Laporan Singkat Hasil Pemeriksaan Bencana Gerakan Tanah Di Kec. Purwanegara Dan Pagentan, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah

Laporan singkat bencana alam gerakan tanah di Kecamatan Purwanegara dan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, berdasarkan surat dari BPPD Banjarnegara No. 360/85/BPBD/2017 tertanggal 6 April 2017, perihal permohonan pemeriksaan lokasi dan penelitian, sebagai berikut :

 a. Kecamatan Purwanegara

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian :

Bencana gerakan tanah terjadi secara menyebar pada sebagian pemukiman di Dusun Bulukuning mulai dari RT 01 s/d RT 13 - 04, Desa Kaliajir, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi geografis gerakan tanah terletak pada koordinat 109° 34' 16,80"BT dan 07° 29' 16,1"LS. Gerakan tanah ini telah berlangsung lama sekitar sebelas tahunan.

2.  Kondisi daerah pemeriksaan

a. Morfologi

Secara umum morfologi lokasi bencana dan sekitarnya sebagian besar merupakan perbukitan dengan kemiringan lereng agak terjal –  terjal, tepi-tepi lereng perbukitan dibatasi oleh lereng yang sangat terjal. Daerah ini berada pada ketinggian 250 – 350 meter di atas permukaan laut.

b. Geologi

Batuan dasar pembentuk lereng berdasarkan Peta Geologi Lembar Banjarnegara Pekalongan (dengan kompilasi lapangan), Jawa (Condon W. H., dkk., P3G,1996) adalah Batuan Terkersikan (KTm) yang terdiri dari batuan kepingan sedimen dan gunungapi, tuf terkersikan, tercampur aduk secara tektonika dan tersesarkan di atas batuan sedimen berumur Kapur. Bagian permukaan berupa tanah pelapukan yang mengandung pasir, lapili, lempungan, porositas tinggi, sangat lepas dengan ketebalan 1 – 5 meter.

c.   Keairan

Kondisi keairan di Dusun Bulukuning Desa Kaliajir sangat sulit, sumur sangat dalam mencapai kedalaman  15 meter. Air  untuk keperluan sehari – hari di ambil dari aliran sungai yang berada di lemah dan air PAM yang mengambil dari sumber air di luar wilayah tersebut.

d.  Tata guna lahan

Tata guna lahan di daerah bencana sebagian besar berupa kebun sayuran, hutan campuran dan setempat - setempat berupa pemukiman yang tersebar  berkelompok. Pemukiman menyebar di punggungan bukit dan di lembah-lembah, sebagian besar menempati lahan dari hasil pematangan lahan dengan cara mengupas lereng.

e.   Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Banjarnegara, Dusun Bulukuning, Desa Kaliajir masuk kedalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah - Tinggi, artinya daerah tersebut dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan tinggi dan erosi kuat.

3. Jenis gerakan tanah

Jenis gerakan tanah yang terjadi di Dusun Bulukuning berupa gerakan tanah tipe rayapan disertai terbentuknya retakan dan nendatan. Gerakan tanah sangat tersebar secara sporadis di 9 (Sembilan) ke RTan. Panjang  dan lebar retakan sangat bervariasi dan tidak menerus, lebar retakan mencapai 5  – 10 cm, retakan banyak yang sudah ditutup oleh tanah lempung, penurunan nendatan mencapai  30  – 50 cm.  Arah gerakan tanah sangat bervariasi mengikuti arah lembah, dijumpai adanya  longsoran bahan rombakan pada ujung morfologi yang terjal.

4. Dampak Gerakan Tanah

Dampak gerakan tanah di Dusun Bulukuning, Desa Kaliajir, antara lain:

58 (lima puluh delapan) rumah terancam  dan 8 (delapan) rumah diantaranya rusak berat dan tidak layak untuk dihuni.

Jika gerakan tanah ini berkembang, dikhawatirkan juga mengancam keselamatan penduduk, kerusakan lahan dan kerugian harta benda lainnya.

5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

  • Tanah pelapukan yang mudah menyerap air, batuan dasarnya berupa batuan yang kedap air terdiri dari perlapisan tuf yang mempunyai kemiringan searah dengan kemiringan lereng, sehingga kontak keduanya menjadi bidang lemah dan bertindak sebagai bidang gelincir gerakan tanah,
  • Tata guna lahan : ladang dan kebun campuran (tanahnya gembur dan sarang)
  • Kemiringan lereng yang agak terjal – terjal
  • Kemiringan perlapisan batuan yang searah dengan kemiringan lereng sehingga memungkinkan tanah mudah bergerak,
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung lama dapat memicu gerakan tanah pada lokasi ini.

6.  Mekanisme Terjadi Gerakan Tanah

Akibat  kandungan air dan tekanan air pori pada lapisan tanah meningkat, bobot masa tanah menjadi bertambah, daya ikat antar butiran tanah (kohesi) berkurang menyebabkan lereng kehilangan kekuatannya dan menjadi tidak stabil. Lapisan tanah pelapukan kontak dengan lapisan bawahnya yang kedap air, sehingga kontak antara keduanya merupakan bidang gelincir gerakan tanah, karena kemiringan lereng yang agak terjal – terjal dan kemiringan lapisan batuan searah dengan kemiringan lereng maka terjadi gerakan tanah tipe rayapan, retakan dan nendatan. Pada ujung perbukitan yang terjal terjadi longsoran  bahan rombakan.

Gerakan tanah ini berlangsung sangat lambat, tetapi pada suatu saat dapat mengalami percepatan dan bisa menghancurkan lahan pemukiman dan bangunan yang ada di atasnya serta dapat menghancurkan lahan pemukiman dan perkebunan, serta menimbun lahan yang berada di bawahnya.

