Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

Laporan  hasil  pemeriksaan  lapangan  Bencana Gerakan di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat berdasarkan surat permintaan dari BPBD Kab. Bogor tentang Permohonan Kajian Gerakan Tanah Yang Bernomor 5462.2/76-PK. Hasil pemeriksaan sebagai berikut:

I. Kp. Citalahap, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.
1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:
Gerakan tanah terjadi di Kampung Citalahap, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak pada koordinat :  6° 43' 48.9" LS dan 106° 32' 06.9" BT. Gerakan tanah terjadi pada bulan Oktober 2017. Namun pada saat pemeriksaan penduduk masih khawatir terhadap longsoran susulan.

 

2.  Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Secara umum daerah bencana di Kp. Talahab merupakan lereng perbukitan bergelombang kuat dengan kemiringan lereng 20 - 35°dan berada ketinggian 1000 – 1100 mdpl, yang terletak di lereng bagian barat G. Kendang dan berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun.
  • Geologi, Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi bencana, tanah pelapukan dengan ketebalan > 2m berupa pasir lempungan dan di bagian bawahnya merupakan batuan vulkanik berupa breksi andesit, lava dan tuf.
  • Keairan, Kondisi keairan di daerah bencana untuk keperluan sehari-hari menggunakan air dari mata air.
  • Tata guna lahan, Di Kp. Citalahap, Desa Malasari lereng bagian atas berupa semak belukar dan kebun campuran, sedangkan bagian bawah lereng berupa pemukiman.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bogor lokasi bencana terletak pada zona kerentanan gerakan tanah menengah dan tinggi. Sedangkan berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Bogor bulan November 2017 (PVMBG-Badan Geologi), lokasi bencana terletak pada daerah potensi gerakan tanah menegah - tinggi artinya pada lokasi ini berpotensi terjadi gerakan tanah. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

Jenis Gerakan tanah yang terjadi di Kampung Citalahap, Desa Malasari adalah longsoran (slide).  Arah longsoran relatif ke utara. Lebar mahkota longsoran 20 meter, panjang longsoran 30 m, dengan kelerengan 30° - 35°. Dampak bencana menyebabkan :

  • 2 (dua) rumah hancur
  • 1 (satu) rumah terancam dan minta direlokasi
  • Mengancam jalan desa

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Kemiringan lereng yang terjal (>30°)
  • Sifat tanah pelapukan berupa yang sarang dan mudah luruh jika terkena air.
  • Banyaknya air permukaan yang meresap ke dalam tanah melalui pori tanah yang meningkatkan beban pada lereng, sehingga membuat lereng menjadi tidak stabil dan terjadilah rekahan, amblasan dan rayapan.
  • Kurangnya tanaman yang berakar kuat dan dalam
  • Sistem drainase yang kurang baik, aliran air masuk ke dalam retakan dan longsoran
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Curah hujan yang tinggi serta saluran drainase yang kurang baik di bagian atas mahkota longsoran dan kelerengan terjal menyebabkan air hujan masuk ke dalam tanah melalui retakan sehingga jenuh air. Akibatnya bobot masanya tanah bertambah dan kuat gesernya menurun, sehingga tanah tidak stabil (mudah bergerak). Tanah pelapukan yang menumpang pada breksi lava andesit dengan kemiringan terjal tersebut menyebabkan terjadinya gerakan tanah.

 

6. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan di Kampung Citalahap, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, pada saat ini masih berpotensi terjadi longsoran susulan walaupun kecil (karena longsor sudah mengenai Bedrock/Batuan Dasar), material longsor dan batu lepas masih ada di bagian atas sehingga jika hujan lebat berpotensi turun meskipun dalam jumlah yang tidak banyak, maka untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan, maka direkomendasikan:

