Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

Laporan  singkat  hasil  pemeriksaan  lapangan Tim Tanggap Darurat Bencana Gerakan Tanah di Kecamatan Rancabali,    Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, sebagai berikut:

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Lokasi gerakan tanah di desa ini berada pada Kampung Muara RT 4/RW 06, Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung. Secara geografis lokasi tersebut berada pada  107°16' 11,7" BT dan 07° 11' 42,49" LS. Gerakan tanah terjadi pada Hari senin malam, tanggal 30 Oktober 2017 pukul 23.55 WIB, setelah hujan deras dan lama.

 2. Dampak Gerakan Tanah :

  • 2 rumah hancur
  •  4 orang meninggal dunia
3. Kondisi daerah bencana :
  • Morfologi :

Morfologi daerah bencana merupakan bagian timur morfologi perbukitan bergelombang dengan relief rendah hingga kasar dengan puncaknya Bukit Tanuaknangsi (436m), kemiringan lereng antara 5 – 35°, setempat-setempat pada gawir lereng dan tebing sungai kemiringan hampir tegak dimana untuk lereng bagian bawah berujung di S. Citarum yang nantinya mengalir melewati dataran Bandung hingga pantai utara Bekasi. Adapun lereng yang mengalami longsor berasal dari bukit terjal di belakang rumah yang longsor dengan ketinggian sekitar 40 meter, kemiringan 35°, yang dipotong lerengnya untuk pemukiman dan jalan desa.

  • Geologi :

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa (Koesmono, P3G, 1996) batuan penyusun daerah bencana berupa lahar dan lava Gunung Kendeng (Ql) dan endapan piroklastik yang tak terpisahkan (QTv), yaitu breksi andesit, breksi tuf dan tuf lapili.

Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi, daerah bencana tersusun atas tanah pelapukan berupa lempung pasiran, coklat tua, plastisitas sedang, permeabilitas tinggi, gembur dan mudah menyerap air, ukuran halus tebal 1,5 – 4 meter. Di bawah tanah pelapukan terdapat lapisan lempung hitam yang diduga sebagai bidang gelincir, dan di bawah lempung ini terdapat breksi tuf dengan pelapukan sedang-tinggi.

  • Tata Guna Lahan :

Tataguna lahan daerah bervariasi, pada daerah berlereng berupa kebun campuran dengan kerapatan tanaman rapat sampai dengan kurang rapat, beberapa pemukiman juga terdapat pada daerah berlereng ini. Bencana terjadi pada daerah berlereng tata guna lahan berupa lahan pesawahan. Selain untuk pemukiman lahan juga dijadikan empang/kolam serta jalan raya relatif sempit yang sebagian sudah diaspal/dibeton dan sebagian lagi belum.

  • Keairan :

Air cukup melimpah di daerah bencana, pada bagian atas maupun bawah lereng muncul rembasan air dengan debit cukup besar dan mengalir menjadi sungai kecil atau membentuk parit yang tidak kedap dan dimanfaatkan  untuk mengaliri sawah dan untuk kebutuhan air minum dan MCK. Terdapat pula sungai dengan lebar 3 meter yang berair baik di musim hujan atau musim kemarau sebagai salah satu cabang hulu S. Citarum.

  • Kerentanan Gerakan Tanah :

Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Oktober 2017 di Bandung (Badan Geologi), daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah – tinggi, artinya daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

4. Kondisi Gerakan Tanah :

 Jenis gerakan tanah yang terjadi di lokasi ini berupa longsoran bahan rombakan dengan arah longsoran relatif ke arah baratdaya. Mahkota longsor memiliki lebar 6 meter, tinggi 5 meter dan panjang landaan 40 meter.

 5. Faktor penyebab gerakan tanah:

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah pada kedua lokasi tersebut adalah:

  • Lereng bukit yang curam;
    • Sifat tanah pelapukan yang sarang dan mudah luruh jika terkena air;
    • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan yang bersifat sarang dengan lapisan lempung yang berada di bawahnya yang bersifat lebih kedap air;
    • Buruknya sistem drainase mengakibatkan banyaknya air permukaan (air hujan) yang meresap ke dalam tanah melalui pori tanah dan retakan akan meningkatkan beban pada lereng, sehingga membuat lereng menjadi tidak stabil;
    • Perubahan tata guna lahan dari tanaman berakar dalam menjadi kebun campuran, lahan persawahan dan pemukiman di sekitar lokasi bencana;
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama yang turun sebelum gerakan tanah terjadi semakin memicu terjadinya gerakan tanah.