7. Rencana Relokasi

 a. Lokasi

Dusun Bulukuning mulai dari RT-08/ RW-04 Blok 39, Desa Kaliajir, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara, terletak pada koordinat : 1090 34’  58,24”  BT dan  070 28’  54,48”  LS

b.  Kondisi daerah rencana relokasi :

  • Morfologi

Merupakan lereng timur laut dari perbukitan bergelombang lemah dengan kemiringan lereng antara 5 – 150 yang mempunyai kenampakan berjenjang, dimana di bagian atas (punggungan) merupakan jalan setapak/jalan tanah

  • Geologi

Batuan penyusun daerah  pemeriksaan berupa breksi tufa, padat, kompak, lapuk sedang, dengan tanah pelapukan berupa lempung pasiran, sarang, agak gembur, tebal antara 1,00 – 2,00 meter.

  • Tataguna lahan

Tata lahan daerah pemeriksaan secara umum berupa ladang (pada saat dilakukan pemeriksaan berupa kebun singkong dan tanaman palawija)

  • Kondisi keairan

Kondisi keairan daerah rencana relokasi berupa limpasan air permukaan (run off) pada waktu hujan, yang mengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah.

  • Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan kondisi batuan penyusun (breksi tufa) dan kemiringan lerengnya, daerah ini cukup aman terhadap kejadian gerakan tanah

c.   Kelayakan untuk relokasi :

Daerah ini layak untuk relokasi dengan ketentuan sebagai berikut :

  • perlu dikeringkan dan dipadatkan
  • dibuat terassering (berundak) dengan tinggi lereng maksimum 1,50 meter dengan sudut maksimum 450
  • untuk limpasan air permukaan dan limbah rumah tangga perlu dibuat sistem pengeringan (drainase) kedap air
  • tidak melakukan penggalian secara tegak
  • disarankan dibuat rumah kayu (panggung) atau semi permanen
  • tidak membuat kolam (tampungan air) pada lereng

7.   Kesimpulan dan Rekomendasi

a.  Kesimpulan:

Dari hasil pemeriksaan lapangan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai  berikut :

  • Daerah bencana di Dusun Bulukuning, Desa Kaliajir termasuk kedalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah – Tinggi;
  • Jenis gerakan tanah berupa tipe rayapan, dicirikan dengan terjadinya retakan dan nendatan, pada ujung perbukitan yang berlereng terjal sudah mulai terjadi longsoran bahan rombakan;
  • Bangunan rumah sudah banyak yang mengalami kerusakan berupa retakan pada dinding dan lantai konstruksi tembok;
  • Lahan pemukiman sudah mengalami retakan dan nendatan;
  • Gerakan tanah masih berpotensi untuk berkembang lebih besar dan mengancam rusaknya pemukiman dan lingkungannya jika dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi.

b. Rekomendasi Teknis:

Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut di atas, maka direkomendasikan beberapa upaya penanggulangan sebagai berikut :

  • Rumah yang rusak berat dan tidak layak huni harus segera direlokasi ke tempat yang aman dari ancaman gerakan tanah;
  • Masyarakat Kampung Bulukuning harus senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung lama, masyarakat sebaiknya mengungsi ke tempat yang aman dari ancaman bencana gerakan tanah;
  • Retakan – retakan pada tanah harus segera ditutup dengan tanah lempung dan dipadatkan, agar air hujan dan air permukaan tidak masuk ke dalam tanah melalui retakan;
  • Untuk memperkuat lereng perlu dibuat dinding penahan lereng yang memenuhi syarat teknis;
  • Tata guna lahan basah: kolam dll. harus segera dikeringkan
  • Untuk menambah stabilitas lereng, pada lahan kebun sayuran yang gembur harus dilakukan penanaman pepohonan yang berakar kuat dan dalam berselang seling dengan ladang/tegalan
  • Saluran air permukaan dan air limbah dari rumah tangga harus dikendalikan dengan saluran yang kedap air dan air langsung dibuang ke sungai utama agar kejenuhan air pada tanah berkurang;
  • Rumah yang cocok untuk wilayah ini rumah konstruksi ringan (kayu), rumah konstruksi tembok akan membebani lahan;
  • Tidak melakukan pengupasan lereng yang dapat mengakibatkan kestabilan lereng terganggu;
  • Tidak membangun diatas, pada dan di bawah lereng yang terjal;
  • Masyarakat agar memantau munculnya retakan dan nendatan baru pada lahan pemukiman dan sekitarnya untuk antisipasi terjadinya longsoran yang lebih besar. Jika retakan dan nendatan semakin berkembang, maka masyarakat segera mengungsi ke tempat yang aman dari ancaman bencana gerakan tanah;
  • Apabila gerakan tanah terus berkembang, maka pemukiman  di Dusun Bulukuning yang terancam gerakan tanah harus segera dipindahkan (direlokasi) ketempat yang aman dari ancaman gerakan tanah.
  • Daerah rencana relokasi cukup layak untuk relokasi dengan ketentuan sebagai berikut :
  1.  perlu dikeringkan dan dipadatkan
  2.  dibuat terassering (berundak) dengan tinggi lereng maksimum 1,50 meter dengan sudut maksimum 450
  3.  untuk limpasan air permukaan dan limbah rumah tangga perlu dibuat sistem pengeringan (drainase) kedap air
  4.  tidak melakukan penggalian secara tegak
  5.  disarankan dibuat rumah kayu (panggung) atau semi permanen
  6.  tidak membuat kolam (tampungan air) pada lereng


II.  Kecamatan Pagentan

 A. Dusun Kaliglagah, Desa Gumingsir

1.   Lokasi dan Waktu Kejadian :

Bencana gerakan tanah terjadi secara menyebar pada sebagian pemukiman di Dusun Kaliglagah Desa Gumingsir, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi geografis gerakan tanah terletak pada koordinat. Waktu kejadian 27 November 2015 hingga sekarang (pada setiap musim hujan).

