Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat

Laporan singkat hasil pemeriksaan tim tanggap darurat bencana gerakan tanah di Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat sebagai berikut :

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah

Gerakan tanah terjadi di Kp. Cihangasa, Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Secara geografi terletak pada koordinat : 006° 52’ 31,8” LS dan 106° 30’ 17,6” BT. Menurut keterangan warga, gerakan tanah terjadi sejak tahun 2013 dan terus terjadi sampai sekarang pada setiap musim hujan.

 

2. Jenis Gerakan Tanah 

Gerakan tanah berupa rapayan yang dicirikan dengan adanya nendatan dan retakan dengan arah N 75° E sedangkan arah rayapan secara umum N 190° E (relatif ke arah selatan/lembah) 

 

3. Dampak Gerakan Tanah 

Bencana gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • 6 (enam) rumah rusak
  • 18 (delapan belas) rumah terancam

 

4. Kondisi Daerah Bencana

  • Morfologi, Secara umum daerah bencana merupakan perbukitan bergelombang dengan kemiringan lereng agak terjal hingga sangat curam dengan kemiringan lereng antara 10 – 200 setempat lebih dari 500. Daerah bencana berada pada ketinggian antara 500 – 550 meter diatas permukaan laut.
  • Kondisi geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bogor, Jawa (A.C. Efendi, 1998, Puslitbang Geologi), daerah bencana disusun oleh Satuan Breksi Gunungapi yang terdiri dari breksi bersusunan andesit basal, setempat aglomerat. Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi bencana, batuan dasar daerah bencana adalah breksi dengan tanah lapukan berupa lempung pasiran, agak gembur, sarang dengan ketebalan lebih dari 4 meter. Struktur geologi berupa patahan (sesar) serta lipatan (fold) tidak terdapat di daerah pemeriksaan.
  • Tata guna lahan, Tata lahan pada lereng bagian atas berupa permukiman dan kebun campuran;   pada bagian tengah berupa pemukiman dan setempat terdapat kolam-kolam (genangan air); sedangkan pada lereng bagian bawah berupa kebun campuran, belukar dan sawah.
  • Keairan, Keairan pada lokasi bencana berupa aliran permukaan dari air hujan yang mengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah (pada musim hujan) serta aliran Sungai Cijangkar yang mengalir pada bagian lembah yang merupakan sungai temporer. (sungai yang berdebit besar pada musim hujan dan kecil/kering pada musim kemarau). Pada saat banjir arus aliran sungai ini menggerus tebing menyebabkan terjadinya longsoran-longsoran tebing.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Kejadian Gerakan Tanah di Kabupaten Sukabumi pada Bulan Februari 2017  (PVMBG), Kecamatan Cikakak terletak pada zona kerentanan gerakan tanah Menengah – Tinggi, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah
  • Sifat fisik tanah pelapukan yang tebal (lebih dari 4 meter), bersifat sarang, mudah meresapkan air (porus) dan luruh jika terkena air, serta batuan dasar (breksi) yang kurang padu dan mudah meresapkan air.
  • Kemiringan lereng yang agak curam sampai curam mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Adanya longsoran-longsoran kecil pada kaki lereng akibat erosi samping (lateral) alur sungai pada lembah (kaki lereng)
  • Adanya bidang lincir antara tanah pelapukan dengan batuan dasar yang keras dan agak kedap air (breksi)
  • Kurangnya tanaman keras yang berakar kuat dan dalam pada tebing (lereng).
  • Adanya kolam dan sawah pada lereng bagian tengah yang menambah jenuhnya tanah.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air baik air hujan maupun air limbah rumah tangga terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor.
  • Hujan yang turun dengan durasi lama meningkatkan potensi tanah untuk bergerak.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Curah hujan yang tinggi serta drainase yang kurang baik mengakibatkan air terakumulasi dan masuk ke dalam tanah melalui ruang antar butir dan retakan/rekahan, menyebabkan tanah menjadi jenuh sehingga bobot masanya bertambah serta daya ikatnya berkurang. Adanya longsoran-longsoran pada kaki lereng akibat erosi samping dari alur sungai pada lembah/kaki lereng, adanya bidang lincir antara tanah pelapukan dan batuan dasar serta kemiringan lereng yang agak terjal – curam, maka tanah menjadi tidak stabil dan bergerak perlahan menuruni lereng, sehingga terjadilan rayapan (longsoran dengan pergerakan lambat) disertai dengan retakan dan nendatan yang merusakan bangunan rumah-rumah di daerah tersebut. Gerakan tanah ini akan dapat terjadi lagi pada setiap musim hujan, sehingga daerah ini sangat berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.

 

7. Rekomendasi Teknis
  • Meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di lokasi gerakan tanah dan sekitarnya, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Menata saluran air permukaan dan air limbah rumah tangga dengan kontruksi yang kedap air.
  • Tidak membuat kolam/genangan serta mengeringkan kolam/genangan yang ada pada daerah tersebut.
  • Menutup retakan dengan tanah liat (lempung) yang dipadatkan agar air permukaan tidak masuk dan menjenuhi tanah.
  • Mengganti lahan sawah pada lereng dengan tanaman keras atau palawija (tanaman kering).
  • Tidak melakukan penggalian secara curam/tegak pada lereng.
  • Bangunan yang cocok untuk daerah ini adalah bangunan dengan kontruksi ringan, seperti rumah kayu (rumah panggung) atau bangunan tidak permanen.
  • Membuat bangunan penahan erosi (tembok penahan) pada tebing sungai dimana dasar bangunanya harus masuk ke dalam tanah (dasar tanah).
  • Menanami daerah bencana dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam yang berfungsi menahan lereng.
  • Daerah bencana sudah tidak stabil, maka rumah-rumah di sekitar tebing/gawir terjal yang rusak perlu direlokasi ke tempat  yang lebih aman.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

 

LAMPIRAN

 

Cikakak 1 (220217)

Gambar 1: Peta petunjuk lokasi gerakan tanah di Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat

 

Cikakak 2 (220217)

Gambar 2 : Peta Geologi Desa Sirnarasa, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ( Sumber : Peta Geologi Lembar Bogor, Jawa ; A.C. Efendi, 1998, Puslitbang Geologi )

 

Cikakak 3 (220217)

Gambar 3 : Peta Situasi Gerakan Tanah di Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi

 

Cikakak 4 (220217)

Gambar 4 : Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah Bulan Februari 2017 di Kota & Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN SUKABUMI

PROVINSI JAWA BARAT

 BULAN FEBRUARI 2017

Cikakak 5 (220217)

Keterangan :

Cikakak 6 (220217)

 

Cikakak 7 (220217)

Gambar 5 : Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kota & Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

 

Cikakak 8 (220217)

 

Cikakak 9 (220217)

Foto 1. Gerakan tanah jenis rayapan di Kp. Cihangasa, Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak. Gerakan tanah ini disertai adanya retakan dan nendatan yang merusakkan bangunan (rumah-rumah penduduk)

 

Cikakak 10 (220217)

Foto 2. Bangunan yang rusak dan hancur akibat gerakan tanah yang terjadi di Kp. Cihangasa, Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak.

 

Cikakak 11 (220217)

Foto 3. Penjelasan dan sosialisasi bencana dan mitigasi gerakan tanah di Kp. Cihangasa, Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak.