Tanggapan Bencana Gerakan Tanah Di Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat

Tanggapan bencana gerakan tanah di Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, berdasarkan pemberitaan dari https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3738569/longsor-4-perjalanan-kereta-api-dari-dan-ke-bandung-tertahan pada Rabu, 22 November 2017 sebagai berikut:

1. Lokasi dan Waktu Kejadian:

Gerakan tanah terjadi di 5 titik dari KM 230 hingga KM 234 jalur kereta api antara Stasiun Bumiwaluya - Stasiun Cipeundeuy, Desa Cikarang dan Desa Haurkuning, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut pada hari Rabu, 22 November 2017 sekitar pukul 18.00 WIB.

 

2. Jenis Gerakan Tanah :

Jenis gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan pada lereng/tebing dari bukit yang berada tepat di atas rel kereta api. Panjang timbunan antara 10-100 meter dengan tinggi timbunan 1-7 meter. 

 

3. Dampak gerakan tanah :

  • Rel kereta api tertimbun material longsoran sehingga perjalanan kereta dari dan menuju Bandung terhambat.

 

3. Kondisi daerah bencana :
  • Secara umum morfologi daerah bencana berupa lereng perbukitan dengan kemiringan lereng agak terjal – terjal ke arah timurlaut. Sungai Cipeudeus beserta anak sungainya mengisi lembah-lembahnya dengan aliran permanen sepanjang tahun. Lokasi bencana berada pada elevasi antara 650-680 meter di atas permukaan laut.
  • Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tasikmalaya, Jawa Barat (Budhitrisna, 1986), daerah bencana disusun oleh batuan dari Hasil Gunungapi Tua berupa breksi gunungapi, breksi aliran, tufa dan lava bersusunan andesit dan basal dengan sumber berasal dari G. Sadakeling (QTvd).
  • Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Garut pada bulan November 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Malangbong termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah – Tinggi. Artinya, daerah ini mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

4. Faktor penyebab terjadinya tanah longsor diperkirakan karena :
  • Kemiringan lereng yang terjal membuat batuan/tanah mudah bergerak,
  • Curah hujan yang tinggi dengan durasi lama sebelum terjadi gerakan tanah,
  • Tanah pelapukan yang gembur dan mudah menyerap air,
  • Kurangnya tanaman berakar kuat dan dalam.

 

5. Rekomendasi:
  • Masyarakat yang beraktivitas agar waspada bila melalui daerah bencana, terutama pada waktu dan setelah hujan karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan;
  • Segera membersihkan material longsoran yang menutupi rel kereta agar dapat dilalui kembali. Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas kebersihan;
  • Menanam tanaman berakar kuat dan dalam untuk menjaga kestabilan lereng;
  • Memberi perkuatan lereng berupa turap dengan pipa drainase atau lereng berjenjang untuk memperkuat kestabilan lereng;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat dengan memasang rambu-rambu peringatan rawan gerakan tanah untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

 

LAMPIRAN

Malangbong 1 (241117)

Gambar 1. Peta lokasi gerakan tanah di Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

 

Malangbong 2 (241117)

Gambar 2. Peta geologi Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

 

Malangbong 3 (241117)

Gambar 3. Peta prakiraan wilayah terjadinya gerakan tanah pada bulan November 2017, Kabupaten Garut

 

POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN GARUT, PROVINSI JAWA BARAT

 PADA BULAN NOVEMBER 2017

Malangbong 4 (241117)

Keterangan :

Malangbong 5 (241117)