2.  Kondisidaerah pemeriksaan

a. Morfologi

Secara umum morfologi lokasi bencana dan sekitarnya secara umum merupakan perbukitan bergelombang sedang – kuat dengan kemiringan lereng agak terjal –  terjal, dimana pada beberapa tempat terdapat lereng yang sangat terjal ( > 400 ) terutama pada tebing di tepi Kali Merawu . Daerah ini berada pada ketinggian antara  530 – 600 meter di atas permukaan laut.

b. Geologi

Batuan dasar pembentuk lereng dari hasil pemeriksaan di lokasi gerakann tanah berupa serpih, bagian permukaan lapuk berupa : lempung, lunak, gembur, tebal antara 1,00 – 2,00 meter.

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Banjarnegara - Pekalongan , Jawa (Condon W. H., dkk., Puslitbang Geologi, 1996) satuan batuan di daerah pemeriksaan termasuk dalam Formasi Rambatan (Tmr) yang terdiri dari : serpih, napal dan batu pasir gampingan.

c. Keairan

Kondisi keairan di Dusun Kaliglagah, Desa Gumingsir sangat sulit, sumur sangat dalam mencapai kedalaman  15 meter. Air  untuk keperluan sehari – hari di ambil dari aliran sungai yang berada di lemah dan air dari sumber air di luar wilayah tersebut.

d.Tata guna lahan

Tata guna lahan di daerah bencana sebagian besar berupa lading/tegalan, hutan campuran dan setempat - setempat berupa pemukiman yang tersebar  berkelompok. Pemukiman menyebar di punggungan bukit dan di lembah-lembah, sebagian besar menempati lahan dari hasil pematangan lahan dengan cara mengupas lereng.

e. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Banjarnegara, Dusun Kaliglagah, Desa Gumingsir masuk kedalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah - Tinggi, artinya daerah tersebut dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan tinggi dan erosi kuat.

3. Jenis gerakan tanah

Jenis gerakan tanah yang terjadi di Dusun Kaliglagah berupa gerakan tanah tipe rayapan disertai terbentuknya retakan dan nendatan, dimana gerakan tanah di daerah ini tersebar secara sporadis di beberapa lokasi. Panjang  dan lebar retakan sangat bervariasi dan tidak menerus, dengan panjang antara 12 – lebih dari 40 m dan lebar retakan mencapai 5  – 30 cm, sebagian besar retakan sudah ditutup oleh tanah lempung, sedangkan penurunan (nendatan) mencapai  30  – 50 cm.  Arah gerakan tanah sangat bervariasi mengikuti arah lembah (Kali Merawu) dengan arah umum N 2820 E, pada beberapa tempat dijumpai adanya  longsoran bahan rombakan terutama pada ujung morfologi yang terjal dengan arah N 2140 E, N 2860 E dan N 3570 E, panjang antara 5 – 30 m, lebar antara 3 – 15 m dan tinggi gawir antara 1 – 3 m.

4. Dampak Gerakan Tanah

Dampak gerakan tanah di Dusun Kaliglagah, Desa Gumingsir, menyebabkan :

1 (satu) rumah roboh, 17 (tujuh belas) rumah rusak sedang, 29 (dua puluh sembilan) rumah rusak ringan

5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

  • Tanah pelapukan yang gembur, mudah menyerap air, batuan dasarnya berupa serpih (batuan yang kedap air), sehingga kontak keduanya menjadi bidang lemah dan bertindak sebagai bidang gelincir gerakan tanah.
  • Erosi lateral pada tebing sungai (Kali Merawu) sehingga tebing di atasnya menjadi tidak stabil
  • Tata guna lahan berupa ladang/tegalan, sehingga tanah menjadi gembur dan mudah menyerap air.
  • Limpasan air permukaan yang masuk melalui retakan/rekahan sehingga tanah menjadi jenuh air
  • Kemiringan lereng yang agak terjal – terjal
  • Kemiringan perlapisan batuan yang searah kemiringan lereng sehingga memungkinkan tanah mudah bergerak,
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung lama dapat memicu gerakan tanah pada lokasi ini.

6.  Mekanisme Terjadi Gerakan Tanah

Akibat  kandungan air dan tekanan air pori pada lapisan tanah meningkat, bobot masa tanah menjadi bertambah, daya ikat antar butiran tanah (kohesi) berkurang menyebabkan lereng kehilangan kekuatannya dan menjadi tidak stabil. Lapisan tanah pelapukan kontak dengan lapisan bawahnya yang kedap air, sehingga kontak antara keduanya merupakan bidang gelincir gerakan tanah, karena kemiringan lereng yang agak terjal – terjal dan kemiringan lapisan batuan searah dengan kemiringan lereng maka terjadi gerakan tanah tipe rayapan, retakan dan nendatan. Pada ujung perbukitan yang terjal terjadi longsoran  bahan rombakan.

Gerakan tanah ini berlangsung sangat lambat, tetapi pada suatu saat dapat mengalami percepatan dan bisa menghancurkan lahan pemukiman dan bangunan yang ada di atasnya serta dapat menghancurkan lahan pemukiman dan perkebunan, serta menimbun lahan yang berada di bawahnya.

