Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

Laporan  singkat  hasil  pemeriksaan  lapangan Tim Pasca Bencana Gerakan Tanah di Kecamatan Pasir Jambu,    Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat,  berdasarkan  permintaan  dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kab. Bandung, dengan Surat Nomor:   360/799/BPBD, tanggal 20 Juni 2017, perihal: Permohonan Kajian Teknik Geologi Pergeseran/ Amblasnya Tanah dan Retakan Tanah, sebagai berikut: 

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Lokasi gerakan tanah di desa ini berada pada jalan Desa Sugih Mukti, Kecamatan Pasir Jambu, dan Desa Alamendah, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Terdapat beberapa titik longsor di sepanjang jalan desa tersebut, yaitu:

  1. Lokasi 1 :  107°26' 14,6" BT dan 07° 10' 23,5" LS.
  2. Lokasi 2 : 107° 26' 8,8" BT dan 07° 10' 21,6" LS.
  3. Lokasi 3 : 107° 25' 56,6" BT dan 07° 10' 6,9" LS.
  4. Lokasi 4 : 107° 25' 41,9" BT dan 07° 8' 47,5" LS.
  5. Lokasi 5 : 107° 25' 40,4" BT dan 07° 8' 40,2" LS.

Gerakan tanah terjadi bersamaan pada tangga 3 Mei 2017, setelah hujan deras dan lama.

 

2. Dampak Gerakan Tanah :

Gerakan tanah mengancam pengguna jalan desa Alamendah, Kec. Ciwidey dan Desa Sugihmukti, Kec. Pasir Jambu

 

3. Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi : Secara umum,  jalur jalan ini berada pada perbukitan dengan lereng landai hingga terjal ( hingga 50°).
  • Geologi : Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa (Koesmono, P3G, 1996) batuan penyusun daerah bencana berupa aliran lava berselingan dengan endapan lahar yang berupa breksi andesit dan breksi tuf produk Gunung Patuha. Berdasarkan hasil pemeriksaan lokasi bencana diketahui bahwa bagian permukaan berupa tanah pelapukan atau soil dengan tingkat pelapukan tinggi. Ketebalan tanah pelapukan pada setiap lokasi bervariasi yaitu berkisar antara 50 cm hingga 2 meter. Tanah pelapukan di lokasi ini berupa lempung pasiran, dengan warna coklat, lunak, dan porous.  Di bawah tanah pelapukan terdapat batuan dasar yang berupa breksi  dengan fragmen berupa andesit, pumis dan tuf, dengan tingkat pelapukan sedang serta tingkat alterasi cukup tinggi. Diperkirakan batas antara tanah pelapukan dengan breksi ini merupakan bidang gelincir dari material longsoran.
  • Tata Guna Lahan : Tata guna lahan daerah bencana berupa hutan, kebun campuran, dan jalan desa.
  • Keairan : Sumber air  di daerah bencana berasal dari mata air yang berada di atas bukit dan disalurkan menuju kebun  dengan pipa. Di atas bukit tidak terdapat saluran drainase yang kedap air, namun di beberapa titik pada lereng bagian bawah terdapat drainase yang kedap.
  • Kerentanan Gerakan Tanah : Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Gerakan Tanah Kabupaten Bandung (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) pada Bulan Juli 2017, daerah bencana termasuk pada daerah berpotensi gerakan tanah menengah-tinggi artinya pada daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah terutama  pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

4. Kondisi Gerakan Tanah :

  1. Lokasi 1: Jenis gerakan tanah yang terjadi di lokasi 1 berupa gerakan tanah tipe translasi dengan mahkota longsor berada pada tebing di bagian atas jalan desa. Mahkota longsor memiliki lebar 6 meter, tinggi 7 meter, dan panjang landaan 8 meter. Pergerakan tanah mengarah ke lembah. Kemiringan lereng tebing yang longsor 50°.
  2. Lokasi 2: Jenis gerakan tanah yang terjadi di lokasi 2 berupa gerakan tanah tipe rotasi dengan mahkota longsor berada pada tebing di bagian atas jalan desa. Mahkota longsor memiliki lebar 4 meter, tinggi 15 meter, dan panjang landaan 15 meter. Pergerakan tanah mengarah ke lembah. Kemiringan lereng tebing yang longsor 40°.
  3. Lokasi 3: Jenis gerakan tanah yang terjadi di lokasi 3 berupa gerakan tanah tipe rotasi dengan mahkota longsor berada pada tebing di bagian atas jalan desa. Mahkota longsor memiliki lebar 4 meter, tinggi 6 meter, dan panjang landaan 10 meter. Pergerakan tanah mengarah ke lembah. Kemiringan lereng tebing yang longsor 40°. Air keluar berupa rembesan dari batas antara tanah pelapukan dan breksi.
  4. Lokasi 4: Jenis gerakan tanah yang terjadi di lokasi 4 berupa gerakan tanah tipe rotasi dengan mahkota longsor berada pada tebing di bagian atas jalan desa. Mahkota longsor memiliki lebar 3 meter, tinggi 9 meter, dan panjang landaan 10 meter. Pergerakan tanah mengarah ke lembah. Kemiringan lereng tebing yang longsor 40°.
  5. Lokasi 5: Jenis gerakan tanah yang terjadi di lokasi 5 berupa gerakan tanah tipe rotasi. Mahkota longsor memiliki lebar 3 meter. Mahkota longsor berada pada bawah badan jalan desa, sehingga material di bawah badan jalan desa telah tergerus. Pergerakan tanah mengarah ke lembah pada arah N 60°E. Kemiringan lereng tebing yang longsor 40°.

