan berat jika sewaktu-waktu terjadi longsor dapat digunakan untuk membersihkan material longsoran.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Melandaikan lereng (tebing jalan) secara berjenjang (terrasering).
  • Penataan saluran drainase permukaan sekitar jalur jalan dengan konstruksi yang kedap air supaya air tidak masuk ke area longsoran.
  • Membuat tembok penahan/bronjong pada tebing yang longsor baik di atas atau bawah badan jalan, pondasinya disarankan menembus batuan keras.
  • Penanaman pohon-pohon berakar kuat dan dalam, terutama pada lereng bagian atas.

 

B. Lokasi Gerakan Tanah Desa Wanoja

1. Lokasi Bencana Dan Waktu Kejadian

Gerakan tanah terjadi di Kampung Panawuan, Desa Wanoja, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Gerakan tanah terjadi pada tebing yang berada di atas permukiman dengan koordinat 7° 08' 51,8” LS - 108° 46' 02,7” BT. Gerakan tanah mulai terjadi sejak 17 Desember 2017 dan masih berlangsung pada saat pemeriksaan gerakan tanah. Gerakan tanah terjadi setelah turun hujan dengan intensitas tinggi beberapa hari sebelum kejadian.

 

2.   Kondisi Daerah Bencana

  • Morfologi, Secara umum morfologi lokasi bencana di Desa Wanoja dan sekitarnya, merupakan perbukitan bergelombang agak curam hingga sangat curam, dengan kemiringan lereng antara 10° - 25° di sekitar permukiman, gerakan tanah pada lereng yang terjal dengan kemiringan 20 - 45o. Ketinggian lokasi bencana berada di antara 460 - 500 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Majenang, Jawa (Kastowo dan Suwarna, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1996), batuan penyusun di daerah bencana berupa batulempung, napal sisipan batupasir (Formasi Kalibiuk, Tpb). Berdasarkan pengamatan lapangan, batuan berupa batu lempung tufaan dengan sisipan batupasir, tanah pelapukan berupa pasir lempungan berwarna coklat dengan ketebalan di atas > 4 meter, yang kontak langsung dengan batulempung di bawahnya sebagai bidang gelincir.
  • Keairan, Penduduk umumnya memanfaatkan mata air dari Hutan Cimangli yang disalurkan melalui pipa-pipa dan air tanah melalui sumur dengan rata-rata kedalaman 7 meter untuk keperluan sehari-hari. Pada bagian lembah bagian Selatan mengalir Sungai Cigarukgak dan di lembah bagian Utara  mengalir Sungai Cibinong.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan di lokasi bencana pada lereng atas berupa permukiman dan jalur jalan desa. Pada lereng bagian tengah yang longsor berupa kebun campuran dan permukiman, serta lereng bagian bawah berupa permukiman dan pesawahan.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Brebes bulan Desember 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana di Kecamatan Salem termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah - Tinggi artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 

3.  Kondisi Gerakan Tanah dan Akibat yang Ditimbulkan

Gerakan tanah berupa tipe longsoran cepat yaitu longsoran bahan rombakan dan retakan (tipe longsoran lambat). Longsoran terjadi pada tebing setinggi 30 meter yang di atas dan di bawahnya ada permukiman. Lebar mahkota longsoran pada tebing permukiman berkisar 20 meter, dengan panjang berkisar dari 15 meter dengan arah gerakan ke Utara N 10° E. Pada tebing yang sama terdapat retakan-retakan tanah yang berpotensi turun menjadi tipe longsoran cepat dan menimpa permukiman di bawahnya.

Dampak Gerakan Tanah:

  • 10 (sepuluh) rumah yang berada di bawah tebing terancam longsoran cepat.

 

4.  Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah 

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Tanah pelapukan yang tebal dan bersifat poros dan jenuh air.
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan yang bersifat lebih kedap dan berfungsi sebagai bidang gelincir (batulempung).
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air baik air hujan maupun air limbah rumah tangga terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor.
  • Kemiringan lereng yang agak curam hingga sangat curam mengakibatkan tanah mudah bergerak.

 

5.  Kesimpulan dan Rekomendasi

Kesimpulan: Daerah ini masih berpotensi untuk bergerak baik longsoran tipe cepat maupun longsoran tipe lambat berupa rayapan (retakan, dan amblasan) terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama.