7.  Rencana Relokasi

 Lokasi

Lokasi rencana relokasi terletak di Dusun  Kaliglagah, Desa Gumingsir, Kecamatan Pagentan. Secara geografis lokasi ini terletak pada koordinat : 109° 46' 08,45" BT dan 07° 19' 32,23" LS

 

b.  Kondisi daerah rencana relokasi :

  • Morfologi

Merupakan lereng utara dari perbukitan bergelombang lemah dengan kemiringan lereng antara 5 – 200 (pada bagian lembah setempat berkemiringan > 400 ) yang mempunyai kenampakan berjenjang, dimana di bagian atas (punggungan) merupakan jalan setapak/jalan tanah

  • Geologi

Batuan penyusun daerah  rencana relokasi terdiri dari serpih dengan tanah pelapukan berupa lempung yang lunak, gembur , mudah menyerap air dengan tebal antara 2 - > 3 meter.

  • Tataguna lahan

Tata lahan daerah pemeriksaan berupa kebun salak dan tegalan, dimana pada bagian atas (punggungan) berupa jalan desa (jalan perkerasan)

  • Kondisi keairan

Kondisi keairan daerah rencana relokasi berupa limpasan air permukaan (run off) pada waktu hujan, aliran air permukaan terdapat pada S. Merawu (sungai temporer) sedang untuk air bersih harus diambilkan dari mata air terdekat dengan selang/pipa.

  • Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan kondisi batuan penyusun berupa serpih yang tidak stabil dan kemiringan lerengnya, daerah ini rawan terhadap kejadian gerakan tanah

c.  Kelayakan untuk relokasi :

Berdasarkan dari data tersebut di atas, daerah ini tidak layak untuk digunakan sebagai lokasi relokasi.

7.   Kesimpulan dan Rekomendasi :

a.   Kesimpulan:

Dari hasil pemeriksaan lapangan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

  • Daerah bencana di Dusun Kaliglagah, Desa Gumingsir termasuk kedalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah – Tinggi;
  • Jenis gerakan tanah berupa tipe rayapan, dicirikan dengan terjadinya retakan dan nendatan, pada ujung perbukitan yang berlereng terjal terjadi longsoran bahan rombakan;
  • Bangunan rumah sudah banyak yang mengalami kerusakan berupa retakan pada dinding dan lantai bangunan tembok;
  • Lahan pemukiman sudah mengalami retakan dan nendatan;
  • Gerakan tanah masih berpotensi untuk berkembang lebih besar dan mengancam rusaknya pemukiman dan lingkungannya jika dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu lama.
  • Lahan rencana relokasi yang diperiksa tidak layak untuk digunakan sebagai lokasi relokasi

b. Rekomendasi :

Untuk menghindari jatuhnya korban jiwa dan kerugian harta benda apabila gerakan tanah terus berkembang, maka direkomendasikan beberapa upaya penanggulangan sebagai berikut :

  • Rumah yang rusak berat dan tidak layak huni harus segera direlokasi ke tempat yang aman dari ancaman gerakan tanah;
  • Masyarakat Dusun Kaliglagah, Desa gumingsir harus senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung lama, masyarakat sebaiknya mengungsi ke tempat yang aman dari ancaman bencana gerakan tanah
  • Retakan – retakan pada tanah harus segera ditutup dengan tanah lempung dan dipadatkan, agar air hujan dan air permukaan tidak masuk ke dalam tanah melalui retakan
  • Untuk memperkuat lereng perlu dibuat dinding penahan lereng yang memenuhi syarat teknis
  • Tata guna lahan basah: kolam dll. harus segera dikeringkan
  • Untuk menambah stabilitas lereng, pada lahan lading/tegalan yang gembur harus dilakukan penanaman pepohonan yang berakar kuat dan dalam berselang seling dengan palawija
  • Saluran air permukaan dan air limbah dari rumah tangga harus dikendalikan dengan saluran yang kedap air dan air langsung dibuang ke sungai utama agar kejenuhan air pada tanah berkurang
  • Rumah yang cocok untuk wilayah ini rumah konstruksi ringan (kayu), rumah konstruksi tembok akan membebani lahan
  • Tidak melakukan pengupasan lereng yang dapat mengakibatkan kestabilan lereng terganggu
  • Tidak membangun diatas, pada dan di bawah lereng yang terjal
  • Masyarakat agar memantau munculnya retakan dan nendatan baru pada lahan pemukiman dan sekitarnya untuk antisipasi terjadinya longsoran yang lebih besar. Jika retakan dan nendatan semakin berkembang, maka masyarakat segera mengungsi ke tempat yang aman dari ancaman bencana gerakan tanah
  • Apabila gerakan tanah terus berkembang, maka pemukiman  di Dusun Kaliglagah yang terancam gerakan tanah harus segera dipindahkan (direlokasi) ketempat yang aman dari ancaman gerakan tanah.
B. Dusun Gumingsir, Desa Gumingsir

1.   Lokasi dan Waktu Kejadian :

Bencana gerakan tanah terjadi secara menyebar pada sebagian pemukiman di Dusun Gumingsir, Desa Gumingsir, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi geografis gerakan tanah terletak pada koordinat 109° 46' 1,38" BT dan 07° 19' 47,2" LS. Waktu kejadian 27 November 2015 hingga sekarang (pada setiap musim hujan).

