Laporan Evaluasi Kejadian Gerakan Tanah Bulan Maret 2017

Pendahuluan

Selama bulan Maret 2017, telah terjadi 75 kejadian gerakan tanah yang didominasi oleh longsor. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengeluarkan Peta Prakiraan Potensi Gerakan Tanah setiap awal bulan sebagai informasi kepada Pemerintah Daerah untuk mengantisipasi kejadian longsor yang akan terjadi di suatu daerah. Peta ini merupakan hasil tumpangsusun Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah dan Peta Curah Hujan yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

 

Prakiraan Daerah Potensi Longsor

Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Gerakan Tanah yang dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, potensi gerakan tanah menengah hingga tinggi, bulan Maret 2017, terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Kepulauan Riau, Jambi, Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, Papua.

 

Kejadian gerakan tanah Bulan Maret 2017

Gerakan tanah terjadi di semua provinsi yang diperkirakan, kecuali di Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, Kep. Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara (Barat dan Timur), Kalimantan Tengah,  Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Maluku, Maluku Utara dan Papua Barat (Tabel 1).

Gertan Maret 1 (040417)

Gambar 1. Perbandingan kejadian gerakan tanah di Indonesia Bulan Februari dengan Maret 2017. Pada bulan Maret 2017 terjadi penurunan kejadian gerakan tanah.

 

Gertan Maret 2 (040417)

Gambar 2. Perbandingan jumlah korban meninggal dunia karena kejadian longsor bulan Februari dengan Maret 2017.  Pada bulan Maret 2017 terjadi penurunan jumlah korban meninggal.

 

Gerakan tanah yang terjadi berjumlah 75 kejadian dan sebagian besar terjadi di Pulau Jawa atau sekitar 70%. Kejadian gerakan tanah umumnya berupa longsoran dan amblasan. Tiga provinsi yang mengalami kejadian gerakan tanah paling sering adalah Jawa Barat (23 kejadian), Jawa Tengah (14 kejadian) dan Jawa Timur (8 kejadian), (Gambar 1 dan Tabel 1).

Dampak Gerakan tanah

Selama bulan Maret 2017, kejadian longsor telah mengakibatkan 13 orang meninggal, yaitu di Sumatera Barat (8 orang), Jawa Barat (3 orang) dan DIY (2 orang). Longsor juga berdampak rumah rusak (157 buah), gangguan akses jalan karena tertutup oleh material maupun amblas dan longsor akibat tergerus air sungai (155 buah). Sebaran gerakan tanah selama bulan Januari 2017 dapat dilihat pada gambar 3. 

Bila dibandingkan dengan bulan Februari 2017, terjadi penurunan dalam jumlah kejadian, korban maupun dampak kerusakan. Tidak ada kejadian Banjir Bandang maupun kerusakan prasarana jalan pada bulan Maret 2017. Penurunan tersebut kemungkinan diakibatkan oleh menurunnya intensitas curah hujan di Indonesia bagian barat. Intensitas curah hujan yang tinggi, terjadi di Indonesia bagian timur, yaitu di sekitar Papua dan Maluku.  

 

Mitigasi Pusat Vukanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) 

Dalam menjalankan fungsinya PVMBG melakukan upaya mitigasi, antara lain:

1. Membuat Tanggapan atas Kejadian Gerakan Tanah,

2. Melakukan pemeriksaan kejadian Gerakan Tanah

3. Mengirimkan Tim Tanggap Darurat dan

4. Melakukan kajian lahan relokas atas permintaan Pemerintah daerah

Selama bulan Maret 2017 telah dikirimkan 4 Tim Tanggap Darurat, yaitu ke (Kabupaten Bantul, Kabupaten Limapuluh Kota, Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Bangli), 7 Tim Kajian Paska Bencana Gerakan Tanah, yaitu (Kabupaten Bandung, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Purbalingga (5 Kecamatan), Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Bandung Barat), serta 1 Tim Pemodelan Bencana Gerakan Tanah di Kabupaten Ciamis.

 Tabel 1. Perkiraan Lokasi Kejadian Gerakan Tanah, Jumlah Kejadian dan Dampak Gerakan Tanah di Indonesia Bulan Maret 2017

Gertan Maret 3 (040417)

Catatan:

GT: Gerakan Tanah, BB: Banjir Bandang, MD: meningal dunia, RR: Rumah Rusak, JLN: jalan yang terganggu/rusak 

Sedangkan pada bulan Februari 2017, telah dikirimkan 3 Tim Tanggap Darurat, yaitu (Kabupaten Gorontalo Utara, Kabupaten Ponorogo, dan Kabupaten Sukabumi), 5 Tim Pemeriksaan Paska kejadian di (Kabupaten Pacitan,  Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes,  Kabupaten OKU Selatan, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Kuningan), dan Kegiatan Survey Reguler, yaitu 1 Tim Peringatan Dini Gertan Bandung Barat, 2 Tim Verifikasi Peta ZKGT Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, 1 Tim Peringatan Dini Gerakan Tanah Kabupaten Purbalingga,  serta 1 Tim Analisis Potensi Bencana Gertan Kabupaten Sikka.

 Tabel 2. Perbandingan jumlah kejadian Gerakan tanah dan Dampak Gerakan Tanah di Indonesia Bulan Februari 2017 dengan  Maret 2017

Gertan Maret 4 (040417)

Catatan:

GT: Gerakan Tanah, BB: Banjir Bandang, MD: meningal dunia, RR: Rumah Rusak, JLN: jalan yang terganggu/rusak

 

Gertan Maret 5 (040417)

Gambar 3. Peta Prakiraan Potensi Gerakan Tanah dan lokasi longsor yang terjadi pada bulan Februari - Maret 201

 

Kesimpulan

Jumlah kejadian gerakan tanah setiap bulan berbeda karena disebabkan oleh karakteristik geologi dan intensitas curah hujan yang terjadi di suatu daerah. Bila dibandingkan dengan bulan Februari 2017, terjadi penurunan dalam jumlah kejadian, korban maupun dampak kerusakan. Kejadian gerakan tanah yang menurun, lebih disebabkan oleh intensitas curah hujan yang lebih rendah, terutama di Indonesia bagian barat. Namun masih tingginya jumlah korban jiwa, dikarenakan sosialisasi mengenai pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana masih kurang. 

Peta Prakiraan Potensi Gerakan Tanah yang dikeluarkan oleh PVMBG setiap awal bulan merupakan upaya peringatan dini untuk membantu Pemerintah Daerah dalam mengantisipasi bencana.