Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakantanah Di Kec. Karangmoncol, Kab. Purbalingga Provinsi Jawa Tengah

Laporan singkat hasil pemeriksaan bencana gerakan tanah di wilayah Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah berdasarkan permintaan Pemeriksaan Gerakan Tanah Daerah dari Sekretariat Daerah Kabupaten Purbalingga 362/00871 dan permintaan BPBD Purbalingga. Hasil pemeriksaan sebagai berikut:

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah/ tanah longsor terjadi di Blok 10 D, BKPH Slamet Timur, Dukuh Karangwuni, Desa Sirau, Kabupaten Purbalingga. Sebelum kejadian beberapa hari sebelumnya Sugai Wuni sempat tersumbat dan terjadi genangan pada bagian atas, sehingga pada tanggal 21 Februari 2017 jebol dan terjadi gerakan tanah secara bersamaan. Akibatnya terjadi perubahan tipe dari longsoran menjadi aliran. Koordinat area terdampak 109° 26’ 37.6” BT dan 7° 11’25.5”BT serta koordinat sumber longsoran 109° 27’ 10.8” BT dan 7° 11’28”BT

 

2. Jenis Gerakan Tanah:

Jenis gerakan tanah di Desa Sirung, Kecamatan Karangmoncol berupa longsoran yang berubah tipe menjadi aliran bahan rombakan, serta muncul retakan-retakan dan amblesan akibat tarikan dari longsoran. Longsoran terjadi pada bagian puncak bukit dengan arah relative ke barat (N 265°E). Retakan muncul disebelah selatan longsoran akibat tarikan longsoran disebelahnya dengan lebar retakan 50 - 60 cm, turun 0,6 – 7,6 m, dan panjang 82 meter.

 

3. Dampak gerakan tanah 

Dampak gerakan tanah antara lain :

  • Dua rumah hancur, 1 motor hilang, 1 motor rusak
  • Masyarakat RT. 12/ RW3 Dukuh Karangwuni, Desa Sirau diungsikan ketempat yang lebih aman

 

4. Kondisi daerah bencana

  • Morfologi, Secara umum topografi di sekitar lokasi bencana  berupa lereng perbukitan dengan ketinggian antara 650 - 900 meter di atas permukaan laut. Lokasi daerah bencana merupakan perbukitan dengan kelerengan berkisar > 25°.
  • Kondisi Geologi, Berdasarkan pengamatan lapangan batuan di daerah bencana batulempung berwarna hijau keabuan (Formasi Halang) dan diatasnya berupa tanah pelapukan lempung pasiran, Disamping itu pada bagian utara dan alur sungai dijumpai lava andesit dan breksi (bagian dari Formasi Kumbang). Secara regional hubungan kedua satuan ini menjemari dan seumuran, namun pada lokasi ini lava andesit dan breksi andesit berada di bawah napal dan batulempung Formasi Halang, kondisi ini menyebabkan daerah ini mudah bergerak
  • Tata guna lahan dan Keairan, Tata lahan pada bagian atas kebun pinus. Sedangkan di bagian bawah pemukiman dan jalan dan sawah.  Muka air tanah di daerah ini > 5 meter, dengan aliran dari anak sungai yang melimpah.
  • Kerentanan Gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Purbalingga bulan Februari 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah - Tinggi artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 

5. Faktor penyebab gerakan tanah:
  • Kelerengan yang terjal dengan tanah pelapukan yang tebal > 4 m.
  • Kondisi geologi tanah pelapukan yang tebal menumpang diatas batulempung dan breksi andesit dan lava andesit
  • Karakteristik batulempung Formasi Halang yang mudah mengalami kembang susut yang tinggi dan plastisitas tinggi jika tersingkap menyebabkan mudah mengalami gerakan tanah tipe lambat.
  • Curah hujan yang tinggi yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Pembendungan sungai akibat longsoran menyebabkan perubahan tipe dari longsoran menjadi aliran bahan rombakan

 

6. Mekanisme:

Curah hujan yang tinggi mengakibatkan air terakumulasi pada batas tanah lapuk dengan batulempung. Air kemudian meresap pada tanah pelapukan yang bersifat sarang, sehingga tanah menjadi mudah jenuh air. Keadaan tersebut mengakibatkan bobot masa tanah dan kejenuhan tanah meningkat. Pelapukan tanah yang tebal dan batulempung (Formasi Halang) yang berada di atas lava andesit dan kelerengan yang terjal > 25°. Bobot massa tanah yang tinggi, pelapukan yang tebal dan kemiringan yang terjal, serta curah hujan yang tinggi mengakibatkan tahanan lereng lemah kemudian dipacu dengan gaya gravitasi sehingga terjadilah gerakan tanah yang menutup sungai. Terbendungnya Sungai Wuni tersebut kemudian jebol secara tiba-tiba maka terjadilah aliran bahan rombakan atau dimasyarakat lebih dikenal dengan istilah banjir bandang.

 

7. Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan:

  • Masyarakat yang mengungsi bisa kembali ketempat masing-masing, kecuali 2 rumah yang rusak berat agar di pindah menjauhi alur sungai.
  • Area yang terdampak agar tidak dibangun lagi karena potensi material longsoran yang belum turun masih banyak
  • Masyarakat senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan memantau aliran air Kali Wuni dan potensi pembendungan material longsor di Kali Wuni
  • Jika hujan deras di hulu atau disekitar Karangwuni, masyarakat harap mengantisipasi potensi aliran bahan rombakan/ banjir bandang susulan dengan tidak beraktifitas di area terdampak (lebih kurang 35 meter ke selatan sungai dan 30 meter ke utara sungai)
  • Meningkatkan kesiapsiagaan pada saat dan setelah turun hujan karena masih berpotensi terjadi longsoran susulan pada bagian atas
  • Tidak beraktifitas di bawah material longsoran, lereng bagian atas yang retak-retak atau disepanjang sungai Kali Wuni jika hujan lebat

 

LAMPIRAN

 

Sirung 1 (150317)

Peta lokasi daerah bencana

 

Sirung 2 (150317)

Kiri: Material yang menutup jalan Di Desa Sirau dan Menimbun 2 Rumah serta Masyarakat RT 12/ RW 3 Dukung Karangwuni Mengungsi (Sumber material longsoran 1,4 Km dari area terdampak). Kanan: Kondisi Saat ini jalan sudah bisa dilewati

 

Sirung 3 (150317)

Gambar mahkota longsoran di bagian puncak (1,4 Km dari area terdampak)

 

Sirung 4 (150317)

Kondisi lahan yang sudah turun 7,6 meter dan mengalami retak retak

 

Sirung 5 (150317)

Sekitar 11.500 m3 yang masih berpotensi longsor

 

Sirung 6 (150317)

Aliran sungai yang harus dijaga agar tidak tersumbat longsoran biar tidak terjadi banjir bandang

 

Sirung 7 (150317)

Koordinasi Tim Badan Geologi dengan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN PURBALINGGA, PROVINSI JAWA TENGAH

 BULAN FEBRUARI 2017

Sirung 8 (150317)

Keterangan : 

Sirung 9 (150317)

 

Sirung 10 (150317)

Peta Prakiraan Wilayah Potensi Gerakan Tanah Kabupaten Purbalingga Bulan Februari 2017

 

Sirung 11 (150317)

Peta situasi gerakan tanah di lokasi bencana

 

Sirung 12 (150317)

Gambar Penampang A - B

 

Sirung 13 (150317)

Peta Geologi di daerah Karangwuni dan sekitarnya