Laporan Singkat Bencana Gerakan Tanah Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali

Laporan tim tanggap darurat gerakan tanah di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, sebagai berikut: 

1. Lokasi dan waktu kejadian :
  1. Dusun Bantas, Desa Songan B, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli secara geografis terletak pada koordinat : 080 13’ 03,5” Lintang Selatan dan  1150 24’ 57,9” Bujur Timur.
  2. Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli secara geografis terletak pada koordinat : 080 12’ 00,3” Lintang Selatan dan  1150 19’ 24,3” Bujur Timur.
  3. Desa Awan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli secara geografis terletak pada koordinat : 080 14’ 58,2” Lintang Selatan dan  1150 17’ 28,2” Bujur Timur.
  4. Dusun Yeh Mampeh, Desa Batur Selatan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli secara geografis terletak pada koordinat : 080 14’ 08,2” Lintang Selatan dan  1150 21’ 12,1” Bujur Timur.
  5. Desa Subaya, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli secara geografis terletak pada koordinat : 080 09’ 20,9” Lintang Selatan dan  1150 19’ 53,8” Bujur Timur.

 

2. Kondisi bencana dan dampak yang ditimbulkan :

  1. Gerakan tanah yang terjadi di Dusun Bantas, Desa Songan B berupa longsoran bahan rombakan dengan lebar mahkota 14 meter, lebar kaki longsor bawah 58 meter, tinggi 35 meter, luas area terdampak 4,600 m2, panjang longsoran 125 meter, pada lereng perbukitan terjal dengan kemiringan lereng lebih dari 600 yang berada di pinggir jalan. Longsoran ini diawali dengan longsoran material-material lepas serta pohon kemudian disusul dengan longsoran bahan rombakan yang besar dengan arah N 240º E yang menimpa pemukiman yang berada di bawahnya.
  2. Gerakan tanah yang terjadi di Desa Sukawana berupa longsoran bahan rombakan dengan lebar mahkota 9 meter, panjang longsoran 20 meter, pada lereng perbukitan terjal dengan kemiringan lereng lebih dari 450. Longsoran memiliki arah N 240º E yang menimpa pemukiman yang berada di bawahnya.
  3. Gerakan tanah yang terjadi di Desa Awan berupa longsoran bahan rombakan yang terjadi pada tebing belakang rumah warga dengan kemiringan lereng lebih dari 700 akibat pemotongan lereng untuk perluasan rumah. Longsoran ini memiliki lebar 20 meter , tinggi gawir 4  meter dengan arah longsoran N 2050 E.
  4. Bencana yang terjadi di Dusun Yeh mampeh berupa banjir bandang yang mengakibatkan puluhan rumah terendam dan sebanyak 32 KK mengungsi.
  5. Gerakan tanah yang terjadi di Desa Subaya berupa longsoran bahan rombakan dengan lebar mahkota 10 meter, panjang longsoran 75 meter, pada lereng perbukitan terjal dengan kemiringan lereng lebih dari 600. Longsoran memiliki arah N 120º E yang menimpa pemukiman yang berada di bawahnya.

 

Dampak Bencana

Bali 1 (150317)

 

3. Kondisi daerah bencana :

  • Secara umum topografi di sekitar lokasi gerakan tanah berupa perbukitan bergelombang dengan ketinggian lebih dari 1000 m dpl.
  • Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bali, Nusatenggara (M.M. Purbo-Hadiwidjojo, H. Samodra, dan T.C. Amin, 1998) batuan penyusun di daerah bencana terdiri dari :
    • Batuan Gunungapi Kelompok Buyan-Batan Purba (Qvbb) yang terdiri dari breksi gunungapi dan lava, setempat tuff. Meliputi wilayah Desa Songan B.
    • Batuan Gunungapi Kelompok Buyan-Batan (Qpbb) yang terdiri dari tuff dan lahar. Meliputi wilayah Desa Awan, Desa Sukawana, dan Desa Subaya.
    • Batuan Gunungapi Batur (Qhvb) yang terdiri dari aglomerat, lava, tuff. Meliputi wilayah Desa Yeh Mampeh.
  • Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Februari 2017 di Provinsi Bali (Badan Geologi), daerah bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah menengah-tinggi. Artinya zona potensi menengaah adalah daerah yang mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Sedangkan Zona Potensi tinggi adalah daerah yang mempunyai potensi tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

4. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah :

  • Curah hujan yang tinggi dengan durasi lama sebelum terjadi gerakan tanah.