2.   Kondisi Daerah Pemeriksaan

a. Morfologi

Secara umum morfologi lokasi bencana dan sekitarnya merupakan lereng barat laut dari perbukitan bergelombang lemah – sedang dengan kemiringan lereng agak terjal –  terjal, sedangkan pada tepi-tepi lereng perbukitan dibatasi oleh lereng yang sangat terjal - curam. Daerah ini berada pada ketinggian 750 – 850 meter di atas permukaan laut.

b. Geologi

Dari hasil pemeriksaan di lapangan, batuan dasar pembentuk lereng  terdiri dari serpih, bagian permukaan terlapukan berupa lempung, lunak, gembur, tebal antara 1,00 – 2,00 meter.

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Banjarnegara - Pekalongan (dengan kompilasi lapangan), Jawa (Condon W. H., dkk., P3G,1996) satuan batuan di daerah pemeriksaan termasuk dalam Formasi Rambatan (Tmr) yang terdiri dari : serpih, napal dan batu pasir gampingan.

c. Keairan

Kondisi keairan berupa limpasan air permukaan pada waktu hujan yang sebagian besar pengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah. Kondisi air bersih di Dusun Gumingsir, Desa Gumingsir sangat sulit, sumur penduduk cukup dalam mencapai lebih dari 12 meter, sedangkan air  untuk keperluan sehari – hari di ambil dari aliran sungai yang berada di lembah dan sumber air di luar wilayah tersebut.

d.Tata guna lahan

Tata guna lahan di daerah bencana sebagian besar berupa ladang, tagalan, kebun campuran, hutan campuran dan setempat - setempat berupa pemukiman yang tersebar  berkelompok. Pemukiman menyebar di punggungan bukit dan di lembah-lembah, sebagian besar menempati lahan dari hasil pematangan lahan dengan cara mengupas lereng.

e. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Banjarnegara, Dusun Gumingsir, Desa Gumingsir masuk kedalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah - Tinggi, artinya daerah tersebut dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan tinggi dan erosi kuat.

3. Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah yang terjadi di Dusun Gumingsir berupa gerakan tanah tipe rayapan disertai terbentuknya retakan dan nendatan, dimana gerakan tanah di daerah ini tersebar secara sporadis di beberapa lokasi. Panjang  dan lebar retakan sangat bervariasi dan tidak menerus, dengan panjang antara 10 – lebih dari 35 m dan lebar retakan mencapai 5  – 45 cm, sebagian besar retakan sudah ditutup oleh tanah lempung, sedangkan penurunan (nendatan) mencapai  30  – 70 cm.  Arah gerakan tanah sangat bervariasi mengikuti arah lembah dengan arah umum N 3120 E, pada beberapa tempat dijumpai adanya  longsoran bahan rombakan berukuran kecil terutama pada tebing terjal dengan arah N 2830 E, N 2610 E dan N 570 E, panjang antara 5 – 12 m, lebar antara 3 – 10 m dan tinggi gawir antara 0,5 – 2 m.

4. Dampak Gerakan Tanah

Dampak gerakan tanah di Dusun Gumingsir, Desa Gumingsir, antara lain :

2 ( dua) rumah roboh,  20 rumah rusak ringan dan beberapa Ha lahan pekarangan dan kebun campuran rusak.

5.   Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

  • Tanah pelapukan yang mudah menyerap air, batuan dasarnya berupa batuan yang kedap air terdiri dari perlapisan tuf yang mempunyai kemiringan searah dengan kemiringan lereng, sehingga kontak keduanya menjadi bidang lemah dan bertindak sebagai bidang gelincir gerakan tanah,
  • Tata guna lahan yang gundul berupa ladang/tegalan (sayur mayur)  yang gembur dan mudah menyerap air.
  • Kemiringan lereng yang agak terjal – terjal
  • Kemiringan perlapisan batuan yang searah dengan kemiringan lereng sehingga memungkinkan tanah mudah bergerak.
  • Adanya erosi lateral pada kaki lereng (lembah alur sungai), sehingga lereng diatasnya menjadi tidak stabil.
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung lama dapat memicu gerakan tanah pada lokasi ini.

6.   Mekanisme Terjadi Gerakan Tanah

Akibat  kandungan air dan tekanan air pori pada lapisan tanah meningkat, bobot masa tanah menjadi bertambah, daya ikat antar butiran tanah (kohesi) berkurang menyebabkan lereng kehilangan kekuatannya dan menjadi tidak stabil. Lapisan tanah pelapukan kontak dengan lapisan bawahnya yang kedap air, sehingga kontak antara keduanya merupakan bidang gelincir gerakan tanah, karena kemiringan lereng yang agak terjal – terjal dan kemiringan lapisan batuan searah dengan kemiringan lereng maka terjadi gerakan tanah tipe rayapan, retakan dan nendatan. Pada ujung perbukitan yang terjal terjadi longsoran  bahan rombakan.

Gerakan tanah ini berlangsung sangat lambat, tetapi pada suatu saat dapat mengalami percepatan dan bisa menghancurkan lahan pemukiman serta bangunan yang ada di atasnya, juga dapat menghancurkan lahan pemukiman dan perkebunan, serta menimbun lahan yang berada di bawahnya.

