Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Sukaresmi, Kab. Cianjur Provinsi Jawa Barat

Menindaklanjuti surat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur No. 362/238/BPBD/2017 perihal Permohonan Penelitian/Kaji Cepat Gerakan Tanah di Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, bersama ini kami sampaikan laporan singkat hasil pemeriksaan sebagai berikut:

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian:

Bencana gerakan tanah terjadi di Kampung Gadog RT 03 RW 02, Desa Sukamahi, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur terletak pada koordinat 06o 42’ 33,9” LS dan 107o 07’ 10,1” BT. Gerakan tanah terjadi tanggal 6 Mei 2016 pukul 20.30 WIB.

 

2.   Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi: Secara umum daerah gerakan tanah dan sekitarnya merupakan perbukitan bergelombang agak terjal hingga terjal. Gerakan tanah berasal dari Gunung Hieum dengan kemiringan lereng tergolong curam hingga hampir tegak > 70o, di pemukiman landai 0 - 15o. Lokasi gerakan tanah berada pada ketinggian lebih dari 600 meter di atas permukaan laut
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Cianjur, Jawa (Sudjatmiko, 2003) batuan penyusun daerah bencana termasuk Formasi Cantayan Anggota Breksi yang terdiri dari breksi polimik mengandung komponen-komponen bersifat basal, andesit dan batugamping koral, sisipan batupasir andesit (Mttb); Breksi dan Lahar dari G. Gede terdiri dari batupasir tufaan, serpih tufaan, breksi tufaan dan aglomerat tufaan (Qyg). Berdasarkan pengamatan lapangan batuannya berupa breksi, batupasir tufan, tingkat pelapukan sedang, tanah pelapukan berupa pasir tufan berwarna coklat sampai coklat tua dengan ketebalan di atas 0,5 - 2 meter.
  • Keairan: Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik, sumber air berupa air tanah (sumur), selalu berair sepanjang tahun yang dimanfaatkan sebagai sumber air rumah tangga. Pada bagian lembahnya mengalir Sungai Cikundul yang mengalir dari barat ke timur dengan aliran bersifat selalu berair sepanjang tahun yang dimanfaatkan sebagai sumber air rumah tangga dan pertanian.
  • Tata guna lahan: Tata lahan di sekitar lokasi bencana pada lereng atas merupakan kebun campuran berupa pohon kopi, duren, tanaman perdu, dan bambu, pada lereng bagian tengah berupa jalan desa dan kebun campuran, sedangkan lereng bawah berupa pemukiman dan pesawahan.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) daerah tersebut termasuk Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Cianjur bulan April 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana mempunyai potensi Menengah - Tinggi untuk terjadi gerakan tanah artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 

3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Jenis gerakan tanah berupa jatuhan batuan dari Gunung Hieum dengan diameter bongkah  batuan mencapai 2 meter yang diikuti longsoran bahan rombakan dengan lebar mahkota 30 meter, arah pergerakan N 95° E ke tenggara. Longsoran bahan rombakan ini terjadi setelah turun hujan yang disertai puting beliung. 

Dampak Gerakan Tanah:

  • Jalur jalan yang terletak di bawah mahkota longsoran dan di atas pemukiman berada pada jalur luncuran gerakan tanah sehingga lalu lintas di jalan tersebut terancam terputus akibat longsoran susulan.
  • Mengancam pemukiman yang terdapat di bawah Gunung Hieum sebanyak 25 rumah (23 Kepala Keluarga, 79 Jiwa).

  

4.  Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:  

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Jatuhan batuan dan longsoran bahan rombakan dipicu getaran dan hujan.
  • Adanya bidang diskontuinitas/tidak sinambung pada batuan berupa perpotongan bidang-bidang kekar.
  • Kemiringan lereng yang agak terjal sampai hampir tegak mengakibatkan tanah/batuan mudah bergerak. 

 

5. Mekanisme terjadinya gerakan tanah:  

Adanya limpasan air hujan yang meresap ke dalam tanah/batuan melalui rekahan dan ruang antar pori, dan getaran oleh puting beliung menyebabkan batuan/tanah menjadi jenuh air, lapuk, dan rapuh. Dengan bertambahnya berat masa tanah/batuan serta kuat gesernya menurun, ditambah kurangnya akar tanaman keras yang dapat mengikat tanah pada lereng menyebabkan lereng menjadi tidak stabil, sehingga batuan yang sudah mengalami retak-retak serta menggantung di lereng yang curam, ditarik gravitasi kemudian runtuh dan meluncur menimbun jalan desa dan kebun yang mengancam pemukiman yang berada di bawah lereng tersebut. 