  • 2 (dua) Rumah hancur dan 1 (satu) rumah terancam agar direlokasi ke tempat yang lebih aman.
  • Pembuatan bronjong/tembok penahan pada tebing di atas pemukiman dengan saluran pengering dan pondasi sampai batuan keras
  • Masyarakat harus tetap meningkatkan kewaspadaan terutama jika muncul rembesan atau aliran lumpur pada bagian atas lereng sebaiknya mengungsi atau dievakuasi secepatnya.
  • Masyarakat agar memantau jika muncul retakan baru, segera ditutup agar air tidak masuk ke retakan tersebut dan jika retakan bertambah lebar dan muncul rembesan segera mengungsi dan melaporkan ke Pemerintah Daerah.
  • Tidak membuat kolam dan sawah pada daerah retakan karena akan mempercepat terjadinya gerakan tanah.
  • Masyarakat yang tinggal di bawah tebing sebaiknya meningkatkan kesiapsiagaan pada saat dan setelah turun hujan karena potensi pergerakan tanah masih ada.
  • Membuat/memperbaiki saluran air atau saluran drainase mengingat saluran yang ada di tepi jalan di atas pemukiman sangat buruk sehingga air permukaan dapat kembali masuk ke daerah/sekitar longsoran.
  • Tata guna lahan di atas dan di bawah jalan desa yang terkena longsor diubah menjadi tanaman keras yang berakar kuat dan dalam dan Tidak melakukan pemotongan lereng yang terlalu terjal.

II. Kp. Garung, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.
1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah juga terjadi di Kampung Garung, Desa Malasari, Kec Nanggung, Kabupaten Bogor, Secara geografis lokasi ini terletak pada koordinat  6° 43' 24.2" LS dan 106° 32' 33.0" BT. Berdasarkan informasi dari warga setempat gerakan tanah tipe nendatan dan rayapan ini pertama kali terjadi pada bulan Januari 2014, masyarakat merasa khawatir dikarenakan retakan dan amblasan masih berkembang sampai pada saat pemeriksaan.

 

2.  Kondisi daerah bencana :
 

  • Morfologi, Secara umum daerah bencana di Kp. Garung merupakan lereng perbukitan bergelombang kuat dengan kemiringan lereng 12 - 30°dan berada ketinggian 900 – 1000 mdpl, yang terletak di lereng bagian barat G. Kendang dan berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun.
  • Geologi, Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi bencana Tanah pelapukan dengan ketebalan > 2m berupa pasir lempungan dan di bagian bawahnya merupakan batuan vulkanik berupa breksi andesit, lava dan tuf.
  • Keairan, Kondisi keairan di daerah bencana untuk keperluan sehari-hari menggunanakan air dari mata air.
  • Tata guna lahan, Di Kp. Garung, Desa Malasari tataguna lahan bagian atas merupakan hutan, di bagian tengah lereng merupakan ladang, kebun dan pemukiman serta daerah pesawahan yang berada di lereng bagian bawahnya.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bogor lokasi bencana terletak pada zona kerentanan gerakan tanah menengah dan tinggi. Sedangkan berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Bogor bulan November 2017 (PVMBG-Badan Geologi), lokasi bencana terletak pada daerah potensi gerakan tanah menegah - tinggi artinya pada lokasi ini berpotensi terjadi gerakan tanah. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

Jenis gerakan tanah secara umum adalah gerakan tanah tipe lambat berupa nendatan dan retakan. Arah gerakan tanah di Kp. Garung adalah N 127°E yang memiliki arah pergerakan relatif utara searah dengan kelerengan bukit , lebar retakan 5 – 10 cm, panjang retakan ± 50 meter, dengan kelerengan 30°.  Pada bagian barat daya pemukiman terdapat amblesan yang berarah N 198°E dengan tinggi amblesan 1, 92 m. Di bagian tengah pemukiman juga terdapat retakan dengan arah retakan utara – selatan.

Dampak bencana menyebabkan :

  • 1 (satu) rumah retak retak
  • Jalan desa terancam putus
  • 35 KK terancam longsoran dan minta direlokasi

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Kemiringan lereng yang terjal (>30°)
  • Sifat tanah pelapukan yang sarang dan mudah luruh jika terkena air.
  • Banyaknya air permukaan yang meresap ke dalam tanah melalui pori tanah yang meningkatkan beban pada lereng, sehingga membuat lereng menjadi tidak stabil dan terjadilah rekahan, amblasan dan rayapan.
  • Kurangnya tanaman yang berakar kuat dan dalam
  • Tata guna lahan berupa persawahan di bagian tengah dan bawah lereng
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Curah hujan yang tinggi serta saluran drainase yang kurang baik dan kelerengan terjal menyebabkan air hujan masuk ke dalam tanah melalui retakan sehingga  jenuh air. Akibatnya bobot masanya tanah bertambah dan kuat gesernya menurun, sehingga tanah tidak stabil (mudah bergerak). Tanah pelapukan yang tebal yang menumpang pada lava andesit dengan kemiringan terjal tersebut menyebabkan terjadinya gerakan tanah. Pada saat ini gerakan tanah berupa rayapan, namun karena kemiringan lereng yang terjal jika dipicu curah hujan yang tinggi secara terus menerus memungkinkan terjadi perubahan gerakan tanah dari tipe lambat (rayapan) menjadi tipe cepat (longsoran).

