Laporan Singkat Bencana Gerakan Tanah Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan Provinsi Jawa Timur

Laporan singkat pemeriksaan tim tanggap darurat bencana gerakan tanah di Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur, berdasarkan surat dari BPBD Kabupaten Pacitan nomor 360/182/408.57/2017 tanggal 17 Mei 2017, sebagai berikut: 

A. Dusun Sepring, Desa Bangunsari, Kecamatan Bandar

1. Lokasi dan Waktu Kejadian

Lokasi bencana terjadi di Dusun Sepring, Desa Bangunsari, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Secara geografis daerah ini terletak pada koordinat 1110 16’ 17,72’’ BT dan 070 56’ 31.12’’ LS. Gerakan tanah terjadi pada bulan Maret 2017.

 

2. Jenis Gerakan Tanah:

Jenis gerakan tanah berupa rayapan yang dicirikan oleh adanya nendatan dan retakan pada lereng bagian atas tebing dan lereng bagian bawah, namun gerakan tanh yang terjadi tidak menerus dan bersifat setempat-setempat. Gerakan tanah ini terletak pada areal kebun/ladang dengan arah N 2200 E, lebar 10 - 15 centimeter dan panjang 20 meter. Di beberapa tempat terjadi retakan dengan panjang kurang dari 20 meter dan lebar kurang dari 10 centimeter, jalan turun sekitar 10 – 20 centimeter.

 

3. Dampak gerakan tanah:

Gerakan tanah mengakibatkan:

  • 4 (empat) rumah rusak sedang
  • Jalan antar desa mengalami nendatan sedalam 10 - 20cm

 

4. Kondisi daerah Gerakan Tanah:

  • Morfologi, Secara umum morfologi lokasi bencana merupakan lereng dari perbukitan bergelombang sedang dengan kemiringan agak terjal-terjal. Kemiringan lereng pada lokasi bencana sebesar 400 dengan ketinggian 625m dpl. Namun pada bagian bawah perkampungan kelerengan berkisar 10 -15°.
  • Geologi, Berdasarkan peta geologi lembar Pacitan, Jawa (H.  Samodra, S. Gafoer, S. Tjokrosapoetro,1992), daerah bencana tersusun oleh batuan intrusi berupa andesit, breksi gunungapi, tuf, batupasir tufan, batupasir lempungan dan batulanau, yang merupakan anggota dari Formasi Dayakan (Tmd). Lapukannya berupa batupasir lempungan. Di lokasi bencana merupakan batas litologi antara batuan intrusi dan batuan sedimen berupa pasir tufan dan pasir lanauan.
  • Tataguna lahan, Tataguna lahan pada lereng bagian atas daerah bencana berupa kebun campuran, setempat pemukiman dan jalan, pada lereng bagian tengah dan bagian bawah merupakan lahan kebun campuran dan pesawahan.
  • Kondisi Keairan, Terdapat mata air yang tersebar di beberapa titik pada lokasi bencana. Konsumsi air harian warga berasal dari mataair tersebut.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada bulan Juni 2017 di Kabupaten Pacitan (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) daerah bencana termasuk dalam zona potensi gerakan tanah menengah - tinggi artinya daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

5. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan:

  • Curah hujan yang tinggi dan berlangsung lama, sehingga tanah selalu jenuh air.
  • Adanya kontrol struktur geologi berupa patahan (sesar) geser dan setempat ditemukan rekahan-rekahan (joint)
  • Sifat fisik batuan yang kurang kompak (material kolovial) yang menumpang di atas intrusi andesit.
  • Kemiringan lereng yang agak terjal-terjal

 

6. Mekanisme terjadinya Gerakan Tanah

Berdasarkan pengamatan lapangan, ada 3 lokasi yang terjadi rekahan dan retakan  yang bisa berkembang menjadi gerakan tanah dan 1 lokasi yang telah terjadi gerakan tanah. Lokasi tersebut mempunyai tanah lapukan dan endapan kolovial yang tipis dan bergerak lambat. Pengaruh struktur geologi dan endapan kolovial ini sebagai salah satu faktor terjadinya gerakan tanah di lokasi ini. Adanya batuan intrusi andesit, kontak batuan dan rekahan-rekahan sebagai salah satu pendukung adanya patahan (sesar). Sementara di lokasi bencana gerakan tanah kemungkinan mekanismenya dipicu adanya curah hujan tinggi, sehingga menyebabkan bobot massa lereng bertambah dan kuat gesernya berkurang/menurun. Sifat fisik batuan/tanah menjadi kurang kompak. Penataan drainase yang tidak kedap air mengakibatkan limpasan air hujan yang sebagian besar meresap ke dalam tanah dan menjenuhi lereng sehingga tanah menjadi jenuh air. Endapan kolovial yang menumpang diatas batuan yang lebih kedap air dengan kelerengan yang relative landai  jika hujan lebat gerakan tanah tipe rayapan mungkin terjadi. Sedangkan pada intrusi andesit kelerengannya terjal, karena sifat batuan intrusi andesit yang keras dan kompak kemungkinan terjadi gerakan tanah sangat kecil, kecuali jika di picu Gempabumi,

