Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakantanah Di Negeri Rutah, Kec. Amahai, Kab. Maluku Tengah Provinsi Maluku

Laporan singkat hasil pemeriksaan bencana gerakan tanah di wilayah Negeri Rutah, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku berdasarkan permintaan Pemeriksaan Gerakan Tanah Daerah dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Masohi, Kabupaten Maluku Tengah No. 360/53/BPBD/MT/V/2017.

Latarbelakang

Surat dari BPBD meminta dilakukan kajian terhadap potensi ancaman bencana gerakan tanah berupa retakan dan amblesan tanah pada lereng Gunung Amanahan Negeri Rutah, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah. Selain fenomena retakan dan amblesan, alarm alat peringatan dini (LEWS = Landslide Early Warning System) yang dipasang pada bulan Agustus 2016 berbunyi. LEWS yang dipasang terdiri dari sensor EXTENSIOMETER (2 unit), TILTMETER (1 unit) dan Curah Hujan (1 unit). Sinyal alarm yang berbunyi memberikan informasi kepada masyarakat berupa peringatan  WASPADA 1 dan SIAGA 2. WASPADA 1 artinya telah terjadi hujan yang melewati batas yang ditentukan dalam 1 jam sedangkan SIAGA 2 artinya bahwa telah terjadi perubahan rekahan/amblasan dan kemiringan lereng (deformasi) yang ditangkap oleh sensor EXTENSIOMETER dan TILTMETER. Sejak hari Minggu tanggal 7 Mei 2017 hingga Sabtu 26 Mei 2017 sensor EWS telah berbunyi sebanyak lebih dari 10 kali. Pada hari selasa tanggal 14 Mei 2017 sirine berbunyi kembali disertai suara retakan tanah yang keras pada lokasi pergeseran tanah.

Fenomena tersebut membuat warga mengalami kekhawatiran dan menimbulkan kepanikan serta ketakutan di masyarakat Negeri Rutah sehingga mereka melakukan pengungsian di tenda-tenda yang sudah disiapkan oleh BPBD Masohi.  Setelah dilakukan pengecekan awal oleh masyarakat dan BPBD Masohi, terjadi pergeseran tanah dan amblesan tanah sedalam 40-80 cm pada lereng G. Amanahan yang memiliki kelerengan > 45o. 

Hasil pemeriksaan tim PVMBG-Badan Geologi tanggal 25-21 Mei 2017, sebagai berikut:

1. Lokasi Kejadian Gerakan Tanah:

  • Lokasi 1 (retakan tepat diatas pemukiman warga)
  • LP1 dengan koordinat 128o 58’ 33,8 “ oE dan 3o 21’ 29,5” oS berarah N 40 o E dengan arah gerakan tanah N 155 o E, terjadi beda tinggi 50 – 100 cm dengan lebar lk 30 cm.
  • LP2 dengan koordinat 128o 58’ 33,6 “ oE dan 3o 21’ 27,2” oS pernah terjadi longsoran/luncuran bongkah batu hingga area sekolahan.
  • LP3 dengan koordinat 128o 58’ 36 “ oE dan 3o 21’ 27,8” oS terdapat bongkah batugamping yang menggantung dengan sudut kemiringan >80o
  • LP4 ditemukan kontak antara batugamping dan sekis yang kaya urat kuarsit dengan koordinat 128o 58’ 6 “ oE dan 3o 21’ 27” oS .
  • LP5 merupakan lokasi alat dengan koordinat 128o 58’ 34,7 “ oE dan 3o 21’ 28,9” oS  Elevasi 77 m dpal. Pada lokasi tersebut EWS Extensiometer tidak berfungsi, sedangkan TILTmeter masih berfungsi. Kemiringan lereng pada lokasi alat berada adalah 34o
  • LP6 Terdapat retakan dengan koordinat 128o 58’ 34,4 “ oE dan 3o 21’ 29,8” oS terjadi beda tinggi 70 cm dengan lebar lk 50 cm.
  • Lokasi 2 (pinggir jalan nasional-timur Negeri Rutah)
  • Terdapat retakan pada batuan malihan/metamorf batusabak, sekis dan Filit dengan koordinat 128o 59’ 13,2 “ oE dan 3o 21’ 20” oS terjadi beda tinggi 20 cm dengan lebar lk 5 cm.
  • Lokasi 3 (retakan diatas Lapangan Bola)
  • Terdapat retakan pada batugamping terumbu dengan koordinat 128o 58’ 23,1 “ oE dan 3o 21’ 29,4” oS terjadi kedalaman lk 5 m dengan lebar lk 50-80 cm.

