Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakantanah Di Kec. Bruno, Kab. Purworejo Provinsi Jawa Tengah

Laporan singkat hasil pemeriksaan bencana gerakan tanah di wilayah Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah berdasarkan permintaan Pemeriksaan Gerakan Tanah Daerah dari BPBD Kabupaten Purworejo 383/221/2017. Hasil pemeriksaan sebagai berikut:

 A. Dusun Sirudah, Desa Gowong

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Dusun Sirudah, Desa Gowong dengan koordinat 109° 55’ 24.4” BT dan 07° 32’ 39.2” LS dan Dusun Sikempong, Desa Gowong dengan koordinat 109° 55’ 38.8” BT dan 07° 32’ 52.09” LS. Terjadi tanah amblas dan pergeseran jalan pada pemukiman penduduk dan masih terus berlangsung hingga saat ini.

 2. Jenis Gerakan Tanah:

Jenis gerakan tanah di Dusun Sirudah dan Sikempong berupa tipe rayapan. Terjadi nendatan di beberapa tempat di sepanjang jalan Dusun Sirudah. Nendatan sedalam 1 meter. Arah umum nendatan N180°E. Pada dusun Sikempong, juga terjadi nendatan sedalam 1-2 meter dengan arah umum nendatan N188°E.

 3. Dampak gerakan tanah

 

Dampak gerakan tanah berdasarkan data lapangan antara lain :

  • 8 Rumah terancam di Dusun Sikempong
  • Jalan rusak di Dusun Sirudah, tetapi masih bisa dilalui oleh kendaraan

 4. Kondisi daerah bencana

a. Morfologi

Secara umum topografi di sekitar Desa Gowong berupa perbukitan dengan ketinggian antara 300 - 500 meter di atas permukaan laut. Secara umum daerah bencana merupakan perbukitan dengan kemiringan lereng 15-30°.

 b. Kondisi Geologi

Berdasarkan pengamatan lapangan batuan di daerah bencana berupa batulempung, batupasir dan breksi tufaan. Tanah penutup berupa lempung pasiran setebal 1-2 meter. Kejadian gerakan tanah tipe rayapan di Desa Gowong disebabkan oleh kehadiran batulempung dibagian bawah.

c. Tata guna lahan dan Keairan

Tata lahan pada bagian atas tengah dan bawah berupa kebun campuran dan pemukiman. Penduduk memanfaatkan mata air untuk keperluan sehari-hari.

d. Kerentanan Gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Purworejo bulan Juni 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah - Tinggi artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

5. Faktor penyebab gerakan tanah:

  • Kondisi geologi berupa batulempung memungkinkan terjadi gerakan tanah tipe rayapan.
  • Sifat dasar batulempung mudah luruh serta lunak jika terkena air.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi longsor.
  • Kemiringan lereng yang agak curam-curam mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Tanah pelapukan yang cukup tebal dan sarang yg mengakibatkan air mudah meresap.
  • Curah hujan yang tinggi yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.

6. Mekanisme:

Curah hujan yang tinggi serta drainase yang kurang baik mengakibatkan air terakumulasi ke daerah longsoran. Air kemudian meresap pada tanah pelapukan yang bersifat sarang, sehingga tanah menjadi mudah jenuh air dan dengan adanya batu lempung yang bersifat kedap air, menjadi bidang gelincir. Dengan adanya bobot massa tanah yang tinggi, pelapukan yang tebal dan kemiringan lereng yang agak curam - curam (15- 30o) serta curah hujan yang tinggi mengakibatkan tahanan lereng lemah kemudian dipicu dengan gaya gravitasi maka terjadilah gerakan tanah tipe rayapan.

7. Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan:

  • Jenis gerakan tanah tipe rayapan umunya jarang menimbulkan korban jiwa, namun demikian seringkali menyebabkan rusaknya bangunan, rusaknya sarana jalan dan ketidaknyaman bertempat tinggal. Pada saat ini daerah bencana masih relatif aman. Namun demikian warga harus tetap meningkatkan kewaspadaan terutama jika muncul rembesan pada tekuk lereng dan retakan bertambah lebar.
  • Perbaikan dan penataan saluran drainase permukaan dengan konstruksi kedap air
  • Menutup retakan dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air tidak masuk ke area longsoran dan retakan.
  • Tidak membuat kolam dan mencetak sawah baru dan atau pertanian lahan basah pada lereng bagian tengah dan atas.
  • Tidak melakukan pemotongan tebing/lereng secara sembarangan.
  • Masyarakat agar memantau jika muncul retakan baru, segera ditutup agar air tidak masuk ke retakan tersebut dan jika retakan bertambah lebar segera mengungsi dan melaporkan ke Pemerintah Daerah.
  • Karena gerakan tanah yang terjadi merupakan tipe rayapan, maka rumah panggung dengan konstruksi kayu akan lebih aman digunakan dibanding rumah permanen. 

B. Dusun Sawah Lor, Desa Kemranggen

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Dusun Sawah Lor, Desa Kemranggen, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, dengan koordinat 109° 52’ 01.2” BT dan 07° 34’ 22.5” LS. Terjadi tanah longsor pada tebing jalan dan tebing di belakang bangunan sekolah.

2. Jenis Gerakan Tanah:

Jenis gerakan tanah di Dusun Sawah Lor, Desa Kemranggen, berupa tipe longsoran. Longsoran pada bagian tebing jalan berpotensi tinggi menjadi longsoran bahan rombakan, mengancam pemukiman disebelah selatan dan jalan yang berada di bawahnya. Arah longsoran N 94° E sejauh 15 meter. Terdapat juga mahkota longsoran lama dibagian selatan yang berjarak 20 meter dari longsoran yang sekarang.

3. Dampak gerakan tanah

 

Dampak gerakan tanah berdasarkan data lapangan antara lain :

  • 5 rumah dan 3 sekolah terancam
  • Jalan Dusun Sawah Lor terancam
  • Kebun terancam

4. Kondisi daerah bencana

c. Morfologi

Secara umum topografi di sekitar Desa Kemranggen berupa perbukitan dengan ketinggian antara 400 - 650 meter di atas permukaan laut. Secara umum daerah bencana merupakan perbukitan dengan kemiringan lereng lebih dari 20-35°.

d. Kondisi Geologi

Berdasarkan pengamatan lapangan batuan di daerah bencana berupa breksi tufaan dengan tanah pelapukan lempung pasiran dengan ketebalan lebih dari 2 meter.

e. Tata guna lahan dan Keairan

Tata guna lahan pada bagian atas berupa kebun campuran dan hutan pinus. Bagian tengah berupa pemukiman. Sedangkan di bagaian bawah lereng berupa ladang dan kebun campuran.  Muka air tanah di daerah ini dangkal, sedalam 8 meter.

f. Kerentanan Gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Purworejo bulan Juni 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah - Tinggi artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

5. Faktor penyebab gerakan tanah:

  • Kemiringan lereng yang sangat curam-sangat curam menjadi penyebab terjadinya gerakan tanah tipe longsoran bahan rombakan.
  • Pemotongan lereng yang sangat curam (>45°)
  • Curah hujan yang tinggi yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi longsor.
  • Tanah pelapukan yang menumpang diatas breksi tufaan yang relatif kedap air berfungsi sebagai bidang gelincir.

Mekanisme:

Curah hujan yang tinggi serta drainase yang kurang baik mengakibatkan air terakumulasi ke daerah longsoran. Air kemudian meresap pada tanah pelapukan yang bersifat sarang, sehingga tanah menjadi mudah jenuh air. Keadaan tersebut mengakibatkan bobot masa tanah dan kejenuhan tanah meningkat. Dengan adanya bobot massa tanah yang tinggi, pelapukan yang tebal dan kemiringan lereng yang sangat curam (> 35o) serta curah hujan yang tinggi mengakibatkan tahanan lereng lemah kemudian dipicu dengan gaya gravitasi maka terjadilah gerakan tanah tipe longsoran.

7. Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan:

  • Daerah ini beresiko tinggi terkena gerakan tanah tipe longsoran bahan rombakan. Hal ini karena tanah pelapukan yang tebal dan kelerengan yang terjal. Berdasarkan kondisi tersebut di atas maka 3 sekolah (SD, SMP, TK) harus lebih meningkatkan kewaspadaan terutama pada waktu terjadinya hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama.
  • Perbaikan dan penataan saluran drainase permukaan dengan konstruksi kedap air
  • Menutup retakan dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air tidak masuk ke area longsoran dan retakan.
  • Tidak membuat kolam dan mencetak sawah baru dan atau pertanian lahan basah pada lereng bagian tengah dan atas.
  • Tidak melakukan pemotongan tebing/lereng secara sembarangan
  • Pembuatan dinding penahan longsor di lereng yang terdampak gerakan tanah.
  • Pembuatan talud di tebing sungai pada bagian bawah
  • Masyarakat agar memantau jika muncul retakan baru, segera ditutup agar air tidak masuk ke retakan tersebut dan jika retakan bertambah lebar segera mengungsi dan melaporkan ke Pemerintah Daerah.
  • Meningkatkan kesiapsiagaan pada saat dan setelah turun hujan karena masih berpotensi terjadi longsor.

 

bruno

Peta Lokasi Gerakan Tanah di Desa Gowong dan Desa Kemragen, Kecamatan Bruno

 

bruno2

Peta Geologi daerah Kecamatan Bruno dan sekitarnya, Kabupaten Purworejo

 

bruno3

Peta Prakiraan Wilayah Potensi Gerakan Tanah Kabupaten Purworejo

Bulan Juni 2017

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH DI PROVINSI JAWA TENGAH BULAN JUNI 2017

bruno4

bruno5

 

bruno6

Peta situasi gerakan tanah Desa Gowong, Kecamatan Bruno, Purworejo

 

bruno7

 

Gambar Penampang C-D situasi gerakan tanah di Desa Gowong, Kecamatan Bruno

 

bruno8 

Peta situasi gerakan tanah Desa Kemraggen, Kecamatan Bruno, Purworejo

 

bruno9

Gambar Penampang A-B situasi gerakan tanah di Desa Kemraggen, Kecamatan Bruno

 

bruno10

Foto Batu lempung(kiri) dan kontak antara batupasir dan batulempung (kanan) di Dusun Sirudah.

 

 bruno11

Foto pergeseran jalan di pemukiman penduduk Dusun Sirudah, Desa Gowong

 

bruno12

Foto retakan (kiri) dan nendatan (kanan) di Dusun Sirudah

 

bruno13

Foto nendatan di Dusun Sikempong, Desa Gowong

bruno14

Foto longsoran di bahu jalan Dusun Sawah Lor, Desa Kemranggen

bruno15

Foto longsoran dilihat dari bawah jalan Dusun Sawah Lor, Desa Kemranggen\

bruno16

Foto tebing longsoran lama yang mengancam bangunan sekolah yang berada diatasnya

bruno17 

Foto saluran air yang terlalu dangkal dan harus diperbaiki

bruno18

Foto breksi tufaan yang tersingkap di alur sungai pada bagian bawah longsoran

bruno19

Koordinasi dan sosialisasi di kantor Desa Gowong, Kecamatan Bruno

bruno20

Foto koordinasi dan sosialisasi hasil penyelidikan gerakan tanah di Dusun

Sawah Lor, Desa Kemranggen