Data curah hujan Bulan Februari 2017

Bali 2 (150317)

Sumber Data: PPGA Batur

  • Curah hujan ekstrim dengan durasi lama sebelum terjadi gerakan tanah dan banjir bandang (tanggal 9-2-2017, 230,4 mm; tanggal 10-2-2017, 288 mm).
  • Sifat tanah pelapukan dengan ketebalan 3-5 m yang sarang dan mudah luruh jika terkena air.
  • Penataan air (Drainage) yang buruk di bagian atas lereng sehingga menyebabkan air tidak tertampung, meluber dan meresap kedalam tanah.
  • Banyaknya air permukaan yang meresap ke dalam tanah melalui pori tanah yang meningkatkan beban pada lereng, sehingga membuat lereng menjadi tidak stabil dan terjadilah longsor.
  • Pada setiap titik-titik longsor teramati kontak tanah pelapukan bersifat sarang (batuan vulkanik) yang berada diatas batuan dasar (lava) yang bersifat lebih kedap sehingga menjadi bidang gelincir gerakan tanah.
  • Kemiringan lereng yang terjal rata-rata > 45°
  • Pemotongan lereng yang tidak mengikuti kaidah keteknikan tanah dan batuan
  • Perubahan tata guna lahan dari hutan menjadi kebun campuran berupa jeruk, cabe, tomat, dll tidak mempunyai akar dalam.
  • Rubuhnya Dinding Penahan Tanah di Desa Awan terjadi pada tanah timbunan yang belum terkonsolidasikan yang bersifat sarang, air mudah meresap kedalam pori tanah sehingga tanah menjadi jenuh air, beban bertambah menyebabkan rubuhnya Dinding Penahan Tanah.
  • Curah hujan yang tinggi dengan durasi lama pada tanggal 9 dan 10 Februari mengakibatkan bobolnya tanggul di Banjar Yeh Mampeh, Desa Batur Selatan dan terjadilah banjir bandang. Curah hujan ekstrim ini juga mengakibatkan terjadinya banjir bandang di Dusun Yeh Tanda, Desa Subaya.

 

 5. Mekanisme terjadi gerakan tanah

Adanya hujan deras dalam waktu yang lama menyebabkan air hujan sebagian meresap ke dalam tanah melalui retakan dan ruang antar pori. Hal ini menyebabkan tanah menjadi jenuh air sehingga tanah menjadi gembur dan berat masa tanahnya bertambah serta kuat gesernya menurun. Adanya bidang gelincir antara batuan dasar (lava) dan tanah pelapukan serta kemiringan lereng yang terjal menyebabkan tanah menjadi tidak stabil. Karena kurangnya akar tanaman keras yang dapat mengikat tanah pada lereng menyebabkan tanah menjadi tidak stabil dan terjadilah longsor yang materialnya menimbun rumah yang berada di bawahnya.

 

6. Kesimpulan dan Rekomendasi

a. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Gerakan yang terjadi berupa longsoran bahan rombakan
  • Gerakan tanah terjadi pada tebing terjal (> 450 ) pada tanah pelapukan tebal (3-5 meter) dan sarang yang berada diatas lava andesit hasil erupsi G. Batur, Agung dan Buyan Bratan. Kontak antara lava dengan tanah diatasnya menjadi bidang gelincir.
  • Pada lokasi gerakan tanah di Dusun Bantas, Desa Songan, Dusun Sukawana, Desa Sukawana dan Dusun Antapura, Desa Subaya masih berpotensi terjadinya longsor susulan, terutama pada saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama.
  • Curah hujan ekstrim dengan durasi lama pada tanggal 9 dan 10 Februari 2017 memicu terjadinya gerakan tanah Desa Songan, Sukawana dan Tejakula, juga menyebabkan banjir bandang di Dusun Yeh Tanda, Desa Subaya dan Dusun Yeh Mampeh, Desa Batur Selatan.
  • Perubahan tata guna lahan dari hutan menjadi kebun campuran (jeruk, cabe, tomat,dll) yang mempunyai akar pendek menyebabkan tanah menjadi gembur dan mudah longsor.
b.  Rekomendasi
  • Tidak melakukan penggalian, pemotongan lereng dan menebang pohon-pohon pada lereng.
  • Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
  • Tidak beraktivitas di sekitar tebing/dinding kaldera pada saat hujan lebat dan berlangsung lama.
  • Pengungsi agar waspada apabila sudah kembali ke rumahnya, karena daerahnya masih berpotensi terjadinya longsor susulan terutama pada saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama.
  • Tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat dengan tebing.
  • Tidak melakukan pemotongan lereng yang tegak dan tinggi karena tanah pelapukan di daerah ini cukup tebal dan bersifat lepas yang mudah longsor jika lereng diganggu.
  • Pemasangan rambu-rambu rawan bencana longsor untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan longsor
  • Menata aliran air permukaan pada lereng bagian atas agak tidak masuk ke dalam tanah dan membuat tanah jenuh air sehingga berpotensi terjadinya longsor.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