7.  Kesimpulan dan Rekomendasi teknis penanggulangan

a. Kesimpulan:

Dari hasil pemeriksaan lapangan dapat disimpulkan sebagai berikut :

  • Daerah bencana di Dusun Gumingsir, Desa Gumingsir termasuk kedalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah – Tinggi;
  • Jenis gerakan tanah berupa tipe rayapan, dicirikan dengan terjadinya retakan dan nendatan, pada kaki lereng (berlereng terjal) terjadi longsoran bahan rombakan
  • Bangunan rumah sudah banyak yang mengalami kerusakan berupa retakan pada dinding dan lantai konstruksi tembok;
  • Lahan pemukiman sudah mengalami retakan dan nendatan;
  • Gerakan tanah masih berpotensi untuk berkembang lebih besar dan mengancam rusaknya pemukiman dan lingkungannya jika dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi.

b. Rekomendasi Teknis:

Untuk menghindari jatuhnya korban jiwa dan kerugian harta benda apabila gerakan tanah terus berkembang, maka direkomendasikan beberapa upaya penanggulangan sebagai berikut :

  • Rumah yang rusak berat dan tidak layak huni harus segera direlokasi ke tempat yang aman dari ancaman gerakan tanah;
  • Masyarakat Dusun Gumingsir harus senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung lama, masyarakat sebaiknya mengungsi ke tempat yang aman dari ancaman bencana gerakan tanah;
  • Retakan – retakan pada tanah harus segera ditutup dengan tanah lempung dan dipadatkan, agar air hujan dan air permukaan tidak masuk ke dalam tanah melalui retakan;
  • Untuk memperkuat lereng perlu dibuat dinding penahan lereng yang memenuhi syarat teknis;
  • Tata guna lahan basah: kolam dll. harus segera dikeringkan;
  • Untuk menambah stabilitas lereng, pada lahan kebun sayuran yang gembur harus dilakukan penanaman pepohonan yang berakar kuat dan dalam berselang seling dengan kebun sayuran;
  • Saluran air permukaan dan air limbah dari rumah tangga harus dikendalikan dengan saluran yang kedap air dan air langsung dibuang ke sungai utama agar kejenuhan air pada tanah berkurang;
  • Rumah yang cocok untuk wilayah ini rumah konstruksi ringan (kayu), rumah konstruksi tembok akan membebani lahan;
  • Tidak melakukan pengupasan lereng yang dapat mengakibatkan kestabilan lereng terganggu;
  • Tidak membangun diatas, pada dan di bawah lereng yang terjal;
  • Masyarakat agar memantau munculnya retakan dan nendatan baru pada lahan pemukiman dan sekitarnya untuk antisipasi terjadinya longsoran yang lebih besar. Jika retakan dan nendatan semakin berkembang, maka masyarakat segera mengungsi ke tempat yang aman dari ancaman bencana gerakan tanah;
  • Apabila gerakan tanah terus berkembang, maka pemukiman  di Dusun Gumingsir yang terancam gerakan tanah harus segera dipindahkan (direlokasi) ketempat yang aman dari ancaman gerakan tanah.
C. Dusun Tegaron, Desa Gumingsir

1.   Lokasi dan Waktu Kejadian :

Bencana gerakan tanah terjadi secara menyebar pada sebagian pemukiman di Dusun Tegaron, Desa Gumingsir, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Secara  geografis gerakan tanah ini terletak pada koordinat 109° 45' 18,0" BT dan 07° 19' 40,7" LS. Waktu kejadian 27 November 2015 hingga sekarang (pada setiap musim hujan).

2.  Kondisi daerah pemeriksaan

a. Morfologi

Secara umum morfologi lokasi bencana dan sekitarnya sebagian besar merupakan perbukitan dengan kemiringan lereng agak terjal –  terjal, tepi-tepi lereng perbukitan dibatasi oleh lereng yang sangat terjal. Daerah ini berada pada ketinggian 250 – 350 meter di atas permukaan laut.

b. Geologi

Dari hasil pemeriksaan di lapangan, batuan dasar pembentuk lereng  terdiri dari serpih, bagian permukaan terlapukan berupa lempung, lunak, gembur, tebal antara 1,00 – 2,00 meter.

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Banjarnegara - Pekalongan (dengan kompilasi lapangan), Jawa (Condon W. H., dkk., P3G,1996) satuan batuan di daerah pemeriksaan termasuk dalam Formasi Rambatan (Tmr) yang terdiri dari : serpih, napal dan batu pasir gampingan.

c. Keairan

Kondisi keairan berupa limpasan air permukaan pada waktu hujan yang sebagian besar pengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah. Kondisi air bersih di Dusun Tegaron, Desa Gumingsir sangat sulit, sumur penduduk cukup dalam mencapai lebih dari 12 meter, sedangkan air  untuk keperluan sehari – hari di ambil dari aliran sungai yang berada di lemah dan sumber air di luar wilayah tersebut.

 

d.Tata guna lahan

Tata guna lahan di daerah bencana sebagian besar berupa lading/tegalan, hutan campuran dan setempat - setempat berupa pemukiman yang tersebar  berkelompok. Pemukiman menyebar di punggungan bukit dan di lembah-lembah, sebagian besar menempati lahan dari hasil pematangan lahan dengan cara mengupas lereng.

e. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Banjarnegara, Dusun Tegaron, Desa Gumingsir masuk kedalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah - Tinggi, artinya daerah tersebut dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan tinggi dan erosi kuat.

3. Jenis Gerakan Tanah :

Jenis gerakan tanah yang terjadi di Dusun Tegaron berupa gerakan tanah tipe rayapan disertai terbentuknya retakan dan nendatan. Panjang  dan lebar retakan sangat bervariasi dan tidak menerus, lebar retakan mencapai 5  – 10 cm, retakan banyak yang sudah ditutup oleh tanah lempung, penurunan nendatan mencapai  30  – 50 cm.  Arah gerakan tanah sangat bervariasi mengikuti arah lembah, dijumpai adanya  longsoran bahan rombakan pada ujung morfologi yang terjal.