 

2. Jenis Gerakan Tanah:

Jenis gerakan tanah di Negeri Rutah, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah baik lokasi 1 dan 3 berupa potensi longsoran/jatuhan batu dengan tipe rockfall atau topple atau rockslide disertai munculnya retakan-retakan, suara patahan dan amblesan tanah dan batuan akibat tarikan dari pergerakan tanah. Pada lokasi 1, Longsoran terjadi pada bagian bukit dengan arah relative ke barat (N 155°E). Retakan muncul disebelah longsoran akibat tarikan longsoran disebelahnya dengan lebar retakan 30 cm, dan turun 50 - 100 m.

Pada lokasi 2 Gerakan Tanah (pinggir jalan nasional-timur Negeri Rutah), tipe Gerakan tanah dapat berupa longsoran bahan rombakan (debris slide).

 

3. Dampak gerakan tanah 

Dampak gerakan tanah antara lain :

  • Warga mengalami khawatiran dan menimbulkan kepanikan serta ketakutan.
  • Masyarakat Negeri Rutah melakukan pengungsian di tenda-tenda yang sudah disiapkan oleh BPBD Masohi jika sirine LEWS berbunyi.

 

4. Kondisi alat LEWS

Hasil kajian menunjukkan, bahwa kejadian gerakan tanah dan bunyi alarm LEWS yang terjadi antara lain disebabkan oleh :

  • Gerakan tanah yang terjadi sejak tahun 2015, dipicu oleh curah hujan tinggi dan gempa terasa yang terjadi di sekitar kepulauan Maluku.
  • Bunyi alarm yang terjadi pada tanggal 7 dan 9 Mei 2017, diakibatkan oleh curah hujan yang relatif tinggi (setelah diklarifikasi dengan data curah hujan dari BMKG selama periode Januari – Mei 2017).
  • Bunyi gemuruh retakan yang terjadi pada tanggal 14 Mei 2017, dipicu oleh kejadian gempa bumi terasa yang terjadi pada 12 Mei 2017 (5,2 SR, di Barat laut Maluku) dan 13 Mei 2017 (4,6 SR, di Barat daya Banda).
  • Bunyi alarm lainnya adalah diakibatkan oleh respon dari sensor Extensiometer atau Tiltmeter karena adanya gerakan tanah.
  • Data sudah tidak terekam sejak oktober 2016, karena masa berlaku kartu sudah tidak aktif. Alat Extensiometer 1 mulai tidak berfungsi pada bulan desember 2016.
  • Hasil dari pemeriksaan hanya EWS curah hujan dan Tiltmeter yang masih berfungsi biarpun sudah tidak ada perekaman data lagi.

 

5. Kondisi daerah bencana

  • Morfologi, Secara umum topografi di sekitar lokasi bencana  berupa lereng perbukitan memanjang baratdaya-timurlaut dengan ketinggian antara 2 - 200 meter di atas permukaan laut. Lokasi daerah bencana merupakan perbukitan dengan kelerengan 25° - 60° dan dibeberapa titik > 70°.
  • Kondisi Geologi, Berdasarkan pengamatan lapangan batuan di daerah bencana adalah batugamping terumbu berstruktur masif (Formasi Batugamping Koral (Qa)) tidak selaras diatas batuan metamorf / malihan (Formasi Tehoru (PTRt) yaitu batusabah, filit dan sekis dengan urat-urat kuarsit yang berlapis dan diatasnya berupa lapisan tipis tanah pelapukan Batugamping terumbu. Secara umum kondisi geologi di daerah lereng/retakan adalah batugamping terumbu yang tidak selaras diatas sekis dengan urat kuarsit yang berlapis. Sifat fisik dari batugamping yang porous/larut terhadap air dan membentuk lubang/gua sedangkan sifat fisik batuan malihan di lokasi berupa batu malihan derajat rendah-sedang yang menghasilkan jenis batusabak, filit dan sekis diisi oleh urat-urat kuarsit. Pada batugamping karena sifat fisiknya masif/keras dan resisten terhadap erosi/gerakan tanah, kejadian gerakan tanah di wilayah ini dapat terjadi jika dipicu oleh pelapukan dan gempabumi terutama gempabumi terasa. Jenis gerakan tanah yang bisa terjadi di batugamping berupa Jatuhan Batu (Rockfall), Luncuran Batu (Rockslide), dan Jungkiran (Topple). Sedangkan pada batuan malihan/metamorf, karena sifat fisiknya seperti sisik/berlembar dan mengalami pelapukan, kejadian gerakan tanah di wilayah ini dapat terjadi karena dipicu oleh faktor curah hujan, kelerengan dan kegempaan. Jenis gerakan tanah yang bisa terjadi di batuan malihan berupa longsoran bahan rombakan (Slides, Flows, dan Kombinasi).
  • Tata guna lahan dan Keairan, Tata guna lahan pada bagian atas berupa hutan. Sedangkan di bagian bawah merupakan pemukiman dan jalan serta fasilitas umum.  Muka air tanah di daerah ini > 5 meter.
  • Kerentanan Gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Maluku bulan Mei 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 

6. Faktor penyebab gerakan tanah:
  • Kelerengan yang terjal dengan tanah pelapukan tipis antara 0-1 m.
  • Kondisi geologi tanah pelapukan menumpang diatas batugamping terumbu tidakselaras diatas batuan metamorf/malihan.
  • Karakteristik batugamping terumbu Formasi Batugamping koral (Qa) berstruktur masif sangat resisten tidak terjadi gerakan tanah, asalkan tidak ada gangguan seperti gangguan/pemotongan lereng, penebangan pohon di hutan atau campur tangan manusia. Akan tetapi jika tersingkap dan mengalami pelapukan lanjut dan atau dipicu oleh kejadian gempabumi terasa dapat menyebabkan gerakan tanah tipe jatuhan batu (fall / topple / slides).
  • Karakteristik batuan metamorf/malihan Formasi Tehoru yang mudah hancur atau sifatnya butirannya rapuh (brittle).
  • Curah hujan yang tinggi dan gempabumi terasa memicu terjadinya gerakan tanah.

 

7. Mekanisme:
  • Lokasi 1, Kejadian di Lokasi Retakan dan Amblesan dengan koordinat 128o 58’ 33,8 “ oE dan 3o 21’ 29,5” oS. Mekanisme terjadinya suara patah, retakan dan amblesan, diakibatkan litologi batugamping terumbu yang dapat patah akibat air bawah permukaan, pelapukan, amblesan rongga / gua, atau dipicu adanya gempabumi terasa. retakan dan amblesan mempunyai pola baratdaya - timurlaut (N 40°E). Pada kondisi di lapangan terlihat amblesan terjadi pada lembah/alur air (N 155°E).  Curah hujan yang tinggi mengakibatkan air terakumulasi pada batas tanah lapuk. Air kemudian meresap pada batugamping yang menyebabkan adanya proses pelarutan, sehingga timbul rongga/lobang/gua pada batugamping. Jika terjadi pembebanan yang berlebihan atau pelapukan pada batugamping atau gempabumi terasa, dapat menyebabkan amblesan/retakan/pergerakan tanah dengan tipe lambat. Kejadian gerakan tanah pada batugamping dapat terjadi berupa jatuhan batu (fall / topple / slides). Hal in karena faktor kelerengan >45o,  dan dipicu oleh gempabumi atau kombinasi gempabumi dan curah hujan.
  • Lokasi 2, Kejadian longsor di tepi jalan Negeri Rutah. Litologi yang tersingkap berupa batuan malihan dengan struktur berlembar, kondisi lapuk dan lepas. Curah hujan yang tinggi mengakibatkan air terakumulasi mengakibatkan bobot masa tanah dan kejenuhan tanah meningkat. Pelapukan tanah dan batuan malihan (Formasi Tehoru) menyebabkan sangat rentan dan sangat licin ditambah kelerengan yang terjal > 25°. Bobot massa tanah yang tinggi, struktur, litologi batuan malihan, pelapukan dan kemiringan yang terjal, serta curah hujan yang tinggi mengakibatkan tahanan lereng lemah kemudian dipacu dengan gaya gravitasi sehingga terjadilah gerakan tanah.
  • Lokasi 3, Kejadian retakan di dengan koordinat 128o 58’ 23,1 “ oE dan 3o 21’ 29,4” oS . Retakan ini merupakan retakan lama membentuk parit dengan dimensi lebar 50-80 cm dengan dalam lk 5 meter. Rekahan ini terjadi akibat gempabumi yang terjadi tahun 1899 yang menyebabkan litologi batugamping mengalami patahan. Retakan ini berarah barat-timur sejajar dengan retakan dan amblesan lk 250 m dari lokasi pertama. Selain itu struktur geologi atau zona lemah juga sangat berperan dalam pembentukan jalur patahan yang berarah barat-timur.

 

8. Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka disimpulkan:

1. Lokasi Gerakan Tanah 1 (retakan dan amblesan)

  • Alat LEWS yang berfungsi adalah Tiltmeter dan Curah hujan
  • Litologi berupa batugamping terumbu (lokasi gerakan tanah) yang tidak selaras diatas batuan malihan/metamorf sekis.
  • Gerakan tanah akan terus terjadi tetapi dengan tipe lambat (perlahan).
  • Tipe Gerakan tanah yang dapat terjadi berupa jatuhan atau jungkiran atau luncuran batu.
  • Gerakan tanah berupa patahan, rekahan, dan amblesan terjadi pada area aliran alur air. Gerakan tanah juga dapat terjadi kembali jika dipicu oleh curah hujan tinggi dan atau oleh gempabumi terasa.

Rekomendasi Teknis:

  • Retakan / rekahan ini masih akan bergerak, maka BPBD diminta untuk melakukan perbaikan alat LEWS agar dapat berfungsi kembali dan selalu dilakukan kalibrasi setelah alarm berbunyi,
  • Jika LEWS telah berfungsi secara normal, dan dikemudian hari alat LEWS tersebut berbunyi, maka perlu dilakukan evakuasi ke titik pengungsian khususnya warga RT 03 yang rumahnya di utara jalan nasional,
  • Disamping pemantauan oleh alat LEWS, perlu juga dilakukan pemantauan visual secara berkala oleh masyarakat dengan pengawasan BPBD setempat,
  • Tidak diperbolehkan untuk melakukan pemotongan lereng dan pengubahan tataguna lahan (hutan),
  • Meningkatkan kesiapsiagaan terutama masyarakat di area alur air atau yang tinggal dibawah retakan/amblesan pada saat dan setelah turun hujan terhadap potensi gerakan tanah,
  • Tidak mendirikan bangunan dekat dengan lereng yang terjal,
  • Tidak mendirikan bangunan pada lembah (daerah aliran air),
  • Tidak beraktifitas di bawah zona gerakan tanah atau lereng bagian atas yang retak-retak / amblas jika hujan lebat,
  • Jika terjadi gempabumi terasa, masyarakat harap segera mengungsi menjauhi lereng atau tempat yang telah disepakati atau disiapkan oleh BPBD sebagai tempat kumpul.