 6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah:

Gerakan tanah pada lokasi ini terjadi pada lokasi yang disusun oleh batuan yang lapuk dan tanah pelapukan bersifat sarang, yang mudah menyerap air. Air permukaan yang mengalir pada saluran yang tidak kedap dan pada sawah mengakibatkan tanah pelapukan di bagian bawah jenuh air dan mudah luruh. Curah hujan yang tinggi dan aliran air permukaan meresap dan menjenuhi tanah pelapukan bagian atas, sehingga terjadi penjenuhan dan peningkatan bobot massa tanah bagian atas. Kondisi ini menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan air pori dan berkurangnya daya ikat tanah. Lereng bukit yang curam dan kondisi tanah bagian bawah yang sudah tidak stabil menyebabkan tanah bagian atas mudah bergerak dengan cepat dengan bidang gelincir berupa lapisan lempung yang ada di bawah tanah pelapukan.

 7. Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis

 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan bahwa:

Daerah bencana di Kampung Muara RT 4/RW 06, Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah – tinggi. Gerakan tanah tersebut disebabkan oleh karena tanah pelapukan yang bersifat sarang dan mudah luruh saat jenuh air, kehadiran bidang gelincir yang berupa lapisan lempung dan kelerengan daerah bencana yang terjal. Gerakan tanah tersebut dipicu oleh adanya hujan yang deras dan lama sebelum terjadinya longsor serta perubahan tata guna lahan menjadi lahan persawahan, kebun campuran dan pemukiman, sehingga banyak lahan yang terbuka pada atas bukit.

Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut :

  • Bekas rumah yang terkena longsoran sebaiknya dipindahkan karena menempati tebing terjal, demikian pula secara bertahap pemukiman yang masih terancam yang berdekatan dengan lereng terjal juga perlu dipindahkan
  • Pembersihan material longsoran pada rumah yang terkena longsor
  • Penataan dan pengendalian air permukaan dengan membuat permanen irigasi diatas lereng dan pembuatan saluran drainase di sepanjang jalan desa
  • Perlu ditanam pohon yang kuat untuk menahan lereng pada lereng yang sedikit vegetasi diatas rumah yang terkena longsor
  • Perlu kontrol di lereng bagian atas maupun bawah, pada saat musim hujan jika ada tanda tanda retakan tanah, segera diisi dengan tanah liat dan dipadatkan, jika masih terjadi retakan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang
  • Lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah susulan, sehingga perlu sosialisasi dan kewaspadaan bagi masyarakat di sekitar lokasi bencana

 

rancabali

Gambar 1. Peta Lokasi bencana gerakan tanah di Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung

 

rancabali2

Gambar 2. Peta Geologi di sekitar Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung

 

rancabali3

Gambar 3. Peta Situasi bencana gerakan tanah di Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung

 

rancabali4

Gambar 4. Penampang dari Peta Situasi bencana gerakan tanah di Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung

 

 

 

rancabali5

rancabali6

Foto 1. Tubuh longsoran bahan rombakan (foto atas) dengan mahkota berada di area persawahan. Litologi berupa tanah pelapukan pada bagian atas dan breksi tuf yang lapuk sedang-tinggi pada bagian bawah. Pada kontak antara dua litologi tersebut terdapat lapisan lempung yang berperan sebagai bidang gelincir (foto bawah)

 

rancabali7 

rancabali13

Foto 2. Tata guna lahan pada lokasi ini berupa pemukiman, jalan desa (foto atas) dan kebun campuran pada lereng bawah dan area persawahan dan kebun campuran pada lereng atas dan di atas mahkota longsoran (foto bawah).

rancabali8

Foto 3. Retakan pada mahkota longsoran, hal tersebut mengindikasikan potensi untuk terjadi longsor susulan masih tinggi sehingga diharapkan kepada warga sekitar untuk tetap waspada terutama pada saat dan setelah turun hujan yang deras dan lama

rancabali9

 

Foto 4. Pada bagian atas dari tubuh longsoran terdapat saluran air yang tidak kedap. Saluran air tersebut dimanfaatkan sebagai sumber air untuk irigasi area persawahan. Disarankan untuk membuat konstruksi yang kedap air pada saluran air tersebut, supaya air tidak meresap masuk ke tanah dan menjenuhi lereng.

 

POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN BANDUNG

PROVINSI JAWA BARAT

BULAN OKTOBER 2017

 

rancabali10

rancabali11

 

rancabali12