4. Dampak Gerakan Tanah :

Dampak gerakan tanah di Dusun Tegaron, Desa Gumingsir, antara lain menyebabkan : 14 (empat belas) rumah roboh,  28 rumah rusak ringan - sedang

5.   Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

  • Tanah pelapukan yang lunak, gembur, mudah menyerap air, batuan dasarnya berupa batuan yang kedap air terdiri dari perlapisan tuf yang mempunyai kemiringan searah dengan kemiringan lereng, sehingga kontak keduanya menjadi bidang lemah dan bertindak sebagai bidang gelincir gerakan tanah,
  • Tata guna lahan yang gundul berupa ladang/tegalan (sayur mayur)  yang gembur dan mudah menyerap air.
  • Kemiringan lereng yang agak terjal – terjal dan kemiringan perlapisan batuan yang mengikuti kemiringan lereng sehingga memungkinkan tanah mudah bergerak.
  • Adanya erosi lateral pada kaki lereng (lembah alur sungai), sehingga lereng diatasnya menjadi tidak stabil.
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung lama dapat memicu gerakan tanah pada lokasi ini.

6.   Mekanisme Terjadi Gerakan Tanah

Akibat  kandungan air dan tekanan air pori pada lapisan tanah meningkat, bobot masa tanah menjadi bertambah, daya ikat antar butiran tanah (kohesi) berkurang menyebabkan lereng kehilangan kekuatannya dan menjadi tidak stabil. Lapisan tanah pelapukan kontak dengan lapisan bawahnya yang kedap air, sehingga kontak antara keduanya merupakan bidang gelincir gerakan tanah, karena kemiringan lereng yang agak terjal – terjal dan kemiringan lapisan batuan searah dengan kemiringan lereng maka terjadi gerakan tanah tipe rayapan, retakan dan nendatan. Pada ujung perbukitan yang terjal terjadi longsoran  bahan rombakan.

Gerakan tanah ini berlangsung sangat lambat, tetapi pada suatu saat dapat mengalami percepatan dan bisa menghancurkan lahan pemukiman dan bangunan yang ada di atasnya serta dapat menghancurkan lahan pemukiman dan perkebunan, serta menimbun lahan yang berada di bawahnya.

7.  Rencana RelokasiLokasi

Lokasi rencana relokasi terletak di RW-03 Dusun Tegaron, Desa Gumingsir, Kecamatan  Pagentan dengan  luas lahan sekitar  9079 m2 . Secara geografis terletak pada koordinat :  109° 45' 07,07" BT dan 07° 19' 38,00" LS

b.  Kondisi daerah rencana relokasi :

  • Morfologi

Merupakan lereng utara dari perbukitan bergelombang lemah dengan kemiringan lereng antara 3 – 100 yang mempunyai kenampakan berjenjang, dimana di bagian bawah merupakan lembah sungai (Kali Merawu) dengan lereng relatif landai.

  • Geologi

Batuan penyusun daerah  rencana relokasi berupa breksi, kompak, keras, bagian permukaan lapuk berupa lempung pasiran, agak gembur, sarang (mudah menyerap air) tebal antara 1,5 - . 2,5 meter.

  • Tataguna lahan

Tata lahan daerah pemeriksaan berupa sawah dan sebagian kebun salak

  • Kondisi keairan

Kondisi keairan daerah rencana relokasi berupa limpasan air permukaan (run off) pada waktu hujan, aliran (selokan) irigasi non teknis dan aliran air permukaan terdapat pada Kali Merawu (sungai temporer) pada bagian hilirnya

  • Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan kondisi batuan penyusun (breksi ) dan kemiringan lerengnya, daerah ini cukup aman terhadap kejadian gerakan tanah

b.   Kelayakan untuk relokasi :

Daerah ini layak untuk relokasi dengan ketentuan sebagai berikut :

  • lahan perlu dikeringkan dan dipadatkan
  • dibuat terassering (berundak) dengan tinggi lereng maksimum 1,50 meter dengan sudut maksimum 450
  • untuk limpasan air permukaan dan limbah rumah tangga perlu dibuat sistem pengeringan (drainase) kedap air
  • tidak melakukan penggalian secara tegak
  • disarankan dibuat rumah kayu (panggung) atau semi permanen
  • tidak membuat kolam (tampungan air) pada lereng
  • tanami lahan dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam (durian, nangka, jati dan sejenisnya)

7.  Kesimpulan dan Rekomendasi teknis penanggulangan

a.  Kesimpulan :

Dari hasil pemeriksaan tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :

  • Daerah bencana di Dusun Tegaron, Desa Gumingsir  termasuk kedalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah – Tinggi;
  • Jenis gerakan tanah berupa tipe rayapan, dicirikan dengan terjadinya retakan dan nendatan, pada daerah yang mempunyai kemiringan lereng terjal terjadi longsoran bahan rombakan;
  • Bangunan rumah sudah banyak yang mengalami kerusakan berupa retakan pada dinding dan lantai konstruksi tembok;
  • Lahan pemukiman sudah mengalami retakan dan nendatan;
  • Gerakan tanah akan selalu berkembang setiap tahun (pada musim hujan)
  • Gerakan tanah masih berpotensi untuk berkembang lebih besar dan dapat memperparah rusaknya pemukiman serta lingkungannya jika dipicu oleh curah hujan yang tinggi.
  • Lahan rencana relokasi yang diperiksa layak untuk digunakan sebagai lokasi relokasi

b. Rekomendasi Teknis :

Dari hasil pembahasan tersebut di atas,  maka dapat direkomendasikan beberapa hal sebagai berikut :