 

2. Lokasi Gerakan Tanah 2 (pinggir jalan nasional-timur Negeri Rutah)

  • Litologi berupa batuan metamorf/malihan batusabak, sekis dan philit yang mengalami pelapukan
  • Gerakan tanah dapat terjadi dengan tipe cepat.
  • Tipe Gerakan tanah dapat berupa longsoran bahan rombakan (debris slide )
  • Gerakan tanah dapat terjadi kembali jika dipicu oleh curah hujan tinggi dan atau oleh gempabumi terasa.

Rekomendasi Teknis:

  • Penyesuaian sudut kelerengan <15o atau Vertikal: Horisontal=1:3
  • Menanam tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat menahan lereng (terutama pada lereng),
  • Masyarakat pengguna jalan yang beraktivitas di sepanjang jalan tersebut perlu waspada terutama bila hujan dan atau setelah hujan yang berlangsung lama,
  • Melakukan penguatan tebing (yang longsor) dengan pembuatan dinding penahan (retaining wall). Di bagian bawah tebing tersebut agar dibuat tiang pancang (beton bertulang) sampai menembus pada tanah keras atau batuan dasar,
  • Sistem aliran air / drainase permukaan harus dikendalikan supaya air tidak jenuh di lereng. Saluran air harus kedap air dan dialirkan ke sungai menjauhi lereng.
  • Melakukan pemasangan rambu peringatan rawan longsor.

 

3. Lokasi Gerakan Tanah 3 (Retakan, lokasi diatas lapangan)

  • Litologi berupa batugamping terumbu/koral
  • Gerakan tanah akan terjadi tetapi dengan tipe lambat (perlahan)
  • Tipe Gerakan tanah yang dapat terjadi berupa jatuhan atau jungkiran atau luncuran batu jika dipicu oleh gempabumi.

Rekomendasi Teknis:

  • Tidak diperbolehkan untuk melakukan pemotongan lereng dan pengubahan tataguna lahan (hutan),
  • Menanam tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat menahan lereng (terutama pada lereng),
  • Tidak membangun rumah di atas, pada dan di bawah lereng,
  • Masyarakat tidak perlu khawatir, tapi bagi masyarakat yang beraktivitas di area tersebut perlu waspada terutama bila hujan dan atau setelah hujan yang berlangsung lama,
  • Melakukan sosialisasi kepada masyarakat supaya lebih mengenal dan memahami potensi bahaya gerakan tanah,
  • Agar masyarakat tetap siaga dan mengikuti arahan pemda setempat.

 

 

LAMPIRAN

 

Rutah 1 (210617)

Foto 1. Sosialisasi mengenai gerakan tanah di Balai Negeri Rutah, Masohi

 

Rutah 2 (210617)

Foto 2.  Lokasi gerakan tanah yang mengalami penurunan.

 

Rutah 3 (210617)

Foto 3. Antusias masyarakat yang ingin melihat lokasi-lokasi gerakan tanah di lapangan.

 

Rutah 4 (210617)

Foto 4. Salah satu lokasi LEWS dengan sensor Extensiometer (kiri) dan persiapan pemoteretan dengan Drone (kanan)

 

Rutah 5 (210617)

Foto 5. Tenda pengungsi yang telah disiapkan oleh BPBD Masohi, Maluku Tengah

 

Rutah 6 (210617)

Gambar 1. Peta lokasi gerakan tanah di Negeri Rutah, Amahai, Maluku Tengah

 

Rutah 7 (210617)

Gambar 2. Peta situasi gerakan tanah di lokasi bencana

 

Rutah 8 (210617)

Gambar 3. Penampang A – B

 

Rutah 9 (210617)

Gambar 4. Peta Geologi di daerah Karangwuni dan sekitarnya

 

Rutah 10 (210617)

Gambar 5. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Maluku Tengah

 

Rutah 11 (210617)

Gambar 6. Peta Prakiraan Wilayah Potensi Gerakan Tanah Kabupaten Purbalingga Bulan Mei 2017