Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Naringgul Dan Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat

Laporan  singkat  hasil  pemeriksaan  lapangan Tim Pemeriksaan Gerakan Tanah di Kecamatan Naringgul dan Leles,    Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat,  berdasarkan  permintaan  dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kab. Cianjur, dengan Surat Nomor:   362/393/BPBD/2017, tanggal 16 Oktober 2017, perihal: Permohonan Penelitian/Kaji Cepat, sebagai berikut:

A. KECAMATAN NARINGGUL

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Lokasi gerakan tanah di desa ini berada pada Kampung Cibojong, RT 01/RW 06, Desa Mekarsari, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Secara geografis lokasi tersebut berada pada  107°20' 56,6" BT dan 07° 25' 52,1" LS. Gerakan tanah terjadi pada tanggal 11 Oktober 2017 pukul 00.00 WIB, setelah hujan deras dan lama.

 2. Dampak Gerakan Tanah :

•     1 rumah rusak berat

•     12 rumah terancam

3. Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi :

Secara umum lokasi ini berada pada lereng lembah Sungai Cidaun. Kemiringan lereng sebesar 30°.

  • Geologi :

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa (Koesmono, P3G, 1996) batuan penyusun daerah merupakan anggota dari Formasi Jampang (Tomj) yang terdiri dari breksi andesit yang tersemenkan baik.

Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi, daerah bencana tersusun atas tanah pelapukan berupa lempung pasiran, coklat tua, plastisitas sedang, permeabilitas tinggi, gembur dan mudah menyerap air. Di bawah tanah pelapukan terdapat lapisan breksi dengan pelapukan sedang-tinggi.

  • Tata Guna Lahan :

Tataguna lahan pada lokasi tersebut berupa kebun campuran dan jalan desa pada lereng bagian atas dan kebun campuran dan jalan pada lereng bagian bawah..

  • Keairan :

Air cukup melimpah di daerah bencana. Terdapat mata air di sawah berjarak sekitar 100 meter dari lokasi gerakan tanah.

  • Kerentanan Gerakan Tanah :

Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Oktober 2017 di Kabupaten Cianjur (Badan Geologi), daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah – tinggi, artinya daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 4. Kondisi Gerakan Tanah :

 Jenis gerakan tan ah yang terjadi di lokasi ini berupa longsoran bahan rombakan dengan arah longsoran relatif ke arah baratdaya. Mahkota longsor memiliki lebar 6 meter, tinggi 10 meter dan panjang landaan 50 meter. Pada bagian tepi tubuh longsoran  terdapat retakan dengan lebar 5-10cm.

 5. Faktor penyebab gerakan tanah:

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah pada kedua lokasi tersebut adalah:

  • Lereng bukit yang curam;
    • Sifat tanah pelapukan yang sarang dan mudah luruh jika terkena air;
    • Buruknya sistem drainase mengakibatkan banyaknya air permukaan (air hujan) yang meresap ke dalam tanah melalui pori tanah dan retakan akan meningkatkan beban pada lereng, sehingga membuat lereng menjadi tidak stabil;
    • Perubahan tata guna lahan dari tanaman berakar dalam menjadi kebun campuran, lahan persawahan dan pemukiman di sekitar lokasi bencana;
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama yang turun sebelum gerakan tanah terjadi semakin memicu terjadinya gerakan tanah.
6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah:

Gerakan tanah pada lokasi ini terjadi pada lokasi yang disusun oleh batuan yang lapuk dan tanah pelapukan bersifat sarang, yang mudah menyerap air. Air permukaan yang mengalir dan meresap ke tanah mengakibatkan tanah pelapukan di bagian bawah jenuh air dan mudah luruh. Curah hujan yang tinggi dan aliran air permukaan meresap dan menjenuhi tanah pelapukan bagian atas, sehingga terjadi penjenuhan dan peningkatan bobot massa tanah bagian atas. Kondisi ini menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan air pori dan berkurangnya daya ikat tanah. Lereng bukit yang curam dan kondisi tanah bagian bawah yang sudah tidak stabil menyebabkan tanah bagian atas mudah bergerak dengan cepat.

 7. Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan bahwa:

Daerah bencana di Kampung Cibojong, RT 01/RW 06, Desa Mekarsari, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah – tinggi. Gerakan tanah tersebut disebabkan oleh karena tanah pelapukan yang bersifat sarang dan mudah luruh saat jenuh air dan kelerengan daerah bencana yang terjal. Gerakan tanah tersebut dipicu oleh adanya hujan yang deras dan lama sebelum terjadinya longsor serta perubahan tata guna lahan menjadi jalan desa, kebun campuran dan pemukiman, sehingga banyak lahan yang terbuka pada atas bukit dan banyak bagian lereng yang terpotong.

Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut :

  • Masyarakat sekitar diharapkan waspada terutama saat dan setelah turun hujan karena masih berpotensi terjadi longsor susulan;
  • Pembersihan material longsoran pada rumah yang terkena longsor ;
  • Penataan dan pengendalian air permukaan dengan membuat permanen irigasi diatas lereng dan pembuatan saluran drainase di sepanjang jalan desa;
  • Perlu ditanam pohon yang kuat untuk menahan lereng pada lereng yang sedikit vegetasi diatas rumah yang terkena longsor;
  • Perlu kontrol di lereng bagian atas maupun bawah, pada saat musim hujan jika retakan semakin bertambah lebar atau ada tanda tanda retakan tanah, segera diisi dengan tanah liat dan dipadatkan, jika masih terjadi retakan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang;
  • Rumah rusak dan terancam, terutama 3 rumah yang berjarak paling dekat dengan tubuh longsoran sebaiknya direlokasi ke tempat yang lebih aman;
  • Lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah susulan, sehingga perlu sosialisasi dan kewaspadaan bagi masyarakat di sekitar lokasi bencana

 B. KECAMATAN LELES

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Lokasi gerakan tanah di desa ini berada pada Desa Sukasirna, Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Gerakan tanah terjadi pada 3 dusun di desa ini, yaitu:

  1. Dusun Cisarua, secara geografis lokasi tersebut berada pada  107°01'19,2" BT dan 07°22'18,8" LS.
  2. Dusun Cinangka RT 07/RW 03, secara geografis lokasi tersebut berada pada  107°01'10,3" BT dan 07°22'16,9" LS.
  3. Dusun Mekarjaya, secara geografis lokasi tersebut berada pada  107°02'15,8" BT dan 07°21'25,1" LS.

 2. Dampak Gerakan Tanah :

  1. Dusun Cisarua : 10 rumah terancam pada longsoran di bagian atas bukit dan 19 rumah terancam pada retakan dan amblasan di dekat Sungai Ci Tiis.
  2. Dusun Cinangka : 10 rumah terancam
  3. Dusun Mekarjaya : 2 rumah rumah, 2 rumah dan 1 masjid terancam.

 3. Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi :

Secara umum lokasi ini berada pada lereng lembah Sungai Ci Tiis. Kemiringan lereng secara umum sebesar 25°-30°.

  • Geologi :

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa (Koesmono, P3G, 1996) batuan penyusun daerah bencana merupakan anggota dari Formasi Bentang (Tmb) yang terdiri dari batupasir tufaan, tuf batuapung, batulempung, konglomerat dan lignit. Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi, daerah bencana tersusun atas breksi dengan tanah penutup berupa tanah pelapukan lempung pasiran 50 cm – 3 meter. Di bawah breksi terdapat lapisan lempung yang diperkirakan sebagai bidang gelincir.

  • Tata Guna Lahan :

Tataguna lahan pada lokasi tersebut berupa kebun campuran, jalan desa dan pemukiman.

  • Keairan :
  1. Dusun Cisarua : air melimpah pada lokasi ini. Terdapat air keluar pada tebing bekas longsoran pada beberapa titik.
  2. Dusun Cinangka : air melimpah pada lokasi ini. Terdapat aliran air yang tidak kedap pada lokasi ini, yaitu mengalir dari atas tubuh longsoran, menuju saluran yang tidak kedap melewati tubuh longsoran. Sumber air berasal dari mata air dan sumur gali dengan kedalaman 7-8 meter dari muka tanah.
  3. Dusun Mekarjaya : air melimpah pada lokasi ini, sumber air dari sumur gali.
  • Kerentanan Gerakan Tanah :

Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Oktober 2017 di Cianjur (Badan Geologi), daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah – tinggi, artinya daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

4. Kondisi Gerakan Tanah :
 
  1. Dusun Cisarua : Jenis gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan pada dua tubuh longsoran dan nendatan di tepi sungai Ci Tiis. Longsoran pertama memiliki lebar mahkota sekitar 16 meter, tinggi 10 meter, dan panjang landaan 10 meter . Longsoran kedua memiliki mahkota longsoran lebih besar yaitu sekitar 40 meter, tinggi 20 meter dan panjang landaan sekitar 90 meter. Pada area yang mengalami nendat di tepi sungai Ci Tiis terdapat retakan dengan lebar 7 – 10 cm dan kedalaman (amblas) sekitar 5 – 50 cm.
  2. Dusun Cinangka : Jenis gerakan tanah adalah Nendatan disertai dengan Amblesan dan Retakan, Tinggi nendat/amblesan 0,5 – 1 m, panjang retakan/areal gerakan tanah 50 m, lebar retakan 2 - 3 m, arah retakan N 226°E, kemiringan lereng 30° dan arah umum gerakan tanah N 290°E.
  3. Dusun Mekarjaya : Jenis gerakan tanah adalah Nendatan disertai Retakan, Tinggi nendat/amblesan 0,5 – 1 m, panjang retakan tanah 90 m, lebar retakan 7 - 10 cm, kedalaman retakan 5 – 10 cm.
5. Faktor penyebab gerakan tanah:

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah pada ketiga lokasi tersebut adalah:

  • Lereng bukit yang curam;
    • Sifat tanah pelapukan yang sarang dan mudah luruh jika terkena air dan kehadiran bidang gelincir yang berupa lapisan lempung di bawah breksi dan tanah pelapukan;
    • Buruknya sistem drainase mengakibatkan banyaknya air permukaan (air hujan) yang meresap ke dalam tanah melalui pori tanah dan retakan akan meningkatkan beban pada lereng, sehingga membuat lereng menjadi tidak stabil;
    • Perubahan tata guna lahan dari tanaman berakar dalam menjadi kebun campuran, jalan desa dan pemukiman di sekitar lokasi bencana;
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama yang turun sebelum gerakan tanah terjadi semakin memicu terjadinya gerakan tanah.
6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah:

Gerakan tanah pada lokasi ini terjadi pada lokasi yang disusun oleh batuan yang lapuk dan tanah pelapukan bersifat sarang, yang mudah menyerap air. Air permukaan yang mengalir pada saluran yang tidak kedap mengakibatkan tanah pelapukan di bagian bawah dan lapisan breksi jenuh air dan mudah luruh. Curah hujan yang tinggi dan aliran air permukaan meresap dan menjenuhi tanah pelapukan bagian atas, sehingga terjadi penjenuhan dan peningkatan bobot massa tanah bagian atas. Kondisi ini menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan air pori dan berkurangnya daya ikat tanah. Lereng bukit yang curam dan kondisi tanah bagian bawah yang sudah tidak stabil menyebabkan tanah bagian atas mudah bergerak dengan cepat dengan bidang gelincir berupa lapisan lempung yang ada di bawah tanah pelapukan.

7. Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan bahwa:

Daerah bencana di Dusun Cisarua, Dusun Cinangka dan Dusun Mekarjaya, Desa Sukasirna, Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah – tinggi. Gerakan tanah tersebut disebabkan oleh karena tanah pelapukan yang bersifat sarang dan mudah luruh saat jenuh air dan kelerengan daerah bencana yang sedang – terjal. Gerakan tanah tersebut dipicu oleh adanya hujan yang deras dan lama sebelum terjadinya longsor serta perubahan tata guna lahan menjadi jalan desa, kebun campuran dan pemukiman, sehingga banyak bagian lereng yang terpotong.

Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut :

Dusun Cisarua :
  • Perlu kewaspadaan warga sekitar lokasi bencana, termasuk warga yang tinggal di 2 rumah di lereng bagian atas, bila perlu mengungsi pada saat hujan deras, untuk jangka panjang perlu dipindahkan ke lokasi lain yang aman;
  • Perlu kontrol di lereng bagian atas maupun bawah, pada saat musim hujan jika retakan semakin bertambah lebar atau ada tanda tanda retakan tanah, segera diisi dengan tanah liat dan dipadatkan, jika masih terjadi retakan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang;
  • Perlu penataan mata air yang muncul dan penataan drainase di lokasi ini agar air tidak menjenuhi lereng;
  • Bekas longsor agar ditanami dengan pohon yang kuat dan berakar dalam;
  • Lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah susulan, sehingga perlu sosialisasi dan kewaspadaan bagi masyarakat di sekitar lokasi bencana.
Dusun Cinangka :
  • Jalan desa yang terputus perlu direlokasi atau digeser paling tidak 30 m ke arah bawah dari jalan yang amblas;
  • Bekas jalan desa atau jalan desa yang baru nanti perlu dibuat penataan drainase yang permanen dan kedap air;
  • Perlu kontrol di lereng bagian atas maupun bawah, pada saat musim hujan jika retakan semakin bertambah lebar atau ada tanda tanda retakan tanah, segera diisi dengan tanah liat dan dipadatkan, jika masih terjadi retakan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang;
  • Masyarakat perlu waspada bila perlu mengungsi ke tempat yang aman jika terjadi hujan deras dan berlangsung lama;
  • Lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah susulan, sehingga perlu sosialisasi dan kewaspadaan bagi masyarakat di sekitar lokasi bencana.
Dusun Mekarjaya:
  • Perlu kewaspadaan warga sekitar lokasi bencana, bila perlu mengungsi pada saat hujan deras, untuk jangka panjang rumag yang terancam perlu dipindahkan ke lokasi lain yang aman;
  • Penataan dan pengendalian air permukaan dengan membuat saluran drainase permanen dan kedap air di sepanjang jalan desa;
  • Perlu kontrol di lereng bagian atas maupun bawah, pada saat musim hujan jika retakan semakin bertambah lebar atau ada tanda tanda retakan tanah, segera diisi dengan tanah liat dan dipadatkan, jika masih terjadi retakan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang;
  • Perlu ditanam pohon yang kuat untuk menahan lereng pada lereng yang sedikit vegetasi diatas rumah yang terkena longsor;
  • Lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah susulan, sehingga perlu sosialisasi dan kewaspadaan bagi masyarakat di sekitar lokasi bencana.