 

5. Faktor penyebab gerakan tanah:

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah pada kedua lokasi tersebut adalah:

  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama yang turun sebelum gerakan tanah terjadi semakin memicu terjadinya gerakan tanah;
  • Sifat tanah pelapukan yang sarang dan mudah luruh jika terkena air,
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan yang bersifat sarang dengan batuan di bawahnya (breksi) yang bersifat lebih kedap air;
  • Buruknya sistem drainase mengakibatkan banyaknya air permukaan (air hujan) yang meresap ke dalam tanah melalui pori tanah akan meningkatkan beban pada lereng, sehingga membuat lereng menjadi tidak stabil;
  • Lereng bukit yang curam;
  • Perubahan tata guna lahan dari tanaman berakar dalam menjadi kebun campuran di sekitar lokasi bencana.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah:

Gerakan tanah di jalur jalan Desa Sugihmukti, Kecamatan Pasir Jambu dan Desa Alamendah, Kecamatan Ciwidey ini terjadi pada lokasi yang disusun oleh tanah pelapukan bersifat sarang, yang mudah menyerap air. Pada lokasi 1, air permukaan yang mengalir pada saluran yang tidak kedap mengakibatkan tanah pelapukan di bagian bawah jenuh air dan mudah luruh. Curah hujan yang tinggi dan aliran air permukaan meresap dan menjenuhi tanah pelapukan bagian atas, sehingga terjadi penjenuhan dan peningkatan bobot massa tanah bagian atas. Kondisi ini menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan air pori dan berkurangnya daya ikat tanah. Lereng bukit yang curam dan kondisi tanah bagian bawah yang sudah tidak stabil menyebabkan tanah bagian atas mudah bergerak dengan cepat.

Pada lokasi 2, 3 dan 4 dipicu oleh adanya perubahan tata guna lahan di atas bukit  menjadi kebun stroberi, kopi dan tanaman keras (kebun campuran) pada lereng bagian atas menyebabkan air yang meresap ke dalam tanah semakin banyak, sehingga gerakan tanah semakin intensif.

Pada lokasi 5, air permukaan yang mengalir pada saluran yang tidak kedap pada bagian atas mahkota longsor mengakibatkan tanah pelapukan menjadi jenuh air dan mudah luruh. Saat curah hujan tinggi aliran air permukaan meresap dan menjenuhi tanah pelapukan bagian atas, sehingga terjadi penjenuhan dan peningkatan bobot massa tanah bagian atas. Kondisi ini menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan air pori dan berkurangnya daya ikat tanah. Lereng bukit yang curam menyebabkan tanah yang jenuh air mudah bergerak dengan cepat.

 

7. Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan bahwa:

Daerah bencana di jalan Desa Sugih Mukti, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah – tinggi. Gerakan tanah tersebut disebabkan oleh karena tanah pelapukan yang bersifat sarang dan mudah luruh saat jenuh air, kehadiran bidang gelincir yang berupa kontak antara tanah pelapukan dan breksi, dan kelerengan daerah bencana yang terjal. Gerakan tanah tersebut dipicu oleh adanya hujan yang deras dan lama sebelum terjadinya longsor serta perubahan tata guna lahan dari hutan menjadi kebun campuran, sehingga banyak lahan yang terbuka pada atas bukit.

Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut :

  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan longsor, terutama pada saat turun hujan karena berpotensi terjadi longsor susulan;
  • Segera membersihkan material longsoran apabila terjadi longsor susulan dan senantiasa hati-hati terhadap potensi longsoran susulan;
  • Menata dan memperbaiki aliran air permukaan/drainase dengan konstruksi/bahan yang kedap air agar air tidak menjenuhi tanah atau meresap ke bawah permukaan yang dapat mempercepat terjadi gerakan tanah;
  • Pemasangan rambu rawan bencana longsor untuk meningkatkan kewaspadaan;
  • Tebing jalan yang berada di atas maupun di bawah badan jalan  yang longsor agar segera diperbaiki dan diperkuat dengan konstruksi khusus seperti antara bronjong maupun dinding penahan yang dilengkapi dengan lubang saluran untuk keluarnya air;
  • Tidak melakukan pemotongan lereng yang tegak dan tinggi karena tanah pelapukan di daerah ini bersifat lepas yang mudah goyah jika lereng diganggu;
  • Memelihara vegetasi berakar dalam dan kuat di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng;
  • Daerah perbukitan bekas longsoran agar di tanami kembali dengan tanaman tahunan yang produktif seperti karet, damar, durian dan sebagainya agar masyarakat dapat tetap mempertahankan kelestariannya.
  • Melakukan penghijauan pada kawasan perbukitan terjal dengan tanaman tahunan berakar kuat untuk meningkatkan daya dukung tanah di daerah tersebut.
  • Masyarakat perlu menjaga kelestarian lingkungan yaitu tidak melakukan penebangan pohon sembarangan sehingga daya dukung lingkungan dapat terjaga baik.
  • Pemerintah Daerah perlu melakukan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian hutan untuk mencegah bahaya longsor dan banjir bandang.
  • Tidak perlu relokasi rumah maupun jalan.