 

6.  Rekomendasi:

Daerah ini masih berpotensi untuk bergerak (longsoran, jatuhan batuan) terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama, dan jika adanya getaran yang diakibatkan puting beliung atau gempabumi. Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

  • Selalu meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di Kampung Gadog terutama pada saat dan setelah turun hujan lebat dalam waktu lama, dan jika terjadi puting beliung atau gempabumi. Apabila terjadi hal-hal tersebut maka segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
  • Pengguna jalan desa yang terdapat tepat di bawah Gunung Hieum harus waspada terutama pada waktu hujan. Pemerintah daerah hendaknya memasang rambu peringatan rawan longsor pada jalur ini.
  • Dalam rangka mengurangi risiko terhadap ancaman batu yaitu untuk mengurangi kecepatan dan jarak luncur batu jika jatuh sebaiknya:
    • Menanami lereng dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng, dan/atau,
    • Memasang jaring batu (rock nail) atau kawat bronjong yang dibentangkan untuk menangkap jika batu tersebut jatuh. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kecepatan dan jarak luncur batu jika jatuh
  • Disarankan agar memotong pohon-pohon bambu sepanjang lereng yang rentan gerakan tanah, karena pohon tersebut akan membebani lereng dan memicu longsoran terutama ketika turun hujan disertai angin kencang.
  • Masyarakat agar memantau lereng atas Gunung Hieum yang sering terjadi gerakan tanah, jika muncul retakan pada tanah atau jika pada tekuk lereng muncul rembesan/mata air keruh dan lumpur maka warga pemukiman yang berada di bawah lereng tersebut segera menjauh dari lokasi tersebut dan melaporkannya kepada instansi yang berwenang (BPBD dan pemda setempat) untuk menyampaikan peringatan kepada penduduk yang beraktivitas di sekitar bencana, untuk antisipasi jika terjadi longsoran tipe cepat.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

 

Cianjur 1 (190617)

Gambar 1. Peta Lokasi Bencana Gerakan Tanah di Desa Sukamahi, Kec. Sukaresmi, Kab. Cianjur, Jawa Barat.

 

Cianjur 2 (190617)

Gambar 2. Peta Geologi Bencana Gerakan Tanah di Desa Sukamahi, Kec. Sukaresmi, Kab. Cianjur, Jawa Barat

 

Cianjur 3 (190617)

Gambar 3. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat

 

Tabel 1. Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah di Kabupaten Cianjur,

Provinsi Jawa Barat pada bulan Mei 2017

Cianjur 4 (190617)

 

Cianjur 5 (190617)

Gambar 4. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Pada Bulan Mei 2017 di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat

 

Cianjur 6 (190617)

Gambar 5. Peta situasi gerakan tanah di Kp. Gadog, Desa Sukamahi, Kec. Sukaresmi, Kab. Cianjur, Jawa Barat

 

Cianjur 7 (190617)

Gambar 6. Penampang situasi gerakan tanah di Kp. Gadog, Desa Sukamahi, Kec. Sukaresmi, Kab. Cianjur, Jawa Barat

 

Cianjur 8 (190617)

Foto 1. Mahkota longsoran pada tebing breksi di Gunung Hieum.

 

Cianjur 9 (190617)

Foto 2. Bongkahan Batuan yang meluncur dari mahkota longsoran di Gunung Hieum. Jatuhan batuan dan longsoran tanah tersebut tidak mencapai pemukiman.

 

Cianjur 10 (190617)

Foto 3. Pemukiman Kp. Gadog yang terancam gerakan tanah, berada di bawah tebing Gunung Hieum.

 

Cianjur 11 (190617)

Foto 4. Rumah warga di Kp. Gadog yang tepat di jalur luncuran batuan dari Gunung Hieum sudah diungsikan.

 

Cianjur 12 (190617)

Foto 5. Jalur jalan yang terletak di bawah mahkota longsoran dan di atas pemukiman berada pada jalur luncuran gerakan tanah sehingga lalu lintas di jalan ini terancam terputus/terganggu akibat longsoran susulan.

 

Cianjur 13 (190617)

Foto 6. Kegiatan pemeriksaan dan sosialisasi gerakan tanah yang dilakukan petugas Badan Geologi bekerja sama dengan pihak BPBD Kab. Cianjur kepada warga dan pemerintah setempat.