Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Laporan singkat hasil pemeriksaan tim tanggap darurat bencana gerakan tanah di Desa Sambirejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai berikut :

Lokasi – A

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah

 Gerakan tanah terjadi di Dusun Jentir, Desa Sambirejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografi terletak pada koordinat : 07° 47’ 57,01” LS dan 110° 42’ 58,59” BT, berada pada ketinggian + 110 m sampai 140 m di atas permukaan laut (dpl). Bencana gerakan tanah di daerah ini terjadi pada : hari Jumat malam tanggal  3 Maret 2017

 2. Jenis Gerakan Tanah

 Gerakan tanah berupa runtuhan batu (rock fall) dan luncuran batu (rock slide) dengan panjang ± 70 m, lebar 114 m dan tinggi gawir 17 m dengan arah N 580 E meliputi areal seluas 21.400 m2

3. Dampak Gerakan Tanah 

Bencana gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • 2 (dua) rumah hancur
  • 1 (satu) garasi dan 1 (satu) kandang hancur
  • 1 (satu) rumah terancam
  • ± 2500 m lahan rusal

 4. Kondisi Daerah Bencana

a. Morfologi

Secara umum daerah bencana merupakan lereng timur perbukitan bergelombang lemah - sedang dengan kemiringan lereng agak terjal hingga terjal dengan kemiringan lereng antara 15 – 350 setempat lebih dari 450. Daerah bencana berketinggian antara  110 m – 140 m di atas permukaan laut (dpl) dengan puncaknya Gunung Botak, sedang di lembah sebelah timur mengalir Kali Jentir.

b. Kondisi geologi

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta, Jawa, Wartono Rahardjo,dkk. Puslitbang Geologi, 1995), daerah bencana disusun oleh Formasi Wonosari (Tmw) yang terdiri dari batu gamping, napal.

Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi bencana, batuan dasar daerah bencana adalah batu gamping pasiran setempat napal dengan tanah lapukan berupa lempung pasiran, agak gembur, sarang dengan,  ketebalan lebih dari 3 meter. Struktur geologi berupa patahan (sesar) maupun lipatan (fold) tidak dijumpai di daerah ini.

 c. Tata guna lahan

 Tata lahan pada lereng bagian atas berupa kebun campuran dengan tanaman keras yang jarang, pada bagian tengah berupa lahan penambangan dan kebun campuran; sedangkan pada lereng bagian bawah berupa pemukiman (rumah-rumah penduduk) dan kebun campuran.

 d. Keairan

Keairan pada lokasi bencana berupa aliran permukaan dari air hujan yang mengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah/batuan (pada musim hujan), pada tebing lembah sungai terdapat mata air dngan debit kecil sedangkan untuk keperluan sehari-hari adalah air yang berasal dari sumur gali dengan kedalaman sekitar 4 – 5 meter.

e. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Kejadian Gerakan Tanah di Kabupaten Gunungkidul pada Bulan Maret 2017  (PVMBG), Kecamatan Ngawen terletak pada zona kerentanan gerakan tanah Menengah, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan yang tinggi dan erosi kuat. Daerah bencana dan sekitarnya merupakan daerah yang berpotensi terjadi gerakan tanah apabila lereng diganggu (pemotongan lereng).

 5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

  • Sifat fisik batu gamping pasiran yang retak-retak (air mudah masuk ke dalam batuan) dan mempunyai lapisan searah lereng
  • Adanya pemotongan lereng (kaki lereng) untuk penambangan
  • Kemiringan lereng yang terjal (lebih dari 300 )
  • Hujan yang turun dengan waktu lama (sebelum kejadian) sehingga meningkatkan potensi tanah untuk bergerak.

 6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Curah hujan yang tinggi serta drainase yang kurang baik mengakibatkan air permukaan (run off) terakumulasi dan masuk ke dalam tanah melalui retakan-rekahan dan menerus hingga tertahan pada bidang perlapisan, menyebabkan batuan menjadi lapuk dan merupakan zona lemah (bidang lincir). Adanya pemotongan lereng pada kaki lereng untuk penambangan menyebabkan lapisan batuan menjadi labil dank arena kemiringan lerengnya terjal maka terjadilan luncuran batuan dan runtuhan batuan pada lereng. Gerakan tanah susulan masih dapat terjadi lagi pada setiap musim hujan, sehingga daerah ini sangat berpotensi terjadi gerakan tanah.

7. Kesimpulan

  1. Jenis gerakan tanah berupa runtuhan batu (rock fall) dan luncuran batu (rock slide)
  2. Daerah ini masih berpotensi terjadi longsor susulan
  3. Penyebab dari bencana gerakan tanah ini antara lain : pemotongan kaki lereng (untuk penambangan), kemiringan lapisan batuan yang searah lereng
  4. Batuan berkekar (pecah-pecah) sehingga air hujan masuk dan melicinkan lapisan sehingga berfungsi sebagai bidang lincir

8. Rekomendasi Teknis

  • Meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di lokasi gerakan tanah dan sekitarnya, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Daerah ini tidak layak untuk pemukiman
  • Relokasi rumah-rumah yang rusak dan terancam
  • Menghentikan kegiatan penambangan
  • Menghijaukan daeran bencana dan sekitarnya dengan tanaman keras berakar kuar dan dalam (berfungsi menahan lereng)
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

lapisng gunung kidul

 

lapisng gunung kidul 1

 

lapisng gunung kidul 2

 

lapisng gunung kidul 3

 

lapisng gunung kidul 4

lapisng gunung kidul 5

 

lapisng gunung kidul 6

 

lapisng gunung kidul 7