 

6. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan di Kampung Garung, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, maka Pemukiman di Kp. Garung yang terkena longsor sebaiknya direlokasi ke tempat yang aman, hal ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Daerah yang akan merelokasi tempat tersebut, namun sebelum dilaksanakan relokasi, maka direkomendasikan sebagai berikut:

  • Masyarakat yang berada/tinggal di lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama.
  • Pembersihan material longsoran yang menutup jalan, dalam pelaksanaan pembersihan agar hati-hati dan tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan dan batuan lepas
  • Jika muncul retakan segera menutup retakan dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air hujan tidak masuk/meresap dan menjenuhi tanah pada lereng.
  • Menanami lereng bagian atas dan tengah dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam (tanaman tahunan) yang akarnya dapat mengikat tanah pada lereng.
  • Melakukan penataan air permukaan secara keseluruhan di wilayah ini dengan saluran kedap air dan air dibuang (dialirkan) menjauhi lereng.
  • Pemantauan terhadap gerakan tanah di Kp. Garung harus terus menerus dilakukan, jika gerakan tanah terus berkembang, maka seluruh rumah yang terancam harus direlokasi ke tempat yang aman dari ancaman bencana gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Malasari 1 (110118)

Gambar 1. Peta petunjuk lokasi gerakan tanah di Kp. Citalahap dan Kp. Garung, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

 

Malasari 2 (110118)

Gambar 2 Peta Geologi Regional Kp. Citalahap dan Kp. Garung Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

 

Malasari 3 (110118)

Gambar 3 Peta Prakiraan Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Kabupaten Bogor di Bulan November 201


TABEL WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

KABUPATEN BOGOR, PROVINSI JAWA BARAT

 BULAN NOVEMBER 2017

Malasari 4 (110118)

Keterangan : 

Malasari 5 (110118)
Malasari 6 (110118)
Gambar 4 Peta situasi gerakan tanah di Kp Citalahap, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kab. Bogor
Malasari 7 (110118)
Gambar 5 penampang situasi gerakan tanah di Kp Citalahap, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kab. Bogor
Malasari 8 (110118)
Gambar 6 Peta situasi gerakan tanah di Kp Garung, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kab. Bogor
Malasari 9 (110118)
Gambar 7 penampang situasi gerakan tanah di Kp Garung, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kab. Bogor
Malasari 10 (110118)
Foto 1. Longsoran yang menghancurkan 2 rumah penduduk dan juga sebagian jalan utama di Kp. Citalahap dan mengancam 1 rumah di bagian bawah longsoran.
Malasari 11 (110118)
Foto 2. Lereng bagian bawah bidang longsoran yang dapt mengancam 1 rumah penduduk di bagian bawahnya
Malasari 12 (110118)
Foto 3. Rumah terancam yang akan direlokasi berada ± 15 meter dari tebing longsoran
Malasari 13 (110118)

Foto 4. Retakan tanah di lereng bagian atas pemukiman yang terdapat di jalan beton Kp. Garung

 

Malasari 14 (110118)

Foto 5. Amblesan tanah setinggi 1, 92 m yang terdapat di barat daya pemukiman yang berjarak ± 45 meter dari pemukiman

 

Malasari 15 (110118)

Foto 6. Retakan yang terdapat di bawah retakan yang pertama didaerah pemukiman Kp. Garung

 

Malasari 16 (110118)

Foto 7. Retakan yang terdapat di dalam pemukiman warga di Kp. Garung

 

Malasari 17 (110118)

Foto 8. Morfologi di kampung garung yang merupakan perbukitan bergelombang sedang – curam dengan tata guna lahan sawah di lereng bagian bawahnya