Rekomendasi:

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

  • Selalu meningkatkan kesiapsiagaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan. Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
  • Selalu memantau perkembangan retakan yang ada dan jika terjadi perkembangan yang cepat terutama di atas tebing yang sudah longsor, segera menjauh dari lokasi gerakan tanah dan melaporkannya kepada instansi yang berwenang untuk menyampaikan peringatan kepada penduduk yang beraktivitas di sekitar bencana, untuk antisipasi jika terjadi longsor susulan.
  • Retakan yang ada dan jika muncul retakan baru segera ditutup menggunakan tanah lempung/liat dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam area retakan. Hal ini untuk mencegah masuknya air melalui retakan tersebut dan mencegah terjadinya longsoran tipe cepat.
  • Disarankan agar memotong pohon-pohon bambu sepanjang lereng yang rentan gerakan tanah, karena pohon tersebut akan membebani lereng dan memicu longsoran terutama ketika turun hujan.
  • Pengarahan aliran air (air hujan, air limbah rumah tangga, dan mata air) menjauh dari retakan, langsung dari lereng bukit atas ke lereng bawah/ lembah/arah sungai.
  • Penataan drainase di sekitar permukiman dengan saluran yang kedap air, dengan ditembok atau pemipaan, untuk menghindari peresapan air secara cepat yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Daerah perbukitan bekas longsoran agar dilandaikan secara berjenjang dan ditanami kembali dengan tanaman/pohon-pohon, yang berakar kuat dan dalam untuk meningkatkan daya dukung tanah di daerah tersebut.
  • Tidak melakukan pengupasan lereng yang dapat mengakibatkan kestabilan lereng terganggu, jika terpaksa mengupas lereng maka harus memenuhi syarat teknis yang baik.
  • Jangka panjang: 10 rumah yang berada dibawah tebing sebaiknya dipindahkan  ketempat yang aman.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Salem 1 (010218)

Gambar 1. Peta Lokasi Bencana Gerakan Tanah di Desa Tembongraja dan Wanoja Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes

 

Salem 2 (010218)

Gambar 2. Peta geologi Desa Tembongraja dan Wanoja Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes.

 

Salem 3 (010218)

Gambar 3. Peta prakiraan terjadinya gerakan tanah bulan Januari 2018 di Desa Tembongraja dan Wanoja Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN BREBES, JAWA TENGAH

 BULAN JANUARI 2018

Salem 4 (010218)

Keterangan :

Salem 5 (010218)

 

Salem 6 (010218)

Gambar 4 Peta situasi gerakan tanah 1 Dusun Tegalgede, Desa Tembongraja, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah

 

Salem 7-1 (010218)

Gambar 5 Peta situasi gerakan tanah 2 Dusun Tegalgede, Desa Tembongraja, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah

 

Salem 7 (010218)

Gambar 6 Sayatan penampang AB Dusun Tegalgede, Desa Tembongraja, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah

 

Salem 8 (010218)

Gambar 7 Sayatan penampang CD Dusun Tegalgede, Desa Tembongraja, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah

 

Salem 9 (010218)

Gambar 8 Peta situasi gerakan tanah 2 Dusun Panawuan, Desa Wanoja, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah

 

Salem 10 (010218)

Gambar 9 Sayatan penampang CD Dusun Panawuan, Desa Wanoja, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah

 

Salem 11 (010218)

Foto 1 Koordinasi dengan BPBD Kab. Brebes, Jawa Tengah

 

Salem 12 (010218)

Foto 2 Kenampakan longsoran bahan rombakan degan arah N 5° E. Dan kemiringan lereng sekitar 45° di belakang rumah di Dusun Tegalgede, Desa Tembongraja, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah

 

Salem 13 (010218)

Foto 3 Kenampakan longsoran bahan rombakan di belakang rumah di Dusun Tegalgede, Desa Tembongraja, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah

 

Salem 14 (010218)

Foto 4 Pemeriksanaan lokasi gerakan tanah Dusun Tegalgede, Desa Tembongraja, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah bersama dengan BPBD dan aparat Kecamatan Salem.

 

Salem 15 (010218)

Foto 5 Saluran air yang tidak kedap sehingga air meresap kedalam retakan, dapat membuat tanah jenuh dengan air.

 

Salem 16 (010218)

Foto 6 dan 7 Retakan pada lantai dan dinding rumah

 

Salem 17 (010218)

Foto 8 Pemeriksanaan lokasi gerakan tanah di jalan Kabupaten antara Desa Wanoja dengan Desa Tembongraja, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah bersama dengan BPBD dan aparat Kecamatan Salem.

 

Salem 18 (010218)

Foto 9 Kenampakan longsora bahan rombakan pada tebing di belakang rumah di Dusun Panawuan, Desa Wanoja, Kec. Salem, Kab. Brebes, Jawa Tengah

 

Salem 19 (010218)

Foto 10 Pemeriksanaan lokasi gerakan tanah pada tebing di belakang rumah di Dusun Panawuan, Desa Wanoja, Kec. Salem, Kab. Brebes, Jawa Tengah

 

Salem 20 (010218)

Foto 10 . Kenampakan retakan pada tebing di belakang rumah di Dusun Panawuan, Desa Wanoja, Kec. Salem, Kab. Brebes, Jawa Tengah

Foto 11 Singkapan Batulempung sisipan batupasir termasuk kedalam Formasi Kalibiuk di Desa Wanoja, Kec. Salem, Kab. Brebes, Jawa Tengah.

 

Salem 21 (010218)

Foto 12 Penerbangan drone untuk melihat situasi gerakan tanah di Dusun Panawuan, Desa Wanoja, Kec. Salem, Kab. Brebes, Jawa Tengah