 

 

cianjur leles

Gambar 1. Peta lokasi bencana gerakan tanah di Kampung Cibojong, RT 01/RW 06, Desa Mekarsari, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat yang berada pada lereng lembah Sungai Cidaun.

 

cianjar leles2

Gambar 2. Peta geologi di daerah sekitar lokasi bencana gerakan tanah di Kampung Cibojong, RT 01/RW 06, Desa Mekarsari, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat

 

cianjur leles3

Gambar 3. Peta situasi  bencana gerakan tanah di Kampung Cibojong, RT 01/RW 06, Desa Mekarsari, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat

 

cianjur leles4

Gambar 4. Penampang gerakan tanah di Kampung Cibojong, RT 01/RW 06, Desa Mekarsari, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat

 

cianjur leles5

cianjur leles6

 

Foto 1. Mahkota longsor dengan lebar 6 meter (foto atas) yang mengancam pemukiman di bawah. Terdapat retakan di sekitar mahkota longsor (foto bawah) dengan lebar 5-10cm, dan telah amblas sekitar 10-15 cm di Kampung Cibojong, RT

 

cianjur leles7

cianjur leles8

Foto 2. Tubuh longsoran (foto atas) yang menyebabkan 1 rumah rusak dan 12 rumah terancam. 2 rumah yang terancam (foto bawah) dan beberapa rumah lainya yang berjarak dekat dengan tubuh longsoran disarankan untuk direlokasi ke tempat yang

 

cianjur leles9

Gambar 5. Peta lokasi bencana gerakan tanah di Desa Sukasirna, Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

 

cianjur leles10

Gambar 6. Peta geologi di daerah sekitar bencana gerakan tanah di Desa Sukasirna, Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

 

cianjur leles11

Gambar 7. Peta situasi lokasi bencana gerakan tanah di Dusun Cisarua dan Cinangka, Desa Sukasirna, Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

 

cianjur leles13

Gambar 9. Penampang gerakan tanah di Dusun Cisarua, Desa Sukasirna, Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

 

cianjur leles14

Gambar 10. Penampang gerakan tanah di Dusun Cinangka, Desa Sukasirna, Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

 

cianjur leles15

Gambar 11. Peta Prakiraan Terjadinya Gerakan Tanah di Kabupaten Cianjur pada Bulan Oktober 2017.

 

cianjur leles16

Foto 3. Gerakan tanah di Dusun Cisarua yang mengancam 8 rumah di bawah dan 2 rumah di atas. Terdapat 2 tubuh longsoran yang berjarak sekitar 30 meter. Longsoran pertama (foto 3a) memiliki lebar mahkota sekitar 16 meter, tinggi 10 meter, dan panjang landaan 10 meter . Longsoran kedua (foto b dan c) memiliki mahkota longsoran lebih besar yaitu sekitar 40 meter, tinggi 20 meter dan panjang landaan sekitar 90 meter.

 

cianjur leles17

Foto 4. Retakan di Dusun Cisarua berada di tepi sungai Ci Tiis terdapat retakan dengan lebar 7 – 10 cm (foto b) dan kedalaman (amblas) sekitar 5 – 50 cm (foto a).

 

 

cianjur leles18

 

Foto 5. Longsoran bahan rombakan pada Dusun Cinangka dengan bidang gelincir berupa lapisan lempung (foto a). Terdapat aliran air yang mengalir pada saluran yang tidak kedap melintasi tubuh longsoran (foto a), disarankan untuk diarahkan menjauhi tubuh longsoran dan dibuat menjadi saluran yang permanen dan kedap. Tata guna lahan pada daerah tersebut berupa kebun campuran (foto b), pemukiman dan jalan desa.

cianjur leles19

Foto 6. Rumah retak akibat pergerakan tanah di Dusun Mekarjaya, Desa Sukasirna, Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.