 

7. Rekomendasi:

Dalam rangka upaya penanggulangan terjadinya gerakan tanah susulan, direkomendasikan hal-hal sebagai berikut, antara lain:

  • Daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah tipe lambat, namun kemungkinan tidak secepat gerakan sebelumnya, sehingga masyarakat dilokasi bencana tidak perlu khawatir, namun perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama.
  • Saat ini perkampungan tersebut belum perlu direlokasi mengingat tanah pelapukan yang tipis dan tipe gerakan yang lambat, namun disarankan bangunan yang ada jangan bangunan permanen, karena tipe gerakan tanah lambat biasa merusak keramik, pondasi dan dinding bangunan permanen.
  • Rumah yang rusak (retak-retak) dindingnya harap segera diperbaiki agar tidak runtuh jika curah hujan tinggi.
  • Pada saat ini belum perlu dilakukan relokasi mengingat kelerengannya juga tidak begitu terjal.
  • Tipe pergerakan di daerah ini lambat, maka cocok rumah panggung (rumah kayu) bukan rumah permanen (rumah tembok)
  • Mengendalikan air permukaan pada lereng, agar air tidak masuk ke dalam retakan tanah dengan membuat saluran kedap air dan air dialirkan menjauhi lereng yang retak.
  • Untuk meningkatkan stabilitas lereng, maka daerah tersebut tidak dijadikan lahan pertanian sayuran, sawah dan agar ditanami dengan pepohonan yang berakar kuat dan dalam seperti akasia, sengon, lamtoro dan sejenisnya.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang.
  • Jika muncul retakan segera ditutup yang dipadatkan dengan tanah agar air tidak masuk ke dalam retakan tersebut.Longsoran terjadi di bagian utara yang keluar rembesan air dan lumpur, sebaiknya pada lokasi ini di pasangi cerucuk dari bambu agar air keluar dari lereng dan mengurangi tekanan air pori.

 

 

LAMPIRAN

 

Bandar 1 (190617)

Gambar 1. Peta petunjuk lokasi bencana gerakan tanah Dusun Sepring, Desa Bangunsari, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Bandar 2 (190617)

Gambar 2. Peta Geologi daerah bencana gerakan tanah Dusun Sepring, Desa Bangunsari, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Bandar 3 (190617)

Gambar 3. Peta situasi bencana gerakan tanah Dusun Sepring, Desa Bangunsari, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Bandar 4 (190617)

Gambar 4. Sketsa penampang gerakan tanah A-B Dusun Bulih dan Dusun Sepring, Desa Bangunsari, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Bandar 5 (190617)

Gambar 5. Sketsa penampang gerakan tanah C-D Dusun Bulih dan Dusun Sepring, Desa Bangunsari, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Bandar 6 (190617)

Gambar 6. Sketsa penampang gerakan tanah E-F Dusun Bulih dan Dusun Sepring, Desa Bangunsari, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Bandar 7 (190617)

Gambar 7. Sketsa penampang gerakan tanah G-H Dusun Bulih dan Dusun Sepring, Desa Bangunsari, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Bandar 8 (190617)

Gambar 8. Peta prakiraan terjadinya gerakan tanah pada bulan Juni 2017 Kabupaten Pacitan, Jawa Timur

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN PACITAN, PROVINSI JAWA TIMUR BULAN JUNI  2017

Bandar 9 (190617)

 

Bandar 10 (190617)

Foto 1. Batuan terobosan Andesit (Tmd) yang merupakan batuan dasar di lokasi Dusun Sepring, Desa Bangunsari, Kecamatan Bandar

 

Bandar 11 (190617)

Foto 2. Pemotongan lereng untuk pembangunan pemukiman dikhawatirkan mengganggu stabilitas lereng tersebut.

 

Bandar 12 (190617)

Foto 3. Retakan di jalan desa di Dusun Sepring, Desa Bangunsari, Kecamatan Bandar

 

Bandar 13 (190617)

Foto 4. Retakan di dasar dan dinding sebuah bangunan rumah warga, di Dusun Sepring, Desa Bangunsari, Kecamatan Bandar

 

Bandar 14 (190617)

Foto 5. Longsoran di bagian utara Dusun Sepring, Desa Bangunsari yang juga terdapat mata air

 

Bandar 15 (190617)

Foto 6. Gerakan Tanah tipe lambat yang merusak keramik/lantai