 

 

LAMPIRAN

 

Ciwidey 3 (100817)

Gambar 1. Peta lokasi gerakan tanah jalur jalan Desa Sugihmukti, Kecamatan Pasir Jambu, dan Desa Alamendah, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung

 

Ciwidey 4 (100817)

Gambar 2. Peta geologi gerakan tanah jalur jalan Desa Sugihmukti, Kecamatan Pasir Jambu, dan Desa Alamendah, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung

 

Ciwidey 5 (100817)

Gambar 3. Peta situasi gerakan tanah jalur jalan Desa Sugihmukti, Kecamatan Pasir Jambu, dan Desa Alamendah, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN BANDUNG

PROVINSI JAWA BARAT 

BULAN JULI 2017

Ciwidey 1 (100817)

Keterangan :

Ciwidey 2 (100817)

 

Ciwidey 6 (100817)

Gambar 4. Penampang gerakan tanah lokasi 1 (atas) dan 3 (bawah) jalur jalan Desa Sugihmukti, Kecamatan Pasir Jambu, dan Desa Alamendah, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung

 

Ciwidey 7 (100817)

Gambar 5. Penampang gerakan tanah lokasi 4 (bawah) dan 5 (atas) jalur jalan Desa Sugihmukti, Kecamatan Pasir Jambu, dan Desa Alamendah, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung

 

Ciwidey 8 (100817)

Foto 1. Gerakan tanah pada lokasi 1 berupa gerakan tanah tipe translasi yang mengarah ke lembah dan mengancam pengguna jalan desa (foto a). Pada bagian bawah tubung longsoran terdapat saluran air atau drainase yang direkomendasikan untuk diperbaiki menjadi drainase yang kedap air supaya air tidak mempercepat proses pelapukan dan menggerus batuan bagian bawah yang akan mengakibatkan gerakan tanah (foto b dan c).

 

Ciwidey 9 (100817)

Foto 2. Gerakan tanah pada lokasi 2 berupa gerakan tanah tipe rotasi mengarah ke lembah dan mengancam pengguna jalan desa (foto a). Batuan penyusun berupa tanah pelapukan tipis dan breksi vulkanik dengan fragmen berupa pumis, tuf dan batuan beku (andesit), sedangkan matriks berupa tuf yang teralterasi (foto b).

 

Ciwidey 10 (100817)

Foto 3. Gerakan tanah pada lokasi 3 berupa gerakan tanah tipe rotasi mengarah ke lembah dan mengancam pengguna jalan desa (foto a). Tata guna lahan pada bukit bagian atas dr lokasi gerakan tanah berupa kebun campuran (kebun stroberi, kopi dan tanaman keras) (foto b). Pada bagian bawah tubung longsoran terdapat saluran air atau drainase yang direkomendasikan untuk diperbaiki menjadi drainase yang kedap air supaya air tidak mempercepat proses pelapukan dan menggerus batuan bagian bawah yang akan mengakibatkan gerakan tanah (foto c). Pada lokasi ini terdapat beberapa titik longsor yang berada di sepanjang jalan desa, direkomendasikan untuk memasang rambu rawan longsor dan waspada saat melintasi jalan tersebut (foto d).

 

Ciwidey 11 (100817)

Foto 4. Gerakan tanah pada lokasi 4 berupa pengikisan tanah pelapukan yang tipis, yang disebabkan oleh adanya drainase di atas bukit yang tidak kedap, sehingga air mengalir di permukaan tanah dan mengikis tanah pelapukan.

 

Ciwidey 12 (100817)

Foto 5. Gerakan tanah pada lokasi 5 berupa gerakan tanah tipe rotasi mengarah ke lembah dan mengancam pengguna jalan desa (foto a) karena mahkota longsor berada di bawah badan jalan dan hampir setengah dari bagian bawah badan jalan telah tergerus (foto b). Batuan penyusun berupa tanah pelapukan tipis dan breksi vulkanik dengan fragmen berupa pumis, tuf dan batuan beku (andesit), sedangkan matriks berupa tuf yang teralterasi dan lapuk (foto c).