Badan Geologi Lakukan Penyelidikan Pasca Bencana Gempabumi Di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

1. Latar Belakang 

Kabupaten Morowali dengan ibu kota Bungku merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah yang berbatasan dengan Teluk Tolo dan Provinsi Sulawesi Tenggara. Kabupaten Morowali dikenal sebagai daerah tambang nikel. Disamping kekayaan alamnya, Kabupaten Morowali merupakan salah daerah rawan bencana gempabumi di Indonesia. Sumber gempabumi daerah ini berasal dari sesar aktif yaitu Sesar Matano yang terletak di darat melewati daerah Kabupaten Morowali dan menerus hingga ke laut (Teluk Colo). Selain itu terdapat sesar naik Tolo di Teluk Tolo berarah relatif  utara-barat laut (NNW) dan selatan-tenggara (SSE). 

Kejadian gempabumi merusak terakhir di daerah ini terjadi pada tanggal 24 Mei 2017 dengan magnitudo 5,6 SR (Skala Richter) pada kedalaman 12 km. Lokasi pusat gempabumi terletak di Teluk Tolo pada koordinat 122,20° BT, 2,78° LS. Kejadian gempabumi tersebut mengakibatkan  beberapa  bangunan mengalami kerusakan di Desa Siumbatu, Kecamatan Bungku Selatan dan Desa Onepute, Kecamatan Bungku Timur, Kabupaten Morowali. Pada saat itu Badan Geologi tidak mengirim TTD (Tim Tanggap Darurat) ke lokasi bencana, sehingga dikirim tim Penyelidikan Pasca Gempabumi.

 

2. Tim Penyelidikan Pasca Gempabumi Badan Geologi 

Tim Penyelidikan Pasca Bencana Gempabumi Badan Geologi (BG) terdiri-dari 4 orang, yaitu : Dr. Supartoyo sebagai kepala tim dengan anggota Amalfi Omang, M.Phil., Deden Junaedi dan Fadlianto Nurfalah.  Tim tersebut bertugas melakukan survei lapangan dari tanggal 22 hingga 28 Mei 2018 dengan tugas : melakukan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Morowali, identifikasi dampak kejadian gempabumi merusak sebelumnya, identifikasi sumber gempabumi, pengamatan kondisi geologi, melakukan pengukuran mikrotremor untuk mengetahui karakteristik tanah setempat, dan melakukan sosialisasi secara langsung tentang gempabumi kepada aparat dan masyarakat setempat. 

Kesampaian daerah lokasi kegiatan yaitu daerah Morowali cukup sulit untuk ditempuh karena belum ada penerbangan meski telah dibangun bandara di Morowali Utara. Tim Penyelidikan Pasca Bencana Gempabumi BG menempuh perjalanan melalui Kendari dan dilanjutkan dengan jalan darat. Kondisi jalan lintas Sulawesi di wilayah Sulawesi Tenggara terutama di daerah Morosi sangatlah jelek berupa jalan lumpur yang ditempuh selama 2,5 jam. Perjalanan darat dari Kendari hingga Kota Bungku dalam kondisi normal ditempuh sekitar 8 jam, namun Tim Penyelidikan Pasca Bencana Gempabumi BG menempuhnya selama 17 jam karena terjebak banjir di Sungai Lenomoyo di daerah Konawe Utara. Adapun pulangnya dilakukan dari Kota Poso yang ditempuh dengan perjalanan darat dari Kota Bungku sekitar 8 jam, karena banjir tersebut belum surut.


3. Hasil Sementara

Daerah Kecamatan Bahodopi dan Bungku Timur merupakan daerah yang terletak dekat dengan lokasi pusat gempabumi merusak tanggal 24 Mei 2017. Daerah tersebut merupakan dataran yang dikelilingi oleh perbukitan. Berdasarkan pengamatan lapangan dan peta geologi lembar Bungku yang disusun oleh Pusat Survei Geologi, Badan Geologi tahun 1993,  dataran tersebut merupakan endapan Kuarter berupa endapan aluvial pantai. Perbukitan tersusun oleh batuan berumur Pra Tersier yaitu Formasi Tokala terdiri-dari batugamping klastik dan lajur ofiolit Sulawesi Timur yang merupakan batuan komplek ultra mafik  terdiri – dari  harzburgit, iherzolit, wehrlit, websterit, serpentinit, dunit, diabas dan gabro. Batuan berumur Pra-Tersier tersebut masih bersifat fresh hanya sebagian kecil yang telah mengalami pelapukan. Batuan yang telah mengalami pelapukan dan endapan Kuarter pada umumnya bersifat urai, lepas, belum kompak, memperkuat efek goncangan/amplifikasi, sehingga rawan terhadap goncangan gempabumi.