  • Rumah yang rusak berat dan tidak layak huni harus segera direlokasi ke tempat yang aman dari ancaman gerakan tanah;
  • Masyarakat Dusun Tegaron harus senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung lama, masyarakat sebaiknya mengungsi ke tempat yang aman dari ancaman bencana gerakan tanah;
  • Retakan – retakan harus segera ditutup dengan tanah lempung dan dipadatkan, agar air hujan dan air permukaan tidak masuk ke dalam tanah.
  • Untuk memperkuat lereng perlu dibuat dinding penahan lereng yang memenuhi syarat teknis;
  • Tata guna lahan basah: kolam, sawah dan sejenisnya harus segera dikeringkan;
  • Untuk menambah stabilitas lereng, harus dilakukan penanaman pepohonan yang berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng
  • Saluran air permukaan dan air limbah dari rumah tangga harus dikendalikan dengan saluran yang kedap air dan air langsung dibuang ke sungai utama agar kejenuhan air pada tanah berkurang;
  • Rumah yang cocok untuk wilayah ini rumah konstruksi ringan (kayu) atau rumah panggung.
  • Tidak melakukan pengupasan lereng yang dapat mengakibatkan kestabilan lereng terganggu;
  • Tidak membangun diatas, pada dan di bawah lereng yang terjal;
  • Masyarakat agar memantau munculnya retakan dan nendatan baru pada lahan pemukiman dan sekitarnya untuk antisipasi terjadinya longsoran yang lebih besar. Jika retakan dan nendatan semakin berkembang, maka masyarakat segera mengungsi ke tempat yang aman dari ancaman bencana gerakan tanah;
  • Apabila gerakan tanah terus berkembang, maka pemukiman  di Dusun Tegaran yang terancam gerakan tanah harus segera dipindahkan (direlokasi) ketempat yang aman dari ancaman gerakan tanah.
  • Lahan rencana relokasi layak untuk dibuat lokasi relokasi dengan syarat antara lain : perlu dikeringkan dan dipadatkan, dibuat terassering (berundak)  tinggi lereng maksimum 1,50 meter dengan sudut kurang 450, air permukaan dan limbah rumah tangga perlu dibuat sistem pengeringan kedap air, tidak melakukan penggalian secara tegak, disarankan dibuat rumah kayu (panggung) atau semi permanen.

 

 

lapsing banjar negara - Copy

lapsing banjar negara 1

lapsing banjar negara 2 - Copy

lapsing banjar negara 3

lapsing banjar negara 4

 

lapsing banjar negara 4

lapsing banjar negara 5

 

lapsing banjar negara 6

 

lapsing banjar negara 7

 

lapsing banjar negara 8

 

lapsing banjar negara 9

 

lapsing banjar negara 10

 

lapsing banjar negara 11

lapsing banjar negara 12

 

lapsing banjar negara 13

lapsing banjar negara 14

 

lapsing banjar negara 15

lapsing banjar negara 16

lapsing banjar negara 17

Foto -1:. Bangunan rumah tembok yang rusak dinding dan lantainya retak akibat gerakan tanah di Dusun Bulukuning RT-3, Desa Kaliajir, Kec. Purwanegara

. Bangunan rumah ini sudah tidak layak huni.

 

lapsing banjar negara 18

Foto – 2 : Kenampakan nendatan penurunan tanah di lokasi pemeriksaan

Dusun Bulukuning, Desa Kaliajir, Kec. Purwanegara

lapsing banjar negara 20 (2)

Foto – 3 : Kenampakan longsoran bahan rombakan di lokasi pemeriksaan

Dusun Bulukuning  Desa Kaliajir, Kec. Purwanegara

 

 

lapsing banjar negara 19 (2)

Foto - 4 : Lokasi rencana relokasi di Dusun Bulukuning RT-3, Desa Kaliajir, Kec. Purwanegara

 

lapsing banjar negara 20

 

Foto - 5 : Sosialisasi gerakan tanah bersama kepala desa Kaliajir dan BPBD Kab. Banjarnegara di Desa Kaliajir, Kec. Purwanegara

 

 

lapsing banjar negara 21

Foto - 6 : Kenampakan longsoran di Dusun Kaliglagah, Desa Gumingsir, Kec. Pagentan

 

lapsing banjar negara 22

Foto - 7 : Pengamatan retakan dan ploting retakan di Dusun Kaliglagah,

Desa Gumingsir, Kec. Pagentan

lapsing banjar negara 28

Foto - 8 : Longsoran tebing akibat kikisan air sungai Merawu merupakan

salah satu penyebab terjadinya gerakan tanah  di Dusun Kaliglagah,

Desa Gumingsir, Kec. Pagentan

 

lapsing banjar negara 23

 

Foto - 9 : Rencana relokasi di Dusun Kaliglagah, Desa Gumingsir, Kec. Pagentan

 

 

lapsing banjar negara 24

Foto - 10 : Longsoran di Dusun Gumingsir, Desa Gumingsir, Kec. Pagentan

yang merusakkan beberapa rumah di daerah ini

 

 

 

lapsing banjar negara 25

Foto - 11 : kondisi retakan pada beberapa rumah penduduk di Dusun Tegaron,

Desa Gumingsir, Kec. Pagentan

 

lapsing banjar negara 26

 

Foto - 12 : Erosi alur sungai yang menjadi salah satu penyebab terjadinya gerakan tanah

di Dusun Tegaron, Desa Gumingsir, Kec. Pagentan

 

lapsing banjar negara 27

Foto - 13 : kenampakan lokasi rencana relokasi di Dusun Tegaron,

Desa Gumingsir, Kec. Pagentan