 

LAMPIRAN

Bali 3 (150317)

Gambar 1 Peta Lokasi Gerakan Tanah di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli

 

Bali 4 (150317)

Gambar 2  Peta Geologi  Kecamatan Kintamani dan sekitarnya, Kabupaten Bangli

 

Bali 5 (150317)

Gambar 3 Peta prakiraan wilayah potensi terjadi gerakan tanah pada bulan Februari 2017, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN BANGLI, PROVINSI BALI

 BULAN FEBRUARI 2017

Bali 6 (150317)

Keterangan :

Bali 7 (150317)

 

Bali 8 (150317)

Gambar 4 Peta zona kerentanan gerakan tanah dan lokasi longsor di Kabupaten Bangli, Bali

 

Bali 9 (150317)

Gambar 5. Orthophoto gerakan tanah di Banjar Bantas, Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Kab. Bangli, Bali

Keterangan:

  1. Panjang longsor = 125 m
  2. Lebar mahkota atas = 14 m
  3. Lebar kaki longsor bawah = 58 m
  4. Tinggi longsor = 35 m
  5. Luas area terdampak = 0,0046 km2 = 46 are = 4600 m2

 

Bali 10 (150317)

Gambar 6. Peta Situasi Desa Songan

 

Bali 11 (150317)

Gambar 7. Peta Situasi Desa Awan

 

Bali 12 (150317)

Gambar 8. Peta Situasi Desa Sukawana

 

Bali 13 (150317)

Gambar 9. Peta Situasi Desa Subaya

 

Bali 14 (150317)

Foto 1 Koordinasi dengan Camat Kintamani

 

Bali 15 (150317)

Foto 2 Koordinasi dengan wakil Komandan Tanggap Darurat

 

Bali 16 (150317)

Foto 3 Longsoran dan rumah yang terdampak di Ds. Songan Lokasi longsor di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Kab. Bangli

 

Bali 17 (150317)

Foto 4 Bagian atas mahkota longsor yang melanda Desa Songan

 

Bali 18 (150317)

Foto 5 Jalan desa pada bagian atas mahkota longsor yang nampak terlihat retakan-retakan baru yang harus diwaspadai karena dapat terjadi longsoran susulan

 

Bali 19 (150317)

Foto 6 Kontak antara lava dengan lapisan tanah diatasnya yang menjadi bidang gelincir longsoran

 

Bali 20 (150317)

Foto 8 Sebagian badan jalan yang amblas di Panelokan, Kintamani

 

Bali 21 (150317)

Foto 9 Salah satu rumah yang terancam longsor di Ds. Sukawana

 

Bali 22 (150317)

Foto 10 Rumah yang hancur tertimbun longsor di Ds Sukawana, mengakibatkan 1 orang meninggal

 

Bali 23 (150317)

Foto 11 Rumah yang tertimpa dinding penahan tanah, mengakibatkan 4 org meninggal di Ds. Awan

 

Bali 24 (150317)

Foto 12 Permukiman yang terdampak banjir bandang di Ds. Yeh Mampeh

 

Bali 25 (150317)

Foto 13 Tenda-tenda pengungsian di Ds. Yeh Mampeh

 

Bali 26 (150317)

Foto 14 Lahan pertanian yang terlanda banjir bandang di Desa Subaya

 

Bali 27 (150317)

Foto 15 Pembuatan jembatan penyambung jalan yang terputus oleh banjir bandang di Desa Subaya

 

Bali 28 (150317)

Foto 16 Longsoran di Desa Subaya yang menyebabkan 1 orang meninggal dunia