Berdasarkan posisi lokasi pusat gempabumi dan dampak gempabumi, maka kejadian gempabumi tanggal 24 Mei 2017 tersebut diakibatkan oleh sesar aktif  Matano. Menurut data mekanisme sumber dari BMKG penyebab gempabumi tersebut adalah sesar mendatar berarah barat-barat laut (NWW) hingga timur-tenggara (SEE). Hal ini bersesuaian dengan keberadaan sesar Matano yang melewati daerah Kabupaten Morowali. Sesar Matano merupakan sesar mendatar mengiri (sinistral strike slip fault) dengan kenampakan kelurusan perbukitan linier berarah NWW hingga SEE, dan sebarannya mulai dari barat Danau Matano, daerah Morowali dan diperkirakan hingga ke Teluk Tolo. Sebelumnya sesar Matano juga menjadi penyebab gempabumi merusak pada tanggal 16 April 2012 di daerah Morowali dan tanggal 15 Februari 2011 di daerah Soroako, Provinsi Sulawesi Selatan. 

Berdasarkan pengamatan lapangan, intensitas gempabumi maksimum tanggal 24 Mei 2017 terjadi di Kecamatan Bahodopi dan Bungku Timur pada skala V MMI. Kerusakan bangunan juga terjadi di kedua kecamatan tersebut. Kerusakan bangunan yang terjadi diakibatkan oleh beberapa faktor, yaitu : jarak yang dekat dengan sumber gempabumi; kondisi bangunan yang tidak mengikuti kaidah bangunan tahan gempabumi; terletak pada endapan Kuarter yang bersifat urai, lepas, lunak dan belum kompak (unconsolidated). Hasil wawancara dengan warga desa Siumbatu dan Dampal, Kecamatan Bahodopi serta warga desa Bahomotefe dan Bahomoahi Kecamatan Bungku Timur goncangan gempabumi tanggal                16 April 2012 lebih kuat dibandingkan gempabumi tanggal 24 Mei 2017. Mereka juga sempat panik dengan adanya informasi dari tim Universitas Gajah Mada (UGM) pada bulan Agustus 2016 bahwa daerah Morowali dilewati oleh sesar Matano yang akan mengakibatkan gempabumi dan Danau Matano menjadi patah dan jebol. Berdasarkan pengamatan lapangan dan informasi dari penduduk terlihat bahwa upaya mitigasi gempabumi di daerah Morowali belum optimal. Mereka belum mendapatkan sosialisasi, simulasi dan wajib latih terkait mitigasi gempabumi. Oleh karena daerah Morowali merupakan daerah rawan gempabumi, maka harus dilakukan upaya mitigasi untuk mengurangi risiko bencana gempabumi yang mungkin akan terulang di kemudian hari. (pty)

 

Worlali 1 (040618)

Gambar 1. Kondisi  jalan berlumpur di daerah Morosi, Provinsi Sulawesi Tenggara yang ditempuh selama 2,5 jam untuk menuju daerah Morowali.

 

Worlali 2 (040618)

Gambar 2.  Banjir yang terjadi di Sungai Lenomoyo, Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Terlihat mobil menyeberang menggunakan rakit yang didorong oleh sebanyak 8 orang.

 

Worlali 3 (040618)

Gambar 3. Perbukitan yang tersusun oleh batugamping dan permukiman penduduk yang menempati teluk dan tersusun oleh endapan aluvial pantai di Desa Unsongi, Kecamatan Bungku Tengah.

 

Worlali 4 (040618)

Gambar 4. Melapor, berkoordinasi dan menyerahkan peta kawasan rawan bencana gempabumi Provinsi Sulawesi Tengah dan buku katalog gempabumi merusak kepada BPBD Kabupaten Morowali (diwakili Bpk Gunawan sebagai Kasubbag program BPBD Kabupaten Morowali).

 

Worlali 5 (040618)

Gambar 5. Diskusi tentang gempabumi dengan penduduk desa Bahomotefe, Kecamatan Bungku Timur.

 

Worlali 6 (040618)

Gambar 6. Diskusi tentang gempabumi dengan kepala Desa Bahomoahi (Bpk Aswad).

 

Worlali 7 (040618)

Gambar 7. Kelurusan perbukitan berarah barat-barat laut (NWW) hingga timur-tenggara (SEE) pada zona sesar Matano di Desa Siumbatu, Kecamatan Bahodopi.

 

Worlali 8 (040618)

Gambar 8. Kelurusan perbukitan berarah barat-barat laut (NWW) hingga timur-tenggara (SEE) pada zona sesar Matano di Desa Bahomoahi, Kecamatan Bungku Timur.